Pornografi Akan Menghancurkan Jiwa dan Imanmu

Filed under: by: 3Mudilah

Kita hidup di dunia yang benar-benar tak tahu malu sekarang. Dunia dimana streaming video dari website manapun, sekarang bisa dilakukan dari handphone-mu. Zaman dimana industri pornografi adalah industri berpenghasilan triliunan dollar. Maksud dan agenda mereka adalah membuat setiap dari kalian menjadi konsumen kekotoran ini dengan satu cara atau lainnya. Bahwa setiap pria, wanita dan anak-anak terekspos terhadap hal ini dan mereka berharap kau menjadi kecanduan akannya, sehingga lagi-lagi kamu menjadi konsumennya.


Inilah dampak pornografi terhadap masyarakat. Ia membuat orang menjadi binatang dan berpikiran kotor. Dan sebagian darimu sayangnya kecanduan hal ini dan kau menonton film ini online. Kau menontonnya dan menyimpannya di handphone-mu dan kau tak merasa bersalah lagi, kau merasa biasa saja menontonnya. 

Kau kadang merasa bersalah, tapi kau kembali melakukannya. Kau berpikir, “Setidaknya aku tidak menyakiti orang lain, setidaknya aku hanya menonton ini sendirian, tidak apa-apa.” Tapi kau tahu apa yang terjadi padamu: 

Di dalam jiwamu menjadi tercabik-cabik. Kau tidak lagi mempunyai jiwa dalam dirimu. Jadi shalatmu hampa, kau tidak bisa menangis lagi ketika shalat karena hatimu begitu hampa dari rasa takut pada Allah karena kekotoran yang telah kau tonton selama ini. Ini mengubahmu dari manusia menjadi hewan, jadi bahkan ketika seorang gadis melewatimu, kau seakan melihat seonggok daging melewatimu. 

Kau tidak melihatnya sebagai manusia yang harus dihormati. Kau mengamati setiap wanita dan segalanya. Kau terus menatapnya dan memandangnya. Kau kesulitan menundukkan pandanganmu. Ketika kau di kereta, ketika kau di kampus, ketika kau di tempat kerja, ketika di jalan, kau tidak bisa menahannya. 

Kau melihatnya kedua kali, kau melihatnya ketiga kali. Kau tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengotori jiwamu dengan pandanganmu. Kau sepenuhnya kecanduan. Lalu kau berkata, “Bro, bagaimana caranya khusyuk dalam sholat?” Wah, di dunia mana kau hidup?
Ya ayyuhal ikhwah, saudaraku, terlebih saudaraku.. Aku tahu sebagian saudari juga mengalami masalah ini. Ini fakta yang menyedihkan. Ini adalah perang. Ini perang! Ini lebih berbahaya daripada perang militer apapun! Ini perang yang menghancurkan jiwa kita. Dia menyusup ke rumah kita. Aku ingin melindungi anak-anakku dari hal-hal ini sebisa mungkin. Tapi ketika anakku pergi ke sekolah, dan bahkan di sekolah Islam, ada kesempatan sangat tinggi bahwa seseorang, temannya, dengan iPod mereka, dengan handphone mereka, akan berkata, “Hey, lihat ini!” Ini hal yang sangat realistis sekarang. Ini sangat mungkin. Jadi aku harus membekali anakku untuk menghadapi dunia kotor dimana mereka akan masuk ke dalamnya. Dan tidak bisa lolos lagi dari hal-hal ini. 

Tidak bisa! Ini dimana-mana! Dan aku tidak berpikir ini kebetulan. Aku bukan penggemar teori konspirasi tapi kurasa ini bukan kebetulan. Yang terjadi padamu adalah, kau lihat video yang kotor, kau mengkliknya, lalu mengklik yang lain, dan kau terus menonton berbagai hal kotor. Itulah yang terjadi padamu.

Terlebih lagi kemaluan mereka, mereka menjaganya.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥
“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Mu’minun: 5)

Ketika kamu bertanya, “Bro, apa solusinya? Haruskah aku menikah?” Seperti saat ada laki-laki yang bertanya padaku, “Bagaimana caranya aku menikah sekarang?” Tidak, bukan begitu. Solusinya bukan menikah. Karena jika pikiranmu kotor, maka pikiranmu akan tetap kotor setelah menikah. Jika kau tidak punya malu sekarang, kau takkan punya malu setelah menikah. Sungguh, ini benar! Kau pikir menikah akan menyelesaikan masalahmu? Tidak! Masalahmu bukan pernikahan, masalahmu bersifat ruhani, spiritual. Masalahmu bersifat psikologis. Kau butuh bantuan. Kau harus menghentikan ini. Kau harus berhenti menyakiti dirimu seperti ini. Takkan ada lagi yang tersisa dalam dirimu.
Aku baru saja mendapat email dari seorang remaja yang kecanduan dengan pornografi. Email tanpa nama, remaja berumur 14-15 tahun, katanya, “Aku ingin bunuh diri! Aku tidak bisa berhenti! Aku telah menontonnya sejak usia 11 tahun. Orangtuaku tidak tahu!” Aku membacanya dan menangis, karena bukan hanya satu, tapi ada ada jutaan remaja Muslim seperti ini. Jutaan jumlahnya! Kita harus menolong mereka. Kita harus berusaha semaksimal yang kita bisa. Dan kita tidak punya triliunan dollar periklanan untuk meng-counternya. Dan tidak realistis bagiku untuk berkata, “Facebook, Youtube, Twitter, internet, semuanya haram.” Ini tidak realistis.

Karena ini faktanya. Ini sama biasanya seperti oksigen sekarang. Satu hal yang dapat kita lakukan adalah berbincang secara dewasa tentang ini, dan ajari pemuda kita untuk menghadapinya dan mengatasi ini agar tidak jatuh ke dalamnya.

Orangtua yang hadir di sini, berhentilah menonton film India! Kenapa kau duduk di ceramah tentang sholat dan keutamaan sholat, tapi tidak menjaga kemaluanmu? Ibu dan putrinya, suami dan istrinya, dan putrinya duduk bersama-sama menonton..apapun! Ya Tuhan! Yang benar saja! Berhenti!
“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya.” Tapi menjaga kemaluanmu bukan berarti kau tidak berzina. Ini berarti segalanya yang mengarah pada hawa nafsu, segala hal yang mengarah padanya. Mereka menjaganya. Mereka tahu serangan ini, mereka tahu rasa malu mereka sedang diserang. Mereka tahu kelemahan mereka adalah nafsu mereka. Nafsu yang Allah tempatkan dalam diri kita, yang begitu kuat. Allah menempatkannya untuk suatu alasan. Begitulah. Dan setiap darimu memilikinya. Kau tidak perlu beralasan. Aku tahu bahwa kau memilikinya. Aku tahu.
Untuk para pemuda, kalian menghadapi tantangan ini setiap harinya dalam hidupmu, terlebih lagi di kota seperti ini. Kalian hidup di kota ini, dimana kau terekspos terhadap segala hal. Dan kau harus berusaha maksimal untuk menjaga dirimu.

Ayat ini bukan hanya tentang target yang tinggi. Ini tentang target yang minimum. Sudah kuberitahu, ini yang paling minimal. Yang paling minimal adalah kita menjaga diri kita dari rasa tidak tahu malu. Kita berperang dengan diri sendiri melawan kecenderungan itu. Dan aku tahu sebagian darimu telah mencoba keluar, tapi kau kembali. Kau berusaha keluar lagi tapi kembali lagi, dan kau kembali lagi. Kau terus jatuh dalam perangkap. Aku tahu sebagian darimu begitu. Dan kau berusaha keras. Tapi jangan menyerah pada dirimu sendiri.  Dan apapun itu, jangan bersendirian. Temui teman yang baik.  Keluarlah. Belajar di tempat lain. Pergi ke perpustakaan dan belajar. Pergilah ke tempat dimana banyak orang. Karena ketika kau sendirian, setan menjeratmu. Dan jika rasa takutmu pada Allah tidak cukup buatmu, setidaknya rasa takut dilihat orang akan cukup. Ini lebih baik daripada tidak ada rasa takut.

Ilustrasi. (Foto: ParentMap.com)

Aku telah mengatakan ini sebelumnya. Bagi para orangtua, jika kau punya komputer di rumah, tolong jangan beli laptop, pakailah komputer dekstop di rumah dengan monitor yang besar. Dapatkan monitor yang paling besar yang bisa kamu temukan. Jujurlah pada Tuhan dan pastikan komputermu berada di dapur atau di ruang makan. Jangan taruh di ruang tengah, jangan taruh di kamar anak, jangan taruh di kamarmu. Taruh di ruang makan, dimana banyak orang. Kau ingin kerjakan PR, kerjakan di sana sehingga kau tidak bisa memutar monitornya. Monitornya terlihat oleh semua orang. Begitulah caramu melakukannya.

Hal-hal ini, kita harus waspada. Jangan beri smartphone ke anakmu yang berusia 11 tahun. Apa yang kau pikirkan? Itu tidak pintar. Jangan beri mereka smartphone. Kenapa aku lihat ada anak-anak di sekolah Islam, umur 10 tahun, dengan iPhone? iPhone 5! Aku bahkan tidak punya iPhone, kenapa kamu punya iPhone 5? Dengan 4G. Kau tahu betapa bahanya ini?

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦

“Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau yang dimiliki oleh tangan kanan mereka; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.” (QS. Al-Mu’minun: 6)

Allah tahu kita punya nafsu ini, dan kita bisa mengeksekusinya, melepas nafsu itu, tapi ke pasangan yang halal. Tapi di luar itu, kita tidak bisa.

Dan ngomong-ngomong, ketika orang-orang kecanduan hal semacam ini, dan mereka terbiasa dengannya, mereka sangat terekspos dengannya, pernikahan mereka akan sengsara. Pernikahan mereka mulai hancur. Mereka punya khayalan tentang apa makna kesenangan dan mereka tidak lagi senang dengan pasangan mereka. 

Ada fitnah besar yang masuk ke keluarga mereka. Ini menghancurkan rumah tangga. Rumah tangga muslim. Itulah yang terjadi di dunia kita hari ini.

Allah berfirman tentang orang yang sholat, dan ia berfirman الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ . Aku menjelaskan orang-orang yang sholat, karena orang-orang yang sholat adalah orang yang menjaga rasa malu mereka, orang-orang yang takut pada hari kiamat, adalah orang yang teguh dalam sholat mereka. 

Dan orang-orang yang mengejar dibalik itu, maka mereka adalah orang yang dzalim. Ini adalah tindakan zalim. Ketika “’aduun” disebutkan atau “ad” dimana “adin” dari aduun dari “adha yadhuh.” “Al ‘Aduun”. “Al Adawa” dalam Bahasa Arab artinya permusuhan. Allah berfirman bahwa barangsiapa mengejar nafsu mereka untuk dipenuhi di luar yang halal (di luar pernikahan), maka mereka terlibat dalam tindakan dzalim. 

 Pertanyaannya adalah kedzaliman pada siapa? Karena ketika dikatakan “musuh”, kau harus berkata, “Musuh siapa?” Jika mereka menjadi musuh, maka kau menjadi musuh siapa? Allah tidak menyebutkannya. Kau tahu apa artinya ini? Itu berarti mereka adalah musuh bagi diri mereka sendiri, keluarga mereka, mereka bahkan menjadi musuh dari ajaran Allah. Seperti itulah mereka.

Aset yang paling penting yang aku dan kita miliki adalah hati kita. Dan rasa tak tahu malu ini menghancurkan hati. Ia menghancurkannya! Hal paling berharga yang harus kita jaga adalah iman kita. Dan gambar kotor ini, menghancurkan imanmu. Ia menghancurkan keimananmu. Jangan sampai ini terjadi padamu. Aku hanya bisa menasehatimu. Aku tidak bisa menghentikanmu melakukan apapun. Tak seorangpun bisa. Kau harus mengatur dirimu sendiri. Kau harus kendalikan dirimu, kau yang harus memutuskan, “Apakah keimananku cukup penting?”, “Apakah sholatku cukup penting?” [Syahida.com /ANW]
 

0 comments: