Cabai Berbakteri adalah Serangan Bio-Teroris Komunis Cina

Filed under: by: 3Mudilah

Kasus bibit cabai mengandung bakteri berbahaya yang ditanam warga negara RRC yang notabene negara komunis di Bogor, Jawa Barat, sangat meresahkan.

Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPR Viva Yoga, bibit cabai ilegal yang diungkap Badan Karantina merupakan salah satu bentuk bioterorisme, dengan melakukan upaya-upaya untuk mengganggu keamanan melalui jasa trafik atau melalui makhluk hidup.

“Saya yakin ini adalah merupakan bagian dari bioterorisme yang harus dihadapi, karena ini penyakit lolos didatangkan dari luar negeri dan sangat berbahaya,” kata Viva, Senin (12/12), seperti dikabarkan Parlementaria.

bioterorism

Kepada Pemerintah dan aparat hukum, politisi PAN ini mendesak untuk mengusut secara mendalam kasus tersebut.

“Saya minta agar aparat penegak hukum khususnya kepolisian melakukan pengusutan secara tuntas. Kalau ini dibiarkan sangat berbahaya, dan mengganggu plasma nutfah kekayaan Indonesia yang akan menyebabkan penyakit baru. Bila sudah menyebar ada indikasi endemik dan pandemik yang kemudian ini bisa mengganggu kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Viva, kasus ini juga merupakan dampak dari lemahnya sistem karantina nasional. apalagi sudah ada karantina di dua kementerian yaitu karantina tanaman dan hewan di bawah

Kementerian Pertanian, dan karantina ikan di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Atas kasus ini, seluruh fraksi di Komisi IV sepakat menggabungkan tugas karantina dua kementerian ini dalam satu Badan Karantina Nasional yang langsung bertanggung jawab pada Presiden.

“Jadi ini tidak membentuk badan baru, tetapi menggabungkan badan yang sudah ada karena badan yang sudah ada itu tidak efektif tidak efisien. Seluruh badan sudah ada Sumber daya Manusia (SDM) tinggal dijadikan satu, tinggal dirapikan untuk membentuk Badan Karantina Nasional sehingga terukur sistem, kerja, capaian, dan metodenya,” ungkapnya.

Sekarang ini, sifatnya parsial dari beberapa kementerian, jika ada bahan bibit penyakit renik atau mahkluk hidup, seperti bibit cabe ilegal yang berbakteri itu sangat mungkin, karena dari sisi karantinanya lemah.

“Kami minta kepada Perintah untuk serius mengkaji soal badan karantina yang bersifat nasional ini. Sebenarnya penggabungan ini dalam rangka untuk membantu pemerintah dalam melakukan efisiensi dan efektivitas badan,” imbuhnya.

Diketahui, sebanyak 5.000 batang cabai ilegal disita Badan Karantina Pertanian di perbukitan kawasan Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, baru-baru ini. Cabai yang disita itu berasal dari benih yang dibawa empat warga negara China. Cabai itu diketahui mengandung bakteri Erwinia chrysanthemi yang diyakini membahayakan produksi nasional cabai di Indonesia. (ik/rmol)

 https://www.eramuslim.com/berita/nasional/cabai-berbakteri-adalah-serangan-bio-teroris-komunis-cina.htm#.WE7Dhr5MjOg



Kasus benih cabai berbakteri asal Cina yang masuk dan ditanam di Bogor menarik perhatian banyak pihak. Apa sekiranya motif dari aksi penanaman secara ilegal tersebut.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono mengungkapkan bakteri Erwinia Chrysanthemi yang ada di benih cabai Cina itu dapat menimbulkan kerusakan ataupun kegagalan produksi hingga 70 persen.

Selain itu, bakteri ini juga dapat menular atau menyerang berbagai tanaman lainnya, termasuk aneka bawang, kentang, dan sawi. “Bila menyerang tanaman-tanaman tersebut, kerugian ekonomi Indonesia akan lebih besar,” katanya.

Empat WN Tiognkok, dari kiri XXJ (40), GH (50), YWM (37) atau Ko Aming dan GZ (50) saat digerebek di perkebunan cabai di Kampung Gunung Leutik, Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Selasa (8/11).

Empat WN Tiognkok, dari kiri XXJ (40), GH (50), YWM (37) atau Ko Aming dan GZ (50) saat digerebek di perkebunan cabai di Kampung Gunung Leutik, Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Selasa (8/11).
Oleh karena itu, pihaknya siap melakukan sosialisasi ke Kabupaten Bogor dan sekitarnya mengenai gejala serangan bakteri Erwinia Chyrsathemi pada beberapa tanaman hortikultura.

Selain itu, Dirjen Hortikultura mengirimkan surat kepada Kepala Dinas Pertanian Provinsi maupun Kabupaten dan Kota lebih memantau produsen benih serta untuk lebih selektif dalam pemberian rekomendasi terhadap orang asing terutama terhadap benih-benih yang akan dikembangkan.

“Kami akan menurunkan Pengawas Benih Tanaman untuk memperketat peredaran benih hortikultura, terutama cabai,” katanya.

Pihaknya juga menurunkan tim maupun petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT) untuk melakukan survei ke pertanaman aneka cabai dan tanaman hortikultura lainnya di Bogor dan sekitarnya.guna mengantasipasi penyebaran penyakit bakteri yang terkandung dalam benih ilegal asal Tiongkok tersebut.

Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta telah memusnahkan sebanyak 1 kg benih cabai dengan bahasa Cina, 5000 tanaman cabai dan 1 kg benih bawang daun yang masuk secara ilegal ke wilayah Indonesia.

Menurut Badan Karantina Pertanian benih cabai ilegal asal Tiongkok tersebut positif mengandung bakteri Erwinia Chrysanthemi, yang merupakan orgasnime pengganggu tanaman karantina (OPTK) golongan A1 atau belum ada di Indonesia dan tidak dapat diberi perlakuan apapun selain pemusnahan. (ts/rol)

https://www.eramuslim.com/berita/nasional/cabai-berbakteri-yang-di-bogor-diduga-kuat-bio-weapon.htm#.WE7Fbb5MjOg

0 comments: