Allah Satukan Hati Kami di Monas

Filed under: by: 3Mudilah

Tekanan, penggembosan, intimidasi dan serangkaian fitnah justru berbalik layaknya bola salju, menggerakkan orang datang ke Monas
Allah Satukan Hati Kami di Monas [1]
Monas, Stasiun Gambir, Cikini sampai Hotel Indonesia memutih oleh lautan umat Islam

Hidayatullah.com–HAJI Ahmad Djuwaeni menangis setelah menapaki perjalanan menembus lautan manusia. Di atas kursi rodanya, kakek berusia 82 tahun ini masih tepekur seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata berkaca-kaca. Beberapa kalinya dirinya memekikkan takbir, walau tak segagah dahulu kala.

Ada sesuatu, entah apa itu yang membuat matanya sembab, yang mengalir bak air di sungai melewati keriput di pipinya. Dengan tertatih-tatih, suara bergetar, ia membuka mulutnya seraya setengah berbisik,” saya nggak mau ketinggalan urusan begini,” katanya kepada Islamic News Agency (INA), (2/12/2016).

Berempat, bersama sang anak dan mantu, ia datang memenuhi panggilan jiwanya, walau tak lama pulang dari rawat inap. “Saya masuk ICU 4 hari, lalu 5 hari dirawat, sengaja baru bisa keluar langsung ke sini, selama fisik memungkinkan, masih bisa bergerak, meski dipaksa menggunakan kursi roda,” lirihnya.

Firmansyah sang mantu sambil mendorong kursi roda sang mertua mengisahkan bahwa justru anak-anaknya diminta untuk ikut aksi. “Sempat ada rasa khawatir, tapi tekad bapak mengalahkan rasa sakitnya, semangatnya bahkan melebihi kami,” katanya.

Kini, tak kuasa menahan haru, Haji Ahmad Djuwaeni nampak mematung berdoa khusyuk di punggung pelataran Monas. “Ya Rabb, Engkau sendiri yang memutarkan sejarah ini, kini umatMu bangkit untuk memenuhi seruanMu, Engkau perlihatkan doa yang terus hamba panjatkan tiap malam, agar umat Islam Indonesia bangkit,” lirihnya.

“Terlihat ruhud din yang selama ini antara hidup dan mati mulai bangkit,” khusyuk. Tak terasa air mata tertumpah, bagi siapa yang melihatnya menangis berdoa. Di pengujung senjanya, ada rasa yang bercampur aduk: sedih, senang, haru, gembira: rasa yang tak tergambarkan.

Yang mengaduk-aduk rongga dada, naik perlahan ke atas, dengan nafas yang tak beratur, berkumpul di sudut mata hingga gerimis itu tak hanya dari atas langit, gerimis itu turun dari mata. Dan lihatlah, kini seorang kakek di pengujung usia senjanya, datang walau tak bisa berjalan kaki.

“Saya rela meninggal dalam keadaan berhijad, ya Allah, mudah-mudahan acara ini membangiktkan untuk izzul islam dan muslimin, ya Allah kabulkanlah,” terbata-bata karena tak kuasa menahan tangis.

“Tak kuasa manusia mengumpulkan massa sebanyak ini, kalau bukan karena panggilan iman, mereka tidak akan bersusah payah ke sini,” tutupnya sambil tersenyum simpul dengan bola mata yang berkaca-kaca kering sudah tangisnya keluar.

Aksi Bela Islam selalu memberikan kesan tersendiri bagi siapa pun yang pernah mengikutinya, meskipun mewujud dalam variasi yang kadang sulit diungkapkan dan dijelaskan dengan kasatkata. Tak pernah terbayang memang, bagaimana ribuan orang rela berpeluh, mengadu nyawa, berjalan kaki dari Ciamis hingga Jakarta. Sebagaimana dilakukan Haji Nonof bersama santrinya rela jalan kaki hingga tindakannya memberi inspirasi banyak orang di seluruh Indonesia.

”Pelarangan-pelarangan tidak akan menyurutkan langkah kami,” ujar Ketua Kafilah Ciamis, Haji Nonof Hanafi saat tiba di Bandung setelah menyusur 120 KM melewati malam-malam panjang.
Luar biasa. Perjalannya menuju Jakarta telah membuat ribuan orang di setiap perjalanan memberikan simpati dan applaus. Tak sedikit  tangisan warga tumpah ruah meluber sepanjang jalan yang menyambut bak pahlawan besar.

Pantauan INA dalam perjalanan, dari balik kaca jendela, di sudut sekolah, selama jalan mereka lalui dalam perjalanan menuju Jakarta disambut tangis haru seraya melambaikan tangan.
Warga menyambutnya degan tulus. Ada yang membawakan setandan pisang, sekarung bonteng (timun), hingga keresek berisi buah-buahan yang baru dipanen dari kebunnya.

Sambutan tumpah ruah, bak mengiringi pasukan perang. Hadiah bunga, air mineral, sendal, dan lainnya, ada yang bangga menenteng karton coretan tangan pesan sambutan mereka: “Selamat Berjuang Para Pembela al Quran”.

Berbondong masyarakat merindu. Tak usah tanya sebanyak apa makanan yang menggunung hingga puluhan truk, kekuatan hati telah menggerakkan mereka. ”Mereka adalah para pembela al Quran, apapun akan kita lakukan oleh mereka,” kata seorang warga Bandung sambil menangis.

Setiap kafilah melewati warga, selalu saja air mata tak bisa tertahan. Bak pahlawan – dan memang pahlawan-, sorak takbir mengiringi perjananan menuju Cianjur hingga akhirnya mereka bisa tiba di Jakarta tanggal 2 Desember 2016, sekira pukul 09.00. Sekarang, kita akan melihat pemandangan yang begitu dramatis.

Detik-detik ketika mereka melewati Thamrin hingga menembus lautan manusia di kolam Bundaran Bank Indonesia hingga masuk ke Monas. Satu per satu wajah coklat yang tersengat sinar mentari ini tiba. Wajah yang didominasi para belia.

Menyipit matanya, tetiba saja air mata tertumpah ruah.Tangis pecah bersedu-sedu.
Huuuu….uuu…uu,” suara massa menangis sesenggukan tak bisa berhenti. Sebagian jurnalis, sambil menyorot mereka dengan kamera SLRnya tak kuasa menahan air mata  yang sudah mengucur deras melewati dagunya. ”Allahu Akbar..Allahu Akbar..Allahu Akbar..saudara kita dari Ciamis telah tiba,” menggemuruh.
Hujan yang Mengagumkan pada Aksi Super Damai 212
Semua larut dalam haru. Semua tergugu. Kafilah Ciamis, hanyalah orang-orang biasa dari sudut kampung nun jauh di sana. Tapi, apa yang dilakukannya dapat menggetarkan jutaan manusia dari penjuru negeri. Sambil terus berjalan, tangis haru menemani mereka menembus lautan manusia.

Berdatangan massa, bersimpuh, segera memeluk saudara-saudara mereka: erat. Lama mematung, tangis itu kian menggedor-gedor emosi. Seorang kakek peserta jalan kaki dengan surban kumalnya menerima sekuntum bunga merah sambil mengusap sudut matanya walau ia tahu itu tak kan membuatnya berhenti menangis.

”Sunnguh! Perjuangan kalian tidak sia-sia,” histeris seorang penyambut sambil memeluk erat-keras pemuda-pemuda Ciamis yang tak seorang pun dikenalinya. Pekik takbir bercampur tangis terus berbaur mengiringi kafilah ini hingga ke panggung utama. Akhirnya, wajah yang selama ini hanya beredar di medsos, kini berbaur di antara jutaan massa aksi.

”Ciamis mengubah segalanya,” kata Riwa, seorang peserta aksi asal Riau yang rela menghabiskan sebulan gajinya agar bisa datang ke Aksi Damai Bela Islam di Jakarta.

”Kami benar-benar malu kepada mereka,” katanya. Tak hanya Riwa sendiri, mungkin kita sendiri merasakannya.”

Bola Salju Ciamis

Aksi jalan Kaki warga Ciamis telah dipilih Allah Subhanahu Wata’ala menjadi wasilah umat Islam Indonesia, apakah benar nilai-nilai Islam ada dalam hati mereka.

Alhamdulillah, tekanan, penggembosan, intimidasi dan serangkaian fitnah agar gerakan umat Islam tidak menyatu justru berbalik layaknya bola salju.

Aksi nekad sauda Muslim Ciamis berjalan kaki setelah aparat keamanan melakukan intimidasi agar mereka tidak sampai Jakarta, justru menjadi viral di media sosial (medsos).

Aksi jalan kaki mereka, melahirkan solidaritas dan simpati banyak orang sehingga mereka semakin ingin datang ke Jakarta.

”Ini adalah panggilan di sini (menunjuk dada), kami tak kan pernah rela al Quran kami dinista,” kata Irmansyah, yang datang jauh-jauh dari Balikpapan bersama kawannya yang bahkan menjual HP satu-satunya untuk bisa datang ke Jakarta.

Irmansyah dan ratusan temannya rela mencarter pesawat dan kucing-kucingan dengan aparat saat masuk ke bandara.

”Kami dari Balikpapan ingin menyuarakan agar Ahok segera ditangkap,” kata Abu Syamil.*

Kisah lain datang dari Surabaya.  Hari itu, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur,  Ainul Yaqin berangkat ke Jakarta dengan penerbangan pertama pagi hari saat hari Jumat 02 Desember 2016, tepat Aksi Super Damai belangsung.

“Yang saya kaget, saat kami turun di bandara, ratusan orang yang tadi di pesawat, tiba-tiba semua berganti baju putih-putih saat turun di bandara. Subhanallah, rupanya tadi satu pesawat itu tujuannya sama,” ujarnya Pengurus Wilayah MUI Jawa Timur ini menceritakan pengalamannya.

Ada pula Ibu Sri, seorang nenek berusia 72 tahun asal Surabaya, yang mewajibkan kelima anaknya untuk ikut Aksi Bela Islam.

”Di usia ini, saya sendiri sudah siap mati untuk membela agama, apalagi kalau al Quran kami dinista,” katanya sambil mengepalkan tangannya.

Yang tak kalah menakjubkan, adalah pemandangan mata seorang santri Ma’hadul Qur’an wal Qiroat az-Zikra bernama Anugerah. Di tengah keterbatasan fisiknya, ia bahkan merangkak dari rumahnya untuk datang ke Monas.

Karena mengalami keterbatasan fisik, (maaf) ia harus berjalan dengan kedua tangan dan kedua kakinya menuju Monas. Tak ada rasa lelah atau meminta bantuan, Anugerah ikut merapatkan barisan bersama sedikitnya lebih 2 juta umat Islam lainnya.

“Karena saya penghafal Qur’an, dan insya Allah al-Qur’an sudah menyatu dengan hidup dan diri saya. Jadi, jika saya enggak ikut Aksi Super Damai 212 kemarin, saya merasa diri ini sangat terhina,” ungkapnya penuh semangat saat berbincang dengan Islamic News Agency (INA).
Yang menjadi pertanyaan, jika bukan karena Allah, siapa mampu menggerakkan semua ini?

Monas Rasa Makkah

Aksi Bela Islam III atau popular disebut Aksi 212 (mengabadikan peristiwa aksi tanggal 02 Desember 2016) selain membangkitkan gerakan massa Islam di seluruh Indonesia untuk datang di Jakarta, juga melahirkan solidaritas ukhuwah antar elemen Islam tanpa melihat status, latar-belakang dan menghilangkan sekat perbedaan yang selama ini sering terjadi.

Hal ini dirasakan peneliti Ahmad Kholili Hasib, peneliti pada Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) yang menyaksikan langsung selama aksi di Monas.
Penulis muda asal Bangil Pasuran Jawa Timur itu sengaja datang dari kampungnya datang dan menyaksikan langsung acara yang sebelumnya telah banyak digembosi polisi, tokoh ormas bahkan media massa dengan berbagai tuduhan kurang nyaman ini.

Dari Menteng, usai shalat Subuh ia bersama rombongannya berjalan menuju lokasi. Tepat  pukul 05.00,  ia  mendapati 20 orang anak muda, usianya 20 tahunan berjalan dari Cikini meneriakkan Allahu Akbar berkali-kali. Saat  bertemu dengan jamaah lain mereka menunjukkan sikap hormat, bersalaman dan lempar senyum. Padahal mereka tidak saling kenal.

Ia makin kaget, satu jam berikutnya, rombongannya yang semula hanya dengan puluhan orang, tiba-tiba membengkak saat  melewati depan Gedung Proklamasi.

Ribuan orang keluar dari gang-gang, gedung, bergabung dengan gelombang orang di depannya bergerak perlahan dari Jalan Diponegoro, Stasiun Gondangdia sampai Cikini. “Barisan kami bertambah panjang,” ujarnya.

Yang menakjubkan, selama perjalanan menuju Monas, ia menyaksikan ratusan orang yang tidak saling mengenal itu saling tebar senyum saling sapa, saling berbagi, saling beramal dan saling mengingatkan. Suasanya mirip umrah dan haji di Tanah Suci Makkah al Mukarramah.
”Ini benar-benar seperti suasana haji, bahkan lebih,” kata seorang bapak sambil menenteng poster “Tangkap dan Penjarakan Ahok!”.

Jika di Makkan orang banyak berbagi khas makanan Arab, di sini, ratusan orang (bahkan ribuan) tak henti-hentinya memberikan hidangan entah datang dari mana.

Pantauan INA, mendekati Monas, suasana semakin kentara.Dari balik kawat di seberang tenda ada yang berbagi nasi ayam, minuman gratis, jus, roti, sampai pijat gratis. Semuanya ada.
”Ayo siomay gratis,” kata si ibu depan Mc. Donald Thamrin menyeru, segera dikerubuti ratusan orang. Di ujung Pejambon, seorang polisi muda tak nampak malu mengambil air minum dan makanan dari para peserta aksi damai. Di depan Gambir, Ibu-ibu asal Bekasi membagikan gerombolan anggur merah yang masih mengkilap.

Di antara silang Monas, seorang pedagang gerobak berurai air mata. Tiba-tiba seseorang membeli semua dagangannya dan meminta membagikan secara gratis.
”Baru sekarang ini saya melihat kejadian seperti ini,” katanya.

Ormas Islam membagikan makanan kepada peserta aksi. [Foto: Sobah]
Ormas Islam membagikan makanan kepada peserta aksi. [Foto: Sobah]

Pejaja asongan perintil kacang, hingga mangga plus garamnya tak ketinggalan bajir rezeki. Di sudut-sudutnya, seorang tentara lahap bersantap bersama para laskar.
 ”Kalau kaya gini nggak bakal ada yang kelaparan kehausan, padahal massa ada jutaan,” kata Tukang Mie Ayam yang sudah diborong.

Semilir angin lembut berkawan langit cerah benar-benar membuat suasana semakin hangat. Zikir dan doa terlantun, menembus kaki langit, hingga hujan, yang menurut sang Nabi adalah rahmat itu turun mengguyur lembut setiap jengkal sekitar Monas membuat suasana begitu syahdu.

Tua, muda, artis, pejabat, karyawan, pengusaha, dosen, dokter, mahasiswa, peneliti hingga beragam suku dan daerah tumplek blek semua dengan satu kesadaran: Membela al Quran yang dinista.
”Sebagian dari kita tinggalkan sanak saudara, keluarga rela jauh-jauh ke sini. Kami hanya ingin keadilan, agar si penista segera ditahan hari ini juga,” kata pria asal Ambon kita, Irmansyah.

Jika di Makkah, orang berbondong-bondong menangis di kaki Ka’bah, kita melihat di sini mereka bersimpuh bermunajat di kaki langit. Wisata ruhani yang menggetarkan jiwa, begitu nikmat ketika harus bersujud, berjalan kaki tanpa beban dalam tawaf hingga sai di Shafa dan Marwa. Hanya kedunguan yang tersisa bila ada yang mengatakan mereka yang tulus memenuhi panggilan jiwa yang tak ternila itu dibayar dengan secuil materi.

”Saya saja ongkos sekali jalan 1,6 juta, itu uang pribadi saya, gimana dibayar, saya yang malah keluar uang,” kata Irmansyah. Ibu Sri, nenek asal Surabaya kita pun mengatakan total lebih dari 15 juta terpakai bersama anak-anaknya untuk berangkat.

Dengan ketulusan, setiap peserta yang berlelah-lelah, baik secara fisik maupun materi, dapat melakukannya tanpa beban apapun. Menaiki pesawat, menaiki bus, bersepeda motor bahkan berjalan kaki, menyambut para tamu, berbagi makanan, berdoa, berzikir, menangis, semua melaluinya dengan tulus tanpa bergantung pada siapapun kecuali pada sang Maha Esa.

“Aksi 212 memiliki energi luar biasa. Salah satu yang nampak adalah energi persaudaraan Muslim. Kaum Muslimin dari berbagai latar belakang organisasi, pendidikan, profesi, jama’ah, dan  suku  yang berbeda seperti saudara kandung,” ujar Kholili.

Suasana ini, menurut Kholili, mengingatkannya pada pesan hadits dari Rasululllah Shallahu ‘Alaihi Wassallam yang berbunyi, “Ruh-ruh itu ibarat prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.”

Di mana kita akan melihat shalat Jumat terbesar sepanjang sejarah umat ini? Yang sesaknya memenuhi jalanan protokol ibu kota mengular empat sisi Monas, Patung Kuda, Budi Kemuliaan, Tanah Abang,  Medan Merdeka Selatan, Istiqlal, Kwitang, Pasar Baru, Senen, Tugu Tani, Haji Agus Salim, Menteng,  hingga Thamrin dan massa yang terus berdatangan dari Bundara HI tak henti-henti.
Karena membludaknya massa, disulap sudah, perkantoran hingga Kafe Starbucks Coffee Sarinah seberang McD hingga kantor-kantor menjadi shaf-shaf shalat yang rapat hingga tangga-tangganya.

Tak kuasa, air mata gerimis. Ya Rabb, hingga di kafe –kafe itu, semua menjadi tempat sujud!
”Kapan lagi kita bisa bergabung bersama jutaan kaum muslimin di sini,” kata seorang karyawan berbaju batik yang sehari-harinya ngantor di sekitar Sarinah. Ia biarkan dirinya dalam kuyup bersama air yang terus mengalir.

Tak terasa, jutaan tetesnya membasahi jutaan manusia di atas jalanan di bawah naungan kumandang azan Jum’at dua kali menggantung di atas langit Ibu Kota. Syahdu. ”Kalau nggak ada hujan, semua di jalan, nggak sampai di kantor-kantor dan kafe, bisa sampai HI ini,” kata seorang warga sambil menunjuk Hotel Grand Indonesia yang nampak selempar mata memandang dari Sarinah.

Suasana semakin syahdu ketika hujan semakin deras mengguyur, bersahutan dengan khutbah Habib Rizieq utamanya tentang surat Al Maidah dan penistaan agama.

[Foto: Rifa'i Fadhly]
[Foto: Rifa’i Fadhly]

Pemandangan dramatis kembali berulang. Tak gentar sejengkal pun massa akan lebatnya hujan. Semua bergeming, semakin banyak barisan terisi. Semua duduk beralas apa saja, bahkan beralaskan aspalt yang mengkilap mengalirkan air.
 Di buntut shaf, selemparan batu dari Sarinah, tiga orang bocah kuyup badannya dengan poni mengkilat berjejer rapi di jidatnya. Lipatan baju putihnya mengkerut bak kerupuk disiram, sedangkan celana merahnya dibiarkan menampung guyuran air dari langit.

Sembab matanya, tapi bukan karena hujan. Kakinya menekuk, bersimpuh kepada sang Maha. Ya Rabb, anak SD mana yang rela berbasah-basah beralas secompang kardus basah selebar kening mereka? Dan kini semua itu nyata!

Semua hanya bisa tergugu. Air mata tak terasa tumpah berkali-kali, menyaksikan kekuasaan sang Maha, melihat umat yang begitu syahdu. Orang tua mana yang begitu bangga melihat anak-anaknya ini bermunajat Dengan khusyuk ? Anak-anak berseragam merah-putih ini mendengarkan ceramah dengan mata yang bukan lagi berkaca, tapi sudah mendanau.

Momen yang tak mungkin dijangkau oleh nalar. Ketika jutaan manusia bergeming, bermunajat, membiarkan dirinya kuyup oleh limpahan ramhmatNya. Tangannya terangkup berdoa, para anak yang dengan syahdu terisak, air mata dan hujan sudah tercampur baur.

Ketika semua menyemut syahdu, merintih dalam berdiri, rukuk dan sujud. Hujan semakin lebat, selebat tangis yang pecah ketika imam membaca surat al Maidah hingga Qunut nazilah yang begitu panjang.

“Sekarang kita membela al Quran, kelak al Quran semoga menjadi pembela kita di hari Kiamat,” ujar Ustad Arifin Ilham dari panggung utama.

Meski hujan menunjukkan janjinya, namun lautan wajah dalam balutan baju putih-putih itu tak sedikitpun menampakkan wajah ‘mendung’. Sebaliknya, guyuran hujan justru disambut senyum dan kekhusukan jutaan massa. Semua bergembira kegirangan. Shalawat serta salam menggema mengisi ruang di antara belantara beton penantang langit ibu kota.

Sayup-sayup terdengar senandung rindu menyesakki seluruh jalanan Ibu Kota dari Thamrin hingga Sudirman di Bundaran Indonesia.

“al Quran imam kami…al Quran pedoman kami…al Quran petunjuk kami…al Quran satukan kami…!”
“Aksi Bela Islam, Aksi Bela Islam, Aksi Bela Islam Allah Allahu Akbar”
“Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar Allah Allahu Akbar!” 

”Ini semacam hadiah umat Islam Indonesia bahwa mereka benar-benar mencintai agamanya, mencintai negerinya, dan mereka berdoa untuk negeri,” kata seseorang peserta sambil mengusap air matanya.

Aksi simpatik ini berakhir usai shalat Jumat dengan imam dan khatib Imam Besar FPI dan Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI)  Habib Rizieq Shihab  dengan muazin Kapolres Cirebon Kota, AKBP Indra Jafar. Dalam khutbahnya, Rizieq menyampaikan datangnya jutaan umat Islam dalam Aksi Bela Islam III sebagai karunia Allah.

Mereka datang untuk memuliakan Al-Quran, bukan untuk menghancurkan NKRI. Sebab Al-Quran adalah jantung dari agama Islam.

“Hari ini jutaan umat Islam datang ke Jakarta bukan untuk menghancurkan NKRI, justru untuk membela NKRI, membela Al-Quran, kebhinekaan yang koyak,” ujar Rizieq.*

 Allah akan mendatangkan kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, merela tidak takut pada celaan orang yang suka mencela

Fenomena Baru Gerakan Islam Indonesia

Shalat Jumat berakhir pukul 12.00 lebih. Lautan manusia berbaju putih ini membubarkan diri tanpa ada keributan dengan aparat sebagaimana layaknya pengerahan massa. Bahkan seluruh taman dan jalan tetap terjaga rapi tanpa ada sampah berserakan.

Tim INA yang disebar di banyak titik menyaksikan langsung, gelombang umat Islam datang dari berbagai propinsi ini bahkan banyak yang tidak mampu masuk ke senayan.  Masih massa masih tertahan di berbagai tempat, termasuk di Senin, Cikini, Gondangdia, Bundaran HI.

“Tidak ada aksi apapun yang pernah saya lihat sebesar ini. Tuh orang pade salah, harusnya ke Monas jalan ke depan, eh dia malah kebalik ke belakang. Saya bilang, Monas kesono no, ente kebalik,” ujar Habi Obeng (65), warga Sabang, kawasan lebih dekat dengan Monas.

Inilah shalat Jumat terbesar di dunia. Sebagian mencatat, massa diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta orang.

Kemuning senja menyapa lembut Ibu Kota. Lembayungnya menaungi jutaan umat yang mulai kembali pulang, membawa berjuta kisah dan seruang rindu. Kerinduan yang seketika memenuhi rongga dada, membuncah. Kenangan yang bekelebat hebat, seakan ingin kembali berulang.
Jutaan orang mulai beringsut meninggalkan Monas dan sekitaranya. Namun bekasnya masih menyisahkan kesan mendalam bagi banyak orang termasuk Kholili.  Setidaknya ada dua hal penting ia catat.

Aksi 212 menunjukkan kualitas ukhuwah umat Islam.  Sebab jika Islam itu ditegakkan, jangankan manusia, hatta, hewan dan tanaman akan mendapat rahmatnya. Bukan ‘rahmatan lil alamin’ yang sering digembar-gemborkan di media, namun dalam aksinya justru menyakit umat Islam sendiri. Aklak itulah yang ditunjukkan dalam Aksi Bela Islam III.

“Inilah kualitas sebenarnya umat Islam, kualitas hati yang merupakan cermin iman,” ujarnya.
Kedua, aksi 212, melalahirkan gerakan baru Islam Indonesia akibat  getaran Surat Al-Maidah. Setelah sekian lama umat Islam didzalimi, ulamanya dibully, agamanya dicela, informasinya dikaburkan media, tetapi atas kehendak Allah, sebuah kelompok yang kecil – yang sangat tidak popular bahkan telah lama disematkan padanya panggilan-panggilan dan cap buruk – qadarallah, ditunjukkan Allah mampu menghimpun jutaan orang dengan aksi sangat terpuji.

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela,” ujar Kholili mengutip Surat Al-Maidah: 54.

Inilah fenomena baru yang tidak pernah dibayangkan oleh teori akademis apapun di Indonesia.
“Saya yakin, di tangan orang-orang yang sabar dan pecinta Al-Quran, yang tidak takut celaan orang yang mencela inilah janji rakhmat Allah akan turun dan Indonesia akan terjaga.[]
Rep: Tim INA
Editor: Cholis Akbar
-Eramuslim.com-


0 comments: