Biografi Sahabat Nabi, Abdurrahman Bin Auf : Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya (Seri 8)

Filed under: by: 3Mudilah

C. Perjalanan Hidup dan Kepribadiannya

Abdurrahman mendampingi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan hidup bersama beliau pada tahun-tahun yang sulit dan hari-hari yang penuh cobaan. Juga pada saat-saat susah dan senang dan pada masa-masa damai dan perang. Ia benaung di bawah naungan majelis-majelis beliau, dan memperhatikan perilaku beliau yang merupakan cerminan terbaik dan paling sempurna dari Al-Qur’an. Selama tahun-tahun yang panjang, itu ia mampu memetik ajaran Nabi dalam setiap sisi kehidupan, dan mempelajari hal-hal yang memberi kebaikan di dunia dan mewujudkan keberuntungan dan kemenangan di akhirat. Abdurrahman adalah satu diantara generasi langka yang dibina oleh Rasulullahh Shallallahu Alaihi wa Sallam di Madrasah Al-Qur’an dan sunnah Nabi, yang mencerminkan prinsip-prinsip Islam, membawa cahaya iman, dan memimpin manusia serta memberinya petunjuk kepada tangga teratas dari kesempurnaan peradaban.
Abdurrahman adalah satu di antara yang terbaik dari yang terbaik, salah satu yang terunggul dari shahabat, baik dari segi akhlaknya, sifat-sifatnya, kepribadiannya, ibadahnya, sifat tawadhu’ dan zuhudnya, keikhlasan dan ketakutannya kepada Allah, maupun dari segi kemuliaan dan ketinggian kedudukannya. Dan ia berhak mendapatkan itu. Dia adalah satu dari mereka yang terdekat dan terdidik langsung dalam naungan kenabian selama dua puluh tiga tahun, baik di Mekah maupun di Madinah.
Abdurrahman bin Auf adalah seorang pedagang. Ia mencari nafkah dengan kedua tangannya, dan beruntung mendapatkan doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk keberkahan usahanya. Dunia pun seolah tercurah kepadanya dengan begitu mudah, hingga ia pernah mengatakan tentang dirinya bahwa jika ia mengangkat sebuah batu maka ia akan menemukan emas atau perak di baliknya. Allah menganugerahkan kepadanya harta yang tidak terhitung jumlahnya, dan Allah juga memberinya karunia berupa jiwa yang selalu rindu untuk memberi. Ia menghabiskan hartanya dengan berbagai sedekah dan infak di banyak bentuk kebaikan. Hartanya terus bertambah, dan perniagaannya semakin luas dan memberika keuntungan yang banyak. Saat ia meninggal ia mewariskan harta-harta yang berupa emas dan perak yang sangat banyak. Ia membuka tangannya untuk memberika pertolongan kepada golongan hamba dan budak. Ia telah memerdekakan ribuan orang dari mereka, dan bahkan ia pernah memerdekakan sebanyak tiga puluh orang sekaligus dalam satu hari.
Ia adalah orang yang sering melaksanakan haji. Ia turut bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamdalam haji wada’, dan pada masa khulafaur-rasyidin ia sering menghajikan orang-orang. Ia memahkotai ibadah yang agung ini dengan melaksanakan haji bersama ummahatul mukminin, dan ia tak ragu mengeluarkan hartanya untuk melayani mereka dan menafkahi mereka selama dalam perjalanan tersebut. Maka ia pun mendapat kebahagiaan dengan kebaikan yang dilakukannya untuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah beliafu wafat, dan pujian beliau untuknya, serta pujian istri-istri Nabi untuk nya atas perbuatan mulia tersebut.
Tak ketinggalan, ia juga tekun dalam mihrab ibadah dan shalat. Ia senantiasa mengikut Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat-shalat beliau dengan berjamaah. Ia adalah sosok yang selalu membaca Al-Qur’an, berbakti kepada ibunya, memuliakan tamu-tamunya, dan memiliki hati yang lembut. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar, sangat tawadhu’, zuhud, dan mempunyai keikhlasan yang tinggi. Namun dengan segala kelebihan yang ia miliki tersebut, ia tetap merasa khawatir jika ia termasuk mereka yang disgerakan kebaikannya di dunia. Maka ia selalu berdoa kepada Allah dan berkata, “Ya Allah, jagalah aku dari kekikiran diriku.”

1. Shalatnya, ketekunannya dalam membaca Al-Qur’an dan Hajinya

Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan dalam kitab Az-Zuhd dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf berkata, “Abdurrahman bin Auf selalu melakukan shalat yang panjang sebelum shalat Zhuhur, dan jika ia mendengar adzan maka ia akan menarik jubahnya dan keluar.”
Dan diriwatkan oleh Abu Ya’la dari Abdullah bin Umair berkata, “Jika Abdurrahman bin Auf memasuki rumahnya maka ia akan membacakan ayat kursi di setiap sudutnya.”
Ibnu Hibban dan yang lainnya meriwayatkan dalam sebuah hadits yang sangat panjang, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, “Bahwasanya Abdullah bin Abbas memberitahunya bahwa ia pernah membacakan Al-Qur’an kepada Abdurrahman bin Auf pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab. Ia berkata, “Aku tidak pernah menyaksikan seseorang yang begitu merinding sebagaimana Abdurrahman saat ia mendengar bacaan Al-Qur’an.”
Dan pada tahun kesembilan Hijrah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Abu Bakar untuk memimpin Haji, dan ikut bersamanya banyak toko shahabat diantaranya Abdurrahman bin Auf, dan sat itu ia membawa hewan kurbannya.
Dan ia melaksanakan haji bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada saat haji wada’. Al-Waqidi dan muridnya Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaksanakan haji wada’, belia berkata, kami berhasil menyusul Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di Dzul Hulaifah pada malam hari, dan saat itu bersama kami terdapat Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan.”
Dan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ath-Thabrani, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Urwah bin Zubair, dari Abdurrahman bin Aufa berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Apa yang engkau lakukan ketika mecium hajar?” Aku berkata, “Aku menciumnya dan kemudian aku tinggalkan”, maka beliau berkata, “Engkau telah benar.”
Ketika Umar bin Khaththab terpilih sebagai khalifah pada tahaun ketiga belas Hijrah, ia menugaskan Abdurrahman untuk memimpin haji pada tahun itu. Maka ia pun memimpin kaum muslimin dalam menunaikan haji.
Disebutkan oleh Khalifah bin Khayyath dalam kitab Tarikhnya dengan singkat, dan Ibnu Sa’ad dengan panjang lebar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, “ketika Abu Bakar wafat dan Umar terpilih sebagai khalifah, ia menugaskan Abdurrahman bin Auf untum memimpin haji. Kemudian Umar selalu melaksanakan haji setiap tahunnya hingga ia meninggal. Dan ketika Utsman bin Affan terpilih sebagai khalifah, ia pun menugaskan Abdurrahman bin Auf untuk memimpin haji.”
Ibnu Auf juga turut menunaikan haji bersama Umar pada saat haji terakhir yang dilakukan Umar pada tahun kedua puluh tiga Hijrah. Pada tahun itu Umar menginzinkan istri-istri Nabi untuk menunaikan haji. Mereka kemudian dibawa dengan sekedup, dan ia menugaskan Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf untuk berangkat bersama mereka.
Khalifah juga menyebutkan bahwa Abdurrahman ikut melaksakanakan haji bersama ummahatul mukminin pada tahun keempat belas Hijrah.
Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwasanya ketika Utsman terpilih sebagai khalifah pada tahun kedua puluh empat Hijrah, pada tahun itu ia menugaskan Abdurrahman bin Auf untuk memimpin haji pada tahun itu. Maka ia pun memimpin kaum muslimin dalam menunaikan haji.

2. Perniagaannya, Keberkahan yang diperolehnya, dan Melimpahnya harta di tangannya

Ibnu Auf yang belajar Al-Qur’an dan sunnah secara langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan memahami prinsip-prinsip agama dengan sangat baik dan menerapkannya dalam kehidupan nyata dengan bimbingan Nabi, dan mengetahu bahwa Islam adalah sebuah system yang menyeluruh mencakup urusan dunia dan akhirat, di mana prinsip-prinsipnya menyentuh masjid dan pasar, keluarga dan hubungan sosial masyarakat, serta medan jihad dan medan dakwah kepada Allah, maka jika ia tidak terlihat sedang mengerjakan shalat di masjid, atau thawaf di Ka’bah, atau berjihad dalam sebuah peperangan, atau mengambil ilmu di majelis-mejelis Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ia pastinya tengah bepergian ke penjuru negeri, membuat berbagai kesepakatan di pasar-pasar, dan berdagang sesuai dengan rambu-rambu yang ia pelajari dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Dia adalah orang yang memiliki semangat yang meluap-luap terbiasa dengan kerja keras dan usaha yang tek berhenti dalam setiap langkah yang diambilnya. Dengan tabiat ini ia menemukan kenyamanan dalam mengerjakan pekerjaannya yang terhormat dan halal. Baginya perniagaan bukanlah media untuk memonopoli, atau untuk memupuk harta dan mencintai kekayaan, serta menggunakan hartanya untuk membeli berbagai macam property untuk dibanggakan untuk di banggakan. Dan tidak juga dalam rangka saling berlomba dengan para pengumpul harta lainnya guna memuaskan nafsu pribadi dan tujuan mereka yang busuk.
Sama sekali tidak! Baginya perniagaan adalah untuk mewujudkan panggilan langit, “Dialah yang menjadikan bumu untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya.”120 dan untuk mengamalkan arahan-arahan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terdapat dalam banyak hadits shahih dari beliau, seperti : “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.”, atau, “Alangkah baiknya harta yang baik pada tangan orang yang baaik pula”, dan “Harta paling baik yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang ia dapatkan dari tangannya sendiri.”
Selain itu hartanya juga ia gunakan untuk menguatkan umatnya, menyambung hubungan kekerabatannya, dan membantu saudara-saudaranya. Ia juga menginfakkannya untuk mereka yang membutuhkan, membebaskan budak, menyiapkan pasukan Islam, dan bagian terbanyak yang ia infakkan dari hartanya adalah di jalan Allah.
Tahun-tahun di mana iam memiliki kekayaannya telah menjadi saksi atas contoh tertinggi dari pemberian dan infak yang begitu banyak. Ini terjadi selama lebih kurang tiga puluh tahun. Sejak ia menjejakkan kakinya di bumi hijrah hingga ia kembali menghadap Tuhannya.
Ketika ia hijrah ke Madinah, ia meninggalkan seluruh kekayaannya di Mekah, dan datang dengan tangan kosong. Ia tidak memiliki emas atau perak, hingga kemudian menginap di rumah saudaranya dari Anshar Sa’ad bin Ar-Rabi’ yang menawarkan setengah hartanya untuknya. Maka Abdurrahman berkata, “Aku tidak membutuhkannya, adakah pasar tempat berdagang?”, dan ia pun menunjukkan pasar kepadanya. Ibnu Auf menuju pasar untuk bekerja dengan tangannya sendiri. Tak lama kemudian kekayaan dunia pun datang kepadanya, hartanya menjadi banyak, ia bisa menikah, dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakannya dengan berkata, “Semoga Allah memberkahimu.”
Maka ia mendapatkan keberkahan dalam perniagaannya. Ia sangat beruntung dalam usahanya, hingga hartanya tumbuh dalam jumlah yang sangat banyak. Kafilah-kafilah dagangnya terus berdatangan ke Madinah dari Mesir, dan Syam membawa apa-apa yang dibutuhkan oleh jazirah arab, baik makanan, pakaian, maupun yang lainnya. Gudang-gudangnya dipenuhi oleh harta, dan ia pun melimpahkan sedekah dan pemberian yang sangat banyak kepada orang-orang.
Dalam hadits tentang persaudaraan antar aMuhajirin dan Anshar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Sa’ad, dan yang lainnya dari hadits Anas bin Malik, dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Sa’ad pada akhir hadits dikatakan, “Abdurrahman berkata, “Sungguh aku melihat diriku jika aku mengangkat batu, maka aku berharap akan menemukan emas atau perak di baliknya!!”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari, “Ucapannya itu merupakan isyarat tentang dikabulkannya doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar Allah memberkahirnya.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Hakim, dan yang lainnya, dari Utsman bin Asy-Syarid berkata, “Abdurrahman bin Auf meninggalkan seribu unta dan tiga ribu doma di Baqi’, serta seribu kuda yang digembalakan di Baqi’. Dan di Al-Jurf ia menanam dengan menggunakan dua puluh penyiram tanaman, yang menjamin makanan pokok keluarganya selama setahun.”
Maksud dari ucapannya, “Dan di Al-Jurf ia menanam dengan menggunakan dua puluh penyiram tanaman”, sebanding dengan mengolah tanahnya dengan menggunakan dua puluh macam alat pertanian pada zaman ini. Dan ini tentunya membutuhkan tanah yang membentang luas. Dan ini hanya untuk wilayah Al-Jurf saja, selain dari tanah-tanah dan berbagai property yang dimilikinya di tempat lain.
Dan diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Abdil Barr, dan yang lainnya, dari Syaqiq bin Salamah berkata, “Abdurrahman mendatangi Ummu Salamah dan berkata, “Wahai Ummul mukminin, sungguh aku takut akan celaka. Aku adalah orang yang paling kaya di Quraisy, aku baru saja menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar! Maka ia berkata, “Infakkanlah wahai anakku, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Sesungguhnya ada diantara shahabatku yang tidak akan melihatku setelah aku berpisah dengannya.” Maka aku (Ibnu Auf) mendatangi Umar dan memberitahunya. Lalu Umar mendatanginya dan bertanya, “Apakah aku termasuk dari mereka?” Ummu Salamah berkata, “Demi Allah tidak, dan aku tidak akan memberitahu siapapun lagi setelahmu.”
Diriwayatkan oleh Ahmad, Abdu bin Humaid, Ath-Thabrani, dan Abu Nu’aim, dari Umarah bin Zadzan, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas bin Malik berkata, “Ketika Aisyah sedang berada di rumahnya, ia mendengar suara ramai di Madinah, maka ia berkata, “Suara apakah itu?” mereka berkatam “Kafilah Abdurrahman bin Auf telah datang dari Syam membawa segala hal. Anas berkata, “Saat itu jumlahnya tuju ratus unta. Maka Madinah pun terguncang oleh suaranya!” lalu Aisyah berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku telah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”121 Ketika berita ini sampai ke Abdurrahman bin Auf, ia berkata, “Jika mampu, aku akan memasukinya dengan berdiri” Maka ia menginfakkan seluruh kafilah tersebut dengan segala bawaannya di jalan Allah Azza wa Jalla.”
Ini hanyalah sebagian dari kekayaan Abdurrahman yang begitu banyak. Tujuh ratus kendaraan penuh beban, memenuhi jalanan kota Madinah hinga menimbulkan keguncangan dan hiruk-pikuk, didengar oleh pedagang, dan suaranya sampai ke telinga para wanita yang sedang berada di rumahnya! Pada zaman kita sekarang, ini sebanding dengan tujuh ratus mobil yang penuh dengan makanan dan pakaian, ditonton oleh banyak orang dalam sebuah pemandangan yang menakjubkan. Semua itu dimiliki seorang laki-laki mulia yang ketika datang ke Madinah, ia tak membawa apapun dari kekayaannya yang ia tinggalkan di Mekah. Diberkahilah ia dalam rezekinya hingga memperoleh kekayaan yang begitu besar.
Bersambung Insya Allah . . .

0 comments: