Fiqih: LAFADH-LAFADH TAKBIR HARI RAYA

Filed under: by: 3Mudilah

Secara umum, pada dasarnya lafadh takbir yang penting mengandung lafadh-lafadh pengagungan bagi Allah seperti : “ALLAHU AKBAR” atau lafadh-lafadh lainnya; hanya saja perlu diketahui bahwa lafadh-lafadh tersebut semestinya tidak menyimpang dari kaidah syar’iyyah.

Berkaitan dengan takbir hari raya (‘id), sebenarnya tidak ada satupun hadits shahih berstatus marfu’ dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bentuk  lafadh takbir untuk hari raya.[1]

Karena tidak ada hadits shahih marfu’ tentang lafadh takbir khusus maka diperlukan atsar/fatwa-fatwa ulama tentang bagaimana lafadh takbir hari raya tersebut yang tentunya tidak menyimpang dari kaidah yang telah diletakkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Adapun versi-versi lafadh takbir hari raya adalah sebagai berikut :

1). Lafadh takbir Umar, Ali, dan Abdullah bin Mas’ud :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , وَاللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah.”

Lafadh di atas dianggap sebagai riwayat dari Rasulullah dari Jalur Jabir yang diriwayatkan oleh ad Daruquthni, namun setelah diteliti para ulama, hadits tersebut sanadnya sangat lemah karena ada perawi bernama Jabir al Ja’fi yang dicela oleh Ibn Qaththan, dan Amr bin Syamr yang disebut sebagai pendusta oleh as Sa’di, dianggap lemah oleh al Fallas, dan disebut sebagai munkarul-hadits oleh al Bukhari dan Abu Hatim.[2]

Apabila lafadh di atas dianggap sebagai hadits maka itu adalah hadits yang sangat lemah, namun bila dinisbatkan kepada Abdullah bin Mas’ud maka riwayat tersebut memiliki jalur periwayatan shahih mauquf yang di riwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah. Ibnul Mundzir juga menjelaskan bahwa lafadh tersebut berasal pula dari lafadh takbir Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib.[3] Di samping itu lafadh tersebut dipegang oleh sejumlah ulama di antaranya: an Nakhai, ats Tsauri, Ishaq, Sufyan.[4] Lafadh di atas merupakan lafadh takbir yang dipilih oleh Hanafiyah dan Hanabilah.[5]

2). Lafadh takbir Abdullah bin Mas’ud dalam riwayat lain :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ , وَاللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah.”

Lafadh di atas dikatakan sebagai riwayat dari Nabi Muhammad dari Jalur Jabir dengan versi lain yang diriwayatkan oleh ad Daruquthni dan Al Khathib, namun setelah diteliti para ulama, hadits tersebut sanadnya juga sangat lemah karena ada perawi bernama Jabir al Ja’fi yang dicela oleh Ibn Qaththan, dan Amr bin Syamr yang disebut sebagai pendusta oleh as Sa’di, dianggap lemah oleh al Fallas, dan disebut sebagai munkarul-hadits oleh al Bukhari dan Abu Hatim.[6]

Lafadh takbir tersebut dikatakan juga diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dalam versi yang lain.[7]  Lafadh takbir tersebut merupakan pilihan dari Malikiyah dan Syafi’iyah.[8]

3). Menurut Syafi’iyah dan Hanafiyah dalam versi lain :

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيراً وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَ هَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ وَ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, aku mengagungkan Allah dengan seagung-agungnya, dan memuji Allah dengan sebanyak-banyaknya di waktu pagi dan petang, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah saja, yang mana Dia sendiri yang telah mememenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-Nya, dan menghancurkan pasukan musuh, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah, kita hanya menyembah kepada-Nya saja dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak suka hal demikian ini.”[9]

Menurut Syafi’iyah ditambah dengan :

اَللَّهُمَّ صَلّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْصَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ذُرّيَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَسَلّمْ تَسْلِيماً كثيراً”
Artinya : Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam yang sebanyak-banyaknya kepada junjungan kami Muhammad,  beserta keluarga , shahabat, pembela-pembela, dan keturunan beliau” .[10]

4). Lafadh di bawah ini juga dipegang oleh Malikiyah, dan Syafi’iyah, di samping itu dipegang pula oleh al Hasan al Bashri:

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”[11]

5). Lafadh takbir Ibn Umar   :

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada yang benar dan berhak disembah kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya lah seluruh kerajaan dan pujian, Dialah yang berkuasa atas segala sesuatu”[12]

6). Lafadh takbir Abdullah bin Abbas riwayat al Baihaqi dengan sanad shahih:

 اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ وَ لِلَّهِ الْحَمْدُ , اَللهُ أَكْبَرُ وَ أَجَلُّ , اَللهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas apa-apa yang yang telah ditunjukkan-Nya kepada kita”[13]

7). Lafadh takbir Salman riwayat al Baihaqi dengan sanad shahih :

اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ , اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا
Artinya : “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, aku mengagungkan-Nya dengan seagung-agungnya.” [14]

Kesimpulan versi takbir :

Versi lafadh takbir secara khusus untuk syi’ar hari raya tidak didapatkan dari hadits marfu’; maka, agar lafadh takbir yang digunakan tidak menyimpang dari sunnah, perlu kiranya mengambil versi-versi takbir yang memiliki sanad kuat dari para shahabat. Di antara versi-versi yang disampaikan penulis  di atas, versi lafadh yang memiliki sanad yang kuat dari shahabat ialah : versi 1 (pertama), versi 2 (kedua), versi 6 (keenam), dan versi 7 (ketujuh).

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab
Penulis : Abu Hasan Saif, S.Pd.I
https://assiwak.wordpress.com/2013/09/25/fiqih-lafadh-lafadh-takbir-hari-raya/___________________________________________________________
FOOTNOTE:
  1. Abu Malik Kamal, shahih fiqh as Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhihu Madzahib al Aimmah I/603, Maktabah Taufiqiyah
  2. Muhammad Nashiruddin al Albani, Irwa’ al Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar as Sabil , Juz III , cet. 2, Beirut: al Maktab al Islami, th. 1985, hal. 124.
  3. Ibn al Mundzir, al Iqna’ , tahqiq Abdullah al Jibrin, juz I  cet. 1 th. 1408 H, hal. 110,  juga kitabnya al Ausath fi as Sunan wa al Ijma’ wa al Ikhtilaf, Juz IV (Cet. 1, Riyadh: Dar ath Thayyibah, th.  1985), hal. 303.
  4. Ibn al Mundzir, al Ausath fi as Sunan wa al Ijma’ wa al Ikhtilaf, Juz IV , cet. 1, Riyadh: Dar ath Thayyibah, th.  1985, hal. 304.
  5. Abd ar Rahman al Jaziri, Fiqh ‘ala Madzahib al Arba’ah,juz I, cet. 2, Beirut : Dārul Kutub al Ilmiyyah, 2003,  hal. 323.
  6. Muhammad Nashiruddin al Albani, Loc.Cit.
  7. Ibid., hal. 125.
  8. Kementerian Agama dan Wakaf Kuwait, al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah,  Juz  XXVII, cet. 1, Mesir : Dārush Shafwah, hal. 249.
  9. Abd ar Rahman al Jaziri, Op.Cit, hal. 324.
  10. Kementerian Agama dan Wakaf Kuwait, Op.Cit., hal. 270.
  11. Ibn al Mundzir, Loc.Cit.
  12. Ibid., hal 305.
  13. Abu Malik Kamal, op.cit., hal. 603-604.
  14. Ibid.

0 comments: