Penetapan Hari Raya Idul Adha 2014 Berbeda, Inilah Sikap Bijak Seorang Muslim

Filed under: by: 3Mudilah

Banyak dari ummat islam yang bertanya tanya: kapankah kita berpuasa Sunnah Arafah? Apakah mengikuti penanggalan dalam negri yang secara resmi telah ditetapkan bahwa hari Idul Adhha jatuh pada hari/tanggal : Ahad 5 oktober sehingga puasa sunnah Arafah dilakukan pada hari/tanggal Sabtu 4 oktober, ataukah mengikuti penanggalan di Saudi Arabaia yang secara resmi menetapkan bahwa Idul Adhha jatuh pada hari sabtu 4 Oktober, dengan demikian berpuasa pada hari Jum'at 3 Oktober?
Masalah ini sejak dahulu kala telah menjadi polemik dan persilangan pendapat antara ulama', karena itu LAPANG DADA alias LEGOWO dengan perbedaan adalah pripsip pertama yang harus anda tegakkan.
Mungkinkah anda dapat menyamakan persepsi semua ummat Islam, kalau ternyata persilangan pendapat itu telah ada sejak dahulu kala?
Dan bila anda telah berhasil menata perasaan anda, maka selanjutnya sadarilah bahwa ternyata para ulama' yang bersilang pendapat dalam masalah ini sepakat bahwa persatuan dan kesatuan ummat Islam lebih penting untuk dijaga dan diperjuangkan keutuhannya.
Karena itu, walaupun mereka bersilang pendapat dar sudut tinjauan keilmuan, namun dari sudut sosial dan kemasyarakatan, mereka BERLAPANG DADA dan menerima kenyataan bahwa mereka sendiri tidak atau belum mampu menyatukan persepsi dan keputusan dalam masalah ini. Dan sebagai solusinya; semua sepakat untuk mengedepankan kemaslahatan keutuhan persatuan umat dibanding masalah ini, sehingga mereka menyuarakan agar kita mengikuti keputusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah masing-masing.
Diantara alasan/dalil yang melandasai sikap LEGOWO alias BESAR JIWA para ulama' di atas ialah beberapa dalil berikut:
الصوم يوم تصومون ، و الفطر يوم تفطرون ، و الأضحى يوم تضحون
Hari puasa (ramadhan) ialah hari dimana seluruh kalian menjalankan puasa dan hari berbuka (iedul fitri) adalah hari yang padanya kalian semua berhenti puasa dan hari iedul adhha ialah hari yang padanya kalian semua menyembelih kurban. (HR. At Tirmizy)
Dengan jelas pada hadits ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan pentingnya arti kebersamaan dan persatuan pada pelaksanaan puasa, perayaan iedul fitri dan iedul adhha.
Dan pada hadits lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
( إذا دخل العشر وعنده أضحية يريد أن يضحي فلا يأخذن شعرا ولا يقلمن ظفرا )
Bila hilal /bulan sabit yang menandai dimulainya bulan Zul Hijjah, sedangkan engkau hendak menyembelih kurban, maka jangan sekali kali engkau memendekkan rambutnya dan jangan pula memotong kukunya. (HR. Muslim)
Nampak dengan jelas pada hadits ini bahwa iedul adhha dikaitkan dengan terbitnya hilal, sedangkan waktu terbitnya hilal di setiap negri berbeda dengan negri lainnya. Dengan demikian, perayaan iedul adha dikaitkan dengan waktu dan bukan dengan aktifitas jamaah haji di Makkah atau Arafah atau Mina.
Bila demikian adanya, maka dapat disimpulkan bahwa puasa Arafah juga dikaitkan dengan waktu dan bukan dengan aktifitas jamaah Haji di Makkah atau Mina atau Arafah.
Semoga penjelasan singkat ini dapat dipahami sebagaimana mestinya dan dapat melebarkan dada anda sehingga bisa LEGOWO menerima fakta perbedaan ummat Islam dan negara negara Islam dalam penentuan hari raya dan juga hari Arafah.
Oleh. Ustadz Dr.M Arifin Badri,LC,MA
http://pengusahamuslim.com/saudi-dan-indonesia-berbeda-penetapan-10-dzulhijjah-kaum-muslimin-harus-legowo/#.VCePcmeeCM8

Puasa Arafah Ikut Wukuf di Arafah atau Ikut Pemerintah?

Puasa Arafah yang dilakukan tahun ini apakah ikut wukuf di Arafah ataukah ikut ketetapan pemerintah? Karena kalau ikut ketetapan pemerintah, maka puasa Arafah akan berbeda dengan waktu Jamaah haji wukuf di Arafah. Waktu wukuf di Arafah pada hari Jumat, 3 Oktober 2014. Sedangkan untuk 9 Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada 4 Oktober 2014.

Kalau Begitu Puasa Arafah Ikut Siapa?

Yang jelas kasus semacam ini sudah ada sejak masa silam. Kita semestinya bersikap legowo dan lapang dada, menghargai perbedaan yang terjadi.
Namun mengedepankan persatuan dalam masalah ini, itu lebih baik. Landasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, hari raya Idul Fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian berhari raya, dan Idul Adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul Adha.” (HR. Tirmidzi no. 697. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani).
Imam Tirmidzi ketika menyebutkan hadits ini berkata,
وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ
“Para ulama menafsirkan bahwa hadits ini yang dimaksud adalah berpuasa dan berhari raya bersama al jama’ah dan mayoritas manusia”. Yang dimaksud Abu ‘Isa At Tirmidzi adalah berpuasa dengan pemerintah (ulil amri), bukan dengan ormas atau golongan tertentu.
Hadits di atas menunjukkan bahwa berpuasalah dan berhari rayalah bersama pemerintah. Kalau ketetapan pemerintah berbeda dengan wukuf di Arafah, tetap ketetapan pemerintah yang diikuti.

Ikuti Hilal di Negeri Masing-Masing, Bukan Ikut Wukuf di Arafah

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
Jika kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Jika kalian melihatnya lagi, maka berhari rayalah. Jika hilal tertutup, maka genapkanlah (bulan Sya’ban menjadi 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1906 dan Muslim no. 1080).
Hilal di negeri masing-masinglah yang jadi patokan, itulah maksud perintah hadits. Yang menguatkannya pula adalah riwayat dari Kuraib–, bahwa Ummu Fadhl bintu Al Harits pernah menyuruhnya untuk menemui Muawiyah di Syam, dalam rangka menyelesaikan suatu urusan.
Kuraib melanjutkan kisahnya, setibanya di Syam, saya selesaikan urusan yang dititipkan Ummu Fadhl. Ketika itu masuk tanggal 1 ramadhan dan saya masih di Syam. Saya melihat hilal malam jumat. Kemudian saya pulang ke Madinah. Setibanya di Madinah di akhir bulan, Ibnu Abbas bertanya kepadaku, “Kapan kalian melihat hilal?” tanya Ibnu Abbas. Kuraib menjawab, “Kami melihatnya malam Jumat.” “Kamu melihatnya sendiri?”, tanya Ibnu Abbas. “Ya, saya melihatnya dan penduduk yang ada di negeriku pun melihatnya. Mereka puasa dan Muawiyah pun puasa.” Jawab Kuraib.
Ibnu Abbas menjelaskan,
لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلاَثِينَ أَوْ نَرَاهُ
“Kalau kami melihatnya malam Sabtu. Kami terus berpuasa, hingga kami selesaikan selama 30 hari atau kami melihat hilal Syawal.”
Kuraib bertanya lagi, “Mengapa kalian tidak mengikuti rukyah Muawiyah dan puasanya Muawiyah?”
Jawab Ibnu Abbas,
لاَ هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
Tidak, seperti ini yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami.” (HR. Muslim no. 1087).
Ini jadi dalil bahwa hilal di negeri kita tidak mesti sama dengan hilal Kerajaan Saudi Arabia, hilal lokal itulah yang berlaku. Kalau hilal negara lain terlalu dipaksakan berlaku di negeri ini, coba bayangkan bagaimana hal ini diterapkan di masa silam yang komunikasinya belum maju seperti saat ini.
Imam Nawawi rahimahullah membawakan judul untuk hadits Kuraib, “Setiap negeri memiliki penglihatan hilal secara tersendiri. Jika mereka melihat hilal, maka tidak berlaku untuk negeri lainnya.”
Imam Nawawi rahimahullah juga menjelaskan, “Hadits Kuraib dari Ibnu ‘Abbas jadi dalil untuk judul yang disampaikan. Menurut pendapat yang kuat di kalangan Syafi’iyah, penglihatan rukyah (hilal) tidak berlaku secara umum. Akan tetapi berlaku khusus untuk orang-orang yang terdekat selama masih dalam jarak belum diqasharnya shalat.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 175). Namun sebagian ulama Syafi’iyah menyatakan bahwa hilal internasionallah yang berlaku. Maksudnya, penglihatan hilal di suatu tempat berlaku pula untuk tempat lainnya. (Lihat Idem)

Tidak Masalah Jika Puasa Arafah Beda dengan Hari Wukuf di Arafah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin juga mendapat pertanyaan sebagai berikut, “Jika terdapat perbedaan tentang penetapan hari Arafah disebabkan perbedaan mathla’ (tempat terbit bulan) hilal karena pengaruh perbedaan daerah. Apakah kami berpuasa mengikuti ru’yah negeri yang kami tinggali ataukah mengikuti ru’yah Haromain (dua tanah suci)?”
Syaikh rahimahullah menjawab, “Permasalahan ini adalah turunan dari perselisihan ulama apakah hilal untuk seluruh dunia itu satu ataukah berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah. Pendapat yang benar, hilal itu berbeda-beda mengikuti perbedaan daerah.
Misalnya di Makkah terlihat hilal sehingga hari ini adalah tanggal 9 Dzulhijjah. Sedangkan di negara lain, hilal Dzulhijjah telah terlihat sehari sebelum ru’yah Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah adalah tanggal 10 Dzulhijjah di negara tersebut. Tidak boleh bagi penduduk Negara tersebut untuk berpuasa Arafah pada hari ini karena hari ini adalah hari Idul Adha di negara mereka.
Demikian pula, jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara itu selang satu hari setelah ru’yah di Makkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Makkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara tersebut. Penduduk negara tersebut berpuasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut mereka meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah.
Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR Bukhari dan Muslim).
Orang-orang yang di daerah mereka hilal tidak terlihat maka mereka tidak termasuk orang yang melihatnya.
Sebagaimana manusia bersepakat bahwa terbitnya fajar serta tenggelamnya matahari itu mengikuti daerahnya masing-masing, demikian pula penetapan bulan itu sebagaimana penetapan waktu harian (yaitu mengikuti daerahnya masing-masing)”. (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/47-48, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H)
Kesimpulan dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, puasa Arafah mengikuti penanggalan atau penglihatan di negeri masing-masing dan tidak mesti mengikuti wukuf di Arafah. Wallahu a’lam, wallahu waliyyut taufiq.

0 comments: