Kisah Ulama Yang Bergelut di Parlemen Demokrasi

Filed under: by: 3Mudilah


parlemen 

Aku tidak pernah menyangka bahwa apa yang telah ditetapkan Allah di dalam kitab Nya dan melalui lidah Rasul Nya memerlukan persetujuan dari hamba hamba Allah. Akan tetapi aku terkejut ketika firman Allah SWT Rabb yang maha tinggi itu akan tetap berada dalam mushaf- yang mempunyai kesucian di dalam hati kita – sampai ia mendapat persetujuan dari hamba hamba Allah di parlemen untuk menjadi sebuah undang undang. Dan apabila keputusan hamba hamba Allah di parlemen itu berbeda dengan hukum Allah di dalam Al Quran, maka keputusan hamba hamba Allah lah yang dijadikan undang undang yang berlaku, meskipun undang undang tersebut bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah…

Kata kata tersebut adalah kesimpulan dari salah seorang ulama Islam setelah menjadi wakil rakyat di parlemen. Ulama tersebut sebelumnya memandang perlu untuk berbicara di mimbar mimbar dan menulis di berbagai surat kabar. Setelah lama ia bergelut dengan cara seperti itu, dia semakin bertambah yakin dengan manfaatnya, akan tetapi dia merasa dengan begitu saja tidak cukup untuk mengadakan perubahan di dalam masyarakat dan pemerintahan. Maka, dia pun mendaftarkan diri untuk menjadi anggota parlemen dalam rangka mencari cara baru untuk menegakkan kalimatullah dengan melaksanakan syariat Islam, untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan, untuk membebaskan mereka dari kebatilan, dan untuk mengembalikan mereka ke dalam pangkuan Islam.

Maka, ulama tersebut sukses menjadi anggota parlemen dengan motto,” Berikan suaramu kepadaku supaya aku perbaiki dunia dengan din.” Manusia pun memberikan suara mereka kepadanya karena percaya kepadanya, meskipun terjadi berbagai penyimpangan, dia terus menjadi anggota wakil rakyat selama dua periode berturut turut…

Apa yang dia simpulkan setelah lamanya bergelut di parlemen ? “Islam tidak dipandang perlu dalam sistem demokrasi parlemen ini !!!

Maka hati ulama ini menjadi membara , dan ulama yang menjadi wakil rakyat itu mempersiapkan kata kata yang membekas dan  berdiri di podium dan mengatakan kepada seluruh anggota parlemen :

“Wahai para wakil rakyat yang ku hormati, aku bukanlah penyembah jabatan dan aku bukan orang yang tamak dengan kursi semata. Dahulu motto yang aku gunakan untuk orang orang di daerah pemilihanku adalah : Berikan suaramu kepadaku supaya kami memperbaiki dunia dengan Din. Dahulu aku mengira bahwa cukup untuk merealisasikan tujuan tersebut dengan cara mengajukan berbagai rancangan undang undang Islam, namun ternyata majelis ini menunjukkan kepadaku bahwa majelis ini tidak memberikan hak hukum kepada Allah, kecuali harus melalui hawa nafsu partai kalian , dan partai partai kalian tidak mungkin untuk membiarkan KalimatuLLah tinggi…
Sungguh aku telah mendapatkan jalanku berjuang bersama kalian telah buntu, oleh karena itu , aku nyatakan pengunduran diriku dari parlemen, tanpa sedikitpun menyayangkan sedikitpun status keanggotaanku hilang dalam parlemen.

Ulama yang pernah menjadi wakil rakyat itu pun pulang ke rumahnya, dia meninggalkan parlemen, kemudia ia meninggalkan seluruh dunia ini beberapa tahun kemudian ia pergi dipanggil  Allah SWT….sedangkan parlemen? hingga saat ini tetap menetapkan, membuat, dan menjalankan hukum selain hukum yang diturunkan Allah…

Jadikanlah sebagai pelajaran, wahai orang orang yang mempunyai akal….

Makalah Dr Ahmad Ibrahim Khidhir – Al Bayan – Al Muntada Al Islami London

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/kisah-ulama-yang-bergelut-di-parlemen-demokrasi.htm#.UwrqXIUjXdk

Demokrasi adalah Sistem Paling Kejam

 

demokrasi 

Sumedang,-Demokrasi adalah sistem yang terkejam dibanding sistem politik manapun. Hal tersebut mengemuka dalam Halqah Islam dan Peradaban yang digelar oleh DPD II HTI Sumedang di Gedung Pusat Dakwah Islam, Kota Sumedang pada Ahad (23/2). Mengangkat tema tentang ‘Pemilu, Demokrasi, dan Harapan Umat’, acara tersebut dihadiri sekitar 1000 peserta dari berbagai kalangan.

Dalam kesempatan tersebut, Ust Dwi Condro Triono, P.Hd, DPP HTI, menunjukan kekejaman Demokrasi dengan membandingkannya dengan sistem Monarki dan Teokrasi. “Bila dalam Monarki dan Teokrasi penguasa menindas rakyat secara terang terangan. Demokrasi lebih parah, karena menindas rakyat tapi dengan mengatasnamakan rakyat. Ini kan lebih kejam” ujarnya.

Beliau menjelaskan mekanisme penindasan dalam Demokrasi dengan sebuah perumpamaan. “Untuk mewakili rakyat yang jumlahnya banyak, Demokrasi menetapkan bahwa rakyat harus menunjuk wakil rakyat atau pemimpinnya. Namun wakil ini perlu kendaraan untuk naik kekuasaan. Kendaraan inilah yang dimaksud partai politik” katanya.

Ia kemudian menambahkan, bahwa sebagai kendaraan, Parpol ini butuh bensin dalam artian dana. “Siapa yang memberi bensin? Nah, mereka adalah Para Kapitalis alias pemilik modal. Maka akhirnya, wakil rakyat yang sudah naik ke tampuk kekuasaan itu akan menghamba pada Para Kapitalis sebagai pemberi bensin” bebernya.

Namun Ia tak memungkiri bila Demokrasi kini masih banyak diagungkan. Menurutnya, hal tersebut semata mata karena kebanyakan orang masih belun mengetahui sistem Politik Islam secara benar.

“Bila mereka tau dan membandingkan sistem Islam dengan Demokrasi, akan lain jadinya” tuturnya.
Sementara pembicara lainnya, Ust Budi Mulyana menyoroti Pemilu yang akan dihelat tak lama lagi.

Menurutnya, tak ada harapan dengan Pemilu akan tegak Sistem Islam. Karena pada dasarnya Pemilu tak disetting untuk mengganti sistem. Pemilu itu dari konsep dan sejarahnya, ada sebagai cara untuk mengganti pemimpin saja.

Ia menambahkan, Pemilu yang dihelat dalam naungan Demokrasi, alih alih membawa kebaikan justru menambah masalah. “Ada politik uang, suap dan banyak lagi. Banyak masalah yang terjadi ketika Pemilu ini tiba” tegasnya. [FA]

http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/demokrasi-adalah-sistem-paling-kejam.htm#.Uwrru4UjXdk

 
 

0 comments: