Hanya Karena Mencari Kursi Panas

Filed under: by: 3Mudilah


Menjelang bergulirnya Pemilu tahun depan, sebagian pencari suara mulai mencari pendukung. Di antara mereka mencari kursi, sampai pun ridho pada hal yang sebenarnya tidak Allah sukai. Mereka tahu akan haramnya perbuatan bid’ah, namun karena demi kursi panas dan demi meraup pendukung, segala cara pun ditempuh. Padahal sudah dijelaskan dalam untaian nasehat Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa siapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka lihatlah saja nanti bagaimana Allah akan membolak-balikkan hati manusia sehingga akhirnya menjadi tidak ridho.

Dalam hadits disebutkan,

عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله عنها أَنِ اكْتُبِى إِلَىَّ كِتَابًا تُوصِينِى فِيهِ وَلاَ تُكْثِرِى عَلَىَّ. فَكَتَبَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها إِلَى مُعَاوِيَةَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ »

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam lafazh Ibnu Hibban disebutkan,

مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan meridhoinya dan Allah akan membuat manusia yang meridhoinya. Barangsiapa yang mencari ridho manusia dan membuat Allah murka, maka Allah akan murka padanya dan membuat manusia pun ikut murka.

Sebagaimana keterangan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7: 82), maksud hadits “Allah akan cukupkan dia dari beban manusia” adalah Allah akan menjadikan dia sebagai golongan Allah dan Allah tidak mungkin menyengsarakan siapa pun yang bersandar pada-Nya. Dan golongan Allah (hizb Allah), itulah yang bahagia. Sedangkan maksud “Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia” adalah Allah akan menjadikan manusia menguasainya hingga menyakiti dan berbuat zholim padanya.

Beberapa faedah dari hadits ‘Aisyah di atas:
  1. Wajib takut pada Allah dan mendahulukan ridho Allah daripada ridho manusia.
  2. Hadits tersebut menunjukkan akibat dari orang yang mendahulukan mencari ridho manusia daripada ridho Allah.
  3. Wajib tawakkal dan bersandar pada Allah.
  4. Akibat yang baik bagi orang yang mendahulukan ridho Allah walau membuat manusia tidak suka dan akibat buruk bagi yang mendahulukan ridho manusia dan ketika itu Allah murka.
  5. Hati setiap insan dalam genggaman, Allah yang dapat membolak-balikkan sekehendak Dia. (Lihat Al Mulakhosh fii Syarh Kitab Tauhid, Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 267).
Sehingga dari pelajaran di atas, maka semestinya yang diharap adalah ridho Allah, bukan ridho manusia. Jangan sampai membuat Allah murka hanya karena ingin meraup nikmatnya kursi panas.

Wallahu waliyyut taufiq.

http://muslim.or.id/manhaj/hanya-karena-mencari-kursi-panas.html


Kampaye Demi Jabatan, Ujung-Ujungnya?

Sobat, saat saat ini, kemanapun anda pergi di negeri kita ini, niscaya anda mendapatkan berbagai poster besar bergambarkan pria tampan atau wanita cantik. Uniknya, gambar lelaki tampan atau wanita cantik, dilengkapi dengan gambar paku yang menghujam atau menusuk.

Anda pasti tahu, apa maksud dari gambar gambar tersebut; “kampanye” agar dicoblos atau dipilih. Bahkan betapa banyak dari mereka yang rela bagi-bagi uang agar anda memilihnya sebagai caleg. Mereka semua berjanji bila terpilih akan bersikap jujur, memperjuangkan kepentingan rakyat, bekerja keras dan slogan slogan indah lainnya. Percayakah anda dengan slogan mereka? Percayakah anda bahwa bila mereka terpilih mereka benar benar menjalankan janjinya?

Sobat, metode pemilihan pejabat semacam ini sarat dengan permainan dan manipulasi, alias praktek “dagang sapi”. Dalam Islam, jabatan diberikan kepada orang yang paling pantas menjabat karena kredibilitasnya bukan faktor terdahulu, atau tertua atau terbanyak dukungannya. Percayalah banyaknya dukungan bila tidak diimbangi dengan kemampuan maka akan berujung kepada kehancuran. Terlebih lagi bila disertai adanya ambisi jabatan yang menggebu-gebu.

Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إنا والله لا نولي على هذا العمل أحدا سأله، ولا أحدا حرص عليه
Sejatinya kami tidak memberikan jabatan kepada orang yang meminta agar ditunjuk sebagai penjabatnya, dan tidak pula orang yang berambisi mendapatkannya” (Muttafaqun alaih)

Namun sebaliknya minimnya dukungan asalkan memiliki kredibilitas tinggi, dan amanah alias dapat dipercaya niscaya dengan izin Allah menghasilkan kerja yang memuaskan. Allah berfirman:

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Sebaik baik orang yang engkau jadikan pegawai ( dipekerjakan ) ialah orang yang tangguh / kredibel lagi amanah” (QS. Al Qashas 26).

http://muslim.or.id/manhaj/kampaye-demi-jabatan-ujung-ujungnya.html
 

0 comments: