Usaha Kecil Ekspor? Mengapa Tidak!

Filed under: by: 3Mudilah

Usaha Kecil Ekspor? Mengapa Tidak!
 
Usaha mikro dan kecil (UMK) kini juga memiliki peluang besar untuk mengirimkan produknya ke luar negeri. Berikut tujuh tips bagi pengusaha UMK agar berhasil mengekspor produknya.

Indonesia sudah dikenal sebagai produsen berbagai macam produk sejak zaman dulu. Alam Indonesia menyimpan potensi luar biasa untuk dikembangkan dan dipasarkan ke seluruh belahan dunia. Selama ini potensi ini banyak dimanfaatkan oleh perusahaan bermodal besar.Kini usaha mikro dan kecil (UMK) juga memiliki peluang besar untuk mengirimkan produknya ke luar negeri.

EKSPOR, BERNILAI TAMBAH

Dulu, sering kita membayangkan produk ekspor itu ya bahan mentah, seperti kayu, rotan, bahan tambang, dan berbagai produk yang langsung dipanen atau diambil dari alam. Tapi kini, ekspor bukan hanya berorientasi komoditas atau yang bernilai jual rendah. Banyak produk UMK Indonesia yang sudah siap bersaing dengan produk-produk luar negeri. Produk-produk ini juga telah diproses dengan teknologi, kemasan cantik, dan bernilai tambah, sehingga dihargai tinggi oleh pembeli di pasar internasional.

UMK dengan segala kelebihannya mampu mengolah sumberdaya alam dengan sentuhan teknologi agar dapat memberi nilai jual yang tinggi. Misal sabut kelapa dijual dalam bentuk cocomesh. Buah pisang dibentuk ledre. Atau singkong dibuat keripik.

Ekspor produk turunan jauh lebih dihargai daripada ekspor bahan baku. Dengan marjin yang cukup baik, eksportir dapat mengola berbagai macam produk agar nilai tambah dan kualitas produknya semakin meningkat. Dalam ekspor bahan mentah, posisi penjual sering terjepit karena marjin tipis, dan selalu dibanding-bandingkan dengan produk atau komoditas sejenis dari negara lain.\

Ekspor Gotong-Royong

UMK sering malas mengekspor produk sendiri, walau pasar internasional sangat memerlukan produk tersebut. Di sisi lain, kegiatan ekspor memerlukan skill tersendiri. Khususnya keterampilan dalam bernegoisasi dengan calon pembeli. Juga yang terkait dengan regulasi serta proses ekpedisi. Disinilah sebenarnya kesempatan saling bersinergi. Dengan semakin mudahnya akses internet, SMS, telepon, komunikasi yang dulu harus menggunakan surat dan mesin faksimili, kini jauh lebih mudah dilakukan.

Langkah strategis untuk mendapatkan kesempatan juga semakin mudah dengan banyaknya komunitas ekportir. Bergabung dalam komunitas, berinvestasi ilmu dan pengalaman ekspor sangat menunjang keberhasilan UMK memasarkan produknya di pasar internasional. Dalam komunitas yang solid, akses informasi pembeli, produk yang dicari, serta berbagai kendala terkait legal dan pengiriman barang, akan mendapatkan solusi lebih cepat.

TUJUH TIPS BAGI UMK

Pertama, lakukan riset. Gunakan Google sebagai sarana mencari informasi produk di negara tujuan. Bisa juga mendatangi lembaga terkait seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koperasi dan Pembinaan UKM. Hal ini perlu diperhatikan, terutama untuk produk fashion, tas, tekstil, sepatu dan handicraft.

Kedua, siapkan katalog dan brosur berstandar internasional. Hendaknya berbahasa Inggris dan/ atau menggunakan bahasa negara tujuan ekspor. Di dalamnya mencantumkan spesifikasi produk, serta price list atas dasar CNF (Cost & Freight) dan CIF (Cost, Insurance & Freight). Tuliskan juga kemampuan supply, time of delivery dan minimum order.

Ketiga, cari sebanyak-banyaknya importer list. Terutama yang berkaitan dengan produk kita. Bisa melalui browsing internet, CD atau buku katalog yang memuat up to date list di Indotrade Guide. Bisa pula diperoleh di Badan Pengembangan Ekspor Nasional dan situsnya.

Keempat, jika ada kontak temu coba selidiki calon partner. Termasuk kategori manakah dia: end user, trading house ataukah wholesalers? Cek sebelumnya, apakah memang sudah ada permintaan dari potential buyer?

Kelima, lakukan riset terhadap kompetitor kita. Apakah sudah ada pesaing dari negara kita sendiri maupun dari negara lain.

Keenam, urusan harga sangat sensitif, sehingga kita harus detail menghitung biayanya. Termasuk packing, handling, fumigasi, maupun yang terkait lainnya, apalagi membutuhkan dokumen yang harus diregistrasi. Semua ditentukan dalam term waktu. Harga juga harus memperhitungkan komisi atau bonus. Tentu saja harga jual produk kita.

Ketujuh, ketahui regulasi impor di negara buyer. Apakah ada permintaan khusus terhadap masalah dokumentasi, perizinan, penentuan bea masuk, fasilitas serta keringanan bea? Apakah juga ada pembatasan produk?

Jika ketujuh hal tersebut dapat dipenuhi, cara terbaik menemukan pasar adalah dengan datang langsung ke negara tujuan ekspor. Caranya dengan mengikuti pameran maupun even B2B (business to business) yang kini sangat marak. Juga dengan mendekati network seperti Konjen RI di luar negeri, ITPC, dan lembaga ekspor lainnya, guna mempercepat ditemukannya produk kita oleh importir dan buyer di luar negeri.

Ayo, jadikan UMK pahlawan devisa Indonesia!

Oleh Annas Ahmad
http://annasahmad.wordpress.com;
Facebook: @annasahmad; 
Twitter: @annasahmad
http://pengusahamuslim.com/usaha-kecil-ekspor-mengapa-tidak-1882#.UuYBTLQxXIU

0 comments: