Tafsir Surat An-nas (Muqoddimah)

Filed under: by: 3Mudilah


Koran

Alhamdulillâhi wahdah wash shalâtu was salâmu ‘alâ rasûlillâh…

PENDAHULUAN
  • · Nama-nama Surat an-Nas
1. Surat “Qul a’ûdzubirabbin nâs”
Dalilnya akan dipaparkan kemudian.

2. Dia dan surat al-Falaq dinamakan al-Mu’awwidzatân
‘Uqbah bin ‘Amir bercerita bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

اقْرَأْ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ فَإِنَّكَ لَنْ تَقْرَأَ بِمِثْلِهِمَا

“Bacalah al-Mu’awwidzatân (surat al-Falaq dan an-Nas)! Sesungguhnya engkau tidak akan membaca (surat) yang semisal dengannya”. HR. Ahmad dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.
  • · Sebab diturunkannya surat an-Nas
Menurut al-Wâhidy (w. 468 H)[1], Ibn al-’Araby (w. 543 H)[2], al-Qurthuby (w. 671 H)[3], dan as-Suyûthy (w. 911 H)[4] sebab diturunkannya surat an-Nas adalah peristiwa disihirnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin al-A’sham.
Zaid bin Arqam radhiyallahu’anhu mengisahkan kejadian tersebut,

حَرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنَ الْيَهُوْدِ، قَالَ: فَاشْتَكَى فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ فَنَزَلَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ، وَقَالَ: “إِنَّ رَجُلاً مِنَ الْيَهُوْدِ سَحَرَكَ، وَالسِّحْرُ فِي بِئْرِ فُلاَنٍ، قَالَ: فَأَرْسَلَ عَلِيًّا فَجَاءَ بِهِ، قَالَ: فَأَمَرَهُ أَنْ يُحَلَّ الْعُقَد، وَتُقْرَأَ آيَة، فَجَعَلَ يَقْرَأُ وَيَحُلَّ حَتَّى قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا أَنْشَطَ مِنْ عِقَالٍ، قَالَ: فَمَا ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِذَلِكَ الْيَهُوْدِيِّ شَيْئاً مِمَّا صَنَعَ بِهِ، قَالَ: “وَلاَ أَرَاهُ فِي وَجْهِهِ”.

Seorang Yahudi menyihir Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Beliau menderita. Jibrilpun mendatanginya dan menurunkan pada beliau surat al-Falaq dan an-Nas. Malaikat Jibril berkata, “Seorang Yahudi telah menyihirmu. (Buhul) sihirnya ada di sumur anu”. Kemudian Ali diutus untuk mengambilnya dan menguraikan buhul tersebut sambil dibacakan ayat. Ali pun membaca sambil menguraikannya, hingga Nabi shallallahu’alaihiwasallam bangkit kembali seperti orang yang baru lepas dari belenggu. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sama sekali tidak mengomentari perbuatan Yahudi tersebut. Hanya saja beliau berpesan, “Aku tidak mau melihat wajahnya”. HR. ‘Abd bin Humaid (I/228 no. 271) dan sanadnya dinilai sahih oleh Salim al-Hilaly dan Muhammad Alu Nashr.[5]
  • · Keutamaan surat an-Nas
Di antara keutamaan surat mulia ini:

1. Dia merupakan sebaik-baik bacaan perlindungan

Ibnu ‘Âbis al-Juhany bercerita bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

“يَا ابْنَ عَابِسٍ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِأَفْضَلِ مَا تَعَوَّذَ بِهِ الْمُتَعَوِّذُونَ؟”. قَالَ قُلْتُ: بَلَى”. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ”قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” هَاتَيْنِ السُّورَتَيْنِ.

“Wahai Ibnu ‘Âbis maukah kuberitahukan padamu bacaan perlindungan terbaik orang-orang yang mencari perlindungan?”.
Aku pun menjawab, “Tentu”.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas”; dua surat ini”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.

Hadits ini memberikan pelajaran pada kita bahwa dua surat di atas adalah sebaik-baik bacaan perlindungan. Walaupun keduanya telah dihapal oleh banyak kaum muslimin, namun anehnya tidak sedikit di antara mereka yang berKTP Islam, lebih memilih merapal jampi-jampi yang diberikan mbah dukun, atau mengamalkan wirid-wirid dan hizib-hizib yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam untuk perlindungan!


2. Tidak ada yang semisal dengannya

Nabi shallallahu’alaihiwasallam bersabda,


“أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ؟؛ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ)”.

“Tahukah engkau bahwa semalam telah diturunkan ayat-ayat yang tidak pernah ditemukan semisalnya? “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas”. HR. Muslim (VI/337 no. 1888) dari ‘Uqbah bin ‘Amir.

3. Merupakan salah satu surat paling utama

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu’anhu bercerita bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata padanya,

“أَلَا تَرْكَبُ يَا عُقْبَةُ؟” فَأَجْلَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَرْكَبَ مَرْكَبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ قَالَ: “أَلَا تَرْكَبُ يَا عُقْبَةُ؟“. فَأَشْفَقْتُ أَنْ يَكُونَ مَعْصِيَةً. فَنَزَلَ وَرَكِبْتُ هُنَيْهَةً وَنَزَلْتُ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. ثُمَّ قَالَ: “أَلَا أُعَلِّمُكَ سُورَتَيْنِ مِنْ خَيْرِ سُورَتَيْنِ قَرَأَ بِهِمَا النَّاسُ؟” فَأَقْرَأَنِي (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَتَقَدَّمَ فَقَرَأَ بِهِمَا ثُمَّ مَرَّ بِي فَقَالَ كَيْفَ رَأَيْتَ يَا عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ؟ اقْرَأْ بِهِمَا كُلَّمَا نِمْتَ وَقُمْتَ!”.

“Tidakkah engkau naik wahai ‘Uqbah?”.
Aku merasa segan untuk menaiki kendaraan Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Beliau kembali berkata, “Tidakkah engkau naik wahai ‘Uqbah?”. Aku khawatir (jika tidak melakukan apa yang diperintahkannya) akan teranggap sebagai perbuatan maksiat. Beliau lalu turun dan aku naik sebentar kemudian turun kembali. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam naik, lalu berkata, “Maukah kuajarkan padamu dua surat yang termasuk surat terbaik yang dibaca para manusia?”.
Kemudian beliau mengajarkan, “Qul a’ûdzu bi rabbil falaq” dan “Qul a’udzu bi rabbin nas”.
Beberapa saat kemudian, masuk waktu shalat dan beliau mengimami kami dengan membaca dua surat tersebut. (Selepas shalat) beliau melewatiku sembari berkata, “Bagaimana menurutmu wahai ‘Uqbah bin ‘Amir? Bacalah keduanya setiap engkau tidur dan bangun”. HR. An-Nasa’i dan sanadnya dinilai hasan oleh Syaikh al-Albany.
  • · Momen-momen pembacaan surat an-Nas
Berikut beberapa momen yang mendapatkan penekanan khusus untuk dibacakan surat an-Nas:

1. Setiap pagi dan sore

Abdullah bin Khubaib radhiyallahu’anhu bercerita,


خَرَجْنَا فِي لَيْلَةِ مَطَرٍ وَظُلْمَةٍ شَدِيدَةٍ نَطْلُبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ لَنَا، فَأَدْرَكْنَاهُ فَقَالَ: “أَصَلَّيْتُمْ؟” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا فَقَالَ: “قُلْ!” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ: “قُلْ!” فَلَمْ أَقُلْ شَيْئًا ثُمَّ قَالَ: “قُلْ!” فَقُلْتُ: “يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَقُولُ؟” قَالَ: “قُلْ: “قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ”الْمُعَوِّذَتَيْنِ” حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ”.

“Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan, kami keluar mencari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam agar beliau mengimami kami. Manakala kami menemukannya, beliau bertanya, “Sudah shalatlah kalian?”.
Aku tidak berkata apapun.
Lalu beliau berkata, “Ucapkanlah!”.
Aku tidak mengucapkan apa-apa.
Kemudian beliau kembali berkata, “Ucapkanlah!”.
Aku tidak mengucapkan apa-apa.
“Ucapkanlah!” kata beliau lagi.
Akupun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kuucapkan?”.
“Ucapkanlah “Qul huwallahu ahad” dan “al-Mu’awwidzatani” di sore dan pagi hari tiga kali; niscaya itu akan melindungimu dari segala sesuatu”[6]. HR. Abu Dawud dan isnadnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Ibn Baz. [7]

Selain dituntut untuk mempraktekkannya sendiri, seyogyanya kita juga berusaha membiasakan anak-anak kita mengamalkan ibadah ini. Banyaknya fenomena kesurupan masal di berbagai sekolahan belakangan ini, yang ternyata banyak di antara korbannya adalah anak-anak kaum muslimin, bisa jadi bersumber karena mereka tidak mengamalkan dzikir pagi dan sore.

2. Setelah shalat lima waktu

‘Uqbah bin ‘Âmir radhiyallahu’anhu berkata,


“أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ”.

“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memerintahkanku untuk membaca al-mu’awwidzat (surat al-Ikhlash, al-Falaq dan an-Nas)” setelah setiap shalat”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah.

Khusus untuk setelah shalat Shubuh dan Maghrib tiga surat di atas dibaca tiga kali, karena ada hadits sahih yang menunjukkan hal tersebut. [8]

3. Sebelum tidur

Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan,

“أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ” وَ “قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ” ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ“.

“Setiap malam jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam beranjak ke peraduan beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, kemudian meniup nafas dari mulutnya dengan sedikit air ludah, lalu membaca, “Qul huwallahu ahad”, “Qul a’ûdzubirabbil falaq” dan “Qul a’udzubirabbin nas” kemudian mengusapkan kedua tangannya ke seluruh bagian tubuh yang bisa dicapai. Dimulai dari kepala, wajah dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya tiga kali”. HR. Bukhari (hal. 1091 no. 5017).

Dzikir ini akan melindungi insan dari bahaya apapun juga, entah itu setan maupun binatang berbisa.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam begitu menjaga wirid ini. Bahkan dalam suatu riwayat Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan,

“فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ”.
“Saat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sakit, beliau menyuruhku untuk membacakan wirid tersebut atas beliau”. HR. Bukhari (hal. 1233 no. 5748).

Faidah: perlu diketahui bahwa mengusap wajah dan tubuh setelah dzikir khusus dilakukan pada momen ini dan tidak benar jika dilakukan di setiap dzikir atau doa. Sebab tidak ada hadits sahih yang menunjukkan praktek tersebut. [9]

4. Saat meruqyah orang sakit

Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ جَعَلْتُ أَنْفُثُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ؛ لِأَنَّهَا كَانَتْ أَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِي”.

“Jika salah satu keluarga Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam sakit, beliau meniupkan nafas beserta sedikit ludah dan membaca al-mu’awwidzât. Tatkala Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam jatuh sakit menjelang wafatnya, akupun meniupkan nafasku dan aku mengusapkan tangan beliau ke tubuhnya. Sebab tangan beliau lebih berbarokah dibanding tanganku”. HR. Muslim (XIV/403 no. 5678).

Catatan tambahan:

Hadits di atas merupakan salah satu metode pengobatan yang diajarkan Nabi shallallahu’alaihiwasallam, dan biasa diistilahkan dengan “ruqyah syar’iyyah”. Di negeri kita, beberapa tahun belakangan ini, metode ruqyah booming di mana-mana. Meskipun di sana-sini masih ada beberapa praktek yang perlu dibenahi, keterbukaan umat dengan metode pengobatan syar’i tersebut merupakan fenomena yang menggembirakan. Apalagi mereka mulai meninggalkan tata cara pengobatan menyimpang, yang biasa dikomandani oleh para dukun dan paranormal.

Dengan mulai sepinya tempat praktek para dukun dari pasien, banyak di antara mereka yang banting setir terjun ke dunia ruqyah, bahkan penampilan mereka pun disulap bak seorang wali. Begitu pula tabloid dan majalah yang sudah dikenal dari dulu merupakan corong para dukun dan sangat intens dalam menjajakan jimat dengan berbagai jenisnya, mulai membuka praktek ruqyah dan bahkan pelatihan intensif untuk mencetak praktisi ruqyah, versi mereka tentunya.

Andaikan gerakan alih haluan tersebut dimotivasi karena taubat dari praktek perdukunan dan tata cara ruqyah yang mereka terapkan benar-benar syar’i, tentu hal itu amat menggembirakan. Namun kenyataan di lapangan berbicara lain. Banyak di antara mereka mencampuradukkan antara al-haq dan kebatilan. Imbasnya tidak sedikit kaum muslimin, dikarenakan keterbatasan ilmu agama mereka, menjadi korban ruqyah ‘gadungan’ tersebut.

Jenis penyimpangan yang dikandung praktek ruqyah para dukun tersebut begitu beragam. Ada yang sampai memasuki ranah kesyirikan, adapula yang bermuatan khurafat dan bid’ah.
Seorang muslim seyogyanya bersifat cerdas tatkala dihadapkan dengan realita tersebut. Tidak sepantasnya ia mudah tertipu dengan ‘label’ dan ‘bungkus’, namun dia harus mencermati praktek yang dilakukan para ‘praktisi baru ruqyah’ tersebut dengan seksama.

Berikut penulis bawakan beberapa contoh kekeliruan yang bisa dijadikan indikasi ruqyah gadungan:

1. Ruqyah yang bermuatan permintaan tolong kepada selain Allah.

Semisal permintaan tolong kepada Nabiyullah Adam ‘alaihissalam atau Hawa’ agar menyembuhkan penyakit.[10] Begitu pula permohonan bantuan kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, Syaikh Ahmad ar-Rifâ’iy,[11] Syaikh Abdul Qadir al-Jailany,[12] para malaikat,[13] bahkan ada pula yang meminta tolong kepada iblis raja diraja setan! [14]

Padahal Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah mengingatkan,

لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْك“.

“Tidak mengapa menggunakan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan”. HR. Muslim (XIV/409 no. 5696) dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i.

2. Ruqyah yang berisikan kata-kata aneh yang tidak diketahui maknanya, atau nama-nama asing.

Sebagaimana yang dipraktekkan oleh seorang ‘ustadz’ kondang manakala mengajarkan bacaan yang ia klaim jika diamalkan bisa mengambil hati bos dan atasan. Yakni mengulang-ulang kata “shorobun”.[15]

Nama-nama asing semisal: Mali[16], Ajin, Ahwajin, Jaljalalut dan Halhalat.[17]
Imam al-Baihaqy menjelaskan bahwa di antara jenis ruqyah yang terlarang adalah “ruqyah yang tidak dikenal dari selain al-Qur’an dan dzikir, karena berpeluang untuk bermuatan syirik”. [18]

3. Ruqyah yang dibarengi puasa yang diiringi pantangan untuk memakan makanan yang berbahan dasar makhluk bernyawa.[19]

4. Ruqyah yang dibumbui praktek menjadikan seseorang sebagai mediator untuk dimasuki jin guna ditanyai dengan berbagai pertanyaan.[20]

 Sebagaimana yang kerap dipraktekkan oleh mereka yang menamakan dirinya “Tim Pemburu Hantu”.

Mengapa kita memanggil jin agar masuk ke tubuh, padahal al-Qur’an dalam banyak ayatnya justru memerintahkan kita untuk memohon perlindungan pada Allah dari gangguan jin?!.

Sisi negatif lain dalam praktek di atas; munculnya ketergantungan dalam diri mediator kepada si dukun, untuk mengeluarkan jin tersebut dari dalam tubuhnya. Dan ini tentunya melemahkan rasa tawakkal pada Allah ta’ala. Padahal Allah telah berfirman,

“وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ”.

Artinya: “Jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-A’raf: 200.

5. Ruqyah yang diklaim bahwa praktisinya bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, menangkap dan memasukkannya ke dalam botol atau tempat lainnya lalu memindahkannya ke tempat lain sekehendak dia.[21]

Praktek ini juga kerap dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya “Tim Pemburu Hantu”.
Kemampuan untuk menguasai jin merupakan keistimewaan yang Allah berikan hanya kepada Nabiyullah Sulaiman ‘alaihissalam, adapun selain beliau maka tidak.

Silahkan dicermati ayat-ayat berikut: QS. Shad: 35, 36-39, QS. Al-Anbiya’: 81-82, QS. Saba’: 12-14 dan QS. An-Naml: 39.

6. Ruqyah yang diklaim bahwa praktisinya mampu memindahkan penyakit pasien ke tubuh hewan, semisal kambing. [22]

Apa dosa kambing sehingga ia harus menanggung penyakit yang diderita anak Adam? Apalagi praktek tersebut tidak diragukan menggunakan pertolongan jin.

7. Ruqyah yang praktisinya hanya memandang mata si pasien, atau menekan bagian tertentu tubuhnya tanpa membaca bacaan apapun, atau diselipi bacaan yang tidak jelas dengan suara lirih. Walaupun terkadang diselingi bacaan ayat suci al-Qur’an.

Dan masih banyak contoh lainnya. Yang ini semakin memotivasi kaum muslimin agar lebih berhati-hati dalam memilih metode pengobatan.
  • · Surat an-Nas makkiyyah atau madaniyyah?
Para ulama berbeda pendapat apakah surat ini adalah makkiyyah[23] atau madaniyyah[24]. Karena keterbatasan ilmu dan waktu, penulis belum bisa memastikan mana di antara dua pendapat tersebut yang lebih kuat. Semoga di lain kesempatan, Allah memudahkan kami untuk melakukan studi lebih dalam lagi tentang permasalahan ini. Amien.


[1] Lihat: Asbâb an-Nuzûl (hal. 263-264).
[2] Ahkâm al-Qur’an (IV/355).
[3] Cermati: Tafsîr al-Qurthuby (XXII/567).
[4] Tafsîr al-Jalâlain (hal. 615).
[5]  Lihat: Al-Istî’âb fî Bayân al-Asbâb (III/589).
[6]  Maksudnya melindungi dari segala bentuk marabahaya dan musibah. Lihat: Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-‘Abbad (III/14).
[7]  Lihat: Tuhfah al-Akhyâr bi Bayân Jumlah Nâfi’ah mimma Warada fi al-Kitâb wa as-Sunnah ash-Shahîhah min al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr (hal. 26-27).
[8]  Lihat: Tuhfah al-Akhyâr (hal. 23).
[9]  Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr (III/50).
[10]  Lihat: Bid’ah-bid’ah di Indonesia karya Badruddin Hasubky (hal. 104).
[11] Lihat: Saripati Mujarrobat karya Fairuz Masduqi (hal. 47-50).
[12] Lihat: Majalah Ghoib, edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hal. 37).
[13] Lihat: Tabloid Posmo, edisi 327, tanggal 27 Juli 2005 (hal. 20). ‘Praktisi’ ruqyah yang menyandang gelar Kyai yang dijadikan narasumber dalam tabloid tersebut mengklasifikasikan para malaikat dengan sangat aneh. Katanya: malaikat Adam Ahmad penguasa daratan, malaikat Khidir Ahmad penguasa lautan, malaikat Ifrid penguasa api, malaikat Eva Ahmad penguasa angin, malaikat Jibril Ahmad pemimpin kelima malaikat tersebut di atas. Para malaikat tersebut lah yang membantu praktek pengobatannya, menurut klaim dia tentunya!
[14] Lihat: Majalah Misteri, edisi 375, tanggal 5-19 Juni 2005 (hal. 117).
[15] Amalan Doa-doa Penyembuh, Enteng Jodoh, Pembuka Aura dan Pemenuh Segala Kebutuhan, karya Haryono (hal. 28).
[16] Lihat: Majalah Ghoib, edisi khusus “Dukun-dukun Bertaubat” (hal. 37).
[17] Lihat: Tabloid Posmo, edisi 333, tanggal 7 September 2005 (hal. 2).
[18] Al-Jâmi’ li Syu’ab al-Îmân (II/396).
[19] Lihat: Majalah Misteri, edisi 387, tanggal 20 Desember 2005 – 4 Januari 2006 (hal. 119).
[20] Lihat: Ruqyah Syar’iyyah vs Ruqyah Gadungan (Syirkiyyah), karya Perdana Akhmad (hal. 40).
[21] Lihat: Ibid.
[22] Lihat: Fenomena Ustadz Haryono & Keajaiban Tradisi Pengobatan karya al-Kindi (hal. 27) dan Jagat Spiritualis Nusantara karya Zubairi Endro dkk (hal. 34, 84, 91, 153, 178 dan 199).
[23]  Lihat: Tafsîr al-Qurthuby (XXII/567, 579), Zâd al-Masîr karya Ibn al-Jauzy (IX/270) dan at-Tahrîr wa at-Tanwîr (XXX/624).
[24]  Lihat: Tafsîr al-Baghawy (VIII/593) dan Tafsîr Ibn Katsîr (VIII/530).

Download Audio Kajian Tafsir Surat An-nas

http://tunasilmu.com/tafsir-surat-an-nas-muqoddimah/

0 comments: