Kunci Sukses dan Bahagia Para Sahabat Nabi

Filed under: by: 3Mudilah

ADAKAH orang yang paling layak diteladani dalam kehidupan ini selain daripada sahabat-sahabat Rasulullah? Adakah orang yang paling bahagia di dunia ini selain dari pada sahabat-sahabat Rasulullah?

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah zamanku, dan kemudian setelahnya, dan kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari).

Secara aqliyah, hadits ini memberikan penegasan yang sangat jelas bahwa umat Islam dimana dan kapan pun harus meneladani para sahabatnya dalam menjalani kehidupan ini. Karena para sahabat itu adalah profil sebaik-baik manusia.

Di antara sahabat ada yang hidup kaya raya tetapi tetap dalam keimanan. Ada yang hidup sederhana tetapi sangat gemar dalam sedekah. Bahkan ada yang hidup sangat susah, tetapi tetap bahagia dalam ketaatan dan ketakwaan. Mereka tidak meratapi kemiskinannya, tetapi malah berpikir bagaimana tidak kalah dalam beramal dengan sahabat-sahabat lain yang memiliki kemampuan sedekah.

Abu Dzar berkata, beberapa shahabat berkata kepada Rasulullah. “Wahai Rasulallah, orang-orang kaya itu mengumpulkan banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka bershadaqah dengan kelebihan harta mereka (sementara kami tidak bisa bershadaqah).”

Beliau bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang bisa kalian shadaqahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (subhanallah) adalah shadaqah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, setiap tahmid (alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap tahlil (laa ilaaha illallaah) adalah shadaqah, menyeru kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah, dan bersetubuh dengan istri juga shadaqah.”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah jika di antara kami menyalurkan hasrat biologisnya (kepada istrinya) juga mendapat pahala?” Beliau menjawab: “Bukankah jika disalurkan pada yang haram dia berdosa? Maka demikian pula jika disalurkan pada yang halal, dia mendapatkan pahala.” (HR Muslim).

Demikian indah cara pandang para sahabat dalam menjalani kehidupan dunia ini. Mereka tidak pernah iri dengan harta benda atau kekayaan sahabat yang lain. Yang mereka khawatirkan justu bagaimana tidak kalah dalam amal sholeh dengan sahabat-sahabat Nabi yang memiliki kekayaan.

Lima Kepibadian Sahabat

Dr. Aidh Al-Qarni dalam buku fenomenalnya “La Tahzan” menuliskan bahwa ada lima hal yang menyebabkan para sahabat disebut sebagai sebaik-baik manusia.

Pertama, mereka menerapkan pola hidup sederhana dan tidak memaksakan diri. Para sahabat selalu menghadapi permasalahan hidup secara wajar, tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu terbebani. “Dan Kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah.” (QS. 87: 8).

Kedua, para sahabat memiliki ilmu yang luas, penuh berkah, dan praktis. Ilmu mereka bukan retorika belaka dan amat jelas – tidak berbelit-belit. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. 35: 28).

Ketiga, bagi para sahabat, amalan hati jauh lebih berat daripada ibadah fisik. Di hati mereka ada keikhlasan, inabah, tawakal, kecintaan yang mendalam kepada Allah, serta raghbah (keinginan dekat dengan Allah yang memuncak). Hati mereka juga selalu diliputi rahbah (rasa khawatir amal-amal yang dilakukan tidak berkenan di sisi Allah), khasyyah (perasaan takut jika siksa Allah menipanya), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Keempat, mereka sengaja mengurangi kenikmatan dunia. Menjaga jarak serta menjauhkan diri dari godaan dan kemewahan duniawi. Semua ini membuat mereka berada dalam ketenangan, thuma’ninah, dan sakinah.

وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُوراً
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS. Al Israa’ [17]: 19).

Kelima, mereka menempatkan jihad sebagai amalan di atas amalan yang lain. Sampai-sampai jihad menjadi tanda, karakter dan motto hidup para sahabat. Dengan jihad para sahabat mampu menghilangkan kegundahan, keresahan dan kesedihan. Sebab, di dalamnya ada dzikir, amal, pengorbanan dan gerak tubuh.

Semua itu karena jihad merupakan jalan terbaik seorang hamba merasakan kebahagiaan sejati.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-ankabut [29]: 69).

Demikianlah para sahabat dalam menjalani kehidupan ini, sehingga pantas jika mereka disebut Rasulullah sebagai sebaik-baik manusia.

Hidup memang tidak selamanya indah, kadang duka nestapa menghampiri kehidupan kita. Akan tetapi, segelap apa pun mendung tebal bergelayut di dalam hati dan pikiran kita, sebagai Muslim kita harus tetap kembali kepada Allah.

Menyerahkan segala permasalahan kepada-Nya,pasrah kepada-Nya dengan segala ketulusan iman di dalam hati. Niscaya Allah akan menyibakkan mendung-mendung itu dan mengembalikan ketenangan dan ketentraman di dalam hati dan pikiran kita.

Inilah kunci sukses dan bahagia para sahabat dalam menjalani kehidupan dunia yang sementara ini. Oleh karena itu, mari kita latih diri ini, secara perlahan dan bertahap untuk bisa meneladai pribadi-pribadi mereka yang mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya.*

http://www.hidayatullah.com/read/2014/01/27/15534/kunci-sukses-dan-bahagia-para-sahabat-nabi.html

0 comments: