Ukhuwah

Filed under: by: 3Mudilah

Beda Ijtihad, Utamakan Ukhuwah
 Bahwasannya perbedaan dalam hal ini bukan hal baru, akan tetapi telah ada pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
null
Menurut Imam al-Ghazali, selama seorang mujtahid itu menggunakan dalil-dalil, maka tidak boleh dikafirkan 

SALAH satu persoalan yang masih menjadi sebab sulitnya umat Ahlus Sunnah bersatu atau mudah terjatuh pada pemikiran sesat adalah belum dipahaminya antara perkara furu dan ushul dengan baik. Ketika perkara ushul diyakini sebagai furu', maka yang terjadi adalah kesesatan. Seperti yang terjadi dalam Islam Liberal. Sebaliknya, jika perkara furu' dianggap ushul, maka yang terjadi adalah penghakiman takfir, dan tadhlil  kepada saudara sesama Ahlus Sunnah.

Harus dipahami bahwa ijtihad ulama tidak berada pada wilayah ushul tapi furu'. Dalam persoalan ijtihad dilarang menghukumi kafir atau sesat pendapat lain di luar jama’atul muslimin. Jika berdebat, maka perdebatan itu haruslah atas dasar penjagaan terhadap persatuan Islam dan kasih-sayang (uluffah).

Adapun perselisihan dalam perkara furu jika diangkat sampai menimbulkan perdebatan panjang akan mengakibatkan perpecahan umat Islam. Imam al-Ghazali memberi nasihat penting, bahwa perdebatan (jidal) furu' akan membawa pada lingkaran kehancuran. Jidal dalam perkara tersebtu merupakan penyakit kronis yang menjadi sebab para ahli fikih jatuh pada persaingan tidak sehat (Ihya Ulumuddin  I/41). Karena dalam jidal akan membangkitkan hawa nafsu, egoisme dan keangkuhan.

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali mengatakan: “Coba perhatikan orang-orang yang senang mendebat lawan madzhab fikihnya pada masa sekarang, ketika lawan debatnya memenangkan maka orang-orang itu tersulut api dendamnya. Mereka merasa malu dan berupaya sekuat tenaga untuk menolak lawan debatnya dengan menjelek-jelekkan dan mencari-cari alasan agar kredibilitas lawan debatnya jatuh di hadapan masyarakat” (Ihya Ulumuddin I/44).

Karakter tersebut tumbuh dikarenakan kerusakan hatinya yang terserang penyakit sombong, riya, ‘inad (menolak kebenaran), dengki, hasud dan lain sebagainya.  Padahal di kalangan imam mujtahid sendiri jauh dari sifat tersebut.

Dikisahkan, Imam Syafi’i pernah duduk bersimpuh di hadapan seorang bernama Syaiban al-Ra’i. Simpuh imam Syafi’i mirip seorang anak kecil yang duduk di majelis seorang Syaikh, karena ketawadhu’an sang Imam. Lalu Imam Syafii tidak malu untuk bertanya tentang beberapa soal. Maka, ada yang heran dengan perilaku Imam Syafii dan bertanya; “Bagaimana orang hebat seperti kamu bertanya kepada orang Baduwi yang ilmunya lebih rendah dari kamu”? Imam Syafii menjawab; “Sesungguhnya, dia memiliki sesuatu yang aku tidak mengetahuinya?”.

Karena itu, ketika berinteraksi dengan fikih, kita tidak boleh fanatisme buta. Seakan akan menempatkan posisi fikih itu sebagai ushul. Ini yang menimbulkan caci maki antar pengikut madzhab fikih. Yang diutamakan adalah persatuan dan kesatuan umat.

Aa beberapa hal yang perlu dipahami tentang perbedaan hukum fikih. Bahwasannya perbedaan dalam hal ini bukan hal baru, akan tetapi telah ada pada masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang ikhtilaf ini merupakan fenomena yang syar’i. Yang tidak syar’i itu adalah iftiraq. Karena iftiraq itu konteksnya perkara haq, batil, dlalal dan salamah.

Fenomena ikhtilaf fikih ini bukanlah bid’ah tapi memang begitulah adanya karakteristik syari’ah. Oleh sebab itu, selama fenomena ini masih dalam konteks ijtihad fiqhiyyah, maka ia diterima oleh syari’at dan para ulama salaf. Para ulama salaf dari kalangan Ahlus Sunnah mayoritas hanya berbeda dalam fatwa ijtihad fikih bukan akidah. Jika bedanya akidah maka urusannya adalah antara sesat dan tidak. Jika fatwa fikih persoalannya cuma pada penilain benar (shahih) dan salah (khata’).

Ikhtilaf furu telah terjadi setelah masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ikhtilaf ini sesuatu yang dianggap lumrah oleh generasi salaf. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. terkadang menjawab satu soal yang berbeda kepada para sahabat. Tapi bukan bertentangan.

Oleh sebab itu, ikhtilaf dalam furu’iyyah sesungguhnya merupakan bagian dari keindahan Islam. Para ulama salaf tidak pernah mengajarkan untuk menafikan madzhab fikih yang berbeda.

Mengikuti pada satu madzhab, merupakan keharusan, tapi dilarang untuk fanatik. Fanatik dengan memvonis madzhab fikih lainnya tidak benar dan sesat. Sebab, fanatisme madzhab fikih bukan etika ulama salaf, tapi karakter orang tidak berilmu. Fanatisme kepada madzhab fikih menimbulkan perpecahan yang tidak dikehendaki agama.

Syeikh Dr. Wael al-Zard, ahli hadis dari Universitas Gaza Palestina, pada beberapa hari lalu berkunjung ke Surabaya berpesan bahwa, sebab hilangnya al-Quds adalah khilaf nya(persilisihan) para pencari ilmu terhadap masalah fikih, di mana umat Islam tidak mungkin bersatu dalam urusan fikih.

Karena khilaf sangat kuat, di masa itu masalah qunut tidak qunut, masalah jahr atau sirr, masalah membaca al-Fatihah atau tidak, persoalan wajah wanita aurat atau bukan. Masalah-masalah ini menyebabkan stigma ahlu bid’ah, fasiq hingga tuduhan kafir. Di masa itu, perbedaan sangat menguat hingga sampai ke masjid. Hingga masjid memiliki mihrab 4, di antaranya mihrab untuk penganut Syafi’i, Hambali, Maliki dan Hanafi. Akibat khilaf fikih ini merembet dan menyebabkan perpecahan lebih besar. Bahkan antar penganut mazdhab tidak mau mengikuti (hidayatullah.com, 27/08).

Pada Rabu, 29 Juli 2013 Dr. Al-Zard berkesempatan berceramah di hadapan aktivis muda Surabaya. Ia menasihati agar umat Islam memikirkan hal-hal besar yang sedang dihadapi kaum Muslimin. Menurutnya, orang yang kesibukannya hanya memperdebatkan urusan-urusan kecil furu adalah orang yang wawasannya sempit. Ia menganjurkan untuk mempelajari seluruh pendapat-pendapat para ulama, agar wawasan luas dan bijak dalam menghakimi.

Pola-pola terburu-buru memperdebatkan hasil ijtihad ulama itulah yang dikritik oleh Imam al-Ghazali. Menurut Imam al-Ghazali, selama seorang mujtahid itu menggunakan dalil-dalil, maka tidak boleh dikafirkan. Karena kesalahan menggunakan dalil dan perbedaan pandangan politik bukanlah sebab seorang jatuh kepada kekafiran. Di sini yang diutamakan al-Ghazali adalah mendidik generasi-generasi Muslim agar mereka mengutamakan persatuan daripada fanatisme buta sehingga menyebabkan terpisahnya dari jamaah kaum Muslimin. Jika terdapat kesalahan ijtihad, maka persatuan lah yang harus diutamakan.

Karena itu, hal yang paling penting saat ini bukan memperdebatkan persoalan ijtihadiyah, hingga sampai saling menyesatkan. Satu sama lain menghujat penuh nafsu. Akan tetapi hendaknya umat Islam memahami tantangan terbesar yang dihadapi. Tantangan itu adalah kerusakan pemikiran yang menyebabkan rusaknya akidah.*

Oleh: Kholili Hasib
Penulis adalah peneliti InPAS Surabaya

http://www.hidayatullah.com/read/2013/08/14/5872/beda-ijtihad-utamakan-ukhuwah.html


Madzhab Boleh Berbeda, Tapi Shalat Tetap Bersama

Walau tidak sependapat, Imam Ahmad pilih jahr-kan bacaan basmallah untuk kepentingan ukhuwah.
 
null

Saat itu seorang pencari ilmu yang mengikut madzhab Maliki bertanya kepada Ibnu Hazm Ad Dhahiri, sorang ulama madzhab Ad Dzahiriyah (madzhab yang merujuk kepada makna leterlijk nash) mengenai hukum shalat di belakang Imam yang berbeda madzhab. Ibnu Hazm sendiri dikenali sebagai ulama yang amat pedas komentarnya terhadap siapa yang berebeda pendapat dengannya.

Bahkan ia tidak segan-segan ia menilai mereka sebagai pihak yang menyelisihi hadits. Sehingga ada ulama yang menyebut bahwa lidah Ibnu Hazm dan pedang Hajaj, penguasa dzalim yang suka membunuh adalah saudara kandung (Wafayat Al A’yan, 3/327-328). Dengan kondisi tersebut, si penanya mungkin mengira bahwa Ibnu Hazm akan menjawab dengan jawaban-jawaban yang tidak “simpatik” pula. Namun ternyata perkiraan itu meleset jauh. Sebaliknya, Ibnu Hazm menjawab dengan penuh obyektifitas.

Dalam Risalah fi Al Imamah, Ibnu Hazm menjawab pertanyaan pencari ilmu itu,”Jika engkau menyatakan bahwa si imam membolehkan wudhu dengan nabidz (perasan anggur baik yang sudah menjadi arak maupun belum), walau kami tidak mengataknnya, karena haditsnya tidak shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, namun kita memperoleh riwayat (yang membolehkan) dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, Ikrimah, Al Auzai, Al Hasan bin Hayyi, Humaid bin Abdirrahman dan para fuqaha lainnya. Jika engau menolak shalat di belakang mereka, maka engkau adalah orang yang paling alim!” (lihat, Risalah fi Al Imamah, hal. 124)

Jika Imam itu termasuk orang yang hanya berpendapat wajibnya mandi junub terbatas karena keluar air mani, walau pendapat itu tidak disetujui oleh Ibnu Hazm, karena adanya hadits yang menjelaskan bahwa jima’ mewajibkan mandi walau tidak keliar mani, namun menurutnya ada beberapa ulama yang tidak ada tandingnnya hingga hari kiamat yang membolehkannya. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, Zubair, Said bin Abi Waqash dan beberapa fuqaha dari kalangan sahabat lainnya. Jika si penanya menolak shalat di belakang para ulama besar itu maka ia akan tahu akibatnya di akhirat kelak! (Risalah fi Al Imamah, hal. 125)

Ibnu Hazm sendiri termasuk ulama yang menyatakan bahwa meninggalkan basmalah untuk Al Fatihah tidak membatalkan shalat. Namun jika Imam yang dijadikan panutan adalah orang yang membaca basmalah untuk Al Fatihah dengan menghitungnya sebagai ayat, serta menilai batalnya shalat jika meninggalknya, maka hal itu tidak mengapa. Beliau menyatakan,”Dan telah diriwayatkan hal itu dari mayoritas sahabat termasuk Abu Bakr dan Umar. Jika engkau menolak shalat di belakang mereka maka jiwamu telah dzalim dan jelaslah kebodohanmu!” (Risalah fi Al Imamah, hal. 128)

Ibnu Hazm juga menyatakan, jika yang menjadi imam adalah orang yang menilai bolehnya akad salam satu dirham dengan dua dirham, walau hal ini menurut Ibnu Hazm adalah haram, namun bermakmum kepada mereka tetap dibolehkan. Ibnu Hazm menyatakan,”Akan tetapi telah berpendapat kebolehannya para ulama yang tidak ada tandingannya setelah mereka yakni Ibnu Abbas beserta para fuqaha Makkah dan sekelompok ulama setelah mereka. Dan aku telah mengatakan kepadamu bahwa tidak ada seorang pun yang terbebas dari kesalahan setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau adalah hujjah terhadap siapa saja. Namun jika engkau menolak shalat di belakang Ibnu Abbas, maka celakalah engkau!” (Risalah fi Al Imamah, hal. 130)

Hanafiyah Ikut Qunut jika Bermakmum kepada Syafi’iyah 

Tidak hanya Ibnu Hazm yang membahas masalah bermakmum kepada Imam yang berbeda madzhab. Madzab 4 juga sudah membahasa bagaimana seharusnya kaetika penganutnya bermakmun kepada imam di madzhab lainnya. Salah satu contohnya, Al Marghinani salah satu ulama besar madzhab Hanafi memilih mengambil pendapat Imam Abu Yusuf yang berpendapat untuk mengikuti Imam jika ia berqunut di shalat shubuh. Padahal Madzhab Hanafi sendiri tidak berqunut di waktu itu. Kemudian beliau menyatakan,”Hal ini menunjukkan bolehnya mengikuti imam yang bermadzhab As Syafi’i” (Fath Al Qadir Syarh Al Hidayah, 1/ 310)

Kisah serupa terjadi tatkala Harun Ar Rasyid saat menjadi Imam setelah beliau berbekam tanpa berwudhu sesuai dengan pendapat Malik, namun Imam Abu Yusuf murid Abu Hanifah tetap bermakmum kepada beliau walau berbeda pandangan. (Al Inshaf, hal. 24-25)

Hal yang sama dilakukan oleh Imam Ahmad yang berpendapat batalnya wudhu dengan mimisan dan berbekam. Suatu saat ada yang mengatakan kepada beliau,”Jika ada Imam telah keluar darah darinya, dan tidak berwudhu, apakah engkau shalat di belakangnya?” Imam Ahmad menjawab,”Bagaimana bisa saya tidak shalat di belakang Imam Malik dan Said bin Musayyab?” (Al Inshaf, hal. 24-25)

Imam Ahmad sendiri pernah memilih mengeraskan basmallah ketika shalat di Madinah walau tidak sependapat. Qadhi Abu Ya’la menilai bahwa hal itu disebabkan penduduk Madinah membacanya jahr. Dan beliau memilih sikap itu dalam rangka mempererat ukhuwwah. (Al Inshaf, 24-25)

Nah, kalau ulama besar bertoleransi terhadap madzhab lainnya, tentu umat Islam yang bukan ulama perlu mengambil suri tauladan dari mereka. Sehingga hubungan antar umat Islam yang berpeda pendapat dalam masalah fiqih harmonis dan tidak terjadi permusuhan karena hal itu.

Rep:
Sholah Salim

http://www.hidayatullah.com/read/2013/08/26/6055/madzhab-boleh-berbeda-tapi-shalat-tetap-bersama.html


4 Madzhab 1 Keluarga


Para ulama salaf saling mengormati meski berbeda pendapat
null

Perbedaan pendapat dalam persoalan ijtihadiyah terkadang menyebabkan hubungan sesama umat Islam tidak harmonis. Padahal walau berbeda pendapat, para ulama pendiri 4 madzhab tidak mencela satu sama lain, justru mereka tidak segan-segan berguru kepada lainnya.

Abu Hanifah adalah ulama mujtahid pendiri madzhab tertua di kalangan 4 madzhab. Walau demikian, beliau tidak gengsi menelaah kitab Imam Malik pendiri madzhab Maliki, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abi Hatim dalam muqadimah Ma’rifah Al Jarh wa At Ta’dil. Padahal beliau sendiri adalah pewaris ilmu para murid Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhuma. (lihat, Al Maqalat Al Kautsari, hal. 99)

Imam As Suyuthi dalam Manakib Imam Malik (hal. 119), telah menukil bahwa dalam Musnad Abu Hanifah juga terdapat periwayatan beliau dari Imam Malik.

Demikian pula yang dilakukan oleh Imam Malik,  dimana beliau menyambut dan memuliakan Imam Abu Hanifah saat berhaji. Lebih dari itu kedua Imam besar ini saling bermudzakarah, hingga Imam Malik memperoleh 60 ribu permasalahan dari Imam Abu Hanifah, sebagaimana disebutkan oleh Mas’ud bin Syaibah As Sindi dalam muqaddimah Kitab At Ta’lim. Sebab itulah beberapa ulama Milikiyah menyatakan bahwa jika mereka menemui masalah yang tidak ada periwayatan dari Imam Malik, maka mereka mengambi pendapat dari Imam Abu Hanifah. (lihat, Al Maqalat Al Kautsari, hal. 99)

Apa yang dilakukan Imam As Syafi’i tidak berbeda dengan  para mujtahid sebelumnya. Beliau berguru kepada Imam Malik untuk menyima Al Muwaththa’. Dan ketika menuju Bagdad dari Yaman pada tahun 184 H, beliau juga menjalin hubungan dan mengambil ilmu dari Muhammad bin Hasan serta Yusuf bin As Simti yang merupakan  sahabat Abu Hanifah. Sebab itu beliau dikenal sebagai ulama yang menyatukan dua pemikiran fiqih, Madinah dan Iraq. (lihat, Al Maqalat Al Kautsari, hal. 99)

Sedangkan Ahmad bin Hanbal sendiri mengambil ilmu dari Imam Abu Yusuf selama tiga tahun disamping mengkaji kitab-kitab Muhammad bin Hasan yang keduanya merupakan sahabat Imam Abu Hanifah. Kemudian beliau juga mengambil fiqih juga dari Imam As Syafi’i ketika beliau tiba di Iraq tahun 195 H. (lihat, Al Maqalat Al Kautsari, hal. 100)

Bahkan, karena amat cinta terhadap guru, Imam Ahmad selalu mendoakan Imam As Syafi’i setelah shalat dalam waktu 40 tahun. (Manaqib Imam As Syafi’i, Al Baihaqi, 2/254)

Jika demikian, sesungguhnya para ulama madzhab empat merupakan satu keluarga dalam berkhidmat terhadap syariat Allah. Dan hasilnya, mereka saling menghormati satu sama lain dan tidak saling mencela tatkala berbeda dalam pendapat.

Hal itu bisa dilihat bagaimana Imam As Syafi’i menghormati pendapat Imam Abu Hanifah. Ketika berada di Baghdad dan kebetulan melaksanakan shalat shubuh di dekat makam Abu Hanifah, beliau memilih tidak melakukan qunut shubuh. (Al Inshaf, hal. 24-25)

Demikian pula dalam beberapa Bab fiqih, Imam As Syafi’i berupaya untuk menghindari khilaf dengan para mujtahid lainnya. Ini terlihat dalam pembahasan masalah i’tikaf, dimana madzhab beliau memandang  sahnya i’tikaf walau hanya sebentar menetap di masjid. Namun beliau menyatakan,”Dan aku lebih suka satu hari. Dan aku menyatakan bahwa hal itu mustahab, untuk keluar dari khilaf, karena Abu Hanifah memandang tidak sah jika kurang dari sehari.” (Al Majmu’, 6/479)

Imam Malik Tolak Madzhabnya Dijadikan Madzhab Resmi

Pernah Khalifah Manshur menyatakan kepada Imam Malik, bahwa ia bertekad untuk memperbanyak Al Muwaththa’ untuk disebarkan di seluruh negeri, agar negeri-negeri itu mengikutinya dan tidak mengambil dari kitab lainnya. Namun Imam Malik menolak usulan itu, malah beliau menyarankan agar membiarkan para penduduk untuk memilih untuk diri mereka sendiri.

Di riwayat lain juga disebutkan bahwa Harun Ar Rasyid berencana menggantungkan Al Muwaththa’ di Ka’bah dan mewajibkan semua pihak untuk mengikutinya. Namun Imam Malik menolaknya, karena para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sendiri berbeda dalam furu’ sedangkan mereka menyebar di seluruh wilayah. (Al Inshaf, hal. 24-25)

Ikhtilaf Tidak Menyebabkan Rusaknya Persahabatan

Yang perlu dijadikan suri tauladan dari para ulama salaf adalah cara mereka menyikapi perberbedaan pendapat, hingga tidak menyebabkan ukhuwah menjadi rusak.  Imam As Syafi’i pernah terlibat perdebatan dengan Yunus Bin Abdil A’la. Namun setelah peristiwa itu, sang pendebat yang juga merupakan sahabat dekat malah menaruh rasa hormat dengan mengatakan,”Aku belum pernah melihat orang yang lebih berakal daripada As Syafi’i, suatu hari aku mendebatnya dalam suatu masalah, kamudian kami berpisah. Namun setelah itu ia menemuiku dan menggandeng tanganku kemudian mengatakan,’Wahai Abu Musa, bukankah labih baik kita tetap menjadi saudara walau kita berbeda dalam satu masalah?’ (Siyar A’lam An Nubala’, 10/16)

Demikian pula setelah Imam Ahmad dan Ali bin Al Madini berdebat masalah persaksian, kedua suara mereka pun meninggi, hingga ada yang mengira bahwa keduanya bakal tidak akur. Namun saat Ali hendak pergi Imam Ahmad mencegah kendaraan yang ditunggangi Ali. (Jami’ Bayan Al Ilmi, 2/968)

Demikianlah para salaf shalih, mereka saling menghargai dalam masalah ijitihad, tidak mencela pendapat ulama lainnya, saling bekerja sama dalam ilmu, bahkan mereka enggan memaksakan madzhabnya. Mengikuti salaf shalih? Ikutilah mereka!

Rep:
Sholah Salim
Editor: Thoriq
http://www.hidayatullah.com/read/2013/08/12/5846/4-madzhab-1-keluarga.html


 
null

Suatu Saat, Imam Abu Yusuf, murid dari Imam Abu Hanifah mengimami shalat Jumat menggantikan khalifah saat itu. Namun beliau lupa bahwa beliau berhadats. Setelah shalat selesai beliau baru ingat bahwa beliau mengimami dalam keadaan berhadats, maka beliau pun mengulang shalat namun tidak menyuruh makmum untuk mengulang shalat. Dan ketika ditanya apakah beliau tidak menyuruh para makmum untuk mengulang, beliau pun menjawab,”Kemungkinan mereka akan memperoleh kesempitan, maka kita mengambil pendapat ahlul Madinah bagi para penduduk”.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam pendapat Madzhab Hanafi, jika Imam lupa bahwa ia berhadats, maka imam dan makmum harus mengulangi. Namun pendapat ahlul madinah cukup bagi imam yang mengulangi. Kisah yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al Fatawa (20/364,365), itu menunjukkan bahwa adanya ikhtilaf dalam masalah furu’ justru memberi kelapangan dan kemudahan.

Kisah yang lain mengenai Imam Abu Yusuf disebutkan oleh Syah Waliyullah Ad Dihlawi ulama ternama dari India. Suatu saat Imam Abu Yusuf mandi jumat untuk melaksanakan shalat jumat bersama para jamaah. Namun setelah selesai shalat ada yang menyampaikan kabar bahwa di sumur yang airnya digunakan untuk mandi terdapat bangkai tikus. Sedangkan madzhab Abu Hanifah menyatakan bahwa air bebas dari najis jika jumlahnya banyak, yakni tidak bergerak air di sisi ujung jika air di sisi lainnya digerakkan. Akhirnya Abu Yusuf menyatakan,”Jika demikian, kita mengambil pendapat saudara-sadara kita penduduk Madinah, bahwa jika banyaknya air sampai dua kullah, maka ia tidak najis.” (Lihat, Al Inshaf hal. 71)

Adanya perbedaan pendapat mengenai kadar yang membebaskan air dari najis memberi kemudahan kepada para penganut madzhab Hanafi dalam melaksanakan syari’at. Hingga mereka tidak perlu mengulangi shalat jumat, disebabkan karena mandi dengan air yang menurut madzhab yang mereka anut termasuk sebagai air yang najis.

Imam Az Zarkasyi Asy Syafi’i juga menyampaikan kisah Qadhi Abu Thayyib dari kalangan Syafi’iyah, bahwa di saat hendak shalat Jumat dan hendak melakukan takbiratul ihram tiba-tiba seekor burung menjatuhkan kotorannya ke badan beliau. Namun beliau kemudian berkata,”Saya Hanbali”, kemudian bertakbir. Apa yang diamalkan dengan madzhab beliau (As Syafi’i), tidak menghalangi untuk bertaklid kepada madzhab lainnya, jika ada keperluan. (Faidh Al Qadir, 1/211)
Adanya ikhtilaf pendapat akan najisnya kotoran hewan yang beoleh dimakan antara madzhab As Syafi'i yang memandang najis dan madzhab Hanbali yang memandang suci ternyata memberikan solusi.

Penerapan di Masa Kontemporer

Pendapat utama dalam madzhab As Syafi’i menyatakan bahwa bersentuhan kulit antar lawan jenis yang bukan mahram setelah baligh membatalkan wudhu bagi yang menyentuh dan yang disentuh.
Sedangkan untuk menghindari persentuhan kulit antar jamaah di kala melaksanakan thawwaf amatlah susah, sedangkan tempat wudhu juga jaraknya cukup jauh dari lokasi ibadah tersebut. Maka jalan keluar yang ditempuh adalah mengambil pendapat kedua madzhab As Syafi’i yang menyatakan bahwa wudhu batal karena menyentuh saja, sedangkan jika disentuh tidak batal.

Solusi inilah yang pernah difatwakan oleh Mufti Brunei pada tahun 2004 lalu, guna memberi kemudahan kepada penganut As Syafi’iyah ketika mereka melaksanakan haji. Inilah salah satu hikmah adanya dua pendapat dalam madzhab As Syafi’i dalam masalah ini.

Yang juga memperoleh kemudahan karena adanya perbedaan pendapat adalah mereka yang terjebak macet dalam kendaraan dan tidak memungkinkan untuk shalat baik di dalam maupun di luar kendaraan.

Jumhur ulama memang tidak membolehkan menjamak shalat dalam keadaan seperti ini jika jarak perjalanan belum mencapai jarak safar. Namun, Ibnu Sirin membolehkan hal itu, jika ada hajat dan bukan untuk dilakukan terus menerus (lihat Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, 4/322).

Dan Mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah meski bermadzhab As Syafi’i, dengan berpedoman kepada hadits riwayat Imam Muslim yang artinya,”Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melaksanakan shalat dhuhur, ashar, maghrib dan isya dengan cara dijamak bukan karena takut atau safar,” mengeluarkan fatwa mengenai bolehnya menjamak dua shalat ketika terjebak kemacetan, namun hal itu tidak boleh dijadikan adat kebiasaan. Melaksanakan pendapat itu lebih baik dari pada akhirnya menqadha’ shalat karena tidak bisa melaksanakannya di waktu yang telah ditentukan oleh syara’.

Bukan Ikhtilaf tapi Kelapangan

Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah menyatakan,”Tidak membuat aku gembira  ketika para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak ada iktilaf. Karena jika mereka sepakat dengan satu pendapat, dan seseorang menyelisihinya, maka orang itu sesat. Namun jika mereka berbeda pendapat, hingga ada seorang yang mengambil dari ini, dan yang lain mengambil dari itu, maka perkaranya akan menjadi lapang.” (lihat, Al Majmu’ah Al Fatawa, 30/79-81)

Bahkan para ulama berupaya menghapus istilah ikhtilaf itu sendiri dan menggantinya dengan “kelapangan”. Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa suatu saat seseorang menulis sebuah kitab yang mengupas masalah ikhtilaf. Maka Imam Ahmad pun menyampaikan,”Jangan dinamai sebagai Kitab Ikhtilaf, namun beri nama ia sebagai Kitab Kelapangan.” (lihat, Al Majmu’ah Al Fatawa, 30/79-81)

Walhasil, dari perkataan dan perbuatan para salaf, khalaf hingga mu’ashirin menunjukkan bahwa sebenarnya adanya ikhtilaf para ulama mujtahid dalam masalah furu’ fiqih merupakan sebuah kelapangan yang memberikan solusi alternatif bagi masing-masing pribadi Muslim tatkala mengalami kesulitan menerapkan “pendapat ideal” bagi mereka.

Dan hal ini bukan termasuk tattabu’ rukhas (mencari-cari pendapat yang paling mudah), yang dilarang oleh sebagian ulama, dikarenakan ada kebutuhan untuk melakukannya.

Rep:
Sholah Salim
Editor: Thoriq 
 
http://www.hidayatullah.com/read/2013/10/03/6663/ikhtilaf-itu-melapangkan.html

0 comments: