Setiap Kerumuman Adalah Pasar

Filed under: by: 3Mudilah

Transaski e-commerce dunia tahun ini diperkirakan mencapai US$ 1.3 trilyun, namun transaksi ini kurang lebih hanya mewakili sekitar 1.4 % dari GDP dunia. Mayoritas transaski di dunia masih dilakukan secara tatap muka langsung, pasar di dunia yang sangat modern sekalipun seperti saat ini – masih begitu banyak didominasi oleh pasar fisik. Inti dari pasar fisik itu sendiri belum banyak berubah setelah ribuan tahun, yaitu setiap kerumuman  adalah ( bisa jadi) pasar. Kemampuan untuk mengetahui dan berinteraksi di pasar inilah yang antara lain kemudian menjadikan orang seperti Abdurrahman bin Auf.


Mengapa kekuatan pasar fisik belum sepenuhnya bisa terdandingi oleh  e-commerce yang sudah sangat  canggih sekalipun ? banyak alasan untuk ini. Pertama adalah tidak semua produk cocok di e-commerce-kan. Anda tidak membeli bakso misalnya lewat e-commerce – paling tidak untuk saat ini.

Kedua, tidak semua orang merasa nyaman dengan transaksi tanpa wajah (faceless) melalui e-commerce. Ketiga tidak sedikit persepsi di masyarakat  bahwa e-commerce tidak atau kurang aman.

Keempat, bagi sebagian (besar) orang tansaksi e-commerce adalah ribet. Kelima sebagian orang memilih jual beli fisik karena membangun experience tersendiri yang tidak tergantikan dengan e-commerce. Orang-orang suka berkumpul di mal-mal atau keramaian lain untuk menghibur diri sambil kemudian berbelanja misalnya, maka yang seperti ini belum akan tergantikan oleh adanya kemajuan teknologi e-commerce.

Karena pasar terbesar masih berupa pasar fisik yaitu tempat-tempat  dimana manusia bisa berkumpul dalam jumlah banyak, maka yang bisa men-create orang utuk berkumpul itulah yang menguasai pasar untuk saat ini. Para konglomerat rame-rame membangun mal-mal nan mewah agar orang tertarik untuk datang.

Dari pengunjung yang ramai inilah kemudian segala macam barang dan jasa bisa dijual di keramaian tersebut, tempat-tempat seperti ini menjadi tempat yang mahal yang hanya terjangkau oleh yang benar-benar mampu.

Mal-mal dan pasar-pasar yang mewah ini kemudian memperlebar jurang pemisah antara orang kebanyakan dengan si kaya. Si kaya bisa membeli tempat yang mahal untuk jualan ke banyak orang yang berkunjung ke keramaiannya. Sedangkan orang kebanyakan  yang tidak mampu membeli tempatnya ataupun sekedar menyewanya, hanya menjadi pasar yang diberondong dengan berbagai produk barang dan jasa dagangan si kaya.

Dengan aliran uang dari orang kebanyakan ke si kaya ini kemudan memperbesar konglomerasi dari waktu ke waktu. Outlet mereka makin luas di seluruh penjuru kota bahkan sampai ke desa-desa, walhasil para konglomerat bertambah terus asset-nya dengan cepat karena mereka menguasai pasar – sedangkan kebanyakan orang hanya sekedar menjadi target pasar bagi para konglomerat ini.

Sementara itu ada kreativitas rakyat kecil yang juga sudah pandai memanfaatkan kerumunan, mereka tidak mampu menciptakan kerumuman atau menarik orang untuk datang ke suatu tempat – tetapi mereka bisa memanfaatkannya.

Para pedagang asongan, pedagang di pasar kaget, pedagang di pasar Jum’at (maksudnya di seputar masjid habis sholat Jum’at) adalah contoh  orang-orang yang bisa memanfaatkan kerumunan yang sudah ada untuk menjadi pasarnya – tanpa harus menciptakan kerumunan itu sendiri.

Lagi-lagi ini bukan untuk orang kebanyakan seperti saya dan Anda. Orang seperti kita ini tanggung, jualan di mal-mal atau pasar-pasar yang mewah kebanyakan kita tidak mampu menyewanya apalagi membeli tempatnya. Sementara untuk jualan secara asongan kita mungkin tidak cukup percaya diri untuk melakukannya.

Walhasil orang-orang yang tanggung ini tetap menjadi target pasar bagi para konglomerat maupun bagi pedagang asongan. Kebanyakan kita tidak menjadi pedagang yang menguasai atau setidaknya mampu menggarap pasar itu sendiri. Padahal penguasaan pasar ini mutlak perlu bila kita juga ingin menguasai produksi apapun. Kita tidak akan bisa berproduski secara maksimal bila kita tidak bisa menguasai pasar. Keahlian istri Anda membuat gudeg yang luar biasa enak misalnya, tidak jaminan bisa menjual gudeg tersebut bila Anda tidak menguasai pasarnya.

Dari situasi inilah yang kemudian membuat kebanyakan orang seperti saya dan Anda akhirnya milih untuk tetap menjadi pegawai saja sampai (terpaksa) pensiun. Saat itu barulah kita belajar berusaha, belajar berproduksi dan belajar memasarkan hasil produksi kita. Sedikit yang berhasil – rasionya sekitar 1/10, satu berhasil dan 9-nya gagal. Mengapa ?, ya karena kebanyakan memulainya secara terlambat dan memulai bukan karena passion – tetapi karena terpaksa.

Lantas apa yang bisa dilakukan oleh orang kebanyakan ini agar bisa menguasai perdagangan dan juga produksi ? inilah inti dari ekonomi Islam sebenarnya. Kuasai pasar dan kuasai produksi, hal ini juga tercermin oleh dua kelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yaitu kaum Muhajirin yang rata-rata pandai berdagang (bisa menguasai pasar) dan kaum Anshar yang rata-rata pandai bertani (bisa menguasai produksi).

Ketika dua kekuatan pasar dan produksi ini dipersatukan dalam persaudaraan, maka disitulah kedasyatan negeri Islam yang lahir perkasa kemudian. Negeri yang mampu memakmurkan rakyatnya, dan bahkan juga kemudian tercatat dengan cepat menjadi negeri yang membebaskan negeri-negeri lain yang tertindas.

Maka itulah challenge-nya bila kita ingin memakmurkan rakyat di negeri ini, challenge-nya adalah bagaimana penguasaan pasar yang tidak terpisahkan dari penguasaan produksi itu bisa ada kembali di umat ini. InsyaAllah BERSAMBUNG.

Catatan :
InsyaAllah tulisan berikutnya tentang bagaimana orang kebanyakan seperti kita-kita yang bukan konglomerat dan bukan penjual asongan ini bisa menguasai pasar dan juga produksi.

Orang-orang kaya menguasai perdagangan di mal-mal, pasar-pasar mewah, pertokoan sampai mart-mart di kampung-kampung. Para pedagang kaki lima dan pedagang asongan menguasai titik-titik strategis di setiap kerumuman dan jalan-jalan yang macet. Lantas dimana pasar yang bisa dikuasai oleh orang kebanyakan seperti kita-kita ?, kebanyakan kita tidak cukup uang untuk membeli tempat di mal atau mendirikan mart, sementara untuk menjadi pedagang kaki lima atau pedagang asongan kita juga tidak cukup PD. Maka bisa jadi salah satu jawabannya adalah teknologi yang ada saat ini.

Teknologi itu bukan teknologi e-commerce yang karena berbagai kendalanya ‘baru bisa’ menguasai 1.4 % GDP dunia, teknologi ini lebih maju lagi tetapi lebih sederhana pengoperasiannya. Teknologinya bukan menggantikan jual beli fisik sebagaimana teknologi e-commerce, tetapi teknologi yang malah menguatkan interaksi jual beli secara fisik.

Karena teknologi ini melibatkan jual beli fisik, maka seluruh kelebihan jual beli fisik dapat dipertahankan. Misalnya kelebihan dalam hal khiyar – pembeli bisa memilih-milih barang yang mau dibeli atau tidak. Kelebihan dengan pembayaran tunai – sebagian orang lebih suka membayar atau menerima pembayaran tunai. Kelebihan dengan ‘experience’ jual beli – sebagian orang menikmati bertemu orang, negosiasi, jalan-jalan sambil belanja dlsb.


Location Based Marketplace
Lantas dimana peran teknologinya kalau begitu ?, teknologinya ada di handphone Anda yang rata-rata kini mampu mendeteksi lokasi keberadaan Anda. Teknologi yang sudah sangat mungkin diterapkan ini – bahkan team kami juga sedang men-develop aplikasinya – disebut Location Based Marketplace (LBM). Untuk yang kami kembangkan nantinya insyaAllah bisa di akses di situs www.lastfeet.com.

Bayangkan diantara peluang-peluangnya adalah seperti ini :

Dengan membuka lastfeet dari smartphone Anda, Anda akan tahu siapa yang lagi berjualan beras, gula, minyak goreng dlsb. di sekitar Anda, dari tempat-tempat yang terdekat dengan Anda. Bisa jadi yang berjualan tersebut adalah tetangga sebelah rumah Anda, yang dia bisa jualan beras dlsb. tanpa harus buka toko atau mart.

Dengan cara yang sama, Anda bisa berjualan apa saja yang bisa Anda produksi untuk tetangga Anda, teman sekantor Anda, teman sekereta Anda dlsb. – tanpa perlu Anda malu-malu menawarkannya. Mereka Akan tahu barang dagangan Anda ketika mereka membuka LBM lastfeet.com.

Peluangnya tidak hanya berhenti di sini, para pengunjung mal-mal, pasar-pasar mewah dlsb. yang selama ini hanya menjadi target pasar – tiba-tiba bisa ikut jualan tanpa harus menyewa tempatnya yang sangat mahal. Cukup datang ke mal dan membawa satu dua barang, menyalakan LBM lastfeet – maka sesama pengunjung mal sudah bisa saling bertransaksi.

Bahkan seluruh partai-partai yang akan berlomba memenangkan hati rakyat dengan menghadirkan kerumunan dalam kampanye-kampanyenya tahun 2014 nanti, dapat menggunakan teknologi LBM lastfeet ini untuk menghadirkan daya tarik tersendiri – agar orang mau datang berkerumun.

Bisa jadi masyarakat yang berkerumum tersebut bukan datang untuk mendengarkan orasi-orasi politik, tetapi untuk saling berjualan satu sama lain. Para pengunjung ini cukup hadir di kerumunannya, login ke account lastfeet-nya kemudian orang lain sudah akan tahu bahwa si fulan yang hanya berada beberapa feet dari keberadaannya – sedang berjualan sesuatu.


Jual Beli Dengan Tetangga Terdekat...
Berjual beli dengan orang terdekat – beberapa feet/kaki – yang terdeteksi keberadaannya melalui LBM inilah peluang besarnya bagi kita semua. Yang semula malu untuk berjualan, nantinya tidak perlu malu lagi – karena berjualan akan sama mudahnya dengan meng-upload foto di facebook Anda.

Tidak perlu kawatir ditipu dan lain sebagainya yang marak di e-commerce, karena Anda akan dibayar tunai oleh si pembeli dan si pembeli-pun bisa melihat langsung barang yang Anda jual. Tidak perlu membayar tempat yang mahal di pusat pertokoan atau tempat-tempat yang ramai di pinggir jalan, karena keberadaan Anda sudah mudah terdeteksi oleh masyarakat yang menggunakan teknologi yang sama.

Mungkin Anda bertanya, lho ini nanti kan merusak system perdagangan yang ada sekarang ?, toko-toko di mal-mal, barang kebutuhan di mart-mart dlsb menjadi tidak laku lagi karena tersaingi oleh para pedagang individual yang bisa beroperasi dengan sangat efisien, dari mana saja tempatnya – tidak ada cost tempat dlsb ?

LBM seperti lastfeet ini nantinya tidak akan mengancam system perdagangan yang sudah ada, bahkan mereka para pengelola toko-toko dan mart-mart juga berpeluang untuk menggunakan teknologi yang sama. Hanya peluang-peluang itu nantinya menjadi relatif sama antara yang mampu membeli tempat yang mahal, dengan yang tidak mampu menyewa tempat sekalipun.

Ketika keberadaan suatu barang kebutuhan Anda terdeteksi lewat ‘kaki-kaki’ yang nampak di layar handphone Anda, maka sudah tidak terlalu relevan lagi apakah kaki-kakit tersebut munculnya dari mal, dari mart atau dari rumah tetangga Anda sendiri.

Bahkan jual beli yang paling mudah dan murah adalah dengan tetangga atau teman terdekat Anda, Anda sudah saling mengenal dan tidak perlu biaya ekstra untuk menempuh perjalanan jauh hanya untuk membeli barang-barang kebutuhan Anda.

Saat itulah teknologi semacam LBM lastfeet ini akan bisa  me-reset pasar dengan CTRL + ALT +DEL, dan pasar kembali ke pasar sempurna seperti pasar yang di definisikan dalam suatu hadits fala yuntaqashanna wala yudrabanna – pasar itu jangan dipersempit (agar semua orang punya kesempatan yang sama untuk berjualan), dan jangan dibebani ( agar tidak ada biaya yang memberatkan para pedagang).

Maka tinggal menambahkan institusi pengawas pasar yaitu Hisbah – yang akan mengawasi aktifitas jual beli dengan bantuan teknologi ini – Pasar Madinah nan modern dengan teknologi terkini bisa kita hadirkan di lingkungan kita masing-masing. InsyaAllah.

Oleh : Muhaimin Iqbal 

http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1322-semua-kerumuman-adalah-pasar-i
http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1323-setiap-kerumuman-adalah-pasar-ii

0 comments: