Syekh Ghomidi : Penghafal Al Qur’an Jangan Tutup Mata Pada Permasalahan Syam

Filed under: by: 3Mudilah

Bumi Syam – Stadion Gelora Bung Karno begitu ramai di hari Sabtu (30/03/2013) ini. Kehadiran Syekh Saad Al Ghomidi menambah keistimewaan tersendiri. Ulama yang dikenal dengan kemerduan murottal Qur’annya hadir untuk menemani ‘wisuda’ para penghafal Qur’an. Semua penghafal Qur’an itu hasil binaan dari Program Pembibitan Penghafal Al Qur’an Daarul Qur’an (PPPA Daqu). Sehari setelah itu, Syekh Al Ghomidi menerima kunjungan Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS). Rombongan FIPS yang dipimpin langsung oleh Sekjend FIPS Ustad Abu Harist inipun berkesempatan untuk mewawancarai beliau untuk Bumisyam.com. Berikut hasil wawancara kami dengan Syekh Al Ghomidi terkait pentingnya menghafal Al Qur’an dan sikap seorang muslim terkait perjuangan rakyat Syam baik di Palestina dan di Suriah.

Apa yang anda sarankan agar umat Islam bisa dengan gencar mencetak penghafal Al Qur’an lebih banyak lagi?

Pertama kali yang saya lihat dari pertanyaan anda, bahwasanya kita harus memperjelas niat dari menghafal al qur’an itu sendiri. Apa niat anda dalam menghafal al qur’an? Apakah anda ingin seluruh rakyat Indonesia menghafal Al Qur’an? Apakah anda ingin rakyat Indonesia hanya menghafal Al Qur’an saja? Atau anda menginginkan ada sesuatu yang lain dari sekedar menghafal. Yaitu memahaminya dan mengamalkannya hingga akhir hidup kita.

Kita wajib menentukan tujuan ini terlebih dahulu. Inilah langkah pertama sebelum ketika kita membahas program menghafal Al Qur’an. Adapun perkara atau langkah yang kedua adalah memperbanyak markas-markas penghafal Al Qur’an di Indonesia. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ustad Yusuf Mansur dengan PPAA Darul Qurannya. Dimana tempat- tempat itu bisa mengumpulkan seluruh lapisan masyarakat dari anak-anak, pemuda, lelaki dan perempuan hingga orang tua, untuk membantu mereka dalam menghafal al qur’an.

Pusat penghafal Qur’an ini bisa juga diadakan di masjid-masjid, inilah perkara yang penuh berkah dan sangat penting sekali.

Yang ketiga adalah menyiapkan kurikulum untuk membantu masyarakat menghafal Al Qur’an. Kurikulum ini harus disesuaikan dengan jenjang umur dimasyarakat. Diantara mereka kemampuan potensinya berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal 1 halaman ada yang satu ayat saja sulit. Karena itu penting kurikulum untuk memfasilitasi kemudahan dan tuntunan bagi mereka dalam menghafal al qur’an.

Dan yang keempat, inilah kuncinya yaitu memilih guru pengajar yang profesional dan memiliki kapasitas untuk menghafal al qur’an. Tidak bisa sembarangan. Jangan sampai kita menghafal al qur’an tapi dengan cara membaca yang salah. Kita perlu menghafal qur’an dengan cara yang baik yaitu disiplin ilmu dalam membacanya memang sesuai tartil dan aturan-aturan dalam membaca qur’an itu sendiri. Kita perlu menyeleksi para pengajar ini, bagaimana kesempurnaan bacaan mereka, hafalan qur’an mereka dan tentunya harus mampu berbahasa arab. Yang terpenting mereka harus memiliki akhlak yang baik dan mampu menjadi teladan bagi binaannya. Ini hanya segelintir dari syarat menentukan para pendidik menghafal al qur’an ini.

Banyak orang mudah menghafal al qur’an tapi yang sulit justru ketika menjaga hafalan Qur’annya, bagaimana menurut anda? 

Program kelima adalah menentukan program pasca seseorang sudah selesai menghafal Al Qur’an. Banyak orang tidak mempersiapkan hal-hal ini. Wajar jika ada pemuda kebingungan setelah menghafal Qur’an mereka bingung mau berbuat apa. Menghafal Al Qur’an bukan hanya mengejar status hafidz atau mengejar sanad hafalan saja. Dalam hal ini kita perlu menghadirkan alat bantu untuk menerapkan Al Qur’an. Seperti pada target untuk anak 5 tahun yang ingin menghafal Al Qur’an. Maka kita perlu membuat program bagaimana teknis bimbingan selama 5 tahun agar target dia menghafal qur’an tercapai. Seperti memahami Al Qur’an, memahami Al Qur’an hakikatnya menjadi sebuah tuntutan bagi kita semuanya secara syar’i.

Dalam salah satu ayat Qur’an Allah berkata bahwa memahami Al Qur’an atau tadabbur Al Qur’an adalah point yang paling penting dari sekedar menghafal Al Qur’an. Ketika sulit mentadabburi Al Qur’an maka akan sulit dia menjaga hafalannya. Karena Al Qur’an itu juga harus diamalkan, bagaimana kita mau mengamalkan kalau kita tidak mampu mentadabburi Al Qur’an? Mana yang lebih penting menghafal atau mentadabburi? Keduanya tidak bisa dipisahkan, Tadabbur adalah wajib, sedangkan menghafalkan Qur’an adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Namun, tadabbur Al Qur’an jauh lebih wajib. Kita harus memotivasi menghafal Al Qur’an namun setelah itu kita harus mampu mentadabburi ayat Al Qur’an yang kita hafal itu.

Sekarang ini kita juga melihat, tanfidzh pun merupakan perkara penting. Karena itu tidak salah jika memberikan hadiah atau penghargaan dan juga memotivasi seluruh manusia untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al Qur’an adalah perlu juga.

Bagaimana cara anda menghafal Al Qur’an? Adakah kesulitan saat anda menghafal Al Qur’an? 

Sebenarnya menghafal Al Qur’an itu tidak susah dan tidak mudah. Saya sendiri menghafal Qur’an membutuhkan waktu lima tahun. Jangan memperhatikan lamanya menghafal Qur’an, tapi langsung hafalkan saja, jalani sedikit demi sedikit. Yang kita butuhkan dalam menghafal Qur’an adalah kesungguhan dan istiqomah. Kadang kita sudah berpikir sudah hafal, ketika disuruh mengulang hafalan kita lupa, mengapa? Karena kita kurang bersungguh. Setelah menghafal jangan lupa menjaganya dengan mengulang-ulang untuk mengingat kembali. Dalam urusan menghafal ini tersimpan ujian bagi kita semua. Dalam sebuah hadist kita dituntut untuk membacanya dengan tartil atau aturan yang sesuai dengan kaidah membacanya. Karena itu banyak ulama menjelaskan jangan pernah berniat untuk menghafal Al Qur’an hanya untuk perlombaan mengejar dunia, hafallah Al Qur’an untuk mengejar ridho di akhirat. Kesulitan dalam menghafal Al Qur’an pasti ada. Tapi hakikatnya akal kita ini seperti mesin.

Pertama anda akan sulit menghafal lima ayat, namun jika anda terus berlatih anda akan mudah menghafal bahkan sampai satu halaman. Ketika mesin itu kita latih terus menerus makan ia akan terlatih dan terbiasa. Begitupun kerja otak kita, saat kita terbiasa dengan interaksi hafalan Al Qur’an, Insya Allah kita akan terbiasa bahkan semakin menikmati ketika kita sedang menghafal Al Qur’an atau saat mengingat hafalan Qur’an kita.

Setelah semua itu kita paham, maka kita harus membuat jadwal, membangun managemen waktu kita. Kapan kita menghafal Al Qur’an kapan kita beristirahat dari menghafal Qur’an, semua itu harus diatur. Jadwal ini sangat wajib. Contoh kita tentukan satu atau dua jam setiap hari menghafal Al Qur’an, ini harus konsisten.

Kemudian, wajib untuk mengulang-ngulang, mengingat kembali hafalan-hafalan yang sudah kita hafal sambil terus menambah hafalan. Imam-imam di Haromain bahkan menyarankan agar melakukan pengulangan hafalan itu lebih dari 40 kali persurat, minimal 20 kali. Bahkan ada yang sampai 50 kali sekali mengulang hafalan Qur’annya.

Saya menemukan banyak pemuda kehilangan hafalannya, karena setelah ia berhasil menghafal ia malas mengulangi hafalan-hafalan Qur’annya itu. Jika jenuh mengulang atau mengingat hafalan sendirian. Carilah teman yang menemani, karena bisa jadi mengingat hafalan Qur’an memang lebih sulit dari menghafal Qur’an itu sendiri.

Apa anjuran anda terkait akhlak para penghafal Qur’an ketika banyak yang menghafal hanya untuk perlombaan mengejar dunia? 

Permasalahan ini adalah permasalahan penting. Saya sendiri mendapati ada penghafal Qur’an namun akhlak sangat berbeda dengan apa yang dihafalkan. Dia menjadi orang yang tertipu oleh dunia, karena sombong, karena mereka menghafal hanya untuk mengejar pujian manusia. Ini bukan akhlak Al Qur’an.

Karena hakikat menjadi penghafal Al Qur’an adalah menjadi manusia yang utama. Seharusnya mereka memiliki akhlak yang baik, mencintai ilmu dan mengajarkannya pada orang lain. Oleh karenanya, sebaik-baiknya orang bukan hanya belajar Al Qur’an tapi juga mengajarkannya ini sesuai dengan perintah Rasulullah. Dan orang yang sudah mengajar Qur’an tentunya memiliki sikap tawadhu, menghormati orang tua dan orang lain. Mereka memiliki gaya hidup yang bisa diteladani secara syariat.

Seorang penghafal Qur’an bukan berarti harus suci dan bebas kesalahan. Penghafal Al Qur’an memang tidak lepas dari kesalahan karena mereka juga manusia. Seorang penghafal tetap boleh hidup normal seperti masyarakat umum selama tidak melanggar aturan-aturan Syariat Islam.

Keteladanan yang saya maksud disini adalah hidup dengan tidak melanggar aturan syariat. Dan Al Qur’an adalah dasar hukum dari syariat Islam itu sendiri.  

Bagaimana pendapat anda terkait kondisi umat Islam saat ini? Bagaimana seharusnya seorang penghafal Al Qur’an menyikapi perkembangan dunia Islam? Contohnya seperti apa yang terjadi di Suriah dan Palestina?

Inilah pertanyaan yang sangat penting. Orang yang menghafal Qur’an bukan berarti orang yang terpisahkan dari permasalahan umat manusia. Bukan berarti orang yang sama sekali tidak mengetahui tentang kondisi manusia disekitarnya. Apabila dia sudah besar, dia wajib memahami realita yang ada disekitarnya. Dalam permasalahan ini kita perlu mempersiapkan dua persiapan.

Yang pertama mempersiapkan sisi internal kita. Yaitu memperkuat iman dan membangun rasa tanggung jawab. Dan berusaha mengetahui sumber problemantika umat, khususnya yang berada di bumi syam. Dimana Palestina dan Suriah itu merupakan satu kawasan bernama Syam. Inilah perkara internal umat Islam yang harus kita ketahui. Dan bisa jadi apa yang terjadi di Syam ini karena kelalaian kita umat islam selama sekian tahu daripada kebenaran. Diantara kelalaian itu adalah kita tidak mau mencari tahu dengan problem saudara-saudara kita di bumi syam tersebut.

Yang kedua, perkara penting yang harus kita lakukan adalah, kita harus mencari tahu apa strategi musuh untuk kita. Tentunya kita harus sadar musuh-musuh umat Islam ini sedang mempersiapkan episode untuk menghancurkan umat Islam. Mereka telah membuat rencana-rencana itu. Kita harus tahu. Kita sering lalai untuk mengetahui rencana-rencana musuh itu. Seperti sekarang, lihatlah apa yang dilakukan Amerika, Rusia, China hingga Iran. Mereka semua kenyataannya mendukung rezim pemerintah di Suriah. Walau sebagian menyatakan berbeda pendapat seakan memusuhi rezim, kenyataannya? Mereka semua membantu rezim dengan mendiamkan pembantaian. Mereka semua itu membantu pemerintah Suriah dalam masalah keburukan.

Inilah dua masalah penting, kita harus paham bagaimana rancangan strategi musuh-musuh kita itu. Saya sangat menganjurkan para penghafal Al Qur’an untuk peduli pada masalah ini. Kita tidak boleh tinggal diam.

Seorang penghafal Al Qur’an tidak boleh menjauhkan dirinya dari permasalahan umat. Saya mendoakan setiap muslim di Indonesia yang peduli pada masalah di Bumi Syam ini, saya merasa salut dengan semangat dan amal mereka. Semoga Allah membalas semua usaha mereka membantu saudara-saudara muslimnya di Syam. Ingatlah nasehat Allah, ketika kalian mendapat luka sesungguhnya orang-orang sebelum kalian juga mendapatkan luka. Itulah hari-hari yang kata Allah dipergilirkan, agar Allah tahu mana orang yang beriman dan yang tidak. Dan Allah akan menjadikan kalian Syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim.

Dari situ akan terlihat orang-orang beriman dan orang-orang yang munafik. Allah akan menyeleksi mana yang beriman, dan menghapuskan orang-orang yang kafir. Dalam perkara Syam ini ada dua faedah yang harus kita ingat.

Yang pertama Allah akan mengambil dari kalangan kaum muslimin ini Syuhada. Dan saat ini di Suriah ada lebih dari 100.000 jiwa menjadi syahid. Dan inilah bagian dari karomah, disisi lain kami tidak bersedih. Karena Allah telah menjadikan mereka seorang syuhada.

Yang kedua, karena kejadian di Syam ini, Allah ini menyeleksi barisan kaum muslimin. Selamanya ujian inipun akan memisahkan orang yang berada dalam kebenaran dan orang yang berada dalam kebatilan. Dan saya tahu ditengah-tengah terjadinya fitnah ini, manusia terbelah jadi dua. Ada yang condong pada kebenaran ada yang condong pada kebatilan.

Meskipun demikian, kita harus terus berupaya. Seperti menggalang dana, memberikan dukungan moril dan doa. Sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Yang paling penting dari itu semua, kita harus mempersiapkan diri kita kaum muslimin dari semua sisi. Membangun kekuatan ruhiyah, fisik hingga ekonomi.

Kita harus mempersiapkan untuk perlawanan ketika musuh-musuh Islam datang untuk menghancurkan negeri-negeri kita. Kita jangan berpecah belah.

- See more at: http://www.bumisyam.com/wawancara/syekh-ghomidi-penghafal-al-quran-jangan-tutup-mata-pada-permasalahan-syam.html#sthash.0dh7QzEB.dpuf

0 comments: