Muamalah itu Mudah

Filed under: by: 3Mudilah

Sudah barang tentu bermuamalah itu mudah. Setiap hari kita berinteraksi dengan orang lain.

Ruang lingkup muamalah itu sangat luas, mencakup semua aspek kehidupan pribadi dan sosial. Muamalah dalam urusan pribadi seperti pernikahan, urusan keluarga seperti waris-mewariskan, urusan sosial seperti ketertiban lingkungan, dan urusan komersial seperti jual beli, kontrak usaha, serta utang-piutang, dan sejenisnya.

Persoalannya adalah sudahkah kita bermuamalah sesuai dengan tuntunan syariah? Dalam dua kategori muamalah yang pertama, nikah dan waris, boleh jadi kita masih mengikuti kaidah syariah. Karena kita menjalankannya. Tapi dalam urusan sosial dan komersial? Kebanyakan kita bahkan tidak peduli lagi apakah ada kaidah syariahnya, apalagi menjalankannya.

Kenyataan ini dapat dimengerti karena sejak di bangku sekolah, juga di lingkungan sosial, kaidah muamalah yang kita dapatkan sama sekali tidak didasarkan kepada syariat Islam. Kita bersikap taken for granted: uangnya adalah uang kertas, nabungnya di bank, jual beli dengan kredit berbunga, hidup dengan asuransi dan dana pensiun, dan seterusnya. Lebih-lebih ketika kemudian ada sebagian orang yang mengislamisasi praktek-praktek ribawi tersebut. Semua jenis institusi ribawi dilabelisasi dengan label "syariah": maka ada bank syariah, asuransi syariah, pasar saham syariah, obligasi syariah, sampai ratu sejagad syariah!

Sedangkan Islam memiliki model sendiri yaitu muamalah, dengan lima pilarnya, sebagaimana telah diuraikan secara terpisah. Nabi sallalahu alayhi wa sallam mengajarkan kita menggunakan alat tukar yang terbuat dari komoditi, dua yang terbaik adalah Dinar emas dan Dirham perak, dan bukan uang kertas, membangun pasar bukan mal, menggunakan wadiah bukan bank, meyakini takdir dan qadar Allah , subhanahu wa ta'ala, dan tidak mengandalkan perjudian dan spekulasi asuransi, dan seterusnya.

Dalam kondisi seperti ini, seperti disinyalir oleh Khalifah Umar ibn Khattab, mendapatkan kembali pengetahuan muamalah menjadi prasyarat pertama, agar Anda tak masuk jebakan riba. Setiap muslim wajib mengerti yang riba dan yang bukan riba, yang halal dan yang haram. Setiap muslim wajib kembali memahami esensi uang kertas, dan mengapa harus kembali kepada Dinar emas dan Dirham perak. Setiap muslim harus mengerti makna dan peran wakaf dalam kehidupan perekonomian umat.

Kedua, niat, dan komitmen, untuk berubah. Dalam sistem yang nampak kokoh, tetapi sesungguhnya sangat rapuh itu, perubahan sikap Andalah yang akan mengubahnya. Yakinkan dalam hati bahwa riba itu haram, zalim dan menjijikkan, karena Nabi sallalahu alayhi wa sallam menyatakan dosanya lebih buruk dari 36 kali berzina. Setiap kali Anda terlibat dengan riba setara dengan kita 36 kali berzina! Ketika keyakinan itu telah ada, akan tumbuh sikap untuk tidak membutuhkan seluruh institusi riba itu: uang kertas, bank, asuransi, kredit berbunga, dst. Meski institus-instutusi itu diislamisasi, karena tanpa mengubah substansinya, tanpa menghilangkan ribanya. Begitu Anda berubah, sekitar Anda akan berubah untuk Anda.

Ketiga, bertindak. Bertindaklah, amalkanlah pengetahuan yang telah Anda dapat, meski baru sedikit. Itu lebih baik daripada memiliki banyak pengetahuan tapi lumpuh. Nabi sallalahu alayhi wa sallam menyatakan: "Lakukan yang kamu tahu, dan Allah, subhanahu wa ta'ala, akan beritahukan yang engkau tidak tahu". Nabi sallalahu alayhi wa sallam juga menyatakan pengetahuan yang tidak diamalkan, akan meracuni tubuhmu.

Mulailah dari yang paling mendasar, perlahan-lahan tinggalkan uang kertas. Gunakanlah Dirham perak dalam transaksi sehari-hari. Dalam transaksi bernilai besar gunakan Dinar emas. Menjadi kewajiban setiap Muslim, untuk menularkan pengetahuan muamalah itu, dalam praktek, kepada orang lain. Jadikan setiap tempat tinggal Anda sebagai "Kampung Jawara", hingga bukan cuma Anda sendiri, tapi seluruh warga dapat bermuamalah dengan Dirham perak.

Kampung Jawara Tanah Baru, Depok, bisa dijadikan contoh. Diawali oleh sebuah minimarket, SahlanMart sekitar dua tahun lalu, di Tanah Baru kini telah ada sekitar 40 anggota Jawara lain. Ada dokter, ada tukang sayur, ada tukang listrik, ada pemilik rumah kontrakan, ada penjual sepeda, penjual pulsa, dan kios servis komputer, ada madrasah, ada bengkel besi, ada loper koran, ada kios buku, sampai tukang kebun.

Jadilah pelopor, seperti mas Arif Sahlan, pengelola SahlanMart itu. Atau Kang Ahmad Acep, si loper koran, yang tidak banyak mempertanyakan ini dan itu, telah menjalankannya, hanya karena ingin mengamalkan sunnah nabi. Dan kalau Anda memeloporinya banyak orang akan mengikuti. Rasakan keberkahan dan kenikmatan yang Anda peroleh dari tindakan Anda menegakkan sunnah Nabi yang telah lama roboh ini.

Jangan menggantungkan diri pada, apalagi menyalahkan, orang lain, kalau di kampung Anda belum ada yang mengerti dan menerima Dirham perak.

Katakan pada diri sendiri: "Ah, ini salah saya. Mulai hari ini saya akan jadikan kampung ini Kampung Jawara." 


Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara  
http://wakalanusantara.com/detilurl/Muamalah.itu.Mudah/1441

Membangun Kembali Pasar Sebagai Wakaf

Keberadaan pasar umum adalah kunci kemakmuran masyarakat.

Ibn Khaldun, sejarawan dan juga seorang qadi, merupakan "Bapak Sejarah" karena ia adalah orang pertama yang menemukan pemahaman tentang sejarah sebagai cara penafsiran peristiwa. Ia bukan hanya meriwayatkan peristiwa, tetapi menafsirkannya. Ibn Khaldun berkata: "Apa yang membuat sebuah kota? Apa yang membedakan kota dengan pemukiman?" Ia mengatakan ada tidaknya pasar. Jadi, bila tidak ada pasar, tempat itu baru merupakan sebuah [emukiman semata. Itu belum menjadi Madinah (Kota). Ia akan menjadi Madinah ketika ia memiliki pasar.

Masyarakat Madinah tidak menciptakan pasarnya. Sama seperti halnya kita tidak menciptakan koin emas. Ini sudah ada dari awal masyarakat ada. Masyarakat itu sendiri mengalokasikan sebidang lahan, sebagai ruang publik. Publik, yang berarti milik semua orang, di mana setiap orang bisa dagang.

Sementara super-market yang kita lihat semarak saat ini adalah monopoli distribusi. Model ini menghancurkan perdagangan dan pada akhirnya menghancurkan produksi karena akhirnya menjadi bagian dari sistem monopoli yang mengontrol perdagangan eceran. Masyarakat dengan sistem monopoli tidak ada hubungannya dengan perdagangan, dan bahwa masyarakat demikian tidak ada hubungannya dengan Islam.

Maka, cukup bagi kita, untuk merestorasi kehidupan pasar dalam masyarakat muslim, sebagai adalah pilar mendasar dalam perang kita melawan riba. Jadi ketika orang bertanya kepada saya apakah ada negara di dunia sekarang menggunakan dinar emas? Saya memberitahu mereka untuk tidak menanyakan pertanyaan itu. Saya meminta mereka bertanya kepada saya "Apakah ada masyarakat Muslim menggunakan dinar emas ketika kekhalifahan tegak?" Dan saya menjawab mereka: "SEMUA, tanpa kecuali."

Jalan Sutra dan rute lainnya, setiap titik di garis alur perdagangan pada peta dunia muslim merupakan pasar utama. Ini adalah jantung kegiatan perdagangan dunia muslim ketika mereka menguasai perdagangan. Sangat jelas dalam gambaran ini bahwa muslim menguasai kerajaan di tengah. Oleh karena itu, perdagangan darat sangat penting dalam membangun kekayaan kita.

Pasar dan Kaum Perempuan


Pasar, sejak sebelum maupun sesudah Islam, adalah lembaga publik. Mereka milik masyarakat. Mereka milik rakyat. Dan Rasul, sallalahu alayhi wa sallam benar-benar mewariskan pada kita bahwa suq, pasar, adalah sedekah bagi orang-orang. Artinya lembaga yang mengatur pasar adalah perwakafan. Rasul, sallalahu alayhi wa sallam berkata, "Sunnah pasar adalah sama dengan sunnah di masjid." Rasul, sallalahu alayhi wa sallam juga menyatakan, "Ini adalah pasar Anda. Jangan membaginya menjadi bagian-bagian. Jangan memaksakan pajak di atasnya."

Merupakan hak dasar setiap individu untuk memiliki tempat (ruang) untuk berdagang tanpa ada pembatasan. Monopoli pasar swalayan menghancurkan kebebasan dasar masyarakat untuk melakukan perdagangan ini. Privatisasi pasar telah membunuh perdagangan.

Sukka adalah orang-orang pasar. Sukka yang dominan adalah kaum perempuan. Tujar adalah para pedagang, orang-orang yang berada di kafilah, dan itu kebanyakan laki-laki. Tentu, ini tidak eksklusif sama sekali. Di Madinah juga diketahui sejumlah laki-laki berdagang di pasar. Tapi kegiatan eceran di asar kebanyakan dijalankan oleh kaum perempuan. Kaum perempuanlah yang menjalankan masyarakat. Pasar adalah domain mereka.

Salah satu hal yang membuat Kelantan (sebuah Kesultanan di Malaysia) unik dalam pandangan saya adalah adanya Pasar Besar Siti Khadijah. Apa yang membuat kaum perempuan ini special adalah karena mereka memiliki semangat wirausaha. Saya ingat akan Pasar Siti Khadija saat saya datang 20 tahun lalu. Sekarang, tempat ini telah mengalami kemunduran luar biasa, ini sungguh menyedihkan. Amat sangat menyedihan. Pada hari-hari itu pasar ini benar-benar hidup.

Dengan kedatangan kolinial Inggris ke Timur Tengah, salah satu tindakan pertama mereka adalah menasionalisasi wakaf. Wakaf adalah mewakili kekayaan ribuan orang di masyarakat. Itu adalah milik Allah, subhanahu wa ta'ala. Harta ini tidak dapat dijual atau diambil alih, atau tindakan lain apa pun semacam itu. Tetapi, kini telah diambilalih. Harta wakaf dinasionalisasi secara sistematis untuk rangka menciptakan kondisi awal untuk pembentukan lembaga-lembaga kapitalis.

Dengan cara yang sama ketika Raja Henry VIII menasionalisasikan semua properti dari biara-biara Kristen untuk melahirkan monarki baru yang kemudian menjadi negara modern pertama. Begitulah, yang dilakukan colonial Inggris di kemudian hari terhadap harta wakaf dari kaum muslimin.

Namun, di situlah keindahan dari Allah, subhanahu wa ta'ala, yang membangun segalanya dengan Kebenaran (bil-Haqq). Dan yang memberikan kita kekuatan dan menaruh cahaya ke tempat gelap adalah Madinah al-Munawarra. Al-Munawarra, Cahaya, Nur. Inilah Cahaya bagi kita. Berikut adalah salah satu warisan yang peroleh dari Madinah, tentang tata cara penyelenggaraan pasar.


Sunnah di Pasar

Segera setelah kedatangan beliau di Madinah Al Munawarah, Nabi Islam, sallalahu alayhi wa sallam menciptakan dua lembaga: mesjid dan pasar. Beliau menjelaskan melalui pernyataan dan tindakan nyata bahwa pasar harus berupa tempat yang dapat diakses secara bebas oleh semua orang tanpa ada pembagian-pembagian (misalnya toko-toko) dan di sana tidak ada pajak, retribusi atau bahkan uang sewa.
Pasar serupa dengan mesjid. 
Rasulullah, sallalahu alayhi wa sallam bersabda : pasar-pasar harus mengikuti sunah yang sama dengan mesjid, siapa yang mendapat tempat duluan dia berhak duduk sampai dia bediri dan kembali ke rumah atau menyelesaikan perdagangannya (suq al Muslimun ka musalla al Muslimun, man sabaqa ila shain fahuwa lahu yawmahu hatta yadaahu)
(Al Hindi, Kanz al Ummal, V 488 no 2688)

Itulah sadaqah tanpa ada kepemilikan pribadi 
Ibrahim ibnu Mundhir al Hizami meriwayatkan dari Abdullah ibn Ja'far bahwa Muhamad ibn Abdullah ibn Hasan mengatakan, "Rasulullah sallalahu alayhi wa sallam memberi kaum Muslimin pasar sebagai sedekah ( tasadaqa ala al Muslimin bi aswaqihim)
(Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304)

Tanpa penarikan uang sewa 
Ibnu Zabala meriwayatkan dari Khalid ibnu Ilyas al Adawi mengatakan, "Surat Umar ibnu Abdul Azis dibacakan kepada kami di Madinah, yang menyatakan bahwa pasar adalah sedekah dan tidak boleh ada sewa (kira) kepada siapa pun
(As-Samhudi, Wafa al Wafa,749)

Tanpa penarikan pajak 
Ibrahim al Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja'far ibn Muhamad dari Abdullah ibn Ja'far ibn al Miswat, dari Syuraih ibn Abdullah ibn Abi Namir bahwa Ata ibn Yasar mengatakan, "Ketika Rasulluah sallalahu alayhi wa sallam ingin mendirikan sebuah pasar di Madinah, beliau pergi ke pasar [Yahudi] Bani Qainuqa dan kemudian mendatangi kembali pasar Madinah, lalu menjejakkan kaki ke tanah dan bersabda, "Inilah pasar kalian. Jangan disekat-sekat (la yudayyaq) dan jangan biarkan pajak apa pun (kharaj) dikenakan" (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304)

Di sana tidak ada pesan atau klaim tempat 
Ibnu Zabala meriwayatkan dari Hatim ibn Ismail bahwa Habib mengatakan bahwa Umar Ibn Khattab (pernah) melewati Gerbang Ma'mar di pasar dan (melihat) sebuah kendi diletakkan dekat gerbang dan dia perintahkan untuk mengambilnya. Umar melarang orang meletakkan batu pada tempat tertentu atau membuat klaim atasnya (an yuhaijjir alaiha aw yahuzaha)
As-Samhudi, Wafa al Wafa,749) Dan di sana tidak boleh dibangun toko-toko
Ibnu Shabba meriwayatkan dari Salih ibn Kaysan, bahwa Rasulullah sallalahu alayhi wa sallam bersabda "Inilah pasar kalian, jangan membuat bangunan apa pun dengan batu (la tatahajjaru) di atasnya dan jangan biarkan pajak (kharaj) dikenakan atasnya"
As-Samhudi, Wafa al Wafa,747-8)

Abu Rijal meriwayatkan dari Israil, dari Ziyad ibn Fayyad, dari seorang syekh Madinah bahwa Umar ibn Khattab ra melihat sebuah toko (dukkan) yang baru dibangun oleh seseorang di pasar dan Umar merobohkannya. (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 750)
Shaykh Umar Ibrahim Vadillo - 
http://wakalanusantara.com/detilurl/Membangun.Kembali.Pasar.Sebagai.Wakaf./1445/id

0 comments: