Tahukah Anda, Walisongo adalah Dewan Ulama Modern di Zamannya?

Filed under: by: 3Mudilah

Ilustrasi - Walisongo (RoL)

Walisongo atau Walisanga (sembilan wali) dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-17. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya, Gresik, Lamongan, Jawa Timur, Demak, Kudus, Muria, Jawa Tengah, dan CIrebon di Jawa Barat.

”Era Walisongo adalah masa berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa,” ungkap Ustad H Sudamo Hadi dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jawa Timur, Jumat (1/10).

Ia tidak menampik, banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun, peranan Walisongo sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung. ”Itu yang membuat para Walisongo lebih banyak disebut dibanding yang lain,” ujar Sudamo.

Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo. Pertama, adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali ada sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain menyebutkan, kata songo/sanga berasal dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti ”mulia”. Ada juga yang menyebut berasal dari kata sana (Jawa), yang berarti ”tempat”.

Pendapat lain juga mengatakan bahwa Walisongo adalah sebuah dewan yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) pada 1474. Saat itu dewan Walisongo beranggotakan Raden Hasan (Pangeran Bintara), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang, putra pertama dari Sunan Ampel), Qasim (Sunan Drajad, putra kedua dari sunan Ampel), Usman Haji (pangeran NGudung, ayah dari Sunan Kudus); Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri, putra dari Maulana Ishaq); Syekh Suta Maharaja; Raden Hamzah (Pangeran Tumapel), dan Raden Mahmud.

”Para Walisongo adalah intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok tanam, perniagaan, kebudayaan, kesenian, kemasyarakatan, hingga kepemerintahan,” tutur Sudamo.

Usaha dakwah Walisongo ini akan dibedah lewat seminar yang digelar Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Gedung Dakwah Al Hilal, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (3/10). Seminar rencananya menampilkan pembicara kunci Wakil Gubenur Jatim sekaligus tokoh muda Nahdlatul Ulama, Syaifullah Yusuf, serta narasumber Prof H Ali Mufrodi, guru besar sejarah kebudayaan Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya; dan Prof Aminuddin Kasdi, guru besar sejarah Universitas Negeri Surabaya.

Sudamo yang juga ketua panitia seminar itu menyatakan tujuan seminar adalah mengkaji lebih dalam dakwah Islam di Indonesua yang dilakukan Walisongo untuk menemukan inspirasi bagi konsep baru dakwah islamiyah. (Siwi Tri Puji B/Asep Nur Zaman/RoL)

0 comments: