Peluang Pangan Dari Yang Merambat…

Filed under: by: 3Mudilah

Seiring dengan berlipatnya penghuni bumi, lahan-lahan pertanian produktif tergerus habis oleh pembangunan  perumahan, infrastruktur dan pabrik-pabrik. Lantas bagaimana penduduk bumi yang terus bertambah banyak bisa disuply makanannya dari lahan yang semakin sempit ?. Ilmuwan modern kemudian mulai berfikir dengan apa yang disebut vertical farming, konon ini bisa menghemat lahan. Tetapi vertical farming memiliki permasalahannya sendiri !

Energi yang dibutuhkan menjadi jauh lebih banyak untuk mengairi tanaman-tanaman yang di atas tanah, perlu biaya besar untuk menyediakan ruangan yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman-tanaman dlsb. Karena itulah vertical farming yang sudah hampir seabad dicetuskan idenya oleh Gilbert Ellis Bailey (1915), hingga kini belum menjadi solusi atas kebutuhan pangan penduduk dunia.

Vertical farming sebetulnya memang bisa menjadi solusi, tetapi bayangan saya bukan vertical farming yang digagas oleh para ilmuwan. Ada vertical farming dalam bentuk lain, yaitu yang berdasarkan petunjukNya. Coba perhatikan ayat berikut :

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS 6 : 141)

Hutan Gembili - Jonggol Farm
Vertical farming dalam bentuknya yang paling alami adalah tanaman-tanaman yang merambat. Dia bisa sangat efisien dalam penggunaan lahan karena dengan lahan yang terbatas dia bisa merambat terus ke atas untuk menyebarkan daunnya dalam menggapai sinar matahari untuk aktifitas fotosintesa. Lihat bagaimana tanaman gembili (Dioscorea esculanta) yang kami tanam di Jonggol – menggunakan tanaman lain untuk numpang jalur ke atas untuk bisa memperoleh sinar matahari secara cukup. Karena efisiensi dalam pemerolehan sinar matahari ini, tanaman merambat seperti gembili bisa tumbuh baik di celah-celah pepohonan lain yang sudah rindang sekalipun.

Selain gembili ada tanaman tradisional kita lainnya yang lebih hebat lagi, karena rambatan keatasnya bukan hanya untuk menebarkan daun untuk menggapai sinar matahari – tetapi sambil merambat ke atas menggapai sinar matahari dia juga menebarkan buahnya.

Contoh tanaman seperti ini di Jawa antara lain adalah apa yang disebut Koro Pedang. Yang merambat adalah dari spesies Canavalia gladiata, sedang yang tidak merambat dari spesies Canavalia ensiformis. Yang terakhir ini mulai banyak dibudi dayakan lagi di beberapa daerah di Jawa dan juga Sulawesi.

Koro Pedang _ Potensi Pengganti Kedelai
Koro Pedang sebenarnya sangat berpotensi menggantikan kedelai karena dia memiliki kandungan protein yang mendekati kedelai, disamping tingkat produktifitasnya yang tinggi. Tinggal memerlukan dukungan pemerintah dan lembaga penelitian untuk menghasilkan dan memilih spesies terbaiknya, meningkatkan produktifitasnya dan meng-antisipasi hama penyakitnya.

Ini juga menjadi peluang bagi swasta yang ingin menggarap secara serius potensi tanaman-tanaman dari jenis yang merambat untuk solusi kebutuhan pangan kita kedepan. Di peluang kerja situs inipun kami umumkan kebutuhan tenaga kerja dibidang biotechnology khususnya – antara lain dalam rangka menggarap tanaman-tanaman dari jenis yang merambat tersebut.

Gembili dan Koro Pedang barulah sebagian kecil tanaman penghasil pangan yang secara umum keberadaannya dikabarkan melalui ayat tersebut di atas, saya yakin banyak kasanah tanaman-tanaman merambat lain yang bisa tumbuh subur di negeri ini.

Bila sumber makanan itu berasal dari dua jenis tanaman seperti yang disebut dalam ayat di atas yaitu dari ‘yang merambat’ dan yang ‘tidak merambat’, berarti selama ini kita terlalu fokus pada jenis yang kedua yaitu yang ‘tidak merambat’ – seluruh makanan kita dari yang ‘tidak merambat’. Padi, jagung, kedelai, gandum dlsb. semua berasal dari jenis yang kedua yaitu jenis yang ‘tidak merambat’.

Kedepannya, dengan semakin berkurangnya lahan pertanian – peluang terbaik kita nampaknya memang di vertical farming – hanya saya cenderung tidak akan menggunakan istilah vertical farming, saya akan menggunakan istilah yang lebih orisinil dari firmannya yaitu ‘tanaman yang merambat’ !.

Bayangkan dengan potensi tanaman yang merambat ini, di celah-celah kebun-kebun yang sudah padat dengan tanaman lain-pun bisa tumbuh tanaman yang merambat seperti gembili tersebut di atas. Di teras dan halaman rumah-rumah perkotaan bisa tumbuh ke atas tanaman Koro Pedang sebagai sumber protein dan karbohidrat yang sangat memadai untuk menjamin strategi keamanan pangan kita dan anak cucu kita kedepan. InsyaAllah.

Oleh : Muhaimin Iqbal  

http://geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1221-koro-pedang

0 comments: