Boleh Berpuasa Hari Asyura pada Hari Sabtu

Filed under: by: 3Mudilah


Sebagian ulama berpendapat bahwa boleh berpuasa hari Asyura meskipun bertepatan hari Sabtu, dan sebagian yang lain berpendapat bahwa berpuasa hari sabtu dilarang kecuali puasa wajib
.
Pendapat yang kedua berdalil:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ السُّلَمِىِّ عَنْ أُخْتِهِ – وَقَالَ يَزِيدُ الصَّمَّاءِ – أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلاَّ فِيمَا افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ وَإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ لِحَاءَ عِنَبَةٍ أَوْ عُودَ شَجَرَةٍ فَلْيَمْضُغْهُ ».
Artinya: “Abdullah bin Busr As Sulamy meriwayatkan dari saudarinya – Yazid berkata: “Ia adalah Ash Shama’”- bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian berpuasa pada hari sabtu kecuali dalam hal yang diwajibkan atas kalian, dan jika salah satu kalian tidak mendapatkan satu butir kurma atau satu ranting pohon maka hendaklah ia menggigitnya.” HR. Abu Daud dan dihasankan oleh At Tirmidzi serta dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no.960.

Pendapat pertama adalah pendapat yang lebih kuat dalam permasalahan ini, dengan dalil-dalil:

1. Diperbolehkan puasa hari Jumat jika berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya, dan telah dimaklumi setelah hari Jumat adalah hari Sabtu

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، إِلاَّ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ » .
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah satu dari kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya.” HR. Bukhari dan Muslim.

عَنْ جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهْىَ صَائِمَةٌ فَقَالَ « أَصُمْتِ أَمْسِ » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِى غَدًا » . قَالَتْ لاَ . قَالَ « فَأَفْطِرِى » .
Artinya: “Juwairiyyah bintu Al Harits radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menemuinya pada hari Jumat ketika ia berpuasa, lalu beliau bertanya: “Apakah kamu berpuasa kemarin?”, ia menjawab: “Tidak”, beliau bertanya (lagi): “Apakah kamu ingin berpuasa besok?”, ia menjawab: “Tidak”, beliau bersabda: “Kalau begitu, berbukalah.” HR. Bukhari.

2. Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulan, dan bisa dipastikan beberapa hari akan mendapati hari Sabtu
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ غُرَّةِ كُلِّ شَهْرٍ وَقَلَّمَا يُفْطِرُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ.
Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berpuasa tiga hari dari awal setiap bulan, dan sedikit sekali berbuka pada hari Jumat.” HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Sunan An Nasai, no. 2368
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ .
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Khalily (orang terdekatku) mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara, aku tidak akan meninggalkannya sampai mati; berpuasa 3 hari dari setiap bulan, mengerjakan shalat Dhuha dan tidur dalam keadaan sudah berwitir.” HR. Bukhari.

3. Dianjurkan berpuasa tanggal 13, 14, 15 di setiap bulan, dan bisa dipastikan bahwa terkadang akan didapati salah satunya akan mendapati hari Sabtu

عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ قَالَ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا صُمْتَ شَيْئًا مِنَ الشَّهْرِ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ ».
Artinya: “Musa bin Thalhah berkata: “Aku teah mendengar Abu Dzarr di daerah Ribzah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Jika kamu berpuasa beberapa hari dari satu bulan, maka berpuasalah tigabelas, empatbelas, dan lima belas.” HR. An Nasai dan dishahihkan oleh Al Abani di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 947.

4. Dianjurkannya puasa 6 hari di bulan Syawwal, dan bisa dipastikan akan mendapati hari Sabtu

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ .
Artinya: “Abu Ayyub Al Anshary radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang telah berpuasa ramadhan kemudian ia ikutkan dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka seperti berpuasa setahun.” HR. Muslim.

5. Diperbolehkannya berpuasa Daud, berpuasa sehari berbuka sehari dan ini akan endapati puasa hari Sabtu
عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ : أُخْبِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ يَقُولُ : « صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا وَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلام وَهُوَ أَعْدَلُ الصِّيَامِ »
Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin Ash berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpuasalah satu hari dan berbuka satu hari dan itu adalah puasa nabi daud ‘alaihissalam dan ia adalah puasa yang paling utama.” HR. Bukhari dan Muslim. 

6. Diperbolehkan berpuasa lebih dari tiga setiap bulan, bisa diperakirakan akan mendapati hari Sabtu salah satunya

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ قَالَ دَخَلْتُ مَعَ أَبِيكَ زَيْدٍ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَحَدَّثَنَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُكِرَ لَهُ صَوْمِي فَدَخَلَ عَلَيَّ فَأَلْقَيْتُ لَهُ وِسَادَةً مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ فَجَلَسَ عَلَى الأَرْضِ وَصَارَتْ الْوِسَادَةُ بَيْنِي وَبَيْنَهُ فَقَالَ لِي : أَمَا يَكْفِيكَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاثَةُ أَيَّامٍ ؟ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : خَمْسًا قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : سَبْعًا قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : تِسْعًا قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : إِحْدَى عَشْرَةَ قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ : لا صَوْمَ فَوْقَ صَوْمِ دَاوُدَ شَطْرَ الدَّهْرِ صِيَامُ يَوْمٍ وَإِفْطَارُ يَوْمٍ .
Artinya: “Abu Al Mulaih berkata: “Aku masuk bersama bapakmu menemui Abdullab bin ‘Amr, lalu beliau meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, diceritakan kepada beliau perihal puasaku, lalu beliau menemuiku, lalu aku letakkan untukknya sebuah bantal dari kulit yang dibungkus dengan lif, lalu beliau duduk di atas lantai dan menjadikan bantal antara aku dan beliau, kemudian beliau berkata: “Apakah tidak cukup bagimu berpuasa dari setiap bulan tiga hari?”, aku berkata: “Wahai Rasulullah”, beliau berkata: “lima hari”, aku berkata: “Wahai Rasulullah”, beliau berkata: “Tujuh hari”, aku berkata: “Wahai Rasulullah”, beliau berkata: “Sembilan hari”, aku berkata: “Wahai Rasulullah”, beliau berkata: “Sebelas hari”, aku berkata: “Wahai Rasulullah”, beliau berkata: “Tidak ada puasa di atas puasa Nabi Daud, setengah tahun, berpuasa sehari berbuka satu hari.” HR. Bukhari dan Muslim.

Perkataan para ulama rahimahumullah yang berpendapat dengan pendapat kedua:

Berkata Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah: “Hendaknya diketahui bahwa puasa hari Sabtu mempunyai beberapa keadaan:

الحال الأولى: أن يكون في فرضٍ، كرمضان أَدَاءً، أو قضاءً، وكصيام الكَفَّارَةِ، وبدل هدي التَّمَتُّع، ونحو ذلك؛ فهذا لا بأس به ما لم يخصه بذلك مُعتَقِدًا أن له مزية.
الحال الثانية: أن يصوم قبله يوم الجمعة؛ فلا بأس به.
الحال الثالثة: أن يُصَادِف صيام أيام مشروعة؛ كأيام البيض، ويوم عرفة، ويوم عاشوراء، وستة أيام من شَوَّال – لمن صام رمضان – وتسع ذي الحجة؛ فلا بأس؛ لأنه لم يصمه لأنه يوم السبت، بل لأنه من الأيام التي يُشْرَع صومها.
الحال الرابعة: أن يُصادِف عادةً، كعادة من يصوم يومًا وَيُفْطِر يَوْمًا فَيُصَادِف يوم صومِهِ يوم السبت؛ فلا بأس به، كما قال النبي – صلى الله عليه وسلم – لما نهى عن تقدم رمضان بصوم يوم أو يومين: ((إلا رجلاً كان يصوم صوما فليصمه))، وهذا مثله.
الحال الخامسة: أن يَخُصَّهُ بصوم تَطَوُّع؛ فيفرده بالصوم؛ فهذا محل النَّهي إن صَحَّ الحديثُ في النهي عَنْهُ”. انتهى.

Keadaan pertama: hari Sabtu dalam keadaan puasa wajib seperti Ramadhan atau Qadha’, seperti puasa kaffarat, atau pengganti hadyu tamattu’, atau yang semisalnya, maka ini tidak mengapa dikerjakan puasa hari Sabtu selama itu tidak mengkhususkan karena ia meyakini bahwa berpuasa hari Sabtu mempunyai keistmewaan.

Keadaan kedua: berpuasa hari Sabttu sebelumnya hari Jumat, maka hal ini tidak mengapa.
Keadaan ketiga: bertepatan dengan puasa hari-hari yang disyri’atkan untuk berpuasa, seperti hari-hari putih, hari Arafah, hari ‘Asyura, enam hari di bulan Syawwal, bagi siapa yang telah berpuasa ramadhan dan hari ke Sembilan dari bulan dzulhijjah, maka tidak mengapa berpuasa padanya, karena ia berpuasa bukan karena hari Sabtu, tetapi karena hari-hari yang disyariatkan berpuasa padanya.

Keadaan keempat: berpuasa hari sabtu bertepatan dengan kebiasaan, seperti kebiasaan siapa yang berpuasa sehari dan berbuka sehari, maka akan bertabrakan hari puasanya dengan hari Sabtu, maka ini tidak mengapa, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika melarang puasa Ramadhan di dahului dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya: “Kecuali bagi yang biasa berpuasa”dan (puasa sabtu) ini semisal dengannya.

Keadaan kelima: dia mengkhususkan puasa hari sabtu, ia menjadikan puasa sabtu sendirian, maka ini adalah yang dilarang di dalam hadits, jika hadits larangan tersebut shahih.” Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasail ibnu Utsaimin,20/57.

Berkata Al Qadhi ‘Iyadh rahimahullah: 

قال القاضي : ويستثنى ما إذا وافق سنة مؤكدة كأن كان السبت يوم عرفة أو عاشوراء
“Dan dikecualikan (dari larangan puasa hari Sabtu), jika bertepatan sebuah sunnah yang ditekankan, seperti hari Sabtu adalah hari Arafah atau hari ‘Asyura.” Lihat kitab Faidh Al Qadir, 6/433.

Disebutkan di dalam kitab Ma’ani Al Atsar:

وَقَدْ أَذِنَ رَسُولُ اللَّهِ j فِي صَوْمِ عَاشُورَاءَ وَحَضَّ عَلَيْهِ , وَلَمْ يَقُلْ إنْ كَانَ يَوْمَ السَّبْتِ فَلاَ تَصُومُوهُ . فَفِي ذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى دُخُولِ كُلِّ الأَيَّامِ فِيهِ .
“Dan diizinkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan beliau memerintahkannya dan beliau tida menyebutkan jika bertepatan hari Sabtu maka janganlah kalian berpuasa padanya. Jadi, di dalam ini terdapat dalil akan masuknya setiap hari di dalamnya.’ Lihat kitab Ma’ani Al Atsar, 4/141.

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah:

” قال أصحابنا : يكره إفراد يوم السبت بالصوم … والمكروه إفراده , فإن صام معه غيره ; لم يكره ; لحديث أبي هريرة وجويرية . وإن وافق صوما لإنسان , لم يكره ” انتهى .
 Artinya: “Berkata kawan-kawan kami (dari madzhab hanbaly): “Dimakruhkan menyendirikan hari Sabtu dengan puasa…dan yang makruh adalah menyendirikannya, jika ia berpuasa bersama hari lainnya, maka tidak dimakruhkan, berdasarkan hadits Abu Hurairah dan juwariyyah radhiyallahu ‘anhuma, dn juga jika bertepatan hari kebiasaan berpuasa seseorang , maka tidak dimakruhkan.” Lihat kitab Al Mughni, 3/52.
Berkata Ath Thiby:

وقال العلامة علي القاري :[ قال الطيبي : قالوا النهي عن الإفراد كما في الجمعة والمقصود مخالفة اليهود فيهما والنهي فيهما للتنزيه عند الجمهور وما افترض يتناول المكتوب والمنذور وقضاء الفوائت وصوم الكفارة وفي معناه ما وافق سنة مؤكدة كعرفة وعاشوراء ، أو وافق ورداً ]
“Mereka mengatakan bahwa larangan (berpuasa hari Sabtu) adalah untuk menyendirikan (puasa sabtu) sebagaimana di dalam perihal (puasa) hari Jumat, dan maksudnya adalah menyelisihi kaum Yahudi di dalam keduanya, dan larangan di dalamnya untuk penjauhan menurut mayoritas ulama, dan maksud dari apa ayang diwajibkan mencakup  puasa yang diwajjibkan, puasa nazar, puasa qadha wajib yang ketinggalan, puasa kaffarat dan yang semakna dengannya selama tidak sesuai dengan puasa sunnah yang ditekankan seperti puasa hari ‘Arafah dan puasa hari ‘Asyura atau bertepatan dengan kebiasaan.” Lihat kitab Mirqat Al mafatih Syarah Misykat Al Mashabih, 4/599.

Berkata An Nawawi rahimahullah:

[ والصواب على الجملة ما قدمناه عن أصحابنا أنه يكره إفراد السبت بالصيام إذا لم يوافق عادة له ]
“Dan pendapat yang benar dari apa yang telah kami sebutkan tentang pendapat kawan-kawan kami (dari madzhab Syafi’ie) adalah bahwa dimakruhkan puasa hari Sabtu secara tersendiri, jika tidak bertepatan dengan kebiasaannya.” Lihat kitab Al Majmu’, 6/440.

وقالت اللجنة الدائمة للإفتاء برئاسة الشيخ العلامة عبد العزيز بن باز رحمه الله:
[ يجوز صيام يوم عرفة مستقلاً سواء وافق يوم السبت أو غيره من أيام الأسبوع لأنه لا فرق بينها لأن صوم يوم عرفة سنة مستقلة وحديث النهي عن يوم السبت ضعيف لاضطرابه ومخالفته للأحاديث الصحيحة ] فتاوى اللجنة الدائمة 10/396 .

Berkata Ibnu Hibban rahimahullah:

(فصل في صوم يوم السبت ذكر الزجر عن صوم يوم السبت مفردا)
 ”Pasal di dalam puasa hari Sabtu, penyebutan peringatan keras tentang puasa hari Sabtu secara tersendiri.” Lihat kitab Shahih Ibnu Hibban, 8/379.

Beliau juga berkata:
( ذكر العلة التي من أجلها نهى عن صيام يوم السبت مع البيان بأنه إذا قرن بيوم آخر جاز صومه)
“Disebutkan sebab karenanya dilarang puasa hari Sabtu bersamaan penjelasan bahwa jika digandengkan dengan berpuasa hari lain, maka boleh berpuasa pada hari (sabtu)nya.” Lihat kitab Shahih Ibnu Hibban, 8/381.

Dan ini semua, kalau dinilai hadits tentang larangan puasa hari Sabtu adalah hadits yang shahih, karena sebagian ulama fikih atau hadits atau peneliti mengatakan hadits larangan berpuasa hari Sabtu adalah lemah atau Syadz atau mudhtharib atau mansukh, seperti Ibnu Syihab Az Zuhry, Al Auza’iy, Imam Malik, Yahya bin Sa’id Al Qaththan, Ahmad bin Hanbal, Abu Bakar Al Atsram, Abu Daud, An Nasaiy, Ath Tahawy, Ibnu Al ‘Araby, Ibnu taimiyyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Muflih, Ibnu Hajar rahimahumullah.

Terakhir, perlu diingat…

Bahwa ini adalah permasalahan yang terjadi adalah perbedaan pendapat diantara ulama rahimahumullah, dan tidak perlu dijadikan perpecahan diantara kaum muslim apalagi para penuntut ilmu di dalamnya dan karenanya, dan hendaklah ia mengikuti pendapat yang menurutnya lebih kuat dari sisi dalil dan pemahaman para ulama, tanpa merendahkan pendapat yang menyelisihi pendapatnya. Wallahu a’lam
Sabtu, 10 Muharram 1434 H, Dammam Arab Saudi.
Artikel Dakwahsunnah.com, dipublish ulang oleh Muslim.Or.Id

0 comments: