Membawa Kembali Dinar Dirham ke Kesultanan Pontianak

Filed under: by: 3Mudilah

Kesultanan Kadriah Pontianak menurut para sejarawan adalah kesultanan yang tergolong paling muda di Nusantara.

Kesultanan ini didirikan pada tahun 1771 oleh penjelajah dari Arab Hadramaut yang dipimpin oleh al-Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie, keturunan Rasulullah dari Imam Ali ar-Ridha. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie bin Habib Husein Alkadrie adalah sultan pertama di Kesultanan Pontianak. Kesultanan Pontianak ini mempunyai kaitan erat dengan beberapa kesultanan lainnya di Nusantara, misalnya dengan Kesultanan Mempawah dan Kesultanan Banjarmasin karena Sultan Syarif Abdurrahman Al Kadrie menikah dengan putri Sultan Mempawah dan putri Sultan Banjar.

Siang itu, Minggu 5 Agustus 2012 saya bersama empat orang rekan berkesempatan mengunjungi Keraton Kadriah yang letaknya di Kampung Dalam Bugis, Pontianak Timur. Keraton yang letaknya tidak jauh dari Sungai Kapuas ini berada berhadapan dengan Masjid Jami yang dibangun hampir bersamaan dengan keraton tersebut. Dengan ukuran bangunan sekitar 30 x 50 meter, keraton masih tampak megah dengan kerangka bangunan terbuat dari kayu belian.

Begitu kami masuk ke dalam keraton, tampaklah singgasana Sultan dengan tirai kuning menghiasi sisi-sisi di sekeliling singgasana. Dua buah kursi kayu tampak kokoh di dalam singgasana yang harus dicapai melalui tiga undakan di sisi depan. Karpet hijau menghampar di depan singgasana lurus ke depan searah dengan pintu masuk.

Kami diterima oleh seorang ibu yang masih kerabat keraton. Ibu tersebut adalah cucu dari Sultan keenam Kesultanan Pontianak (Sultan Syarif Muhammad Alkadrie bin Sultan Syarif Yusuf Alkadrie). Beberapa peninggalan keraton terpampang di pinggir ruangan membawa lamunan saya mengikuti legenda yang pernah saya baca tentang bagaimana Sultan Syarif Abdurrahman Al Kadrie berperang dan mengalahkan hantu Pontianak (sejenis kuntilanak) yang mengganggu.

Meriam yang ada di keraton juga mengingatkan saya pada mitologi cara Sultan Syarif Abdurrahman dalam memilih tempat untuk dibangun keraton, yaitu dengan menembakkan meriam dan di mana pun peluru meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan.

Tiba-tiba ingatan saya tertuju pada kesultanan lainnya di Nusantara, terutama Kesultanan Kasepuhan Cirebon, Kesultanan Ternate dan Kesultanan Sulu Darul Islam (di Filipina Selatan). Ketiga kesultanan tersebut telah menyatakan akan mencetak kembali koin Dinar emas dan Dirham perak atas nama mereka sebagai Sultan. Tentu saja hal itu sebenarnya telah dilakukan oleh generasi awal dan mereka akan melakukan kembali hal yang telah dilakukan pendahulu mereka. Selain itu, zakat mal akan ditarik oleh Sultan dan dibagikan kepada para penerima zakat dalam bentuk Dinar emas dan Dirham perak.

Yang kupahami sekarang tentang zakat adalah bahwa hal tersebut berbeda sifatnya dengan salat. Salat merupakan urusan privat, sedangkan zakat adalah urusan publik. Zakat, selain merupakan ibadah wajib, adalah institusi politik dalam Islam. Tegaknya zakat sebagai rukun Islam mensyaratkan dan menunjukkan tegaknya tata pemerintahan dalam Islam. Para Sultan itulah yang akan menjadi pimpinan umat Islam saat tidak ada khalifah seperti saat ini. Sedangkan untuk kepemimpinan lokal dibentuklah amirat-amirat yang dipimpin oleh seorang amir.

Setelah melihat benda-benda peninggalan kesultanan seperti meriam, pakaian, cermin seribu, keris, meja giok, Al Quran tulis tangan dan sebagainya, saya menyempatkan berdialog dengan penunggu keraton yang masih kerabat Sultan. Secara singkat saya menceritakan bahwa Kesultanan lain di Nusantara telah menyatakan kesiapannya untuk mencetak kembali Dinar emas dan Dirham perak serta menarik dan membagikan zakat atas nama Sultan. Saya sampaikan juga pengharapan bahwa semoga suatu saat hal tersebut juga dilakukan oleh Kesultanan Pontianak.

Bersamaan dengan itu, kami menyerahkan koin 2 dirham (dirhamayn) yang bercorak Keraton Kasepuhan Cirebon dan koin 1 dirham bercorak Masjidil Haram serta buku Euforia Emas dan brosur mengenai Dinar emas dan Dirham perak. Kerabat keraton menerima dengan baik dan berjanji akan menyampaikan kepada sultan yang berdaulat sekarang, Sultan Pontianak IX, yaitu Sultan Syarief Abu Bakar Alkadrie. Saya yakin bahwa sebenarnya koin Dinar emas dan Dirham perak telah dipergunakan secara luas oleh Kesultanan Nusantara pada masa itu sehingga yang saya serahkan adalah sesuatu yang tidak asing.

Azan duhur berkumandang, kami bergegas untuk berpamitan mengakhiri kunjungan singkat kami. Untaian doa dari kerabat keraton menyertai kepulangan kami. Kulangkahkan kakiku meninggalkan bangunan keraton dengan doa dan harapan besar di dada. Semoga para Sultan yang memimpin Kesultanan di Nusantara, termasuk Kesultanan Pontianak kembali menjalankan peran kepemimpinannya sesuai amanah yang diberikan Alloh SWT sehingga kepemimpinan umat Islam akan muncul kembali. Kepemimpinan yang ditetapkan untuk melanjutkan kerasulan dan merupakan cara untuk menjaga dien (urusan agama) dan mengelola urusan dunia. Amin.


http://wakalanusantara.com/detilurl/Membawa.Kembali.Dinar.Dirham.ke.Kesultanan.Pontianak/1271/id

0 comments: