Tanya Jawab : Tentang Penyaluran Zakat di Lembaga Amil Zakat

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan :
 
Assalamu’alaikum wa rohmatulloh,
ana ingin bertanya kepada al-ustadz Muhammad Arifin Badri hafidzohulloh, sekarang banyak bermunculan lembaga amil zakat yang menyalurkan zakat kaum muslimin kepada orang-orang miskin dalam bentuk seperti :
- pengobatan gratis (seperti : persalinan, KB, imunisasi, khitan, dll)
- beasiswa pendidikan (Pesantren, SD, SMP, SMA, S1, dll)
- pembangunan masjid
- pembangunan pesantren
- bantuan pinjaman dana usaha untuk pedagang, petani, peternak, dll.
dan lain-lain yang contoh ini ana ambil dari beberapa situs lembaga zakat.
Apakah penyaluran zakat seperti ini diperbolehkan?
Jazakumulloh khoiron.
Abu Hammad

*Jawaban :*

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Saudara Abu Hammad yang saya hormati, saya yakin saudara telah mengetahui bahwa zakat dalam Islam terbagi menjadi dua macam:

1) Zakat Wajib. Dan zakat wajib terbagi menjadi dua:

1. Zakat Fitrah.
2. Zakat Maal.

2) Zakat Sunnah.
Bila yang dimaksud dengan zakat pada pertanyaan saudara adalah zakat sunnah, maka dibenarkan untuk menyalurkan zakat sunnah pada kegiatan sosial di atas dan juga kegiatan sosial lainnya.

Akan tetapi bila yang dimaksud dengan zakat ialah zakat wajib, maka tidak dibenarkan untuk disalurkan kepada kegiatan-kegiatan sosial diatas. Telah dijelaskan siapa saja yang berhak menerima zakat wajib, pada firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيم – التوبة 60
*”Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk/milik orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana.” *At Taubah 60.

Pada ayat ini, Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa zakathanya diperuntukkan bagi kedelapan kelompok orang. Dengan demikian tidak dibenarkan bagi siapapun yang tidak termasuk ke dalam kelompok itu untuk menerima bagian dari zakat.

Terlebih-lebih para ulama’ telah menjelaskan bahwa ketika orang kaya membayar zakat, ia diwajibkan untuk benar-benar menyerahkan zakatnya kepada yang berhak dengan sepenuhnya, tanpa ada hak baginya sedikitpun untuk mencampuri penggunaan atau pembelanjaannya. Terlebih-lebih kebutuhan kaum fakir-miskin berbeda-beda, ada yang lebih membutuhkan kepada makanan, ada yang lebih membutuhkan kepada pakaian, ada yang lebih membutuhkan kepada pelunasan piutangnya dan seterusnya.

Sebagian ulama’ menegaskan bahwa sebenarnya, orang-orang kaya yang menunaikan zakat tidaklah sedang memberikan uluran tangan atau budi kepada penerima zakat. Yang terjadi adalah sebaliknya, para penerima zakatlah yang telah berjasa kepada orang-orang kaya, karena dengan adanya mereka, harta orang-orang kaya menjadi halal dan diberkahi Allah. Andai tidak ada yang menerima zakatnya, niscaya harta kekayaannya tidak halal untuk ia nikmati, dan ia akan mendapatkan siksanya di dunia dan akhirat.

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ {34} يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَـذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُون – التوبة 34-35
*”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu di dalam neraka Jahannam, lalu dibakarnya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan”. * At Taubah 34-35

Wallahu a’alam bisshawab.

***
 http://tholib.wordpress.com/2009/08/24/tanya-jawab-tentang-penyaluran-zakat-di-lembaga-amil-zakat/

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh,
Berikut jawaban Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA atas pertanyaan “Apakah penitia Zakat berhak mendapatkan Zakat ?”, semoga bermanfaat.
————————————————-
Pertanyaan :

Assalamu’alaikum pak Ustadz
Kebetulan di tempat kerja saya ada panitia pengumpulan zakat harta dari gaji karyawan.
Pernah suatu ketika ada kegiatan pelatihan zakat tapi dananya diambil dari zakat karyawan. Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan kawan saya (bukan panitia zakat). Dia berargumentasi bahwa panitia zakat juga mendapatkan hak zakat (amil zakat). Mungkin bagian amil inilah yang dipakai untuk acara pelatihan zakat tersebut.

Bagaimana menurut pandangan ustadz.
Terima Kasih
Wassalamu’alaikum.

Jawaban : 

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Pertama-tama saya memanjatkan doa semoga dengan zakat yang bapak keluarkan, Allah Ta’ala memberkahi penghasilan bapak, dan mensucikan diri dan keluarga bapak dari noda-noda dosa.

Untuk menanggapi pertanyaan bapak, saya mengajak bapak dan juga yang lainnya untuk sedikit menengok kepada fakta pengelolaan zakat di indonesia. Berbagai badan zakat, baik yang resmi pemerintah (depag) atau yang dikelola oleh ormas Islam.

Pengelolaan zakat di negri kita jauh dari apa yang telah digariskan dalam Al Qur’an dan As Sunnah.
Sekedar memberi contoh saja:

قال ابن عباس : فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ والألباني
Ibnu ‘Abbas Radliyallaahu ‘anhu menuturkan: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mewajibkan zakat fitri guna membersihkan diri orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan dosa, dan guna memberi makanan kepada orang-orang miskin. Barang siapa yang menunaikannya sebelum shalat, maka itu adalah zakat fitri yang diterima, dan barang siapa yang membayarkannya seusai shalat, maka itu adalah sedekah biasa.” Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Hakim dan Al Albani.

Bapak dapat menyaksikan praktek zakat fitri di negri kita, sebagian besar dari beras yang berhasil dikumpulkan digunakan untuk membangun masjid, biaya oprasional ormas, dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Sedangkan kaum fakir-miskin hanya mendapatkan sebagian kecil saja. Bahkan mungkin hanya cukup dimakan selama dua hari saja. Tentu praktek ini tidak selaras dengan hadits di atas, yang menjelaskan bahwa tujuan utama zakat fitri adalah untuk mencukupi kebutuhan makanan kaum fakir-miskin.

Nasib serupa juga menimpa zakat mal, kebanyakan dananya dialokasikan untuk berbagai kegiatan sosial, dari membangun rumah sakit, padahal yang sakit dari warga miskin hanya sebagian saja, dan banyak dari penyakit mereka yang dapat diobati dengan biaya yg lebih murah atau dengan pengobatan tradisional, mereka, membeli mobil ambulan untuk antar jenazah, padahal warga miskin siap untuk mengangkut jenazah mereka dengan cara-cara tradisional, yaitu dipanggul.

Pendek kata, pengelolaan dana zakat dengan cara2 ini menjadikan panitia zakat dalam banyak kesempatan memenuhi kebutuhan sekunder atau bahkan tertiar kaum fakir-miskin.

Andai dana zakat langsung dibagikan kepada fakir-miskin, niscaya masing-masing mereka akan menggunakannya sesuai dengan kebutuhannya yang paling mendesak untuk dipenuhi. Mungkin dari mereka ada yang menggunakannya untuk membiayai pengobatan, ada pula yang untuk membeli sembako, lain lagi mungkin untuk membeli pakaian, dan mungkin pula ada yang untuk modal usaha.

Pendek kata, pengelolaan zakat yang dilakukan oleh berbagai badan amil zakat di negri kita perlu ditinjau ulang, karena tidak selaras dengan tujuan utama dari disyari’atkannya zakat, sebagaimana yang digambarkan pada hadits berikut:

عن ابن عباس رضي الله عنها أَنَّ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لمَّا بعث معاذاً إلى اليمن قال له: (إِنَّكَ سَتَأْتِى قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلَى أَنْ يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، -وفي رواية إلى أَنْ يُوَحِّدُوا الله تعالى- فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ ، فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ، وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ) متفق عليه
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu: bahwasannya ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan kepadanya: ”Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab, maka bila engkau telah tiba di tempat mereka, hendaknya engkau menyeru mereka untuk mengucapkan syahadat (la ilaha illallah) dan Muhammad adalah utusan Allah, -dan menurut riwayat yang lain: mentauhidkan (mengesakan) Allah Ta’ala-. Bila mereka telah menta’atimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu dalam sehari semalam atas mereka. Bila mereka juga telah menta’atimu dalam hal itu, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas mereka. Zakat dipungut dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir-miskin mereka. Bila mereka telah menta’atimu dalam hal itu, maka hendaknya engkau tidak memungut zakat dari harta mereka yang terbaik. Dan waspadailah do’a orang yang terdzolimi, karena sesungguhnya tidak ada yang menghalanginya dari Allah (pasti dikabulkan). (Muttafaqun ‘alaih).

Berkaitan dengan kegiatan yang diadakan di tempat kerja bapak, yaitu pelatihan zakat, maka kegiatan semacam ini –menurut hemat saya- berbalik dengan tujuan zakat. Dapat dipastikan, yang menjadi obyek kegiatan semacam ini adalah para pemilik uang alias kelompok orang-orang kaya, bukan kaum fakir –miskin, karena untuk menjadi penerima zakat/uang tidak perlu ada pelatihan. Setiap manusia pasti bisa menerima, makanya tidak ada pelatihan penerimaan gaji pada tempat bapak bekerja, paling-paling hanya ada sosialisasi bahwa penerimaan gaji di tempat ini, atau dengan cara ini. Dengan demikian alasan yang dikemukakan kawan bapak di atas, tidak tepat.

Dikarenakan pengelolaan zakat yang ada di masyarakat kita tidak tepat semacam ini, tidak mengherankan bila zakat-zakat yang dikeluarkan oleh orang-orang kaya hingga saat ini tidak dapat membuktikan peranan dan fungsi yang semestinya. Yang miskin selamanya tetap miskin, dan yang kaya semakin kaya.

Bersamaan dengan ini saya menganjurkan kepada saudara-saudaraku yang memiliki kelapangan harta benda sehingga telah berkewajiban membayar zakat, untuk menyalurkan seluruh zakatnya, secara langsung kepada yang berhak, yaitu kaum-fakir miskin yang ada di sekitar tempat tinggal masing-masing. Dengan demikian, bersamaan dengan berjalannya waktu, kaum-fakir miskin di sekitar anda akan berkurang dan taraf kehidupan mereka akan cepat meningkat. Karena perlu diketahui bahwa tidak ada kewajiban atas orang kaya untuk menyalurkan zakatnya melalui badan zakat atau amil zakat.

Bahkan menurut hukum asal, masing-masing orang kaya berkewajiban menyalurkan zakatnya sendiri. Oleh karena itu semasa khilafah Islamiyyah dahulu, pemerintah hanya menarik zakat harta yang lahir, yaitu berupa zakat hewan ternak dan pertanian. Adapun zakat emas dan perak, maka tidak ditarik oleh pemerintah, dan sepenuhnya dipasrahkan kepada pemilik kekayaan untuk menyalurkannya kepada yang berhak.

Dengan cara ini, peranan zakat benar-benar akan dirasakan oleh kaum fakir-miskin di sekitar pembayar zakat, dan dapat terwujud peranan sosial zakat ; hubungan antara yang kaya dan yang miskin akan menjadi baik, masyarakat aman, dan tindak kriminal akan menyusut.

Wallahu a’alam bisshawab, semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan keberkahan dan taufiq-Nya kepada bapak dan keluarga.

Wassalamu’alaikum warahmatullah
***
http://tholib.wordpress.com/2009/08/25/tanya-jawab-tentang-penyaluran-zakat-2/

0 comments: