Ucapan Jazakillah khoiran kepada Istri Tercinta

Filed under: by: 3Mudilah


Wahai Para Suami Ucapankanlah Jazakillahu Khoiran kepada Istri Tercintamu
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه وبعد
Barakallahu fikum, Pembahasan berikut ini ditujukan kepada saudara-saudaraku khususnya Para Suami dan Bapak-Bapak yang semoga antum sekalian diberikan keberkahan selalu untuk dapat mengucapkan ucapan terima kasih berupa doa yang indah yaitu JAZAKILLAHU KHOIRAN (semoga Allah memberikan pahala kebaikan kepadamu) ataupun BARAKALLAHU FIKI (semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu) kepada istri kita.

Wahai saudaraku para Suami yang dimuliakan Allah, simaklah ayat yang mulia berikut ini:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara terpuji.”   (QS. An-Nisaa: 19)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang tafsir ayat diatas:
طيِّبُوا أَقْوَالَكُمْ لَهُنَّ، وحَسّنُوا أَفْعَالَكُمْ وَهَيْئَاتِكُمْ بِحَسَبِ قُدْرَتِكُمْ، كَمَا تُحِبُّ ذَلِكَ مِنْهَا، فَافْعَلْ أَنْتَ بِهَا مِثْلَهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: {وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ} [الْبَقَرَةِ:228] وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُم لأهْلي
“Perindahlah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbaguslah perbuatan serta penampilan kalian sesuai dengan kemampuan kalian. Sebagaimana engkau menyukai bila istrimu berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat yang sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hal ini:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”   (QS. Al-Baqarah: 228)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga (istri)ku.” ( Shohih   HR. At-Tirmidzi no. 3895, Ibnu Hibban no. 1312, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahaadits As-Shohihah no. 285). (Lihat Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/242)

Selayaknyalah seorang Abu/Abi/Ayah/Papah/Bapak/Abuya untuk memberikan apresiasi kepada sang istri/ibunya anak-anak walaupun hanya dengan perkataan: “Jazakillahu khoiran (semoga Allah memberikan pahala kebaikan kepadamu) ya ummi/istriku/sayangku” atau “Barakallahu fiki (semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu)” dengan disertai senyuman dan kelembutan tentunya.

Kadang kita lupa sebagai seorang suami/bapak/ayah kurang memperhatikan atau bahkan tidak pernah menggubris kerja keras istri/ibunya anak-anak kita karena gengsi dan simbol ke”AKU”an yang melekat pada sosok seorang suami/bapak kepala rumah tangga. Persepsi yang telah melekat/menghujam di hati kita adalah bahwa kerja keras kita “Jauh lebih banting tulangnya” daripada istri/ibunya anak-anak kita. Padahal sifat fitrahnya seorang istri adalah “ingin diperhatikan, ingin disayangi dan ingin diberikan apresiasi.”

Saudaraku, mari kita cermati bersama anjuran dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam untuk mengucapkan balasan kebaikan berupa doa kebaikan “Jazakallahu khoiran” (buat kamu - satu laki-laki) dan “Jazakillah khoiran” (bagi kamu - satu perempuan) serta “Jazakumullah khoiran” (bagi antum/kalian) :
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ
Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam “Barangsiapa yang diperlakukan dengan baik (diberi kebaikan) kemudian dia mengucapkan “JAZAAKALLAHU KHOIRAN” (semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu) maka sesungguhnya dia telah memberikan pujian yang terbaik.”   (HR. At-Tirmidzi no. 2035,  Shohih   Lihat Shohihul Jami-ush Shoghiir oleh Syaikh Albani no. 6368).

Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:
مَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُوهُ، فَادْعُوا لَهُ، حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barangsiapa yang datang kepada kalian dengan kebaikan maka balaslah ia, jika kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya maka doakanlah kebaikan baginya hingga kalian merasa telah membalas kebaikannya.”  Shohih   (HR. Ahmad no. 5365, Abu Dawud no. 5109, An-Nasai no. 2567 Dari Shahabat Ibnu Umar radhiallahu'anhuma, dishohihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash Shohihah no. 254)
Contoh sederhana yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya yaitu : “Ketika kita pulang kerja, kemudian sang istri telah menyiapkan makanan dan minuman kepada kita, pernahkah kita mengucapkan “Jazakillah khoiran” atau “Barakallahu fiki” atau paling tidak “Terima kasih” “Matur nuwun” atas jerih payah dan kerja kerasnya dalam menyiapkan makanan dan minuman???…”

Terkadang balasan kita malah sebaliknya “Mah/Mi/Bu…kok masakanannya kurang asin…,ga tau apa abis pulang kerja lapar capek…kenapa belum masak juga? (sambil cembetut, kedua alisnya naik ke atas kayak wiper mobil (pembersih kaca mobil) yang dah kucel macet diatas ” (kalau terbiasa dengan kondisi seperti ini maka bisa jadi jawaban dari si Istri – “Dah sana makan aja sendiri beli KFC atau masak mie sendiri…aku capek tauuuuu, ngurus ini ngurus itu, datang-datang dibentakin...” – (Sambil nunjuk ke hidung cembetut juga, alisnya tak kalah dari wiper mobil yang pertama – macetnya lama lagi tidak bisa balik lagi kebawah harus diperbaiki secara manual (seperti wiper mobil-mobil tua di Saudi).

Wahai saudaraku, janganlah engkau berlaku layaknya seorang diktator yang “Memaksa” dan “Menyiksa” lagi “Kasar dan Bengis”. Lihatnya bagaimana Suri Tauladan kita Nabi Shallallahu’alaihi wassalam bersabda:
وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
"Dan hendaklah engkau sekalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada para wanita”  Shohih  (HR. Al-Bukhori no 5186 dan Muslim no. 1468)

Hikmahnya dari pembahasan diatas adalah:

Pertama

Ketika kita dapat memberikan apresiasi berupa doa kebaikan kepada istri kita (berupa ucapan jazakillahu khoiran atau barakallahu fiki) itu akan membuat semakin langgengnya dan semakin suburnya ladang rumah tangga kita. Karena doa kebaikan tersebut adalah hadiah yang paling mudah kita berikan kepada istri kita. Dan ketika Allah mudahkan untuk saling berbalas hadiah berupa doa kebaikan diatas maka pastilah cinta di dalam bahtera rumah tangga kita akan semakin kokoh lagi subur.

Silahkan saudaraku yang semoga Allah memberikan limpahan ilmu kepadamu menyimak hadits yang mulia berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: تَهَادَوْا تَحَابُّوا
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wassalam, beliau bersabda: “Salinglah kalian memberikan hadiah niscaya kalian akan saling mencintai.”  Shohih   (HR. Al-Bukhori dalam kitab Adabul Mufrod no. 594, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 1601).

Kedua

Doa kebaikan dan ucapan jazakillah khoiran kepada istri kita merupakan bentuk syukur kita kepada Allah atas nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya, sebagaimana hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam telah bersabda: “Barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah”.  Shohih   (HR. Abu Dawud no. 4811, At-Tirmidzi no. 1954, Al-Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 218, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Shohihah no. 416)

Dalam Kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud (Syaikh Adzim Aabaady, cet Darul Kutub al-Ilmiyyah,13/114) dijelaskan maksud hadits diatas:

Syukur itu adalah sebuah kata yang mencakup setiap apa-apa yang diketahui sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersikap ihsan (melakukan kebaikan semata-mata karena Allah) kepada manusia. Imam al-Khoththobi berkata : “Tentang hadits diatas dapat difahami dengan dua pemahaman. Salah satunya yaitu orang yang tabiatnya dan kebiasaanya itu mengingkari nikmat/pemberian (yang diberikan kepadanya) dari orang lain dan tidak berterima kasih/bersyukur kepadanya, maka tentunya ia akan kufur mengingkari nikmat dari Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya. Pemahaman yang lainnya adalah bahwa Allah tidak menerima syukurnya seorang hamba atas kebaikan yang dilakukannya manakala hamba itu tidak bersyukur kepada kebaikan yang diperolehnya dari orang lain bahkan mengingkari kebaikan-kebaikannya dan ini merupakan hubungan antara kedua macam syukur tersebut (Barangsiapa yang bersyukur kepada pemberian dari manusia maka ia telah bersyukur kepada nikmat/pemberian dari Allah)”.

Ketiga

Melembutkan hati. Ucapan kebaikan berupa jazakillah khoiran kepada istri kita itu akan melembutkan hati kita dan istri kita. Orang yang mampu mengucapkan ucapan kebaikan tersebut berarti dia telah mengurangi dan mengikis “Keegoisan”nya karena dia telah mampu untuk berbagi ucapan kebaikan kepada orang lain, sedangkan ketika istri mendengarkan untaian kalimat kebaikan tersebut ia akan merasa disanjung, diperhatikan dan disayang. Lama-kelamaan sang istripun akan belajar untuk menerima kebaikan yang tulus dari sang suami (yang mungkin dahulu tidak pernah bergulir satu katapun dari mulutnya untuk mengucapkan kata-kata kebaikan tersebut). Sehingga apabila sang Suami menginginkan agar ajakan kebaikannya ditaati oleh istrinya, selayaknya baginya untuk memulai menyulam anyaman kalimat-kalimat kebaikan yang mengandung doa seperti tersebut di atas. Hal tersebut diatas sebagaimana Hadits sang Pemilik Akhlaq yang Mulia Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam berikut,
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
"Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Dia mencintai sikap lemah lembut, dan Allah akan memberikan pada sikap lembah lembut sesuatu (ganjaran kebaikan) yang tidak Dia berikan kepada sikap yang keras, dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap yang lainnya." Shohih   (HR. Muslim no. 2593 dari Aisyah Radhiallahu’anha)

Dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam yang lainnya;
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
"Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan) dan tidak dihilangkan kelembutan itu darinya kecuali akan membuatnya menjadi buruk."  Shohih   (HR. Muslim no. 2593 dari Aisyah Radhiallahu’anha)

Keempat

Ucapan-ucapan kebaikan tersebut adalah pintu gerbang sang Suami untuk memulai bimbingannya kepada keluarganya dengan cara yang mudah dan ilmiyah. Ketika Sang Suami terbiasa untuk mengucapkan jazakillahu khoiran atau barakallahu fiki atau ucapan kebaikan yang lainnya kepada istrinya maka anak-anaknya pun akan berusaha meniru dan mempraktekannya. Dengan begitu sang Suami telah memulai dakwahnya dengan sesuatu yang mudah.

Tidaklah selayaknya bagi seorang Suami yang bertaqwa untuk memberatkan istrinya seperti “Pokoknya besuk kamu harus pake jilbab…apa kata orang kalau kamu terus-terusan tidak pake jilbab…Kalo kamu tidak mau berarti kita pisah” (Dalam keadaan marah menghentakkan tangannya ke meja, matanya merah berkobar penuh amarah dan mengancam istrinya dengan jari telunjuknya…Allahu Musta’aan).

Wahai saudaraku semoga Allah memuliakanmu… renungkanlah bahwa istrimu itu adalah ladangmu untuk meraih surga, selayaknyalah engkau bimbing dia dengan kelembutan dan mulailah dengan sesuatu yang mudah. Engkau ingin selamat namun jalan yang engkau tempuh justru mendatangkan petaka bagimu. Ingatlah sosok tubuh yang lemah dari istrimu itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alahi wassalam bersabda:
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا , فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ , وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي اَلضِّلَعِ أَعْلَاهُ , فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمَهُ كَسَرْتَهُ , وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ , فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Dan hendaklah engkau sekalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada para wanita. Sebab mereka itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas. Jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya dan jika engkua membiarkannya, ia tetap akan bengkok. Maka hendaklah kalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada wanita."  Shohih  (HR. Al-Bukhori no 5186 dan Muslim no. 1468, lafazh tersebut milik Al-Bukhori.)

Wahai saudaraku semoga Allah memudahkan urusan-urusan kebaikanmu … selayaknya bagimu untuk memulai menanami ladangmu (membimbing istrimu) dengan sesuatu yang mudah terlebih dahulu dan jangan engkau persulit.

Hal itu sebagaimana nasehat Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam kepada Abu Musa Al-Asy'ary dan Mu'adz bin Jabal radhiallahu’anhuma ketika Beliau Shallallahu’alaihi wassalam mengutus keduanya ke Yaman, beliau Shallallahu'alaihi wassalam bersabda;
يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا
"Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari, bersatulah dan jangan berpecah belah.”  Shohih  (HR. Al-Bukhori no. 3038 dan Muslim no. 1733)

Kelima

Dengan membiasakan untuk mengucapkan ucapan-ucapan kebaikan tersebut berarti hal tersebut akan mengikis kebiasaan-kebiasaan lama yang jelek seperti mengumpat, berbicara kasar, berkata jorok dan kotor apalagi beradu jotos. Contoh kebiasaan jelek tersebut sering kita dengar ada seorang suami yang berkata “Puih, kok masakannya keasinan, dasar gak becus masak, bisanya Cuma minta duit, istri macam apa kamu itu”…sambil berkacak pinggang memegang pentungan berupa kata-kata yang kasar, kumis menegang dan jidat berkerut ke atas seperti kerutan parut, matanya memerah seperti letupan bara api, bibirnya tidak henti-hentinya mengumpat dan mencaci istrinya yang telah berusaha susah payah memasak dan mengurus anak-anaknya”.

Wahai saudaraku yang semoga Allah memuliakanmu simaklah hadits yang mulia dari Ibnu Mas'ud Radhiyallaahu 'anhu berkata Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam bersabda;
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ
"Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mengumpat, melaknat dan tidak pula yang berkata keji lagi kotor."   Shohih   (HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 332, At-Tirmidzi no. 1977 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/12. Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Ash-shohihah no. 320).

Hadits Mulia yang lainnya:
Dari al-Harits bin Wahb al-Khuza’i, ia mengatakan: Aku mendengar Nabi Shallallaahu `alaihi wa sallam bersabda:
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجَنَّةِ، كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ، كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُتَكَبِّرٍ
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang ahli Surga, (yaitu setiap orang yang lemah lagi dilemahkan, yang seandainya bersumpah kepada Allah, niscaya sumpahnya akan dipenuhi. Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang ahli Neraka, yaitu setiap orang yang bengis, kasar lagi sombong.”   Shohih   (HR. Al-Bukhari no. 4918, Muslim no. 2853, at-Tirmidzi no. 2605, dan Ahmad no. 18728).

Keenam

Dengan membiasakan mengucapkan doa kebaikan diatas maka seorang suami telah menjauhkan Kufr Ashiir dari istrinya. Kufr Ashiir adalah pengingkaran/kedurhakaan istri terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah melalui suaminya. Contoh yang kita bisa lihat sehari-hari adalah ucapan seorang istri "Kamu ini Suami macam apa sih, kerjaannya cuma marah-marah, membentak-bentak...dari awal nikah sampe sekarang cuma bisanya marah-marah, Kamu kayak orang bengis yang nggak pernah ada kebaikannya sama sekali...aku muak" (sambil kacak pinggang seperti mau adu jotos, tangannya pun mengepal, otot-otot dahinya keluar memerah menunjukkan "Tegangan Tinggi/High Voltage") Lihatlah simbol kemarahan yang dipake oleh sang istri -"Kamu" (kasar sekali) "Nggak pernah ada kebaikannya sama sekali" (Ultra kasarnya).

Padahal sebenarnya sang suami telah berusaha untuk menjalankan perannya sebagai kepala rumah tangga, namun karena tidak memakai cara dan metode yang lemah lembut lagi ma'ruf akhirnya menyebabkan akumulatifnya bom waktu yang dapat meledak kapan saja dan dimana saja yang dipicu oleh kesalahan sepele lagi berkepanjangan.

Oleh karena itu saudaraku yang semoga Allah memuliakanmu simaklah nasehat yang mulia berupa hadits yang shohih berikut ini:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى المُصَلَّى، فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ، فَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ» فَقُلْنَ: وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ، وَتَكْفُرْنَ العَشِيرَ، مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ»، قُلْنَ: وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَلَيْسَ شَهَادَةُ المَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ» قُلْنَ: بَلَى، قَالَ: «فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ» قُلْنَ: بَلَى، قَالَ: «فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا»
Dari Abu Sa’id al Khudriy radhiyallahu anhu, ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau bersabda, ’Wahai kaum wanita bersedekahlah, sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya, ’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ’Kalian banyak melaknat dan durhaka terhadap suami. Dan tidaklah aku menyaksikan orang yang memiliki kekurangan akal dan agama yang dapat menghilangkan akal kaum laki-laki yang setia daripada salah seorang diantara kalian. Mereka bertanya, ’Apa yang dimaksud dengan kekurangan agama dan akal kami wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ’Bukankah kesaksian seorang wanita sama dengan separuh dari kesaksian seorang pria?’ Mereka menjawab,’Benar.’ Beliau berkata lagi, ’Bukankah apabila wanita mengalami haidh maka dia tidak melakukan shalat dan puasa?’ Mereka menjawab, ’Benar.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ’itulah (bukti) kekurangan agamanya (wanita)."  Shohih   (HR. Al-Bukhari no. 304)
Manakala seorang suami mengajarkan kebaikan dan memberikan apresiasi berupa ucapan doa jazakillah khoiran terhadap kebaikan yang dilakukan oleh seorang istri walaupun itu hanya sepele maka (bisa dikatakan secara otomatis) akan memberikan imbas efek positif yang memungkinkan sang istri untuk berusaha belajar bagaimana membalas kebaikan yang telah dilakukan suaminya.

Ketujuh

Dengan memberikan doa kebaikan berupa ucapan jazakillah khoiran kepada sang istri maka sang suami telah melindungi dan tidak menelantarkan hak dari istrinya, karena apresiasi dari kerja keras dan pengorbanan seorang istri haruslah dihargai dengan penghargaan yang tinggi lagi mulia. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam:
إِنِّي أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ حَقَّ الضَّعِيفَيْنِ: الْيَتِيمِ وَالْمَرْأَةِ
“Sesungguhnya aku mengkhawatirkan atas kalian (menelantarkan) akan hak dua golongan yang lemah: (yaitu) anak yatim dan wanita.” Shohih  (HR. Ibnu Majah no. 3678, Ahmad no. 9666, Ibnu Hibban (Mawaridz Adz-Zhom’an) no. 1266, al-Hakim no. 211, Ia menshahihkannya dan disetujui oleh adz-Dzahabi, serta dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahiihah no. 1015).nbsp;)

Pintu cinta itu harus diketuk dengan kelembutan.
Ketika "pakaian tercinta" bersusah payah berikanlah senyum sambutan.
Sambutan yang mengandung cinta penuh kebaikan
Pupuklah "ladang tercinta" dengan pupuk ilmu mudah lagi tak memberatkan


Wahai saudaraku yang semoga Allah senantiasa memberikanmu hidayah untuk istiqamah dalam menuntut ilmu syar'i...mari kita terapkan ucapan-ucapan kebaikan tersebut agar bahtera rumah tangga kita disinari dengan tautan doa kebaikan sehingga Allah meridhoi istri - ladang - pakaian - kita sebagai istri kita kelak di Surga Yang Indah lagi Abadi.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Wallaahu a’lam bishshawwaab.



Abu Kayyisa
Zaki Rakhmawan
Suami yang ingin berucap : "Inni Uhibbuki fillah Ya Ummi Kayyisa, Jazakillahu khoiran ala husni musa'adatik, semoga Allah senantiasa menjagamu dan memberimu kesehatan selalu."
Di Dubai yang berawan, 01 Rajab 1433 H.

Maraji'
  • Shohih Al-Bukhori, Muslim, Mustadrak al-Hakim cet. Daar al-Ma'arif.
  • Sunan At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah, Abu Dawud cet. Maktabah al-Ma'arif.
  • Musnad Imam Ahmad cet. Baitul Afkar Dauliyah.
  • Irwaul Ghalil Fi Takhrij Ahaadits Manaris Sabiil oleh Syaikh Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani cet. Al-Maktab al-Islamy th. 1405 H.
  • Silsilah Ahaadits ashShohihah oleh Syaikh Muhammad Nashirrudin al-Albani cet. Maktabah al-Ma'arif.
  • Tafsir Al-Qura-an al-Adzim, Ibnu Katsir, Daar at-Thoyyibah cet 1420 H
  • Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani cet. Daarus Salam ar-Riyadh th. 1421 H.
  • Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud oleh Syaikh Adzim Aabaady, cet Darul Kutub al-Ilmiyyah cet. 1415 H.
  • Shahih Al-Jamiish Shoghir wa Ziyadatuh, oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, cet Al-Maktab al-Islamy th. 1420 H.
  • http://belajarhadits.com/index.php?option=com_content&view=article&id=173:ucapan-jazakillah-khoiran-kepada-istri-tercinta&catid=31:general&Itemid=46

0 comments: