BERSENTUHAN DENGAN WANITA

Filed under: by: 3Mudilah


LA-MASTUMUN NISA-A’

Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Midah ayat 6 dan surat An-Nisa’ ayat 43 memuat perintah untuk berwudhu serta hal-hal yang dapat membatalkan wudhu, diantaranya adalah “Bersentuhan dengan wanita” (La-Mastumun Nisa’).

Sebahagian besar umat Islam mengartikan lafadz “Sentuhan” secara leterlek (lughat) yaitu makna aslinya,sehingga mereka berfaham bahwa yang dimaksud dengan bersentuhan dengan wanita adalah bersentuhan (bersenggolan) kulit antara laki-laki dan perempuan membatalkan wudhu. Benarakah demikian ?

Beberapa Pendapat Tentang (La-Mastumun Nisa’).

Dalam buku “Fiqih Sayfi’i Sistimatis Bab Thaharah yang judul aslinya “Al-Fiqh Al- Manhaji ‘Ala Madzhab Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah Ta’ala Al Jua Awwal Fit’Tharori Wa ‘Ash-Shalat, hal.77, Cet.1, 1992 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “bersentuhan” adalah :

“Bersentuhan antara laki-laki dengan istrinya atau wanita asing tanpa adanya penghalang. Akibat kejadian ini maka batalah wudhunya, wudhu laki-laki itu dan wudhu Si wanita. Adapun wanita asing yang dimaksud ialah tiap-tiap wanita yang boleh dikawini oleh laki-laki itu. Dijelaskan juga bahwa “La-mastum (kamu menyentuh dengan bersangatan) yang dimaksud ialah “lamastum (kamu menyentuh) sebagaimana qiraat yang mutawatir.

Dalam kitab Subulus Salam yang diterjemahkan oleh Drs. Abu Bakar Muhammad, hal.171, dijelaskan “bahwa sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, membatalkan wudhu dengan alasan Aula-mastumun nisa-a (atau kamu bersentuh-sentuhan dengan perempuan); maka ayat tersebut mengharuskan wudhu lagi karena bersentuhan laki-laki dan perempuan. Mereka (ulama’ Asy Syafi’iyah) berpendapat bahwa sentuhan itu menurut pengertian yang sebenarnya dengan tangan. Ayat yang menguatkan pengertian ini ialah “Aula-mastumun Nisa-a” (atau kamu menyentuh perempuan); maka ayat ini jelas menunjukkan pengertian sentuhan dari laki-laki saja, tanpa sentuhan dari perempuan. Ini membenarkan lafadz yang hakiki (sebenarnya).

Demikianlah diantaranya yang menjadi dasar beberapa pendapat yang mengartikan bersentuhan dengan wanita secara sebenarnya (leterlek/lughat) dan faham ini pula yang banyak diyakini kebenarannya oleh sebahagian besar ummat Islam.

Analisa Permasalahan

Secara lughat (bahasa) kalimat ”La-mastumun Nisa-a’ “ berasaldari akar kata:
??????? – ??????: ???? ?? : ?? : ????? ??????? : ????? ???
Yang artinya = menyentuh, berkumpul padanya. Secara  harfiah dapat diartikan dengan bersentuhan kulit dengan kulit antara laki-laki dan perempuan yang dengan itu membatalkan wudhu. Berdasarkan inilah kebanyakan mereka mengartikannya.

Sehingga kalimat “La-mastumun nisa”dalam Qs,5 :6 dan Qs.4:43 diberi makna “kamu laki-laki bersentuhan dengan wanita”.

Allah berfirman dalam Al Qur’an surat ali imran ayat 47 yang artinya :” Dia (maryam) berkata: wahai Robbku! Bagaimana aku melahirkan seorang anak sedangkan aku belum pernah disentuh oleh manusia(laki-laki)…”

Dalam Al Qur’an surat maryam ayat 20, Allah berfirman: Dia (Maryam) berkata: bagaimana aku memperoleh seorang anak laki-laki sedangkan aku belum pernah disentuh oleh laki-laki…”

Lafadz ”Yamsasni” (aku disentuh) pada kedua ayat diatas memberi petunjuk yang sangat jelas bahwa sentuhan (disentuh) tidak tepat diartikan secara harfiah (letertek/lughat) saja, akan tetapi menghendaki makna lain sehingga maknanya akan menetapkan hukum ”membatalkan wudhu” bagi yang melakukanya.

Dengan demikian pemberian makna secara letertek terhadap kalimat ”La-mastumun nisa-a” bertentangan dengan Al Qur-an Surat Ali Imron ayat 47 dan Al Qur-an Surat Maryam ayat 20 sebagaimana tersebut diatas.

Dalam Al Qur-an Surat Al Maidah ayat 6 dan Al Qur-an Surat An Nisa ayat 43 juga mengandung perintah untuk melakukan tayamum sebagai penganti wudhu dan janabat (mandi wajib) bagi mereka yang bersentuhan dengan wanita jika tidak mendapat air. Jika lafadz bersentuhan dengan wanita diartikan secara letertek, maka mereka yang bersentuhan dengan wanita (laki-laki dan wanita) harus melaksanakan mandi wajib agar memperoleh derajat bersih dan suci sebagai syarat mutlak jika hendak melakukan perintah shalat. Pemahaman ini menunjukkan betapa susahnya syari’at/ Diinul Islam. Karena laki-laki dan wanita harus menjaga dirinya dengan ekstra ketat supaya tidak terjadi sentuhan yang mengakibatkan mereka harus mandi wajib setiap hendak melakukan shalat.
Kalau demikian halnya maka sangat tidak relefan dengan sifat syari’at/ Diinul Islam sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran Surat Al-Maidah ayat 6 dan Al Quran Surat Al- Hajj ayat 78 yang artinya “Dan tiadalah dijadikan didalam Ad Diin (Diinul Islam) itu kesusahan…”.

Pembahasan

Analisa diatas menunjukkan bahwa makna “Bersentuhan” menghendaki makna lain, dengan demikian tidak tepat jika dimaknai secara harfiah/leterlek. Adapun makna lain yang dimaksud adalah makna “Majaz”.

Pengertian Majaz

Secara bahasa/lughat, lafadz “Al-Majaz” ( ????? ) berasal dari akar kata “Ja-za (???) artinya “Melewati”… para ulama menamakan suatu lafadz yang dipindahkan dari kehendak makna asalnya dengan perkataan “Majaz”, karena melewatkan lafadz tersebut dari makna aslinya. Sedangkan menurut istilah: “Majaz” adalah lafadz yang digunakan pada selain arti yang ditetapkan karena adanya persesuaian serta qarinah (pertanda) yang menunjukkan untuk tidak menghendaki makna aslinya (Drs. M. Zuhri, Tafl dan K. Ahmad Chumaidi Umar, terjemah Mutiara Ilmu Balaqhah dalam ilmu Bayan dan Badi’, hal.67,68, terbitan Darul Ihya; Indonesia).

Penjelasan Dalil

Dengan pemahaman secara majazi maka akan didapat pengertian yang dikehendaki oleh syariat sebagai mana firman Allah dalam Al Qur-an Surat Al Maidah ayat 6 dan Al Qur-an Surat An- Nisa ayat 43, yaitu bahwa kalimat La-mastumun Nisa-a (kamu bersentuah dengan wanita) yang juga berasal dari kata- ??:?????

????? ???????? : ??????  Artinya adalah = jima’ (bersetubuh) dengan demikian maka kalimat “La-Mastumun Nisa-a artinya adalah “Kamu bersentuhan dengan wanita”. Akibatnya mereka dalam kondisi “Junub” serta membatalkan wudhu. Maka jika mereka akan melaksanakan sholat, mereka harus jinabat (mandi wajib).

Inilah yang dimaksud dengan persesuaian antara makna asli dengan majazi, karena dalam jima’ (bersetubuh) secara otomatis akan terjadi saling bersentuhan antara laki-laki dan perempuan. Disisi ada perintah “bertayamum” yang kedudukannya sebagai pengganti jinabat (mandi wajib) jika tidak mendapati air atau ada halangan (sakit) bagi yang mereka yang dalam kondisi junub.

Pengertian “bersentuhan” dengan “bersetubuh“ (jima’) lebih dapat dipahami secara meyakinkan berdasarkan :

1. Firman Allah dalam Al Quran Surat Ali Imron Ayat 47 dan Al Quran surat Maryam ayat 20 yang artinya “ …..bagaimana aku bisa melahirkan seorang anak laki-laki sedangkan aku belum pernah sama sekali (Lam Yamsasni) disentuh oleh laki-laki …”. Lafadz “Yamsasni” adalah kata kerja (fi’il Mudlari’) yang mengandung arti proses kejadian yang akan /sedang terjadi. Sehingga akibat jima’ akan terjadi proses kehamilan atas idzin Allah pada seorang wanita dan selanjutnya melahirkan anak. (Lihat Al Qur-an Surat Ath Thoriq ayat 6,7 ; Al Qur-an Surat Al Mukminun ayat 12-14 ; Al Qur-an Surat Al Hajj ayat 5). 2. Penjelasan Hadits Nabi SAW

Dalam riwayat Bukhari (289) dari Abi Hurairah Nabi SAW bersabda :
?? ????? – ???? – ??????????? ?????? ????????? ?????????? ?? ??? ?? ??? ??? ?????
“Bila seorang suami berada di atas tubuh istrinya kemudian membikin tubuh sang istri letih (bersetubuh) bagi mereka  (sang suami dan istri) wajib mandi jinabat”

Dalam riwayat Muslim dari Aisyah (349) nabi SAW bersabda:
... ?????? ??????? ?????? ??? ??? ?????
“… dan khitan bertemu khitan maka berarti telah wajib mandi”.


3. Penjelasan para Sahabat dan Ulama Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas menafsir ”menyentuh” dengan “Mula-Massa”(saling bersentuhan) yang dimaksudnya adalah jima’(bersetubuh).

Abdu bin Humaid menafsirkan kata “Mula-Massah” (bersentuh-sentuhan) itu setelah beliau meletakan dua telunjuknya kedalam kedua telinganya lalu beliau mengatakan ”ketahuilah bahwa artinya ialah bersetubuh”.

At Thossiy juga meriwayatkan, bahwa Nafi bin Al Arzaq pernah menanyakan tentang kata “Mula-Massah” lalu beliau menafsirkan dengan bersetubuh…seandainya kata ”Mula-Massah” itu ditafsirkan dengan sentuhan kulit (laki-laki dan perempuan) yang membatalkan wudhu maka tidak perlu ada peringatan akan adanya tanah (debu) yang mengantikan kedudukan air didalam menghilangkan hadast besar dan bertentangan dengan permulaan ayat itu (maksudnya ayat 6 didalam surat Al-Maidah). (lihat subulus salam,hal.172).

Kesimpulan
Berdasarkan analisa dan pembahasan diatas maka dapat dipahami secara jelas bahwa:

Pertama : pengertian “bersentuhan” dengan wanita” mengandung makna MAJAZI bukan makna asli/leterlek.

Kedua : berdasarkan firman Allah dalam surat Ali-Imran ayat 47,surat Maryam ayat 20, surat Ath-Thariq ayat 6-7, surat Al-Mu’minun ayat 12-14, surat al-Hajj ayat 5, yang dimaksud dengan “bersentuhan” adalah jima’ (bersetubuh) sebagaimana dijelaskan didalam hadits Nabi, sahabat,serta ulama.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa “bersentuhan” yang membatalkan wudhu adalah Jima’ (bersetubuh).

0 comments: