Seandainya Abu Jahal Di Demo Umat Islam

Filed under: by: 3Mudilah

Sudah kita ketahui bahwa sebelum periode hijrah, keadaan Umat Islam awalnya di Makkah cukup tertekan oleh sistem hidup jahiliyah (thoqut) yang dikendalikan oleh 3 orang tokohnya. Abu Sufyan yang terkenal sebagai orator yang ulung dan ahli ekonomi, Abu Jahal (ahli strategi militer) dan Abu Lahab (ahli siasat).

Meskipun dalam kondisi yang demikian sulit dan terancam secara lahir bathin pada kala itu, belum pernah kita dengar atau baca sejarahnya bahwa Rasulullah Muhammad dan sahabatnya mendemo (menuntut) penguasa saat itu untuk menegakkan Syariat Islam. Tentu bagaimana mungkin Rosulullah dan umat mukmin yang berderajat mulia di sisi Allah mau merendahkan diri kepada kaum jahiliyah yang jelas – jelas memusuhi hukum – hukum Allah.

kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Qs.3: 110)

Amr bil makruf wa nahyu ‘anil munkar yang dimaksud bukanlah dengan demontrasi dan menghancurkan bangunan tempat maksiat. Karena yang berhak memerintahkan tindakan fisik adalah amirul mukminin dalam daulah Islam. Namun ketika Allah belum memberi kekuasan kepemimpinan pada Umat Mukmin, kita hanya diawajibkan menyeru mereka dan Allah yang lebih berhak untuk menunjuki mereka atau mendatangkan bencana kepada mereka melalui balatentaranya selain manusia.

dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Qs.17: 16).

Jangankan menuntut (dengan cara berdemontrasi) yang jelas bukan cara perjuangan umat mukmin. Bahkan Rosulullah menolak tawaran pemimpin Quraisy dengan kunci kekuasaan dan harta melimpah asal mau diajak kompromi dalam masalah Islam. Rosul kita men gajarkan metode perjuangan (manhaj) yang terhormat yaitu dakwah dan jihad tanpa pernah memaksa atau menuntut hasil, karena final perjuangan di tangan Allah. Kita para mutabi’urrosul hanya diperintahkan Allah bekerja sesuai tuntutnan sunnah, namun kita tidak diwajibkan berhasil, karena hasil adalah perkara ghaib (taqdir dari Allah).

Begitulah pula siyasah yang dituntunkan oleh seluruh rosul, mereka semua menyeru dan mendidik umat manusia dari semua golongan (pejabat, hartawan, intelektual, dan rakayat biasa) kepada Dinullah secara kaffah dengan manhaj yang telah ditentukan pula tanpa mengikuti kebiasan orang kafir seperti revolusi, kudeta, demontrasi, ataupun demokrasi yang jelas kesyirikannya dan bagian dari jalannya syaithon yang suka menyesatkan dari kebenaran.

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Qs. 6 : 153.)

Kesabaran dalam meniti jalan Allah inilah insyaAllah sebagai amal sholih bagi tiap mukmin. Karena kita hanya diperintahkan berjihad dengan KitabNya bukan kitab Plato yang mengajarkan politik dan demokrasi.


Maka janganlah kamu mengikuti (tata cara) orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan Jihad yang besar. (Qs.25:52).

Secara hujjah, Maziyah (keistimewaan) konsep Al Quran yang dibawa Rosulullah Muhammad SAW tidak akan mampu diungguli manusia di Makkah kala itu, begitupun hingga akhir zaman. Kita wajib memperjuangkannya seoptimal kemampuan kita (Qs.64:19).

Namun yang melihat tegaknya hujjah tersebut dalam suatu Daulah Islamiyah dan merasakan keindahannya mungkin saja anak cucu kita di belakang hari.

Namun yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan amal yang ikhlas dan menepati sunah dari hambaNya yang beriman.

Maka seandainya rosulullah pernah mencontohkan untuk mendemonstrasi Abu Jahal dan kroninya bagi penegakan hukum, tentu kita selaku umatnya pantas melakukannya. Namun apabila perkara ini sama sekali tiada uswahnya dari beliau SAW, maka siapakah lagi yang kita contoh?

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya mengabdi kepada Allah dengan ikhlas dalam (menjalankan) Ad Din secara hanif (condong pada sunah), dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah Din yang lurus. (Qs. 98:5).

Ya Rabb Kami, Kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah Kami ikuti rasul, karena itu masukanlah Kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (syuhada)". (Qs. 3:53).

Wallahu’alam
(Abu Ahmad Hibban)
http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/articles/343-seandainya-abu-jahal-di-demo-umat-islam.html

0 comments: