Membantu Mencari Jodoh

Filed under: by: 3Mudilah

Pertanyaan: 

assalamu'alaikum wr wb.
Ust, ana mau tanya tentang perihal kehidupan dlm rumah tangga.
Gini ust, awal mulanya adl ketemu dg kawan lama sewaktu kuliah di book fair. Kebetulan saat sedang online bbrp waktu yg lalu beliau ini btanya utk di carikan seorang pendamping hidup. Stlh bbrapa saat dia ajukan syaratnya harus seperti ana. Tnyata dia bilang klo dulu itu dia itu suka dg ana ust, krn dia jg tau klo ana ini sudah menikah ketika ktemu di book fair.
Yang ana ingin pertanyakan adl bukan maslah d atas ust. Tapi, apakah hal2 seperti ini jug harus kita ceritakan pada pasangan kita ust ?

Jazakallah ust.
Hamba ALLAH
Tangerang.

Jawaban:

                Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa  ashhabihi wa man waalah, wa ba’d:

                Sdr Hamba Allah yang semoga dirahmati Allah .........
            
    Sesungguhnya membantu seseorang mencarikan pasangan hidup adalah perbuatan baik, dan itu termasuk kategori berta’awun dalam kebaikan dan taqwa. Dan, juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ

Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan hidup saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, dan barangsiapa yang meringankan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan meringankan dia dari berbagai kesulitan. (HR. Muslim No. 2580)

Tetapi, hendaknya cara-cara membantu dalam mencarikan jodoh dilakukan dengan tanpa fitnah, dan mesti bagi kita meminimalisir potensi fitnah, baik buat kita atau orang yang minta dicarikan jodoh tersebut. Hendaknya kedua belah pihak menjaga hati sebab syetan senantiasa menyelinap dan mengganggu untuk menggelincirkan manusia. Hendaknya proses pencarian tersebut diusahakan tidak berlama-lama sebagai salah satu cara menghindari fitnah.

Lalu, apakah isteri mesti mengetahui hal ini? Hal ini, tidak dipandang mesti tahu atau tidak, tetapi apakah memiliki mudharat jika menceritakannya, seperti lahirnya cemburu dan curiga, yang akhirnya antum tidak jadi mencari jodoh buat wanita itu. Jika tidak ada mudharat, dan isteri bisa memahami, dan antum pun mampu menjaga hati dan diri, tidak apa-apa menceritakannya.

Para ulama ushul membuat kaidah:
الضَّرَرُ يُزَالُ
            
    Adh Dhararu Yuzaal – kerusakan (mudharat) mesti dihilangkan. (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Al Kitabul Awwal, Kaidah keempat, Hal. 83. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, Kaidah kedua,  1/51. Imam Ibnu Nujaim, Al Asybah wan Nazhair, Kaidah kelima, Hal. 85. Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir Al Bakistani, Min Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal. 190)

Lalu, apakah ketika antum tidak menceritakan  maka itu termasuk sikap mengkhianati isteri? Tidak, sebab antum memang sama sekali tidak niat dan terpikir untuk kepada hal itu, melainkan murni untuk membantu mencarikan jodoh. Dalam hal ini, antum dituntut jujur dan berani mengambil sikap tegas jika ada niat yang mulai menyimpang dari tujuan awal.

Wallahu A’lam 

0 comments: