Fiqih Kontemporer Dimata Orang Awam, Tinjauan Kritis Terhadap Hukum Uang Kertas (Fiat Money).

Filed under: by: 3Mudilah

Menetapkan hukum atas suatu kejadian, perbuatan atau benda memang tidak mudah, disamping membutuhkan ilmu pengetahuan yang mumpuni dan lengkap dari berbagai aspek, juga perlu kehati-hatian agar tidak gegabah menjatuhkan hukum yang salah pada suatu hal, misalnya menghalalkan yang haram atau sebaliknya mengharamkan yang halal.

Hal diatas tentu sangat bisa dipahami, tidak semua orang dengan serta merta bisa menetapkan hukum atau fatwa. Hanya ‘orang-orang pilihan’ yang mampu memenuhi berbagai persyaratannya hingga dianggap qualified untuk memutuskan hukum (membuat fatwa).

Namun dalam kehidupan nyata masyarakat awam, ummat seringkali bagai dihadapkan pada sebuah fakta pahit. Hukum ‘Ilmu langit’ yang seharusnya merupakan keadilan hakiki dan lurus, dalam beberapa kejadian dirasa tidak membumi, dalam arti kata seakan tidak sesuai antara hukum yang ditetapkan dengan realita hidup dan penindasan yang diterima oleh ummat manusia.

Dalam konteks fiat money (uang kertas, uang hampa, uang virtual, uang kartal, bed money), penulis merasa seperti seorang saksi yang melihat pembunuhan, bahkan genocide, yang terjadi dihadapan mata kepala sendiri, namun tidak mampu memberikan bukti-bukti yang cukup dihadapan sekumpulan hakim yang telah hafal luar kepala buku KUHP yang sangat tebal itu serta hafal luar kepala sumber-sumber ilmu hukum lainnya. Belum lagi pengacara si pembunuh yang kaya raya tersebut sangat ulung lagi pandai menggunakan bahasa hukum untuk mementahkan semua keterangan saksi, walaupun yang disampaikan saksi adalah suatu hal yang benar-benar terjadi.

Sudah begitu banyak kejadian ‘pembunuhan’ yang dilihat dan itu terus terjadi berulang-ulang setiap hari, namun tetap tidak punya cukup bukti yang sah secara hukum untuk membuat hakim memberikan vonis bersalah kepada si pembunuh itu.

Hal yang persis sama dapat ditemui dan rasakan pada fiat money. Walaupun ribuan fakta yang disaksikan jutaan mata telah menunjukan kerusakan, kedzoliman, perampokan harta secara bathil dan genocide yang diperbuatnya, saksi tidak memiliki cukup bukti untuk sekedar membawanya ke meja hijau peradilan dan mendapatkan keadilan hakiki.

Dimata hukum, kertas adalah benda yang halal, tidak ada masalah dengan uang kertas sehingga halal dan baik-baik saja untuk digunakan (halalan toyyiban).

Berikut sedikit analisa kritis tentang fiat money yang merepresentasikan suara orang awam dihadapan panggung pengadilan ilmu fiqih kontemporer;

Secara fiqih, kertas adalah benda atau zat yang halal. Halal dalam bentuk apapun, termasuk uang kertas (salah satu bentuk fiat money). Kondisi ini sama halnya seperti baja yang dibuat menjadi pisau atau uranium yang dibuat menjadi bom atom. Kalaupun ada kejadian pembunuhan terencana bahkan genocide menggunakan pisau atau bom atom tersebut, yang salah adalah adalah perbuatan pembunuhan itu sendiri, tidak serta merta menjadikan pisau atau bom atom itu terlarang untuk terus diproduksi karena keduanya bisa saja digunakan untuk hal-hal bermanfaat, misalnya pisau yang dapat digunakan untuk memotong daging atau sayuran (untuk kasus bom atom, penulis tidak tau sama sekali apa manfaatnya dibuat, sama persis dengan tidak tau apa gunanya uang kertas dibuat). Sampai disini semua masih dapat dimengerti bagi orang awam.

Namun, dari sudut pandang orang awam, juga ditemukan bahwa ada benda yang secara zat adalah halal namun berubah menjadi haram akibat suatu perbuatan atau ditujukan untuk sesuatu yang salah. (ini sudah masuk ranah fiqih yang berada diluar kompetensi penulis, tidak bisa dijadikan dasar hukum dan hanya sekedar ‘curhat’ seorang yang awam).

Contoh paling jelas dalam Al Qur’an adalah pengharaman memakan hewan (yang tadinya halal) namun karena suatu sebab menjadi haram. Sebab yang menjadikan hewan yang semula halal menjadi haram dikonsumsi antara lain tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya, binatang yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan (mati) diterkam binatang buas. Hal ini dapat ditemui dalam Al Qur’an pada surat Al-Maidah: 3, Al-An'am: 121, dan Al-An'am: 145.

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(Al-An'am: 145).

Dengan dasar diatas, dari sudut pandang orang awam, penulis berfikir kejadian serupa juga bisa terjadi pada benda lain (selain makanan atau hewan), dalam konteks tulisan ini yaitu uang kertas. Kertas halal dari sisi zatnya, namun dapat berubah menjadi haram akibat sebuah perbuatan, kejadian atau tujuan yang salah (melanggar hukum Allah lainnya).

Namun, tentu saja tidak semudah itu, penjelasan yang sudah sangat jelas dari Allah dalam Al Qur’an itu adalah tentang makanan atau hewan ternak. Dalam kaidah ilmu fikih perlu ditinjau juga konteks ayat, sebab sebab turun ayat, illat, qiyas dan berbagai aturan ketat lainnya yang penulis sendiri tidak pahami, hanya Allah yang maha tau.

Penulis tidak tau apakah hal yang disebutkan diatas dalam ilmu fiqih adalah salah satu bukti yang yang sah untuk bisa membuktikan kesalahan dari fiat money. Biarlah ini diselesaikan oleh ahlinya :)

Kemudian, zat kertas yang halal dan semula berfungsi hanya sebagai media menulis, menggambar atau bungkus gorengan (bala-bala, gehu, tahu isi, onde-onde, oncom dll) itu telah diangkat martabatnya menjadi mata uang. Disahkan dan halal diakui sebagai mata uang (nuqud/naqdain) dalam hukum islam.

Karena posisi kertas tadi sudah naik pangkat menjadi mata uang, dalam logika awam sudah seharusnya juga dikenakan hukum yang berlaku pada nuqud.

Dalam hadits sahih Muslim, dari Abu Said al Khudri r.a, Rasul SAW bersabda: "Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran dan timbangannya, dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; tepung dengan tepung harus sama takarannya dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; korma dengan korma harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; garam dengan garam harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba."

Penulis juga bukan ahli hadits, orang awam, sehingga juga tidak tau keshahihan hadits diatas. Hanya sering membaca dasar pijakan hukum diatas diakui oleh jumhur ulama dan tidak ada pertentangan tentang status hadits tersebut.

Karena uang kertas telah naik pangkat menjadi nuqud, layaknya emas dan perak atau 5 benda yang disebutkan diatas, logika awam tentu berfikir uang kertas juga harus mentaati aturan main yang berlaku pada nuqud lain (emas dan perak), yaitu harus sama takaran dan timbangannya, dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba.
Kenyataanya, apa yang terjadi ??

1 lembar uang pecahan100.000 ditukar dengan 100 lembar uang pecahan1.000 tidak sama takaran dan timbangannya.

1 lembar USD 100 (dollar amerika) dengan ratusan lembar rupiah pecahan 1.000 tidak sama takaran dan timbangannya.

1 lembar USD 100 (dollar amerika) dengan tumpukan uang zimbabwe pecahan 500.000 tidak sama takaran dan timbangannya.

Dan juga, sebagaimana diketahui oleh orang ekonomi baik ekonom konvensional maupun ekonom ‘syariah’ bahwa uang diciptakan sebagai hutang (money as debt), transaksi itu tidak kontan. Lihat video money as debt

Dengan dasar diatas, dari pandangan orang awam, berarti uang kertas telah melanggar ‘undang-undang dasar uang’ dan sudah selayaknya terdegradasi kehabitat aslinya sebagai media tulis atau bungkusan onde-onde, tahu goreng atau bala-bala.
Beberapa bantahan atau pembenaran dari pembela fiat money yang pernah penulis baca adalah bahwa pertukaran antar uang kertas itu adalah dari nilai (yang tertulis diatasnya), tapi rasanya ini sangat aneh, sudah jelas-jelas dikatakan harus sama takaran dan timbangannya, serta tunai.

Sehingga, sampai saat ini fiat money masih ditetapkan halal sebagai nuqud, tak peduli seberapa parahnya kerusakan yang telah ditimbulkannya.
Mudah-mudah kita semua bisa menemukan jawabannya, penulis berharap jika ada pembaca yang qualified sebagai fuqaha yang kebetulan mampir dan membaca tulisan ini (walaupun kita sadari di dunia ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan) untuk mau berbagi ilmu dan menjelaskannya pada kami yang awam ini.

Dengan kondisi itu, kita semua tentu harus memilih jalan yang akan ditempuh. Keputusan ada pada masing-masing individu untuk menjalankannya. Karena memang pertanggungjawaban perbuatan dan pilihan hidup kita diakhirat tidak bisa diwakilkan kepada orang lain, atau menyalahkan orang yang kita ikuti saat di dunia. Paling-paling hanya bisa berkeluh kesah dan mengumpat kepada orang yang diikuti karena membawa kepada jalan yang salah, sembari minta dikembalikan ke kehidupan dunia, begitu yang penulis baca di Al Qur’an.

Terlepas dari halal atau haramnya uang kertas dari sudut pandang hukum fiqih ulama kontenporer. Penulis dan tentunya kita semua yang mau melihat keadaan sekeliling, melihat kerusakan dan kemudharatan yang telah ditimbulkannya. Entah itu hanya karena penyalahgunaan benda yang pada dasarnya halal. Atau memang karena benda halal itu sudah menjadi haram akibat proses atau ditujukan untuk maksud yang dilarang Allah, peringatan Allah berikut ini sangat perlu kita perhatikan dan taati:

Larangan memakan hak orang lain secara batil

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.


[An-Nisaa`:029-030]

Larangan mengikuti langkah setan dan ancamannya.

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.


[Al-Baqarah:168-169]

Dalam bukunya Satanic Finance, A. Riawan Amin, mengatakan 3 pilar setan dalam ekonomi yang diterapkan perbankan yaitu:
1. Fiat Money (uang kertas, uang virtual, uang hampa)
2. Interest (bunga)
3. FRS (rasio cadangan sebagian)

Pada buku Perampok Bangsa Bangsa Prof Ahamed Kameel Mydin Meera menjelaskan bahwa uang kertas dan Liberalisasi keuangan yang dimotori oleh seluruh Bank adalah kolonialisme model baru dan cara untuk merampok bangsa lain secara 'halus'.

Dan juga deretan cendikiawan muslim maupun non muslim yang menyampaikannya seperti Syaikh Abdalqadir As Sufi, Umar Ibrahim Vadillo, Zaim Saidi, Mahatir Muhammad, Robert T Kiyosaki, dll.

Berbagai fakta diatas menunjukan fiat money adalah media untuk merampok harta orang lain secara bathil dan juga mengikuti langkah-langkah setan dan terindikasi merupakan medium praktik riba yang sudah seharusnya ditinggalkan oleh manusia, khususnya ummat muslim.



Satu-satunya pembenaran penggunaan fiat money dan seluruh efeknya pada hukum islam yang penulis pahami bermuara pada suatu kondisi, yaitu DARURAH. Dimana dalam kondisi darurah (darurat) bahkan hal yang haram dilakukan atau dimakan sekalipun bisa ditolerir menjadi halal.

Namun status hukum darurat tentunya tidak bisa digunakan seenaknya, ada kaidah dalam menyikapi suatu kondisi darurah diantaranya Tidak berlebih-lebihan, terpaksa, dan bersegara keluar dari kondisi darurat (insha Allah pada kesempatan lain bisa diulas bahasan mengenai darurah).

Terakhir, ditengah pemandangan ‘pembantaian’ dan penyiksaan yang disaksikan setiap hari dan ketidak mampuan memberikan bukti yang sah secara hukum, penulis hanya bisa berharap dan berdo’a semoga Allah memberikan sedikit ilmu dan cahayanya kepada kepada kita semua, khususnya ulama kontemporer agar dapat menghasilkan fatwa yang lebih membumi.

Disclaimer: beberapa hal dalam tulisan ini sudah masuk ranah fiqih yang berada diluar kompetensi penulis, tidak bisa dijadikan dasar hukum dan hanya sekedar ‘curhat’ dan jeritan hati seorang yang awam saja.


/* Hukum Uang Kertas (Fiat Money) dari berbagai pendapat ulama fiqih terdahulu hingga saat ini serta fatwa penghalalan fiat money oleh fiqih kontemporer Insha Allah akan dibahas lebih detil pada tulisan-tulisan berikutnya.

http://wakalasauqi.blogspot.com/2011/05/fiqih-kontenporer-dimata-orang-awam.html

0 comments: