KH Abdul Hasib Hasan Lc: “Menumpas Kezaliman Itu Nikmat”

Filed under: by: 3Mudilah

Jakarta. Militansi para aktivis di Mesir, akhirnya terbukti mampu menumbangkan rezim Hosni Mubarak yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Meski elemen pendukung gerakan anti-Mubarak yang zalim itu, berasal dari berbagai komponen, dengan beragam latar belakang dan ideologi, tapi andil aktivis Ikhwanul Muslimin (IM) tak bisa dipandang sebelah mata.


Sebagai gerakan Islam dan barisan oposisi terbesar di “Negeri Piramid” ini, sumbangan IM pada gerakan anti-Mubarak sangat besar. Ratusan ribu aktivis IM, bau membahu dengan ratusan ribu aktivis lainnya, terbukti memiliki militansi kokoh melanggengkan demonstrasi selama belasan hari tanpa henti. Tak ada satu patah kata pun keluar keluhan, apalagi bayangan imbalan materi dan harta benda di benak mereka.
Semua bersatu, berjuang, ikhlas lillahi ta’aalla demi tumbangnya kezaliman di bumi para Firaun ini. Pertanyaannya, dari mana dan dengan cara apa militansi itu tumbuh? Apakah militansi itu bisa tumbuh di Indonesia? Untuk menjawab ini, Wartawan Sabili Dwi Hardianto dan Rivai Hutapea mewawancarai KH Abdul Hasib Hasan Lc, Ketua Yayasan Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan. Berikut petikannya:

Aktivis Mesir sangat militan, menggelar demonstrasi belasan hari hingga Mubarak mundur. Bagaimana menumbuhkan militansi bagi kader dakwah? 

Beramal shaleh memperjuangkan dan menegakkan kebenaran terkait dengan pemahaman dan keyakinan terhadap kebenaran yang diperjuangkannya. Antara pengenalan dan keyakinan terhadap kebenaran dengan semangat memperjuangkannya sangat berkaitan. Ketika orang mengenal detail sumber dan hakikat kebenaran, bertambah keyakinannya terhadap kebenaran. Bertambahnya keyakinan, akan menumbuhkan semangat memperjuangkan kebenaran itu.

Ketika memulai dakwah, Rasulullah saw juga melakukan cara yang sama: dimulai dengan mengenalkan hakikat kebenaran Islam. Ini diabadikan dalam al-Qur’an: “Mengenal sumber kebenaraan, yakni Allah SWT, setelah itu tunduklah kamu terhadap kebenaran itu.” Harus disadari, dalam mengenalkan,  meyakinkan, hingga semangat (militan) memperjuangkan kebenaran, perlu proses tarbiyah (pendidikan) yang panjang.

Ada yang berpendapat, memperjuangkan kebenaran merupakan kenikmatan. Bagaimana meraih derajad itu?

Betul. Mengenal, meyakini, dan bersemangat memperjuangkan kebenaran pada hakikatnya adalah nikmat karunia Allah SWT. Jika kita baca kebenaran al-Qur’an misalnya, setelah hampir sempurna ayat-ayat al-Qur’an diturunkan, turunlah ayat “… wa’amtu alaikum nikmati.” Dalam surat ar-Rahman juga disebutkan, ketika Allah mengingatkan tentang banyaknya nikmat karunia yang diturunkan, rahmat dan nikmat pertama yang disebut Allah SWT adalah arahman, ‘amalan al-Qur’an. Karenanya, ketika orang sudah mengenal dan meyakini bahwa kebenaran merupakan nikmat karunia Allah yang paling besar, ketika ia mengaplikasikan kebenaran itu akan merasakan nikmatnya.

Ini memerlukan proses pembiasaan yang panjang. Ketika sudah mengenal dan yakin sebagai nikmat Allah, akan merasakan sendiri kenikmatan itu. Ini  tergambar dalam ungkapan Sayid Qutub: “Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur’an Itu Nikmat”, sehingga tak bisa ditandingi oleh nikmat lainnya. Ketika memperjuangkan dan menegakkan kebenaran, akan muncul izzah (bangga) dengan kebenaran itu. Ketika melihat orang lain bergelut dengan dunianya, kita melihatnya ibarat anak-anak sedang berebut mainan.

Sifat inilah yang tertanam pada generasi awal sahabat Rasulullah saw hingga shalafus shalih. Sehingga, semangat mencari kebenaran, komitmen dengan kebenaran, dan mendakwahannya pada orang lain menjadi kenikmatan tiada tandingnya. Bahkan, kenikmatan memperjuangkan kebenaran Islam jauh lebih bernilai ketimbang kenikmatan materi dan harta benda. Ini tergambar pada kisah Shueb ar-Rummy.         
  
Seperti apa kisahnya?

Setelah Rasul saw hijrah ke Madinah, Syu’aib belum hijrah. Ia sahabat Nabi saw yang kaya raya. Selama di Makkah ia merasakan dua kenikmatan. Pertama, nikmat wahyu yang turun pada Rasulullah saw dan disampaikan pada para sahabat, ia selalu berinteraksi dengan Nabi saw. Kedua, kenikmatan materi, karena sukses berbisnis. Ketika Rasul saw hijrah ke Madinah, ia tidak menerima lagi wahyu karena terpisah dengan Nabi saw. Timbullah kegelisahan di hatinya. Ia pun memutuskan untuk segera hijrah.

Ia memahami, perjalanannya tidak mulus, pasti dihadang kaum Quraisy. Karena cintanya pada harta, ia menyimpan harta itu di tempat rahasia di dalam rumahnya. Ia juga menyiapkan seluruh perlengakapan persenjataan dan pasukan pengawal dalam jumlah besar. Prediksinya tepat. Di perbatasan Makkah–Madinah ia dihadang pasukan Quraisy. Syu’aib berkata, “Jika kalian tak melepaskan saya untuk hijrah ke Madinah, saya akan gunakan seluruh kekuatan senjata yang saya miliki. Akan saya luncurkan semua anak panah yang saya bawa, biarlah terjadi apa yang terjadi. Apakah aku bisa menerobos atau mati.”

Sebelum pertumpahan darah terjadi. Syu’aib ingat pada harta yang ditinggalkannya di Makkah. Ia berkata, “Saya meninggalkan harta kekayaan di Makkah, jika kalian bebaskan saya pergi ke Madinah, ambillah harta benda itu sebagai gantinya.” Kaum Quraisy yang memang mengejar materi, setuju dengan tawaran ini. Syu’aib pun melenggang menuju Madinah, menjemput kenikmatan hakiki: mendengarkan setiap wahyu Allah SWT yang diturunkan pada Rasul saw.

Jadi, ketika memperjuangkan kebenaran sudah menjadi kenikmatan, nikmat lainnya mudah dikorbankan?

Betul. Kehausan dan kerinduan Syu’aib terhadap wahyu Allah SWT, yang selama di Makkah bisa ia nikmati dari penjelasan Rasul saw, membuat ia rela melepas seluruh kenikmatan materi dan harta benda yang dicarinya dalam bisnis dan perdagangan. Mewujudkan kader dan aktivis dakwah seperti ini perlu proses pengenalan, pemantapan, dan pembiasaan yang panjang. Rasul saw sendiri, melakukannya sejak di Makkah, Madinah, hingga ajal menjemput. Hijrah ke Madinah, juga merupakan proses panjang untuk mengenalkan, memantapkan, dan membiasakan umat Islam berjuang menegakkan kebenaran dalam komunitas yang kondusif.

Ini diisyaratkan Allah SWT dalam ayat, “Yaa ayyuhaladzina aamanuu idzaa qiila lakum tafassahuu fil majaalisi fafsahuu yafsahillahulakum wa idzaa qiilansyuuzuu fansyuuzuu, yarfa ’illahulladzina aamanu minkum waladziina uutul’ilma darajaat.” Allah SWT akan mengangkat orang-orang yang uutul ‘ilma. Orang beriman dan dianugerahi ilmu akan diangkat derajatnya. Ia memiliki izzah (kebanggaan). Tapi derajad itu tidak diperoleh dengan instan. Sering ayat ini dikutip ujungnya saja: “Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu ke tempat yang tinggi,” tapi prosesnya tak disebutkan. Padahal, awal ayat ini menegaskan, “Kalau dikatakan kepadamu hadirilah majelis-majelis ilmu, hadirlah.” Bahasa pesantrennya, “Kalau diberitahu untuk ngaji, ngajilah. Tarbiyah, tarbiyahlah. Niscaya akan bertambah ilmu, keimanan, dan derajadmu.”

Untuk mempercepat pengenalan, pemantapan, pembiasaan, keyakinan, dan kenikmatan memperjuangkan kebenaran, apa faktor utamanya?

Yang paling utama adalah qudwah (keteladanan). Pada masa Rasulullah saw, qudwah itu datang dari Nabi saw sendiri. Pada periode sesudahnya, datang dari para sahabat hingga para anbiyaa’. Yang dibutuhkan bukan bagaimana menguasai ilmu secara teoritis. Jika sebatas ini yang akan diperoleh hanya kenikmatan tamaththu’ al ‘ilm, kesenangan sekadar teoritis. Tapi bagaimana caranya agar tamaththu’ al ‘ilm ini menjadi tamaththu’ al ‘amali. Jadi, bukan seperti orang membaca kemudian merasakan kenikmatan membaca. Tapi kenikmatan dengan aplikasi. Ini bisa diraih dengan keteladanan.

Dalam dakwah dikenal al-qudwatu qobla ad-da’wah, keteladanan terlebih dulu baru kemudian mengajar dan mentarbiyah dengan keteladanan itu. Itulah cara Rasul saw mentarbiyah para sahabat. Laqod kaana lakum fi Rasulullahi uswatun hasanah. Dalam banyak hal, Rasul saw menyerukan pada umat Islam untuk meniru perilaku beliau. Shalluu kamaa raitumunii ushallii, shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat.

Meski teksnya tentang shalat, tapi sebetulnya untuk segala perilaku. Berperilakulah seperti aku berperilaku. Berakhlaqlah seperti akhlaqku. Bermu’amalah kamu seperti aku.

Karena adanya keteladanan dari Nabi saw, para sahabat semakin mendekat dan bertambah cinta pada Rasul saw. Berbeda dengan kekinian, dari sisi bicara menarik, argumentasinya kuat, tapi ketika kita dekat, ternyata belang juga, hanya konsep saja. Ketika bermua’malah kita dikecewakan. Contoh lain, banyak non Muslim ketika membaca konsep Islam mereka tertarik. Tapi ketika melihat perilaku orang Islam termasuk tokoh Islam, akhirnya kecewa. Ternyata, Islam yang dilihat pada tokoh-tokoh tadi berbeda dengan konsep Islam yang ia baca. Disinilah perlunya keteladanan.

Keteladanan memerlukan pengamalan?

Betul. Tidak ada keteladanan tanpa pemahaman sekaligus pengamalan. Pada suatu malam, Rasul saw mendengar dentuman keras. Para sahabat yang bersama Nabi saw, blingsatan lari. Dalam kondisi ini, Rasul saw justru mengejar sumber suara itu. Tidak seperti jendral sekarang, adanya di belakang, bahkan di belakang meja, bukan di garis depan memimpin perang. Setelah beberapa saat, para sahabat ikut mendekat ke sumber suara. Ketika bertemu Rasul saw, Nabi mengatakan, “Tidak ada apa-apa.”

Dalam berbagai aspek kehidupan, ta’abbudi, ijtima’i, ritual, sosial, berjuang dengan harta, jiwa raga, dan lainnya. Nabi saw selalu terdepan dalam memberikan qudwah. Ketika qudwah sifatnya menyeluruh, mereka yang terbina melalui qudwah itu, juga akan mempunyai sifat dan perilaku yang mirip dengan kequdwahan itu. Karenanya, ketika Islam diaplikasikan dalam bentuk amal dan sikap, akan muncul kenikmatan. Nikmat dalam mengamalkan. Jadi, bukan saja nikmat mendapat pahala dan ampunan, tapi di dunia ini pun sudah merasakan kenikmatan. Nikmat inilah yang semakin meningkatkan militansi dalam berjuang.

Sekarang justru terbalik, ketika dakwah kian berkembang, keteladanan dan militansi justru mengendor?

Tak boleh mengendor, ketika dakwah dan tarbiyah kian berkembang massif, justru perlu ditingkatkan militansinya. Termasuk mereka yang diberi amanah di eksekutif, legislatif, yudikatif, dan jabatan apapun dalam mengelola negara serta lembaga-lembaga di masyarakat. Mereka harus mampu menjadi qudwah dan terus meningkatkan keteladanannya. Misal, Islam mengajarkan laisa minna man lam yarham shaghirana walaa kabiirana, bukan golongan kita yang tidak menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati yang lebih tua. Ini harus diterapkan dalam bermasyarakat, sehingga orang tak hanya tertarik pada konsep Islam, tapi lebih tertarik pada aplikasi Islam yang dirasakannya secara langsung.

Inilah yang terjadi pada masa Rasul saw. Dalam membina sahabat generasi awal di Madinah, orang lebih tertarik pada Islam karena proses mu’amalah. Bagaimana nilai-nilai Islam diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Wa raitannaas sayadkhuluuna fi diinillahi afwajaa, kamu lihat orang akan berbondong-bondong masuk Islam, karena merasakan sendiri nikmatnya berislam. Problem sekarang, dijelaskan secara teoritis orang akan kagum pada Islam. Tapi dari sisi aplikasi masih harus ditingkatkan, sehingga orang akan merasakan nikmatnya Islam ketika berinteraksi dengan orang Islam, terlebih dengan tokoh-tokoh Islam.

Apa yang mendorong orang bisa memberikan Qadwah?

Pertama, pemahaman dan keyakinan terhadap kebenaran Islam. Kedua, adanya azaam, iradah, tekad. Keduanya bisa menguat dan mengendor. Mengendornya semangat memperjuangkan dan mengamalkan qadwah juga karena dua faktor. Pertama, karena subhat, termasuk subhat pemikiran. Misalnya, masih ada dalam pikirannya bahwa materi dan harta bisa membahagiakan, sehingga yang digeluti di dunia semata-mata untuk mencapai kebahagiaan materi. Kedua, hawa nafsu, syahwat. Bentuknya, bisa syahwat malia, riasiah, jabatan, materi, dan lainnya. Syahwat materi itu sangat dasyat tarikannya. Sekapasitas Khalifah Abu Bakar pernah menangis karena tarikan syahwat materi ini.

“Suatu kali Abu Bakar dihidangkan makanan menarik dan mewah. Abu Bakar diam dan merenung, kemudian menangis di hadapan sahabat. Abu Bakar berhenti dari nangisnya, diam sesaat, tapi menangis lagi. Abu Bakar diam lagi dan menangis lagi. Setelah diam dan tenang beberapa saat, para sahabat bertanya keheranan, kenapa menangis? Abu Bakar berkata, “Saya teringat ketika berdua dengan Rasul saw. Tiba-tiba, Rasul saw mendorong sesuatu dengan keras, padahal dalam penglihatan Abu Bakar di sekitar Nabi saw tidak ada siapa-siapa, kecuali dirinya. Ketika mendorong itu, Nabi saw berkata “Ilaika Ana” (Menjauhlah kamu dari ku). Akhirnya, Rasul saw bercerita pada Abu Bakar: “Wussila, lihat dunia. Baru saja, aku diperlihatkan melimpahnya materi dan kesenangan dunia. Materi dan kesenangan dunia itu mencoba menggodaku, maka aku mengusirnya.” Tapi, materi dan kesenangan dunia itu balik menghampiri Rasul saw sambil berkata, “Jika kamu bisa lepas dari belitan saya, tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari belitan saya sesudah kamu.”

Apalagi kita yang saat ini hidup di pusaran arus materialisme?

Kita yang hidup dalam arus materialisme harus menyadari bahwa tarikan materialisme, harta benda, dan kosumerisme bisa muncul dari dari dalam diri sendiri, istri, anak-anak, keluarga, orang tua, lingkungan sekitar, tetangga, pergaulan, lingkungan kerja, dan lainnya. Inilah yang disebut syahwat. yang berperan mengendorkan azzam (tekad) dalam berjuang. Jika orientasinya sudah ke dunia dan materi, pasti semangat perjuangannya kendor. Padahal, logikanya,  orang yang ikhlas berjuang di jalan Allah, balasannya luar biasa. Allah langsung membalas saat itu juga. Jadi, penyebab utama mengendornya keteladanan untuk berjuang di jalan Allah adalah syubhat pemikiran.

Meraih kekuasaan tanpa memperhatikan proses dan caranya, apakah termasuk subhat pemikiran?

Betul. Saat ini banyak yang berpikir, yang penting berkuasa dulu, caranya halal tak halal tidak apa-apa. Tapi ketika sudah berkuasa tidak juga memperjuangkan kebenaran dan berusaha menjadi qudwah bagi komunitasnya apalagi masyarakat luas. Rupanya, di tengah jalan ketagihan dengan nikmat kekuasaan yang menjanjikan berlimpahnya materi dan harta benda. Padahal, innallaha thoyiibun la yaqbalu illa thoyyibah, bukan saja tujuannya yang harus kita capai, tapi prosesnya juga harus benar sesuai kaidah Rasul saw dan Allah SWT. Jika dalam prosesnya sudah terkena syubuhat, otomatis militansi untuk berjuang tidak akan tumbuh. Inilah dua faktor yang mengendorkan militansi ber-qudwah dan berjuang, yakni syubuhat dan syahwat.

Seperti kisah Thalut?

Betul. Dalam perjalanan menghadapi lawan, Allah SWT mengingatkan: Innallaha mubtaliikum binnahar, Allah akan uji kamu dengan sungai. Di padang pasir, sungai itu nikmat sekali. Dalam konteks sekarang, dalam perjuangan bisa saja tiba-tiba di hadapannya tinggal bilang “iya”, uang, materi, dan harta benda datang seketika. Nahar saat ini bentuknya seperti itu, tiba-tiba di hadapannya bergelimang materi. Allah menguji kamu, binnaharin. Barang siapa yang minum, falaisa minni, dia bukan golongan-Ku. Wa man lam yath’amhu, kalau dia tidak minum. Fainnahu minni illa manightarofa ghurfatan biyadihi, kecuali satu ciduk tangan itu golongan-Ku yang akan memperoleh kemenangan.

Ketika melihat sungai, lebih banyak yang minum. Akhirnya, dalam berjuang orang yang minum banyak, la thoqota lanaa bijaluuta wa junuudihi, tidak sanggup menghadapi lawan karena kekenyangan. Inilah cara Allah SWT memberikan penjelasan soal ini. Karena materi, harta, uang adalah hambatan paling besar dalam berjuang menegakkan Islam bagi kita yang hidup di tengah-tengah arus materialisme.

Bagaimana cara mengendalikan syahwat dan syubuhat pemikiran itu?

Ini diisyaratkan Allah SWT: “Wa amma man khaafa maqama rabbihi wa nahannafsa ‘anil hawa fainnal jannata hiyal makwaa.” Orang yang takut pada Allah SWT, yang bisa mengendalikan gejolak syahwat dan syubuhat itu. Syahawat kekuasaan, jabatan, materi, dan lainnya bisa ditekan jika takut kepada Allah SWT. Ini terkait dengan hati. Bedanya memang tipis, karena faktanya kita juga memerlukan materi. Tapi persoalannya, bagaimana caranya agar materi ini tidak berada di dalam hati kita. Hati kita ini ma’allahi. Yang negative bukan hartanya tapi beralihnya hati kita dari mengingat Allah SWT. Tipis bukan bedanya?
Contoh, pedagang yang sudah berkomitmen dengan syariat Islam. Ia terbiasa setiap menjelang jam 12.00 menutup tokonya untuk shalat Dzuhur. Bisa jadi, ujiannya ada peluang bisnis dengan untung gede datang menjelang azan. Akhirnya, kita mulai beralasan, Dzuhur waktunya panjang, padahal dalam shalat ada waktu afdhal dan waktu mubah. Umar bin Khatab mengatakan, shalat adalah kewajiban yang paling wajib. Jika shalat saja sudah meremehkan apalagi kewajiban yang lain. Jika yang paling wajib saja tergeser-geser dan dikesampingkan, kewajiban yang lain akan lebih mudah menyepelekannya.

Jadi yang berbahaya, jika hati dan pikiran sudah beralih pada cinta materi bukan pada Allah SWT?

Betul. Yang berbahaya jika hati dan pikiran kita beralih kepada cinta materi bukan lagi pada Allah SWT. Ini akan membuat kita lalai. Jangan sampai harta mendominasi hati dan pikiran kita sehingga tidak ingat lagi kepada Allah SWT. Padahal, nikmat karunia yang diberikan Allah SWT kepada kita dalam bentuk materi, harta benda, dan kekayaan sebenarnya bisa meningkatkan iman dan komitmen kita dalam berjuang. Makanya Rasul saw berkata, “Ni’mal maal shalih ‘inda rajulin shalih, sebaik-baik harta berada di tangan orang yang shalih. Dalam hadist lain dikatakan, “Tidak boleh hasad kecuali dua. Pertama, orang diberikan al-Quran, diamalkan siang malam. Kedua, orang diberikan harta, dia infakkan siang malam.” Jadi, bukan mencari harta siang malam, tapi bagaimana harta itu menjadi sarana untuk beramal. Terkait hal ini, Abu Bakar selalu berdoa: Allahummaj’ali dunya fii aidinaa wa laa taj’al fii quluubinaa, ya Allah jadikanlah dunia dalam genggaman kami, tapi jangan di hati kami. Biarlah hati kami bersama Allah Azza wa Jallah.

Data Pribadi:

Nama                     : KH Hazib Hasan Lc
Tanggal lahir           : Jakarta, 5 Maret 1957
Pendidikan             : S1 Fakultas Usuludin Jurusan Tafsir Al-Qur’an UIN Jakarta
Aktivitas                 : - Ketua Yayasan Al-Hikmah Mampang, Jakarta Selatan.
 - Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur’an Mulia, Puspitek, Serpong, Tangerang, Banten.  
                                 - Pendiri Pesantren Qur’an Terpadu Al-Hikmah, Desa Brobos, Kecamatan Dukuh Puntang, Cirebon, Jawa Barat.
Anak                      : Delapan (8), Laki-laki lima (5), perempuan tiga (3).

http://sabili.co.id/wawancara/kh-abdul-hasib-hasan-lc-menumpas-kezaliman-itu-nikmat

0 comments: