A Necessary Evil Bernama Pasar...

Filed under: by: 3Mudilah

Salah satu tempat yang paling dibenci oleh Allah di muka bumi ini adalah pasar, hal ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Lokasi yang paling Allah cintai adalah masjid, dan Lokasi yang paling Allah benci adalah pasar." (Shahih Muslim, 1076).  Tetapi sepintas mungkin nampak ironi, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bahkan juga mendirikan  pasar bagi kaum muslimin. Mengapa demikian ?.

Inilah apa yang dalam istilah modern disebut a necessary evil, yaitu bisa jadi suatu hal itu banyak ke burukannya – tetapi keberadaannya diperlukan. Justru disinilah letak sempurnanya agama ini, bahkan untuk mengatasi atau mengelola tempat yang paling dibenci Allah-pun ada tuntunanannya.

Allah dan RasulNya tentu lebih mengetahui mengapa pasar menjadi tempat yang dibenci olehNya, tetapi bisa jadi ini karena di pasar pada umumnya banyak sekali penipuan, pengelabuhan, pengurangan timbangan, sumpah palsu dan berbagai kecurangan lainnya.

Bila pasar di artikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, maka ‘pasar’ yang paling dibenci Allah tersebut –pun kini  menjadi sangat luas cakupannya. Karena banyak sekali kebutuhan kita sekarang yang tidak lagi kita beli di ‘pasar’ dalam arti fisik. Kita bisa membeli kebutuhan kita atas barang atau jasa  lewat internet, lewat kantor-kantor perusahaan penyedia barang dan jasa tersebut atau bahkan salesman-nya yang datang ke rumah-rumah kita untuk menjajakan produknya.

Lantas apakah tempat-tempat ‘jualan’ yang kini  termasuk kantor atau juga rumah-rumah yang dijadikan tempat usaha tersebut juga menjadi tempat yang dibenci Allah ?. Bisa jadi bila di dalamnya dilakukan berbagai penipuan, kecurangan dlsb.  Tetapi kita bisa belajar dari para sahabat beliau, yang tentu lebih paham makna dari hadits tersebut diatas dibandingkan dengan kita-kita di jaman ini.

Para sahabat beliau dari kaum anshar yang rata-rata aslinya memang pedagang di Mekah, tetap melakukan jual beli di pasar sampai akhir usianya kecuali yang mendapatkan tugas-tugas khusus seperti menjadi khalifah, gubernur dlsb. Bahkan sebagian sahabat ini-pun dijamin masuk surga seperti sahabat yang super kaya melalui kepandaiannya berdagang di pasar yaitu  Abdur Rahman Bin ‘Auf.

Jadi untuk selamat dari ‘tempat terburuk’ yang berupa pasar ini kita bisa belajar dari para sahabat dalam menyikapi hadits ‘peringatan’ seperti tersebut diatas. Tidak serta merta kita jauhi pasar, karena bila ini yang dilakukan – maka pasar akan dikuasai kaum yang lain yang malah bisa merugikan umat secara keseluruhan.

Sebaliknya kita juga harus mencontoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam mendirikan pasar ini – bahwa umat ini harus memiliki pasarnya sendiri, sehingga bisa terbangun didalamnya budaya jual beli yang syar’i dan mendatangkan barakah, dan terbebas dari ketergantungan terhadap pasarnya ‘yahudi’.

Begitu detilnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajari umatnya untuk bisa memperoleh beribu-ribu kebaikan, terhapusnya beribu-ribu  keburukan dan terangkatnya kedudukan beribu-ribu derajat  - bahkan dari tempat yang dibenci oleh Allah sekalipun yaitu pasar ini. Beliau-pun mengajari kita untuk berdo’a sebelum memasuki pasar melalui sabdanya :

"Barangsiapa yang memasuki pasar lalu mengucapkan; LAA ILAHA ILLAALLAH WAHDAHU LAA SYRIKALAH LAHUL MULKU WA LAHL HAMDU YUHYI WA YUMIT WA HUWA HAYYUN LAA YAMUT BIYADIHIL KHAIR WA HUWA 'ALA KULLI SYAI`IN QADIR (Tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan pujian. Dia Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, Dia Hidup dan tidak mati, seluruh kebaikan ada di TanganNya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu). Maka Allah akan mencatat beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat." Ketika aku tiba di Khurasan dan bertemu dengan Qutaibah bin Muslim, aku berkata; Aku datang kepadamu membawa sebuah hadiah, lalu aku menceritakan hadits itu kepadanya. Ia pun segera mengendarai tungganganya dan menuju ke pasar. Ia berdiri dan membacanya, kemudian kembali pulang. (Sunan Darimi , Hadits no 2576).

Hadits ini meng’inspirasi saya, bahwa suatu saat kelak ketika Bazaar Madinah telah meluas dan ada di mana-mana, di pintu-pintunya ada tulisan besar yang isinya do’a untuk memasuki pasar tersebut. Dengan demikian beribu-ribu orang akan memperoleh “ ...beribu-ribu kebaikan untuknya, menghapus beribu-ribu keburukan darinya dan mengangkat kedudukannya beribu-beribu derajat...”.

Bila di pasar saja orang bisa memperoleh kebaikan, tentu di tempat yang paling Allah cintai – Masjid akan lebih banyak lagi kebaikannya. Maka mengikuti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pula, pasar atau bazaar-bazaar yang kita dirikan nantinya tidak terlalu jauh dari masjid agar orang tidak lalai dengan jual beli atau perniagaannya, tidak terlalu dekat pula – agar keramaian atau kebisingan pasar tidak mengganggu aktifitas masjid.

Bazaar Madinah yang pertama yang kami dirikan di Depok berada dalam radius beberapa ratus meter dari 3 Masjid dan dua surau sekaligus, dengan demikian kami berharap para lelaki (rijal) yang beraktifitas didalamnya masuk kategori “laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.”  Amin.(QS 24:37)

Oleh Muhaimin Iqbal   
http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=599:a-necessary-evil-bernama-pasar&catid=38:syariah&Itemid=89


Dan Nabi-pun Mendirikan Pasar...

Salah satu yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW setelah hijrah ke Medinah yang kemudian membuat perubahan besar dalam penguasaan ekonomi adalah konsep bahwa bekerja adalah Ibadah. Melalui konsep inilah kaum Muhajirin yang berhijrah mengikuti Rasulullah SAW tanpa membawa harta -pun segera menjadi asset bagi umat  dan bukannya liability - karena mereka dapat mengoptimalkan kemampuannya baik dalam kegiatan produksi maupun kegiatan perdagangan.

Digambarkan dalam sejarah bahwa setelah Hijrahnya Rasulullah SAW dan para pengikutnya, bumi-bumi yang semula gersang-pun kemudian terolah menjadi kebun-kebun yang subur dan taman-taman yang indah. Karena konsep bekerja adalah ibadah pula, maka hal-hal positif yang terkait dengan peribadatan seperti keadilan, kejujuran, kesetaraan, kehati-hatian, kebersahajaan, infaq dlsb. dapat termanifestasikan dalam kehidupan umat sehari-hari ketika mereka bekerja.

Awalnya tentu tidak mudah karena ketika kaum Muhajirin mulai aktif berdagang di Madinah misalnya, mereka berdagang di pasar yang sudah ada waktu itu yaitu pasar yang di kelola oleh yahudi. Pengelolaan pasar oleh yahudi yang di Al-Qur’an digambarkan bahwa mereka menganggap halal untuk mengambil harta orang lain ini (orang-orang umi , QS 3:75), tentu saja bermasalah.

Oleh karena penguasaan pasar oleh kaum  yahudi tersebut pula maka umat Islam semula tidak bisa sepenuhnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam di pasar – maka kemudian Rasulullah SAW-pun memandang penting untuk segera mendirikan pasar bagi kaum muslimin di awal-awal terbentuknya masyarakat yang akan hidup dengan nilai-nilai Islam yang menyeluruh di Madinah.

Di suatu tempat yang berjarak hanya beberapa rumah arah barat laut dari Masjid Nabi - yang telah didirikan terlebih dahulu, Rasulullah mendirikan pasar dangan sabdanya “Ini pasarmu,  tidak boleh dipersempit (dengan mendirikan bangunan dlsb. didalamnya) dan tidak boleh ada pajak didalamnya”. (HR. Ibn Majah).

Pasar di area terbuka ini memiliki panjang sekitar 500 meter dan lebar sekirat 100 meter (luas sekitar 5 ha), jadi cukup luas untuk mengakomodasi kebutuhan penduduk kota yang kemudian berkembang pesat – paska Hijrah. Lokasinya juga dipilih sedemikian rupa sehingga penduduk yang datang dari berbagai wilayah – mudah mencapai pasar tersebut. Pasar Madinah inilah yang kemudian menjadi urat nadi perekonomian negara Islam yang pertama, yang berpusat di Madinah.

Lokasinya yang tidak jauh dari Masjid Nabi tetapi juga tidak terlalu dekat (selang beberapa rumah) juga memiliki nilai strategis sendiri. Nilai-nilai yang terbawa dari ketaatan beribadah di masjid dapat mewarnai aktifitas perdagangan di pasar, namun hal-hal yang buruk dari pasar seperti keramaiannya tidak mempengaruhi aktifitas dan kekhusukan umat yang beribadah di masjid.

Bahkan cara-cara pengelolaan pasar-pun memiliki kemiripan dengan pengelolaan Masjid. Hal ini disampaikan oleh Umar Ibn Khattab yang menjadi Muhtasib – pengawas pasar – setelah Rasulullah SAW dengan perkataaannya bahwa “Pasar itu menganut ketentuan masjid, barang siapa datang terlebih dahulu di satu tempat duduk, maka tempat itu untuknya sampai dia berdiri dari situ dan pulang kerumahnya atau selesai jual belinya”.

Nilai pesan yang terkandung didalam perkataan Umar ini sejalan dengan hadits Nabi SAW tersebut diatas yang intinya adalah akses ke pasar harus sama bagi seluruh umat; tidak boleh meng-kapling-kapling pasar. Hal ini diimplemantasikan Umar dengan melarang orang membangun bangunan di pasar, menandai tempatnya, atau mempersempit jalan masuk ke pasar. Bahkan dengan tongkatnya Umar  menyeru “enyahlah dari jalan” kepada orang-orang yang menghalangi orang lain masuk ke pasar.

Lantas pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sunah Rasulullah SAW mendirikan pasar – yang kemudian juga terus ditegakkan oleh para Khalifah  tersebut diatas ?.

Yang jelas situasi pasar-pasar yang ada dewasa ini tidak jauh berbeda dengan kondisi pasar di Madinah yang dikelola yahudi sebelum didirikannya pasar bagi kaum muslimin oleh Rasulullah SAW tersebut diatas. Segala macam kecurangan  a la yahudi terjadi di pasar kini, dan yang paling menyolok adalah akses pasar yang tidak mudah dijangkau oleh mayoritas umat.

Di Jabodetabek misalnya, Anda bisa membuat baju-baju yang indah dan makanan-makanan yang enak. Tetapi tidak berarti Anda dengan mudah bisa menjualnya ke pasar. Untuk menyewa tempat di mall atau food court pada umumnya sangat mahal – sehingga hanya bisa dijangkau segelintir orang saja – yang justru sudah kaya.

Bila Anda berusaha jualan di tempat-tempat terbuka, di pinggir-pinggir jalan – maka bila tidak digusur oleh tramtib atau Satpol PP – Anda akan menjadi buan-bulanan para preman, tukang amen, pengemis dlsb. Walhasil, kesejahteraan umat secara luas – sulit sekali diangkat karena antara lain terbatasnya akses ke pasar ini.

Maka selain perjuangan-perjuangan lainnya seperti perjuangan melawan riba, ketidak adilan ekonomi dan sejenisnya , kini saatnya para pejuang ekonomi Islam juga harus mulai memperjuangkan pasar bagi kaum muslimin ini.

Tentu juga tidak mudah, dan juga tidak langsung sempurna seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan Para Khalifah tersebut diatas, tetapi langkah menuju kesana harus ada yang memulai.
 
Pasar MadinahPasar Madinah
Dengan semangat mengikuti jejak Nabi tersebut diataslah, kami – Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin (PWDM) – ingin mulai melangkah merintis embrio terwujudnya pasar bagi kaum muslimin  ini dengan proyek-proyek yang kami sebut Pasar Madinah, Medina Market atau Suq Al- Madinah. Pemilihan nama ini adalah wujud kerinduan kita semua – akan lahirnya umat yang makmur – mengikuti sunah-sunah Nabi SAW termasuk dalam hal mendirikan dan mengelola pasar.

Kami tahu, beberapa pihak juga telah mulai melakukannya lebih dahulu – sama sekali tidak bersaing dengan apa yang telah mereka rintis, tetapi pendekatan yang kami lakukan memang akan agak berbeda. Ini hanya perlombaan dalam kebajikan – fastabihul khairat, semoga memberi manfaat yang maksimal bagi umat kedepan.

Bagi yang tertarik untuk terlibat dalam project-project Medina Market ini, brosur yang lebih detil dari tulisan ini dapat di download disini.

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita pada amal yang diridloiNya...


 http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=475:dan-nabi-pun-medirikan-pasar&catid=34:enterpreneurship&Itemid=86


Belajar Berdagang : Job Security Untuk Kita Semua...
Ketika baru tamat sekolah, rata-rata kita dan orang tua kita sangat berbahagia bila kita langsung dapat bekerja di perusahaan atau institusi ternama. (Calon) Mertua kita-pun merelakan anaknya kita nikahi – karena rata-rata (calon) mertua merasa nyaman bila sang (calon) menantu sudah bekerja. Sebaliknya orang tua maupun (calon ) mertua rata-rata tidak merasa nyaman bila kita tidak berusaha mencari  ‘kerja’ melainkan belajar usaha sendiri misalnya. Fenomena ini terjadi karena ilusi kemapanan yang yang tercipta oleh pemahaman yang tidak sepenuhnya benar tentang kemanan pekerjaan atau job security.

Pemahaman umum bahwa perusahaan besar atau institusi ternama lebih mampu memberikan job security – tidak sepenuhnya atau selamanya benar. Tahukah Anda bahwa bila karir Anda menanjak dengan cepat, ini juga bisa berakibat Anda kehilangan pekerjaan dengan cepat ?. Kok bisa ?.

Ambil contohnya adalah bila Anda seorang karyawan, kemungkinan besarnya Anda ingin secepatnya naik pangkat dan menjadi direksi. Justru ketika Anda mencapai cita-cita Anda menjadi direksi inilah Anda kehilangan job security yang diidamkan oleh orang tua dan mertua tersebut diatas. Rata-rata direksi bekerja dengan kontrak 3 s/d 5 tahun per periode-nya, mereka bisa menjabat rata-rata sampai dua periode. Maka ketika seorang karyawan mencapai posisi direksi, dia harus siap kehilangan pekerjaannya dalam rentang waktu 6 s/d 10 tahun lagi paling lama.

Di banyak BUMN atau institusii yang berbau politis, kadang waktu untuk pensiun dari direksi tersebut bisa jauh lebih cepat lagi. Di hari-hari pertama saya diangkat jadi direksi di lingkungan anak perusahaan BUMN terbesar negeri ini, saya bersama seluruh jajaran direksi lain sudah dipanggil DPR. DPR di awal reformasi waktu itu nampaknya bisa setiap saat memanggil direksi BUMN dan anak-anak perusahaannya kapan saja untuk urusan apa saja.

Walhasil di hari-hari pertama menjabat-pun kami sudah diancam akan dipecat oleh fraksi yang waktu itu nampaknya tidak menyetujui pengangkatan kami. Tekanan polistis semacam ini terus berlanjut, sehingga selama enam tahun saya menjabat di perusahaan tersebut ; rekan-rekan direksi mitra kerja saya yang lain terus diganti , ada yang dua kali diganti, tiga kali diganti bahkan ada yang empat kali diganti !. Ini menggambarkan betapa tidak amannya bekerja sebagai pimpinan di perusahaan yang mapan sekalipun.

Kalau begitu apakah berarti enakan jadi karyawan biasa saja sampai pensiun ?. Tidak juga demikian, meskipun realitanya sebagian terbesar karyawan akan tetap menjadi karyawan sampai pensiun – karyawan-karyawan cemerlang di setiap perusahaan atau institusi pasti bercita-cita ingin mencapai puncak karir di perusahaan atau institusinya. Disinilah letak paradox-nya, justru ketika dia benar-benar mencapai karir puncaknya – bisa jadi saat itu pula dia kehilangan job security-nya.

Bagi yang tetap menjadi karyawan sampai pensiun – juga jangan berharap terlalu banyak pada dana pensiun Anda. Sebagian terbesar pensiunan yang hanya mengandalkan dana pensiunnya menderita secara financial karena jerih payah dia bekerja sekian puluh tahun dan ditabung di dana pensiun terus tergerus inflasi – seperti membawa air di ember bocor.

Lantas bagaimana kita bisa menciptakan job security yang sesungguhnya, yang bisa kita nikmati sampai usia pensiun sekalipun ?. Job security ini justru ada di bidang usaha yang selama ini dipersepsikan paling tidak aman yaitu pengusaha atau lebih spesifiknya pedagang. Kok bisa ?.

Bila Anda bisa berdagang, Anda tidak perlu kawatir dengan pekerjaan Anda. Di jaman Rasulullah SAW, PD-nya para pedagang ini terwakili oleh kisah Abdur Rahman bin ‘Auf dibawah ini :

Telah bercerita kepada kami [Isma'il bin 'Abdullah] berkata, telah bercerita kepadaku [Ibrahim bin Sa'ad] dari [bapaknya] dari [kakeknya] berkata; Ketika mereka (Kaum Muhajirin) telah tiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mempersaudarakan 'Abdur Rahman bin 'Auf dengan Sa'ad bin ar-Rabi'. Sa'ad berkata kepada 'Abdur Rahman; "Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka hartaku aku akan bagi dua dan aku mempunyai dua istri, maka lihatlah mana diantara keduanya yang menarik hatimu dan sebut kepadaku nanti aku akan ceraikan dan apabila telah selesai masa iddahnya silakan kamu menikahinya". 'Abdur Rahman berkata; "Semoga Alah memberkahimu pada keluarga dan hartamu. Dimana letak pasar-pasar kalian?". Maka mereka menunjukkan pasar Bani Qainuqa'. Dia tidak kembali dari pasar melainkan dengan membawa keju dan minyak samin yang banyak. Lalu dia terus berdagang hingga pada suatu hari dia datang dengan mengenakan pakaian dan wewangian yang bagus. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bertanya kepadanya: "Bagaimana keadaanmu?". 'Abdur Rahman menjawab; "Aku sudah menikah". Beliau bertanya lagi: "Berapa jumlah mahar yang kamu berikan padanya?". 'Abdur Rahman menjawab; "Sebiji emas atau seberat biji emas". Dalam hal ini Ibrahim ragu jumlahnya yang pasti. (HR. Bukhari).

Abdur Rahman bin ‘Auf tidak tertarik dengan harta halal yang ditawarkan saudaranya, karena dia PD bisa mencarinya sendiri dengan cukup melalui perdagangan. Abdur Rahman bin ‘Auf kemudian tercatat dalam sejarah Islam menjadi orang yang amat sangat kaya di negeri yang baru  Madinah sampai akhir hayatnya – meskipun ketika dia berhijrah, dia tidak membawa hartanya yang dia tinggal di Mekah.

Bukan hanya kaya raya, dia juga termasuk salah satu Sahabat yang dijamin masuk surga. Artinya perdagangan yang dia lakukan sampai membuatnya kaya, tidak melanggar sedikit-pun ketentuan syariat agama ini. Sebab bila ada sedikit saja yang dia langgar, kemungkinannya dia tidak bisa dijamin masuk surga.

Belajar berdagang seperti yang dilakukan oleh Abdur Rahman bin ‘Auf tersebutlah yang perlu kita lakukan untuk memperoleh job security yang sesungguhnya. Yang perlu kita ketahui hanyalah dimana ada pasar, kemudian melihat apa-apa yang dibutuhkan orang di pasar. Bila kita bisa selalu memenuhi kebutuhan orang dipasar tersebut, itulah bisnis dan job security kita !.

Ingin belajar menerapkannya ?. Kita bisa belajar bersama dalam hal ini. Dalam waktu satu atau dua bulan dari sekarang, Bazaar Madinah yang saat ini sedang kami bangun model-nya di Depok insyaAllah akan siap beroperasi. Untuk yang pertama ini targetnya memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar dalam 4 kategori kebutuhan yaitu Sembako, Toiletries (sabun, pasta gigi dlsb), Komoditi Segar (sayur, buah, daging dlsb) dan Makanan Jadi.

Karena targetnya untuk melahirkan generasi seperti  Abdur Rahman bin ‘Auf – Abdur Rahman bin ‘Auf  jaman ini, maka kesempatan ini kami buka seluas-luasnya bagi yang serius ingin berdagang sesuai syariah. Bila ternyata yang berminat lebih dari kapasitas yang kami sediakan, maka akan dibuat giliran yang adil seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan tentang Bazaar Madinah.

Memang untuk yang pertama ini – melihat jenis barang dan pasar yang hendak dipenuhi kebutuhannya adalah spesifik di Depok, idealnya peluang pertama ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Depok dan sekitarnya. Tetapi bukan berarti masyarakat di daerah lain tidak bisa memanfatkan konsep ini, setelah model yang satu ini jalan – konsep yang sama insyaAllah bisa diterapkan dimanapun di Indonesia dengan cepat.

Bahkan untuk bangunan pasarnya sendiri, kini kita buat di pabrik composites kami sehingga mudah diinstall dengan cepat dimanapun. Sifat bangunan yang knock down seperti dalam ilustrasi dibawah, akan membuatnya feasible untuk dipasang di tanah sewa sekalipun.
 
BazaarComposites Bazaar Construction

Selamat datang generasi Abdur Rahman bin ‘Auf, inilah job security untuk kita-kita !. InsyaAllah.

http://geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=580:belajar-berdagang-job-security-untuk-kita-semua&catid=34:enterpreneurship&Itemid=86

0 comments: