Kesultanan Pelalawan (1761-1959)

Filed under: by: 3Mudilah

Berdasarkan sumber dari penulis asing, sejarah Kesultanan Pelalawan bermula pada tahun 1761 M. Sultan pertamanya adalah As-Syaidis Syarif Abdurrahman Facruddin atau yang dikenal dengan Marhum Kota. Sultan terakhirnya adalah As-Syaidis Syarif Harun bin Hasyim Fachruddin atau yang dikenal dengan Marhum Setia Negara yang memerintah pada tahun 1940-1959 M.

Kesultanan Pelalawan saat ini berada di wilayah kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. (Tengkoe Nazir, Sari Sejarah Pelalawan, 1984).

Pengaruh Islam

Dalam “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” yang berlangsung di Medan (1963), sebagian ulama dan para ahli sejarah Islam telah menyatukan pendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada Abad 1 Hijrah atau dalam Abad VII dan VIII Masehi, langsung dari Tanah Arab ke Pasai. Bukan tidak mungkin, para da’i yang berprofesi juga sebagai pedagang yang berasal dari Arab telah singgah dan menyeberangi Sungai Kampar. Sebab, dalam sejarah disebutkan bahwa sepanjang Sungai Kampar terdapat bandar-bandar dan pelabuhan-pelabuhan yang ramai, terutama dalam perdagangan lada dan emas. Dengan adanya Sungai Kampar inilah selanjutnya perkembangan Islam menyebar ke Kuantan, Rokan dan Minangkabau Sumatera Barat sekitar Abad XIII dan XV.

Petunjuk dan bukti bahwa Islam benar-benar sudah menjadi budaya masyarakat Pelalawan adalah adanya peninggalan kebudayaan yang bernafaskan Islam yang masih dipegang erat oleh masyarakat Pelalawan. Ulama yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di daerah Kesultanan Pelalawan adalah: 

1. Said Syarif Abdullah bin Jaafar bin idrus bin Abdullah bin Idrus berasal dari Hadramaut. Beliau adalah seorang ulama zuhud berpangkat waliyullah yang diutus dari Kekhilafahan Ustmaniyah. Wafat di Pelalawan pada tahun 1821 M dan dimakamkan di Mempusun Pelalawan.
2. Syaikh Mustafa Alkhalidy bin Marhum Muhammad Baqir Sungai Tabir Jambi yang belajar Islam dari Tanah Suci Makkah.

Syariah Islam: Sendi Aturan Masyarakat

Di bidang sosial kemasyarakatan, Islam tampak memberikan pengaruh atas setiap permasalahan yang dihadapi Sultan. Jika terkait dengan masalah yang mubah maka terlebih dulu diselesaikan dalam cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Setiap sultan yang telah mangkat atau wafat secara khusus diberi gelar khusus, yakni marhum, atau almarhum (yang dirahmati). Inilah beberapa ciri bagaimana syariah Islam dijadikan sebagai budaya dalam kehidupan bermasyarakat.

Di bidang hukum/peradilan, Islam menjadi pedoman utama. Hal ini terbukti dengan adanya satu gedung yang hingga saat ini masih ada yang khusus digunakan untuk menyidangkan perkara-perkara yang berkaitan dengan hudûd, jinâyât dsb. Gedung peradilan ini menjadi tempat penyelesaian seluruh masalah hukum; tidak dibedakan apakah itu hukum militer atau hukum sipil, ataupun hukum perdata atau pidana. Semua perkara diselesaikan dalam satu peradilan.

Di bidang pemerintahan, sebagaimana kesultanan lain di Nusantara, struktur pemerintahan Kesultanan Pelalawan tidak jauh berbeda. Struktur tertinggi adalah sultan, dibantu oleh 4 datuk sebagai wazir/pembantu (Datuk Angku Raja Lela Putera, Datuk bandar Setia Diraja, Datuk Laksemana Mangku Diraja, dan Datuk Kampar Samar Diraja). Masing-masing datuk memimpin dan mengurus wilayahnya masing-masing—kalau sekarang setingkat kecamatan.

Menurut Adat Melayu, oleh penulis asing selalu disebut Adat Tumenggung, orang-orang besar Kerajaan diangkat dengan atau tanpa permufakatan bersama Sultan, diberi gelar yang dianggap patut. Mereka dipercaya untuk memegang fungsi-fungsi penting seperti: Panglima Perang, Laksemana, Syahbandar, Bentara dan lain-lain. Struktur terkecil adalah kebatinan atau penghulu; berjumlah 29 (Tengkoe Nazir, Sari Sejarah Pelalawan,1984).

Hubungan Kesultanan Pelalawan dengan Khilafah Ustmaniyah

Hubungan Kesultanan Pelalawan dengan Khilafah Ustmaniyah sangat erat, seperti halnya Kesultahanan Malaka dengan Khilafah Ustamaniyah. Ketika terjadi perang melawan Belanda, Kesultanan Pelalawan mendapat bantuan meriam atau persenjataan langsung dari Kesultanan Mlaka atas Perintah Khilafah Ustmaniyah. Hal ini dinyatakan langsung oleh Tokoh atau Budayawan Riau, H. Tenas Efendi, ketika menjelaskan sejarah Kesultanan Pelalawan. Beliau merupakan keturunan Sultan Pelalawan. 
 
Hubungan lain yang dapat dilihat adalah dari pakaian resmi Sultan Pelalawan yang sama persis dengan pakaian resmi Sultan di Malaka dan Khalifah Ustmani di Istanbul Turki. Ini bukanlah sesuatu yang tidak disengaja. [Gus Uwik]

0 comments: