Rizal Darma Putra: “Cari Kolaborator AS Di Indonesia”

Filed under: by: 3Mudilah

Rizal_Darma_Putra
Cyber Sabili-Jakarta. Semua tahu WikiLeaks. Situs whistleblower yang dikomandani Julian Assange ini telah menghebohkan dunia, khususnya penguasa dan pemimpin di berbagai negara. Pasalnya, situs ini membocorkan ribuan data dan informasi rahasia, misi militer dan intelijen, serta nota diplomasi rahasia tentang kepentingan Amerika Serikat (AS) di berbagai belahan dunia.

Sebenarnya, bagi publik yang sudah “melek” dan “mengerti”, apa yang di-publish WikiLeaks merupakan “barang” lama yang sudah jadi rahasia umum. Jika kemudian WikiLeaks membukanya secara lebih gamblang, itu menjadi bukti yang kesekian kalinya sekaligus mempertegas pandangan sebagian publik dunia yang sudah “terdidik” dan “tercerahkan” terkait sepak terjang AS di berbagai penjuru dunia.

Karenanya, apa pun motifnya, apa yang dilakukan WikiLeaks memiliki nilai positif dan negatif bagi umat manusia, termasuk umat Islam. Salah satunya adalah untuk membuka dan mengidentifikasi kolaborator, komprador, atau antek AS di negara-negara Islam, termasuk Indonesia. Para komprador AS ini umumnya berada di lingkungan eksekutif, para diplomat RI di AS, anggota legislatif, aparat intelijen, kelompok bisnis dan sejumlah LSM. Lantas, siapa saja komprador AS di Indonesia?

Untuk mengetahui jawabannya, Wartawan Sabili Dwi Hardianto mewawancarai Rizal Darma Putra Sip MSi, Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI). Wawancara dilakukan menggunakan email, Kamis (30/12/2010), karena sosok yang popular menjadi narasumber bidang pertahanan, militer, intelijen, dan kajian strategis di beberapa media ini, sedang berada di Dubai, Qatar. Berikut petikannya:  

Untuk kepentingan apa AS harus menurunkan diplomatnya menggalih informasi tentang negara-negara Islam, seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, Yaman, Pakistan, termasuk Indonesia?

 Tugas diplomat tidak hanya menjalin hubungan yang baik di tempatnya bertugas, tapi juga menggali informasi sesuai dengan kepentingan nasional (national interest) negaranya masing-masing, termasuk para diplomat AS. Mengenai negara-negara Islam dan Indonesia yang banyak mendapat perhatian, sebagaimana tercermin dalam laporan WikiLeaks, karena negara-negara tersebut dianggap bukan mitra ideologis AS. Meski begitu, negara-negara itu sebagiannya merupakan aliansi strategis AS, seperti Arab Saudi yang menjadi mitra paling strategis AS di Timur Tangah dalam sektor energi sekaligus untuk menghadapi Iran. Sedangkan Indonesia, lebih dominan karena faktor kekayaan alam dan posisi geostrategisnya yang sangat menentukan di Asia Tenggara.

Dari puluhan ribu dokumen yang dimiliki WikiLeaks, yang terkait Indonesia mencapai 3.059 dokumen. Apa pentingnya Indonesia bagi AS?

 Seperti sudah disinggung di atas, secara resmi, Indonesia tidak terlibat dalam pakta pertahanan atau memiliki aliansi militer secara bilateral dengan AS, tapi secara politik dan ekonomi Indonesia diposisikan agar tetap berada dalam orbit AS. Semua ini karena besarnya kepentingan AS atas letak geostrategis dan kepentingan sumber daya alam Indonesia. Jadi, menjadi sangat wajar jika para diplomat AS ditugaskan membangun national interest AS di Indonesia. Mengenai banyaknya dokumen tentang Indonesia, karena setiap hari para diplomat diwajibkan mengirim laporan harian ke Washington. Kemudian, banyaknya kasus yang terjadi di Indonesia juga menjadi penyebab banyaknya dokumen tentang Indonesia, karena diplomat AS juga ditugaskan  memonitor kasus-kasus besar. Terutama, kasus yang berkaitan dengan kepentingan AS, seperti soal PT Freeport, HAM, kerjasama militer, terorisme, pemilu, dan lainnya.

Apakah kepentingan AS itu sebagai perwujudan dari hegemoni politik dan militer di dunia Islam, termasuk Indonesia?

Sebagai negara super power, tentu saja AS akan selalu mengimplementasikan national interest–nya sebagai perwujudan dari hegemoni global yang selalu dibangun, dipertahankan, dan diperluas cakupannya. Caranya, AS selalu memanfaatkan diplomat mereka di Kedutaan, Deplu, CIA, dan Militer sebagai faktor deterrence,  serta hubungan dagang dan investasi utk membangun dependensi ekonomi.


Ada yang berpendapat, apa yang dilakukan WikiLeaks termasuk “kejahatan sistemik” dan memiliki “agenda besar”, karenanya pemerintah dan masyarakat harus waspada agar tidak masuk dalam “perangkap skenario” dan “konflik politik”. Pandangan Anda?

 Judgement "kejahatan sistemik" terhadap WikiLeaks terlalu berlebihan dan terkesan paranoid. Lebih tepat dikatakan bahwa pemberitaan WikiLeaks berdampak sistemik karena mengungkapkan apa saja yang dilakukan oleh kolaborator AS dalam menjalankan agenda implementasi national interest AS melalui berbagai kedutaannya di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.


Jadi yang dilakukan WikiLeaks bukan kejahatan sistemik?

 Betul, bukan kejahatan. Yang justru harus diungkap lebih jauh adalah siapa saja yang menjadi kolaborator AS di berbagai negara, khususnya di negara-negara Islam, termasuk Indonesia.

Adakah agenda setting di balik pembocoran ribuan data rahasia oleh WikiLeaks ini?

Pembocoran yang dilakukan WikiLeaks dilakukan dengan bantuan "orang dalam" di pemerintah AS. Hal ini merupakan bagian dari pergulatan politik antara kelompok neo konservatif dengan kelompok liberal di Capitoll Hill. Pertarungan politik ini juga melibatkan lembaga-lembaga think tank strategis mereka masing-masing di AS. Karenanya, Julian Assange hanya sebagai salah satu pion dalam domestic power struggle di AS (dinamika perebutan pengaruh politik di internal AS). Jadi, agenda setting yang utama adalah pergulatan politik di internal AS. Jika kemudian berdampak secara internasional, itu hanya ikutan saja.

 Jika demikian, skenario seperti apa yang harus kita waspadai dari meluasnya dampak pemberitaan WikiLeaks?

Publik Indonesia jangan sampai terjebak pada propaganda untuk menutup akses informasi yang dibeberkan WikiLeaks. Pasalnya, isu "kerahasiaan" dan "kejahatan kebocoran informasi sistemik", justru merupakan isu untuk menutup akses informasi  atas keberadaan kolaborator AS di Indonesia. Karenanya, yang justru harus segera ditelusuri adalah siapa dan bagaimana para kolaborator AS di Indonesia itu menjalankan tugas bagi national interest AS.

Misalnya, apakah kolaborator AS di Indonesia bekerja melalui pembuatan UU di DPR yang mengakomodasikan kepentingan AS di berbagai sektor, seperti investasi, perdagangan, perburuhan, pertahanan-keamanan, dan lainnya? Atau, melalui kerjasama intelijen, misalnya dalam isu perang melawan terorisme. Contohnya, dalam penangkapan Umar al-Faruk yang langsung diserahkan pada CIA oleh BIN, dan lainnya.

Dengan tersebarnya informasi tentang perilaku para pemimpin negara-negara Islam ke ranah publik, apakah bisa menimbulkan konflik politik?

"Konflik" politik kemungkinannya bisa saja terjadi, terutama yang terkait dengan terungkapnya praktik-praktik para kolaborator AS di tiap-tiap negara. Apalagi, pada umumnya para kolaborator AS itu nota bene menempati posisi strategis di pemerintahan ataupun elit politik dan ekonomi di negaranya masing-masing.

Jika demikian, apakah yang dilakukan WikiLeaks hanya test the water  (provokasi Barat) untuk mengetahui siapa lawan mereka yang sebenarnya?

Kita jangan terlalu cepat menyimpulkan apa yang dilakukan WikiLeaks sebagai manuver negara-negara Barat. Menurut saya, terbongkarnya sejumlah kawat diplomatik oleh WikiLeaks, telah membuat khawatir para kolaborator AS di berbagai negara, khususnya para kolaboratos AS di negara-negara Islam atau yang berpenduduk mayoritas Islam. Para kolaborator AS, saat ini juga kaget dengan kian tajamnya pertarungan politik domestik di AS. Lantas, para kolaborator AS itu menggunakan sentimen anti barat dan western phobia, untuk menutupi kolaborasi mereka selama ini. Dengan cara mengatasnamakan untuk "melindungi" umat Islam, kedaulatan nasional, atau rahasia negara. Tokoh yang berteriak seperti ini patut diduga sebagai kolaborator AS di negaranya.

Siapa yang mengendalikan WikiLeaks?

Yang saya tau, WikiLeaks merupakan organisasi nir laba internasional yang bermain dalam pergulatan politik domestik di AS.

WikiLeaks juga dituduh sebagai gerakan teroris?

WikiLeaks bukan teroris. Kita justru harus waspada terhadap pihak-pihak yang mencoba menutup-nutupi akses informasi publik terhadap WikiLeaks dengan sentimen anti AS atau Barat. Bahkan, kita seharusnya memanfaatkan pergulatan politik domistik di AS itu dan bocornya informasi dari kawat diplomatik AS untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang selama ini menjadi kolaborator AS di negeri ini. Siapa saja mereka itu? Dan, apa saja yang mereka lakukan selama ini dalam berperan sebagai kolaborator AS di Indonesia.

Julian Assange sempat akan dijerat hukum. Ini rekayasa? 

 Julian Assange coba dijerat dengan dakwaan kejahatan sexual (yang bernuansa rekayasa), bukan soal pembocoran rahasia negara, oleh pemerintah Swedia. Dia dilepas sementara oleh kepolisian Inggris dengan uang jaminan, sambil menunggu proses pengadilan selanjutnya.

Apa manfaat yang bisa dipetik dari WikiLeaks bagi umat Islam?

Informasi yang dibeberkan WikiLeaks sangat bermanfaat dalam mengidentifikasi para kolaborator AS di negara-negara Islam, termasuk Indonesia. Terutama para kolaborator AS yang berada di lingkungan eksekutif, para diplomat RI yang berada di AS, anggota legislatif, aparat intelijen, dan kelompok-kelompok bisnis. Selain itu, informasi dari WikiLeaks juga bermanfaat untuk mengidentifikasi negara mana saja yang terlibat dalam konspirasi untuk menekan Indonesia atau menekan negara Islam tertentu. Contoh, kawat diplomatik yang bocor dalam pembicaraan antara pejabat Kemlu Cina dengan diplomat AS yang berkonspirasi untuk mengendalikan perekonomian Indonesia. Hal ini bisa menjadi info awal untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang berupaya menekan RI.

Apa yang harus dilakukan umat Islam agar tidak terombang-ambing oleh ledakan informasi seperti WikiLeaks ini?

Umat Islam harus mampu memperoleh informasi yang bisa di cross check kebenarannya dan mampu melakukan identifikasi atas informasi yang diperoleh itu. Kemudian, umat Islam juga jangan muda termakan oleh propaganda yang berupaya menutupi akses informasi. Sikap politik luar negeri RI yang bebas aktif jika dijalankan secara konsisten merupakan kebijakan yang tepat agar kita tidak terombang-ambing dalam pergulatan politik negara lain.

Bagaimana caranya agar umat Islam memenangkan “perang informasi” ini?

Selain melakukan seperti jawaban sebelumnya, umat Islam juga harus memiliki akses informasi yang luas dan dilindungi payung hukum. Misalnya, lembaga intelijen di Indonesia harus dapat diakses informasinya, berbagai risalah rapat, catatan operasi, hingga penggunaan anggaran juga bisa diakses informasinya sekaligus diawasi oleh DPR atau komisi "khusus" intelijen, sebagai implementasi pengawasan yang demokratis. Sehingga, dikemudian hari, instansi pemerintah atau pejabatnya tidak mudah berkolaborasi untuk national interest negara lain dengan imbalan tertertu.

Data Pribadi:
Nama                  : Rizal Darma Putra SIp MSi
Lahir                    : Jakarta, 15 April 1967
Organisasi            : Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (LESPERSSI), 2006–sekarang. Ketua International Strategic Study Forum (2000-2002).
Pelatihan              : The Relation Between Internal and External Security, Jakarta (November 2001). Conflict Resolution, Jakarta (Juli 2000). The Hague Appeal for Peace, Netherlands (Mei 1999). 

Majalah Islam SABILI No 11 TH XVIII

0 comments: