Ummat Islam Bukan Penonton

Filed under: by: 3Mudilah

Jika aktifitas dakwah berhenti, umat akan sakit batinnya. Yang ma’ruf (kebaikan yang dikenal) menjadi asing, dan yang munkar (perbuatan yang dibenci) menjadi merajalela. Sekalipun di dalamnya ada orang-orang yang menjaga kebaikan dirinya, rajin shalat, puasa, dzikir, tetapi mengabaikan tanggungjawab sosial, tegur sapa (dakwah). Akhirnya Allah menurunkan azab secara merata. Doa-doa yang kita panjatkan tidak didengar dan tak dikabulkan. Orang-orang jahat menduduki posisi penting di-backing mafia dan pemodal. Umar bin al-Khaththab mengkhawatirkan bencana ini dalam munajat-nya :

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ جِلْدِ الْفَاجِرِ وَعَجْزِ الثِّقَةِ
Aku berlindung kepada Allah dari kekejaman orang yang jahat dan lemahnya orang tsiqah (secara moral baik).
 
Rasulullah menegaskan, “Demi Tuhan yang diriku ini adalah dalam tangan-Nya, hendaklah kamu menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan kamu mencegah dengan sungguh-sungguh yang mungkar, atau dipastikan bahwa Allah akan menimpakan bencana-Nya ke atas kamu. Setelah itu kamupun berdoa memohon kepada-Nya, tetapi permohonanmu itu tidak dikabulkan-Nya lagi.” (HR at-Tirmidzi, dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu).

Yang dimaksud bencana, seperti dijelaskan hadits berikut :

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُوْدِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيْهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اِسَتَهَمُوْا عَلَى سَفِيْنَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِيْنَ فيِ أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوْا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوْا : لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فيِ نَصِيْبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوْهُمْ وَمَا أَرَادُوْا هَلَكُوْا جَمِيْعًا وَإِنْ أَخَذُوْا عَلَى أَيْدِيْهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيْعًا (رواه البخاري)
Perumpamaan orang yang berpegang teguh pada aturan Allah dan orang yang melanggarnya diibaratkan seperti penumpang sebuah kapal laut : ada yang berada diatas dan ada yang berada dibawah. Para penumpang yang berada dibawah harus mengambil keperluan air minum dari atas. Kemudian mereka berkata , “ Sebaiknya kami lubangi saja kapal bagian kami ini agar tidak merepotkan penumpang yang berada dibagian atas”. Jika tindakan mereka dibiarkan maka akan binasa semuanya. Jika mereka dicegah, niscaya selamatlah seluruh penumpang yang ada di dalamnya.” (HR al-Bukhari)
Jika dakwah itu dilakukan menunggu kesempurnaan diri, api syubhat (salah paham terhadap Islam) dan nafsu syahwat memanas, syetan-syetan akan bertepuk tangan, saking gembiranya "
(al-Hadits).

Dakwah yang dimaksud disini adalah usaha secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan (istimrar) merubah masyarakat dari kebodohan (jahalah)menuju pengetahuan (ma’rifah), dari pengetahuan menuju konsep (fikrah), dari fikrah menuju gerakan (harakah) dan dari harakah menuju hasil akhir dakwah (natijah) yaitu kemenangan Islam atas agama-agama yang lain, dan dari natijah menuju tujuan akhir (ghayah), yakni ridha Allah.

Membangun kehidupan yang Islami, dengan begitu adalah cita-cita dakwah kita. Tentu hal ini merupakan pekerjaan berat yang melelahkan phisik dan jiwa,  membutuhkan waktu yang panjang (QS at-Taubah : 43), melampaui umur individu dan umur generasi. Dan akan melewati jalan yang terjal, licin, curam, mendaki, tikungan tajam, dan batu karang.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلىَ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيْهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلاَّ خَمْسِيْنَ عَامًا (العنكبوت : 14)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun (satu milenium kurang lima puluh tahun)” (QS al-Ankabut : 14).

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia mengira bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap (gelap di perut ikan, di dasar laut dan di malam hari) : Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau, Maka Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” (QS al-Anbiya’ : 87).

Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita akan sunnatullah dalam dakwah :


الْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ : مُؤْمِنٌ يَحْسُدُهُ وَمُنَافِقٌ يَبْغَضُهُ وَكَافِرٌ يُقَاتِلُهُ وَشَيْطَانٌ يُضِلُّهُ وَنَفْسٌ تُنَازِعُهُ - الحديث 

“Orang mukmin senantiasa berada di antara lima ancaman berat : (1) mukmin yang mendengkinya, (2) munafiq yang membencinya, (3) kafir yang memeranginya, (4) syetan yang menyesatkannya, dan (5) nafsu yang melawannya.” (Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakar bin Lai dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, di dalam Makarim al-Akhlaq).

لَوْكَانَ عَرَضًا قَرِيْبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لاَتَّبَعُوْكَ وَلَكِنْ بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ (التوبة : 42)

Sekiranya yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka.” (QS at-Taubah : 42).

الم . أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ (العنكبوت : 1-3)

“Alif Lam Mim, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak akan diuji lagi ? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS al-Ankabut : 1-3)

أَمْ حَسِبْتُمْ أنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللهُ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِيْنَ (آل عمران : 142)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran : 142)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتىَّ يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ مَتىَ نَصْرُ اللهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيْبٌ (البقرة : 214)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan, sehingga Rasul dan orang-orang yang bersamanya berkata, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS al-Baqarah : 214).

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسْبِ دِيْنِهِ فَإِنْ كَانَ فيِ دِيْنِهِ صَلْبًا اِشْتَدَّ بَلاَءُهُ وَإِنْ كَانَ فيِ دِيْنِهِ رِقَّةً اُبْتُلِيَ عَلَى قَدْرِ دِيْنِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتىَّ يَمْشِيَ عَلَى اْلأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ (رواه البخاري وأحمد والترمذي)
“Orang yang paling berat tertimpa cobaan adalah para Nabi dan begitulah yang utama dan terutama, seorang diberi cobaan menurut kekuatan agama yang dimilikinya, semakin kuat agamanya semakin besar pula cobaannya, ujian berjalan seiring dengan kadar agamanya, dan cobaan itu tidak akan meninggalkan hamba tersebut sehingga ia berjalan dengan keadaan bersih dari segala dosa.”(HR al-Bukhari, Ahmad dan at-Tirmidzi).

إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ فَمَنْ صَبَرَ فَلَهُ الصَّبْرُ وَمَنْ جَزَعَ فَلَهُ الْجَزَعُ (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, pasti Dia menguji mereka. Barangsiapa yang rela (dengan cobaan itu) maka mereka akan mendapat keridhaan-Nya, dan barangsiapa yang benci (kepada cobaan itu) maka baginya kemurkaan-Nya.” (HR at-Tirmidzi).

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ (رواه أحمد والترمذي)
“Jalan surga itu dipenuhi oleh berbagai kesusahan, dan jalan neraka itu dikelilingi oleh berbagai kesenangan syahwat.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

0 comments: