Ini Perang Ideologi!

Filed under: by: 3Mudilah


Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI
Kapolri mengeluarkan sebuah pernyataan tendensius bahwa orang yang diduga teroris ingin membangun Daulah Islam. Apakah ini upaya monsterisasi terhadap umat Islam yang ingin menerapkan syariah Islam secara kaffah? Ada agenda apa di balik penembakan orang yang diduga teroris ini? Wartawan Media Umat Joko Prasetyo memperbincangkannya dengan Harits Abu Ulya, Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI. Berikut petikannya.

Kapolri menyatakan bahwa teroris mengagendakan mendirikan Daulah Islam yang berpusat di Sumut. Komentar anda?

Pernyataan tersebut perlu di uji kebenarannya. Baik di level gagasan (teori) maupun empiriknya. Karena di sana banyak hal yang menjadi perdebatan. Dari sebuah peristiwa kriminal kemudian linear logikanya dibawa ke persoalan motif itu sangat tendensius dan dipaksakan.

Karena toh akhirnya nanti pihak aparat harus menyiapkan bukti-bukti yuridis dari para pelaku yang disangka 'teroris' di depan meja peradilan. Relevansi antara tindakan kriminal dengan motif yang sangat politis. Karenanya cara berpikir intelijen seperti ini lebih banyak mengedepankan analisis yang jadi alat ukur dari kontra terorisme, fakta harus mengikuti analisa atau asumsi intelijen dan bisa jadi ketika di ranah hukum persoalannya menjadi berbeda. 

Kalau demikian, apakah ini merupakan bagian penyesatan opini, sehingga masyarakat merasa takut dan menjauh dari upaya penegakan Daulah Islam?


Saya rasa sikap tendensius ini akan melahirkan imajinasi pemikiran kolektif masyarakat menjadi tidak sehat. Bahkan akan muncul vonis masyarakat terhadap sesuatu yang mereka tidak mengerti hakikat sebenarnya. Dalam prespektif ini bisa dikatakan ada upaya penyesatan opini baik sengaja atau tidak, melalui kontrol media dengan narasumber tunggal dari aparat. Ini menjadikan ruang dialog yang obyektif  bagi masyarakat tersumbat.

Akhirnya memberikan implikasi sosial; diranah persepsi dan sikap masyarakat menjadi  tidak proporsional. Saya katakan di sini, pernyataan Kapolri secara tidak sadar sebagai tindakan monsterisasi terhadap Daulah Islam.  Saya rasa ada target lain, terutama dalam upaya penguatan legal frame (regulasi) dan keinginan kuat untuk segera mengoperasionalkan seluruh kewenangan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ini  sebuah skenario sistemik.

Tapi Kapolri menyatakan bahwa ini bukan karangannya, melainkan berdasarkan keterangan para tersangka yang ditangkap bahwa perampokan itu adalah fai untuk mendirikan Daulah Islam. Tanggapan anda?


Jika betul begitu, tentu perlu ada koreksi. Pertama, tentang persoalan metode penegakan Daulah Islamiyah. Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan dalam perjuangannya mendirikan Daulah Islam (di Madinah al Munawarah) dengan menggunakan jalan kekerasan, atau dengan kaidah al Ghayah tubarriru al washithah (tujuan menghalalkan segala cara).

Jika ini kaidahnya, ya nggak beda dengan cara-cara komunis-sosialis. Ada kesalahan konstruksi di level manhaj (metode) perjuangan, ini berujung kepada langkah-langkah fisikal yang salah.

Kedua, secara empirik jika seseorang mengkaji betul hakikat negara maka negara bukanlah sekumpulan bangunan fisik yang jika hendak mengganti menjadi bentuk negara baru (dari sekuler menjadi Daulah Islam) dengan cara meruntuhkan, ngebom dan semisalnya.

Apalagi kalau cerita berikutnya adalah  untuk ambil alih kekuasaan. Kudeta itu tidak semudah membalik tangan, apalagi strateginya menurut saya terlalu  disederhanakan. Membuat kerusuhan untuk menciptakan delegitimasi atas penguasa thagut saat ini kemudian akan memberi efek dukungan masyarakat luas terhadap agenda kudeta dari 'teroris'. Menurut saya banyak aspek yang janggal dan perlu dikritisi.

Jadi kudeta itu butuh energi dan piranti yang luar biasa. Dan dari narasi media dengan sumber tunggal aparat, banyak logika yang tidak nyambung antara aksi dan tujuan serta motif. Tapi aparat selalu memaksakan motif dan tujuan itu menjadi isu utama. Menurut saya ada dramatisasi tentang  adanya ancaman terhadap NKRI oleh “Daulah Islam”. Ada target yang lebih besar dengan selalu mengkaitkan tindakan teroris dengan “Daulah Islam” dan semisalnya, yang pasti ini perang ideologi!

Kalau begitu apakah para perampok itu, dibelokkan pemahamannya, sehingga menyamakan perampokan tersebut dengan fai?


Saya rasa tidak seperti itu, bisa jadi perampokan itu benar adanya dilakukan kelompok yang dituduh teroris dan dari pengakuan mereka itu semua bagian dari upaya untuk mendirikan Daulah Islam.

Mereka mengunakan istilah fai dan pengertiannya pada konteks yang tidak benar. Maka itu kesalahan fatal dan menjadi pintu masuk mengkriminalisasi istilah yang hakikatnya adalah kebenaran dan hukum Allah SWT.
Fai sendiri adalah istilah syar’i, yang artinya harta rampasan perang. Namun perang disini dilakukan oleh negara Khilafah bukan oleh kelompok. Apalagi saat ini belum ada negara Khilafah.

Apakah Anda melihat ini sepola dengan kasus Komando Jihad, yang ternyata di belakang itu adalah ada rekayasa?


Ini kompleks persoalannya, kalau fokus masalah paradigma maka memang ada sebagian kecil orang mengadopsi pemahaman fai secara keliru. Dan kesalahan paradigma itu menjadikan ruang terbuka proyek intelijen untuk inflitrasi, radikalisasi, aksi dan sampai kemudian pada target-target berikutnya.  Yang jelas proyek perang melawan terorisnya Amerika (WOT) mendapat legitimasi dengan beberapa paradigma yang menyimpang  dari sebagian kecil orang Muslim dalam menegakkan syariat Islam dalam bingkai negara. Yang terjadi akhirnya menjadi kontraproduktif  terhadap perjuangan penegakan syariat secara kaffah di Indonesia.

Apakah Anda juga memiliki catatan kejanggalan seputar tuduhan dan penggerebekan yang dilakukan Densus 88?


Banyak tuduhan yang berlebihan dan dipaksakan, ya misalkan terkait dengan motif politik atau ideologi yang melatarbelakangi aksi perampokan. Dan tindakan Densus 88 sangat melukai perasaan dan keadilan umat Islam, lihat kasus penggrebekan di Medan; yang dilakukan Densus 88 terhadap Khairul Ghozali bersama 4 orang jemaahnya saat shalat Maghrib di Jalan Besar Medan-Tanjung Balai Asahan, tindakan yang biadab dan tidak berperikemanusiaan.

Saat orang shalat dihabisi, seolah-olah negara ini bukan negara hukum. Dalam penyerangan itu, dua orang jemaah itu tewas di tempat akibat ditembaki Densus 88, sedangkan seorang lagi dapat melarikan diri. Sementara itu Ustadz Ghozali itu dianiaya diinjak-injak Densus.

Begitu juga seorang  Yuki Wantoro warga RT 04 RW 02, Tempen, Joyosuran, Solo, menjadi korban over acting  aparat hanya berdasarkan dugaan, dia dieksekusi, padahal banyak bukti dia samasekali tidak terlibat kasus perampokan Bank CIMB.Yang jelas banyak disinyalir pelanggaran HAM dalam penanganan terorisme ini, dan korbannya adalah umat Islam dan stigma  negatif  terhadap Islam.

Mengapa pemerintah tega melakukan pencitraburukan Daulah Islam sedemikian rupa?


Pemerintahan saat ini sekuler, tidak menghendaki sekulerisme dan demokrasinya tumbang. Mereka lebih merasa afdhal hidup dengan sistem yang gagal dan cacat ini dibandingkan dengan sistem yang datang dari Allah SWT, Sang Pencipta diri mereka.

Apakah ini murni proyek pemerintah dengan BNPT-nya atau bagian WOT-nya Amerika yang sangat paranoid dengan syariah Islam?


Kontra terorisme yang masif berjalan di Indonesia tidak bisa lepas dari drama WOT (War on terrorist) yang dikendalikan oleh AS. Polri mendapat bantuan dan perhatian yang luar biasa terutama dalam hal capacity building dalam proyek kontra terorisme ini dari Amerika dan Australia. Begitu juga kucuran dana yang cukup besar kepada Densus 88 dan peralatan yang canggih, ini fakta yang diakui pihak kepolisian sendiri. Ini semua berangkat dari sikap paranoid Barat (AS) terhadap Islam yang kebangkitannya menjadi ancaman bagi eksitensinya.

Bagaimana agar masyarakat dapat memahami dan mendukung perjuangan penegakan Daulah Islam tanpa khawatir terjebak dalam perangkap WOT tersebut?


Perlu edukasi yang kontinyu dan simultan oleh para ulama dan pengemban dakwah, tentang metode yang benar dalam rangka melangsungkan kehidupan Islam. Rasulullah SAW menjadi uswah (teladan); tidak pernah menempuh jalan kekerasan (fisik), dan tidak menghalalkan segala cara.

Daulah Islam bukan agenda teroris! Tetapi agenda orang yang mukhlis, istiqamah mencontoh manhaj dakwah Rasulullah SAW hingga berdirinya Daulah Islam di Madinah.[]

http://mediaumat.com/wawancara/2176-44-ini-perang-ideologi.html

0 comments: