Digdayanya Uang Emas

Filed under: by: 3Mudilah

Satu keping koin dinar bisa dipakai untuk membeli satu ekor kambing. 


Satu koin dinar tersebut jika dirupiahkan saat ini nilainya setara dengan Rp 1.723.400. Dengan harga itu, kambing yang diperoleh bolehlah sekelas kambing etawa.

Sebuah perusahaan peternakan Malaysia dalam iklannya di dunia maya menyebut, seekor kambing ferral jantan berumur dua tahun dengan berat 30-35 kilo gram, dihargai 600RM. Me reka pun menerima pembelian dengan dinar untuk satu ekor kam bing dengan satu dinar.

Jika ingin kembali ke zaman Rasulullah SAW, harga satu ekor kambing memang se tara dengan satu dinar. Menyimak hal ini, arti nya, betapa stabilnya nilai tukar dinar dan dirham yang dipakai se bagai alat tukar syariah sejak zaman dahulu kala itu. Masa-masa yang terlampaui itu tak terhitung lagi lamanya. Namun ternyata, harga seekor kambing tetap sama dari masa ke masa jika menghargainya dalam dinar atau dirham.

Tak hanya di Indonesia, di negara manapun yang menerima pecahan mata uang ini nilainya akan terasa stabil. Di Malaysia, Afrika Selatan, bahkan Eropa (Inggris), saat ini harga seekor kambing dapat dibeli dengan satu koin dinar emas. Jadi, betapa stabilnya daya beli dinar emas ini.

Inilah bukti kedigdayaan uang emas. Bandingkan dengan uang 'hampa' kertas yang dilabeli nilai dan selalu dikaitkan dengan dolar AS. Dalam sistem Bretton Wood, mata uang dunia dikaitkan satu sama lain, diikatkan dengan dolar AS yang nilainya secara fixed dijamin dengan emas.

Di sistem ini, tiap ounce emas, setara dengan 35 dolar AS. Pada 2001, misalnya, per ounce emas kira-kira setara dengan 275 dolar AS. Artinya, dolar AS pun dalam kurun waktu beberapa tahun mengalami depresiasi terhadap emas berlipat-lipat kali. Apatah lagi rupiah kita.

Sebaliknya, dalam perbanding an yang lain, hampir sepanjang zaman nilai tukar dinar dan dirham tak pernah berubah. Ilustrasi sederhananya-bicara dirham saja, setahun lalu sekeping dinar atau dirham tetap bisa dibelanjakan seekor kambing dan sekeranjang sembako. Artinya, dalam masa ribuan tahun terlewati pun, dinar dan dirham tidak mengalami inflasi.

Harga dinar emas memang ti dak selamanya naik, melainkan fluktuatif terhadap mata uang. Tapi secara jangka panjang, harganya cenderung naik. Ketika harga emas turun, pastilah harga komoditi yang lain, seperti minyak dan gandum, juga ikut turun.

Sekitar 40 tahun lalu, harga kambing mungkin sekitar Rp 1.000. Sekarang sudah jutaan rupiah. Bagaimana dengan 40 tahun yang akan datang? Boleh jadi seekor kambing harganya sudah setara dengan harga mobil Volvo saat ini!

Satu hal lagi yang patut dicatat bahwa koin-koin dinar ataupun perak adalah benda yang sangat liquid. Menjualnya sangat mudah, dibandingkan properti, tanah dan lainnya, yang butuh waktu bertahun-tahun menunggu saat tepat melepasnya.

0 comments: