Astaghfirullah, Ada Aksi "Panas" di Pemandian Air Panas

Filed under: by: 3Mudilah


90% yang masuk dalam kamar itu remaja belum menikah, selebihnya yang sudah berkeluarga


Hidayatullah.com--Di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat terdapat lokasi pemandian air panas, namanya Taman Rekreasi Sangkanurip Alami. Objek wisata yang berlokasi di Desa Sangkanurip ini termasuk salah satu tujuan pariwisata yang menjadi sumber pendapatan daerah. Pada papan nama di depan lokasi tersebut tertulis PT Citra Daya Reksa, sebagai perusahaan pengelola.

Pihak pengelola membagi lokasi pemandian sesuai harga tiket yang dijual. Ada berbentuk kolam besar, ruang utama, dan ruang eksekutif. Objek wisata ini dibuka 24 jam. Menurut petugas tiket masuk, biasanya pengunjung ramai pada malam  hari. Maklum saja, Kab Kuningan yang berada di bawah kaki Gunung Ciremai ini termasuk wilayah dingin. Pilihan berendam di air hangat, tentu menjadi pilihan yang tepat.

Seperti malam itu, Sabtu, 8 Januari 2011 saat penulis berkunjung ke lokasi tersebut untuk menikmati air panas mengandung yodium itu bersama beberapa orang kawan. Melihat pemandangan campur baur antara lelaki dan wanita dalam kolam besar itu, membuat penulis memilih ruang utama yang lebih private.

Ruangan itu terpisah dari kolam besar. Harganya pun relatif murah dibandingkan ruang eksekutif. Yang dimaksud ruang utama itu berupa deretan kamar-kamar berukuran 2x2 meter yang di dalamnya terdapat pancuran air panas.

Usai menikmati air yang berasa hangat itu, penulis sempat duduk di samping seorang petugas jaga ruang utama yang mengaku bernama Thoyib. Awalnya hanya perbincangan basa-basi. Di sela-sela berbincang, penulis melihat ada situasi yang ganjil. Beberapa pasangan muda-mudi yang usianya sekitar 20 tahun, masuk ke dalam kamar. Sepanjang penulis duduk di tempat itu, hampir ada 5 pasangan yang masuk ke dalam kamar lainnya.

Menurut Thoyib, memang tidak ada pemisahan untuk lelaki dan wanita. "Bahkan kami pun tidak menanyakan apakah wanita yang dibawa lelaki itu istrinya atau bukan," aku pria yang pernah bekerja di Jakarta itu.

"Ya tergantung niat masing-masing aja, Pak. Kami tidak mau tahu mereka mau berbuat apa di dalam situ. Saya sih niatnya bekerja untuk ibadah," tambahnya. Meski kadang kala, keluh Thoyib, dalam hatinya ada perasaan berdosa. Pasalnya, kebanyakan mereka yang datang dan masuk dalam kamar itu remaja.
"90% yang masuk dalam kamar itu remaja belum menikah, selebihnya yang sudah berkeluarga," akunya. Inilah yang membuat Thoyib merasa berdosa.
"Bisa jadi mereka melakukan perbuatan dosa," ucap lelaki yang mengaku selalu melaksanakan sholat 5 waktu ini.

Kata ayah beranak 2 ini, semakin malam pasangan yang datang semakin banyak. Sayangnya, lagi-lagi petugas di sana seolah tutup mata dan telinga. Begitu juga pemerintah daerah, yang sepertinya tidak mau tahu dengan apa yang terjadi di salah satu mesin uangnya itu.

Nampaknya ini menjadi tugas berat bagi para aktivis dakwah dan tokoh agama, terutama yang berada di Kabupaten Kuningan dan sekitarnya untuk mengingatkan pemerintah agar menertibkan lokasi-lokasi pariwisata yang menimbulkan kerusakan, salah satunya kemaksiatan. Tentu saja, membiarkan lelaki dan wanita tanpa ikatan pernikahan masuk dalam sebuah kamar, tanpa diketahui apa yang mereka lakukan, sebuah perbuatan dosa.

Tjarsa, warga Kuningan yang ikut dalam rombongan kami pun baru menyadari situasi tersebut. Ia merasa kaget.
"Saya memang jarang ke tempat ini, jadi baru tahu kalau terjadi seperti itu." akunya. Menurutnya, hal ini tidak bisa didiamkan saja. Sebagai warga Kuningan, ia sangat memalukan. Apalagi, di Kuningan termasuk daerah yang agamis. Banyak pesantren yang berdiri di daerah ini, salah satunya Pesantren Husnul Khotimah, yang  berjarak 2 kilometer dari lokasi pemandian air panas itu.

Demikian juga Tjarsa, yang tinggal tidak jauh dari lokasi tersebut.
"Saya berdosa kalau tidak melakukan sesuatu. Saya akan mencoba konsolidasi dengan pihak pengurus DKM di sekitar Kuningan untuk membicarakan hal ini," katanya penuh semangat. Tapi entahlah, hingga saat ini nampaknya tak ada  aparat atau satu institusi appun yang  mencoba mengingatkan masalah ini. 

[Abu Zanki/hidayatullah.com]

0 comments: