Syarat Sukses Harus Yakin dan Istiqomah

Filed under: by: 3Mudilah

Dalam kitab Mukhtasar Taftsîr Ibnu Katsîr, Rosulullah pernah menjelaskan, meninggalkan keturunan dalam kondisi berada, lebih baik dari pada meninggalkan mereka dalam kondisi miskin 

Hidayatullah.com--Sukses adalah cita-cita atau harapan yang senantiasa diimpi-impikan oleh segenap orang dalam setiap lini kehidupan mereka. Harapannya, tentu agar kebahagiaan senantiasa menaungi mereka. Karenanya, tidak sedikit orang yang mati-matian mengerahkan seluruh potensi diri; waktu, tenaga, bahkan nyawa sekalipun, demi meraih kesuksesan tersebut.  

Sudah barang tentu, makna sukses itu sendiri sangat kompleks, dan beragam, tergantung pola pikir yang melandasinya. Bagi kaum meterealisme (matre, red), misalnya, yang menjadikan materi sebagai standart kesuksesan, akan berpendapat, bahwa orang sukses adalah mereka yang memiliki harta melimpah, jabatan mentereng, dan lain sebagainya. Intinya, kesuksesan itu ditimbang dengan sedikit-banyaknya materi yang dimiliki oleh seseorang. Adapun karakter, perilaku, ataupun kesholehan, itu kurang menjadi perhatian, atau lebih ekstrimnya justru dikesampingkan.

Sebab itu, jangan heran terhadap golongan ini, kalau mereka sangat mengelu-elukan seorang tokoh, sekalipun orang yang dijunjung tinggi tersebut  tak memiliki moral bagus, mereka tetap ‘menggelarinya’ sebagai tokoh atau pahlawan yang patut dihargai dan teladani.

Sebagai orang beriman, tentu sangat riskan, bila kita ikut-ikutan mengamini serta –Na’udzubillah- meyakini akan kebenaran definisi yang sangat timpang sebelah ini, yang lebih memprioritaskan kehidupan dunia ketimbang akhirat. Padahal, al-Quran dan as-Sunnah secara gamblang telah memaparkan bahwa kehidupan/kesuksesan akhirat itu lebih utama dari pada dunia.

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (At-Thoriq: 17)

Sekalipun demikian, bukan berarti Islam  vmelarang para pemeluknya untuk menikmati kehidupan dunia ini. Yang ada, justru sebaliknya, agama ini sangat menekankan keselarasan, keseimbangan antara keduanya.

“Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu, seolah-olah engkau akan mati esok hari,” demikianlah sabda Nabi yang menerangkan tentang konsep hidup ideal seorang mukmin dalam memaknai kesuksesan. Tidak hanya sebatas dunia, namun juga menembus batas hingga akhirat.

Dalam Al-Quran, Allah  berfirman: “Dan hendaklah orang-orang merasa khawatir bila seandainya mereka meninggalkan di belakang mereka anak cucu yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa’ ayat 9)

Muhammad ’Alî as-Sobûnî, dalam kitab Mukhtasar Taftsîr Ibnu Katsîr, menerangkan, bahwa Rosulullah pernah menjelaskan, meninggalkan keturunan dalam kondisi berada, itu lebih baik dari pada meninggalkan mereka dalam kondisi papa (miskin).

Ini artinya, kita dianjurkan menjadi sosok Muslim yang sholeh secara spiritual untuk sangu akhirat, dan ‘sholeh’ pula dalam hal material sebagai modal hidup di dunia. Hanya saja, endingnya tak menjadikan  harta sebagai segala-galanya. Lantas, bagaimana meraih keseimbangan itu?
 
Ini Dia Kuncinya
 
Dalam meraih kesuksesan, seseorang membutuhkan dua hal yang menjadi syarat wajib bagi siapa saja yang menghendaki keberhasilan. Yang pertama adalah modal keyakinan. 

Keyakinan yang kuat akan memberi kita energi tambahan, untuk senantiasa mengejar impian-impian kita. Dengannya kita akan terus terpacu untuk selalu fight. Sebaliknya, keyakinan yang dibangun di atas pondasi keraguan, akan mudah terporak-porandakan oleh sedikit goncangan. Baru terkena angin sepoi-sepoi saja, kita sudah lunglai tak berdaya. Padahal, sudah menjadi sunnatullah, dalam meniti karir, jalan berliku lagi curam, harus kita lewati. 
 
Bukankah sudah sangat familiar di telinga kita akan pribahasa yang mengatakan, “Berakit-rakit dahulu, berenang-renang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Sebagai ilustrasi begitu sentralnya keyakinan yang kokoh dalam meraih kesuksesan. Seorang pelajar misalnya, pasti meyakini  bahwa hasil 2x4 adalah 8. Kika iya pernah terdidik, seharusnya ia tidak akan goyah sedikitpun dari jawabannya bahwa hasil yang diperoleh dari perkalian tersebut adalah delapan, sekalipun di sekelilingnya banyak orang yang berusaha mengibuli bahwa hasil yang diperoleh adalah 6. kenapa bisa terjadi demikian? Karena berangkat dari satu keyakinan yang telah diperoleh dari bangku sekolah atau pendidikan.
 
Namun, akan beda ketika yang menjawab adalah anak yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah dan tak pernah mengenal hitung-hitungan. Dia akan terombang-ambing dengan ocehan-ocehan orang di sekitarnya, dan bukan suatu mustahil dia justru disesatkan dari kebenaran.    

Karenanya, bagi mereka yang memiliki keyakinan penuh akan kebenaran pilihan hidupnya, (tentunya setelah menela’ah segala aspek terlebih dahulu), akan mati-matian mengejar segala yang dicita-citakan. Jalan yang terjal lagi berliku yang acapkali membuat dirinya jatuh-bangun, terpontang-panting, tidak akan menjadi penghalang bagi dirinya untuk terus maju dan maju. 

Kegagalan demi kegagalan yang diterima, dijadikan cambuk penyemangat untuk lebih serius lagi dalam bekerja. “Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda,” demikian orang sering mengistilahkan.

Hanya yang perlu menjadi catatan, modal  tidak hanya berlaku dalam mencari kesuksesan hidup duniawi semata, dalam beragamapun, hal ini menjadi dasar/prinsip, yang akan menjadi penyebab diterima atau ditolaknya keimanan seseorang di sisi Allah SWT.  

Syarat yang kedua adalah istiqomah. Memang benar, keyakinan yang kuat merupakan pondasi awal dalam meraih sebuah cita-cita. Namun, pondasi itu tidak akan terialisasikan menjadi sebuah ‘bangunan’, manakala tidak dilanjutkan dengan membangun tembok di atasnya, memasang atap, jendela, dan seterusnya. Ketika bangunan itu dibiarkan begitu saja, tidak terjamah bertahun-tahun, lambat laun ia akan mengalami kerusakan, sehingga hancur dan keropos. 
 
Dalam konteks memburu kesuksesan, seseorang tidak hanya dituntut untuk memiliki keyakinan yang kuat, namun juga memerlukan kekontinuitasan dalam menjalankan program-progran yang telah diusung. Ketika hal ini tidak tumbuh pada diri seseorang, maka kegagalan demi kegagalan akan senantiasa menghampiri setiap langkahnya. Kita tentu masih ingat pribahasa yang mengatakan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Itulah kenapa istiqomah sangat dibutuhkan dalam merealisasikan cita-cita. 

Sejalan dengan itu, Rasulullah pun pernah menerangkan, peribadatan seorang hamba yang sedikit, tapi terus menerus, itu lebih dicintai ketimbang yang banyak, namun cuma sesekali saja.

Demikian dua syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang menghendaki kesuksesan dalam segala hal, di dunia dan akhirat. Keyakinan yang penuh perhitungan (ilmu), akan menguatkan motivasi untuk terus berusaha, sedangkan keistiqomahan merupakan bentuk konkritk kita, yang berupa tindakkan nyata, dalam menggapai sebuah cita-cita/kesuksesan.   

Sebagai penutup, semoga hadits berikut ini menginspirasi kita untuk senantiasa memiliki keyakinan yang kokoh dan keistiqomahan dalam bertindak (positif), demi menggapai kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Dari Abu Amr-ada yang menyebutnya Abu ‘Amrah-Sufyan bin AbdillahAts-Tsaqofi, dia berkata: Saya berkata, “Wahai Rosulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallama, katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan seseorangpun selainmu.” Beliau menjawab, ”Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah, lalu beristiqomahlah.” (H.R. Muslim). Hanya saja, istiqomah dalam hadits ini  tak berlaku untuk hal-hal buruk, kejatahan atau maksiat.

Semoga kita termasuk di dalamnya. Amien. Wallahu ‘alam bis-showab. [Robin Sah/hidayatullah.com]

0 comments: