Prof Dr Yunahar Ilyas Lc: “Umat Islam Jangan Hadiri Perayaan Natal”

Filed under: by: 3Mudilah

yunahar-ilyas
Cyber Sabili. Perayaan Natal menjamur di pelosok negeri. Mulai di perkampungan dan pulau-pulau terpencil, gereja yang tersebar di pelosok negeri, gereja besar di perkotaan, hingga sejumlah kementerian yang kebetulan menterinya dijabat orang Kristen, juga merayakan Natal.

Bahkan, perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional yang akan di gelar di Jakarta, ketua panitianya dijabat Komjen Pol Gories Mere. Perwira polisi yang menjabat  Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (BNN) ini adalah mantan Kepala Densus 88. Pada eranya, Densus “sukses” menangkap dan menembak mati sejumlah orang yang “dicap teroris.”

Pertanyaannya, bolehkan umat Islam menghadiri perayaan Natal? Apa alasan dan konsekuansinya? Untuk menjawab ini, wartawan Cyber Sabili, Daniel Handoko, mewawancarai salah satu Ketua MUI Pusat, Prof Dr Yunahar Ilyas Lc, yang juga menjabat Ketua PP Muhammadiyah. Berikut petikannya:

Perayaan Natal marak, masyarakat termasuk umat Islam seakan-akan ikut merayakannya, tanggapan Anda?


Perayaan semakin meriah karena mereka memang yang “pegang” uang dan menguasai perekonomian. Pengusaha politik dan ekonomi yang non Muslim cukup banyak di negeri ini, dan kesadaran mereka terhadap agamanya juga tinggi sehingga membuat peryaan semakin meriah dan semarak. Apalagi, natal itu dirayakan seluruh dunia. Jika semua ini hanya dirayakan oleh umat Kristiani sendiri dan tidak melibatkan umat lain (umat Islam) tidak ada masalah. Akan menjadi masalah kalau umat Islam ikut-ikutan, karenanya kita harus merujuk pada Fatwa Buya Hamka yang sudah banyak lupa.

Buya Hamka memfatwakan: umat Islam tidak boleh menghadiri perayaan natal baik yang dirayakan di gereja, di gedung, atau bahkan di lapangan, karena itu adalah sebuah ritualnya mereka. Saat ini, ada orang berargumen begini, kalau upacara di gereja tidak boleh hadir, tapi kalau perayaan di lapangan atau di gedung boleh. Orang ini membandingkannya dengan Islam, yakni shalat ied itu ritual, tapi halal bi halal kan budaya.

Dalam hal ini, tidak bisa disamakan, karena dalam Islam antara ritual dan budaya dipisahkan dengan jelas, bisa kita bedakan mana ritual dan budaya.

Tapi di Kristen tidak dibedakan, bagi mereka semuanya ritual. Walaupun dilaksanakan di gereja, di lapangan, atau di gedung semua ritual. Karenanya umat Islam tidak boleh menghadirinya. Termasuk umat Islam yang bekerja di perusahaan milik orang Kristen, pegawai yang Muslim sebaiknya jangan dilibatkan. Selain itu, Sinter Klas juga merupakan simbol agama, karenanya pegawai Muslim jangan dilibatkan untuk ikut serta mengenakan pakaian atau topi Sinter Klas apalagi dilibatkan dalam perayaan.

Biasanya dibarengi dengan maraknya pemurtadan?

Toleransi harus dipahami dengan benar, toleransi itu saling menghormati anta pemeluk agama, tidak saling mengganggu, tapi bukan kompromi dalam ritual atau ibadah. Kalau umat Islam mengadakan syawalan, kemudian orang Kristen datang itu terserah mereka, tapi kalau natalan kita tidak datang jangan marah, karena Islam punya keyakinan sendiri. Di sini umat Kristiani harus memahami, yang namaya toleransi tidak boleh merubah ritual.

Pemurtadan bukan hanya berjalan pada bulan Desember, tapi berjalan setiap waktu. Nabi saw pernah menyatakan, domba yang keluar dari jamaah akan diterkam oleh srigala. Karenanya, yang menjadi sasaran permutadan selama ini adalah: dhuafa, berpendidikann rendah, tidak ikut majelis taklim manapun, tidak aktif di ormas manapun. Tapi jika mereka miskin tapi aktif di majelis taklim atau lembaga dakwah, insya Allah akan terlindungi.

Peranan lembaga anti permutadan?

MUI memiliki Komisi Dakwah Khusus yang menangani bahaya pemurtadan. Beberapa Ormas juga mengirim dai ke daerah yang dianggap rawan. Biasanya, setiap ada bencana muncul seperti ini, seperti di Sumatera Barat, Jogja, Merapi, dan lainnya karenanya pemerintah harus menertibkan hal ini. Di Sumatera Barat pelakunya sampai dikerjar-kejar. Seharusnya Majelis Agama mereka menyikapi ulah mereka, karena bisa menyebabkan buruknya kerukunan antar umat beragama, apalagi menggunakan cara tidak fair, mengatasnamakan kemiskinan, bantuan, ujungnya mengajak ke agama tertentu.

Cara meng-counter ¬bagi dhuafa?

Ini program berat, karena umat Islam ekonominya juga tidak kuat. Dengan memanfaatkan Lembaga Amil Zakat, pemberdayaan ekonomi lemah, dibantu melalui pemberdayaan, juga harus didukung oleh pemerintah yang pro rakyat kecil, atau regulasi yang memudahkan bagi rakyat, kasus-kasus seperti ini sebenarnya bisa diatasi.

Kalo terjadi di masyarakat yang mampu?

Harus ada pembinaan, dari segi harta mereka mampu, tapi dalam hal aqidah mereka lemah. Pembinaan dilakukan dengan pendekatan berbeda, disadarkan akan pentingnya kesalehan sosial dan kesalehan individu. Saya kira masyarakat yang mampu secara financial umumnya mau belajar Islam, yang sulit adalah kalangan kurang mampu.

Biasanya, jika ada kasus tentang kebebasan beragama umat Islam selalu disudutkan tidak toleran. Bagaimana mengatasinya?

Itu peran media, makanya umat Islam selalu terpojok. Umat Islam sudah melakukan hal benar, tapi jubirnya belum bisa menjelaskan dan gaungnya tidak terlihat. Tapi kalau sudah menyangkut kasus HAM di blow up oleh pemilik modal untuk membuat opini seolah-olah yang salah adalah umat Islam. Padahal sudah dijelaskan, tidak ada gereja yang ditutup oleh umat Islam, yang ada adalah penyalahgunaan bangun tanpa izin untuk dijadikan gereja, yang sudah diatur oleh SKB. Pertumbuhan gereja di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding masjid, media harus memahami informasi ini.

 http://sabili.co.id/wawancara/prof-dr-yunahar-ilyas-lc-umat-islam-jangan-hadiri-perayaan-natal

0 comments: