Orang Jepang Kurang Peduli Agama

Filed under: by: 3Mudilah

Prof. Hassan Ko Nakata
Wawancara dengan Profesor Hassan Ko Nakata


Ada sekitar 100.000 Muslim di Jepang. Sebagian besar merupakan imigran. Kelompok terbesarnya adalah warga Indonesia yang berjumlah sekitar 30.000 orang. Orang Jepang yang menjadi mualaf sangat sedikit. Dalam wawancaranya disela-sela Konferensi Internasional Khilafah di Beirut (20 Juli 2010) dengan Mahan Abedin (peneliti pada Institut Studi Pertahanan dan Analisis yang berbasis di New Delhi), Hassan Ko Nakata memberikan gambaran umum tentang Islam di Jepang. Berikut petikan wawancara tersebut.



 


Kapan Anda masuk Islam dan mengapa?

Sudah tiga puluh tahun yang lalu ketika saya masih kuliah di jurusan Studi Islam.

Kita tahu sedikit tentang Islam di Jepang. Yang terpenting, ka-mi ingin tahu tentang kekuatan demografis mereka.
Kami tidak memiliki data statistik resmi, tetapi diyakini ada sekitar 100.000 Muslim di Jepang. Sebagian besar merupakan imigran, kelompok terbesar terdiri dari warga Indonesia yang ber-jumlah sekitar 30.000 orang, kemudian dari Pakistan, Bangla-desh dan Iran

Berapa banyak orang Jepang masuk Islam?

Sangat sedikit, tidak lebih dari 7.000. Dan kebanyakan mereka adalah wanita Jepang yang menikah dengan orang non-Jepang yang Muslim. Penduduk Jepang seperti saya sangat jarang yang masuk Islam.

Berapa banyak orang mualaf yang kita bicarakan, beberapa ratus mungkin?

Saya akan katakan kurang dari seratus.

Anda sebelumnya mengatakan bahwa salah satu alasan Anda memutuskan untuk menjadi seorang Muslim adalah karena pengaruh Revolusi Islam di Iran pada tahun 1979. Bisa anda jelaskan lebih lanjut tentang hal ini.

Saya tertarik pada agama secara umum. Ketika saya masuk Universitas Tokyo pada tahun 1979, saya menjadi anggota Studi Pengkajian Bible dan mempelajari sejarah Kristen dan Yudaisme. Revolusi Iran memberikan kesan kepada saya tentang fakta bahwa Islam adalah agama yang paling aktif di dunia. Itulah sebabnya saya menjadi sangat tertarik untuk mempelajari lebih dalam.

Bagaimana Islam memperkaya hidup Anda?

Kasus saya jelas unik karena saya salah satu dari etnis Jepang yang sangat sedikit masuk Islam, dan apalagi saya sudah berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai profesor studi Islam yang me-mungkinkan saya untuk melak-sanakan kewajiban Islam seperti shalat secara bebas. Ini benar-benar pengalaman menarik, karena Islam sangat bertentangan dengan cara hidup Jepang.

Kesulitan dan prasangka apa yang Anda hadapi dalam masyarakat Jepang?

Masalahnya bukan prasangka tapi masalah praktis seperti menemukan tempat untuk melak-sanakan  wudhu dan shalat.

Jadi tidak seperti Barat tidak ada prasangka eksplisit terhadap kaum Muslim di Jepang?

Tidak, tidak ada.

Sebagai contoh, di Barat semakin banyak orang Islam yang dikaitkan dengan kejadian-kejadian negatif dan tren seperti terorisme dan konflik; apakah orang  Jepang tidak mengasosiasikan kaum Muslim secara sadar?

Tidak, mereka tidak peduli. Mereka tidak memiliki konsep tentang hal-hal itu. Bukan hanya dengan Islam, tapi juga dengan agama lain.

Sebagai seorang Muslim, apakah pandangan Anda mengenai sejarah modern Jepang? Misalnya, apakah Anda memiliki perasaan rasa malu seperti mayoritas orang Jepang karena peran Jepang selama Perang Dunia Kedua?

Tentu saja, saya tidak suka penguasa rezim militer. Tapi negara Jepang dan masyarakat pada saat itu memiliki pema-haman Islam yang jauh lebih baik daripada generasi kontemporer. Salah satu alasannya adalah bah-wa Shinto kemudian menjadi agama negara, tapi seperti Islam, Shinto bukan agama dalam pema-haman Barat akan arti kata itu. Shinto dianggap lebih sebagai jalan hidup oleh bangsa Jepang lebih dari sekadar agama dalam pengertian Barat. Hal ini me-mungkinkan rezim Jepang ter-dahulu itu bisa mengklaim bahwa semua penduduk Jepang saat itu menikmati kebebasan agama dalam pengertian Barat, semen-tara pada saat yang sama meng-hormati adat-istiadat Shinto. Sebenarnya, orang Jepang tidak pernah melihat adanya kontra-diksi dalam mengadopsi keperca-yaan Shinto dan Budha dan adat istiadat pada saat bersamaan.

Kapan Asosiasi Muslim Jepang (JMA) didirikan?

Asosiasi itu didirikan pada tahun 1952 oleh orang-orang Jepang yang masuk Islam. Ini adalah organisasi Islam tertua di Jepang.

Apakah fungsi utama dari JMA?

Tujuan utamanya adalah untuk menjaga identitas Islam orang Jepang.

Bagaimana dengan kegiatan praktisnya?

Kami melakukan pemakaman secara Islam, menerbitkan terjemah Kitab Suci Alquran, menerbitkan jurnal dan secara umum mempublikasikan dan menyebarluaskan materi mengenai isu-isu Islam.

Siapa Presiden JMA?


Sheikh Amin Tokomasu. Dia adalah orang Jepang dan lulusan Universitas Al-Azhar.

Apakah kaum Muslim Jepang mengembangkan kesadaran politik yang sama dengan kaum Muslim Barat?

Tidak sama sekali! Muslim Jepang cenderung melihat agama mereka sebagai masalah pribadi. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk menghargai dimensi Islam yang lebih luas.[] mahan abedin / religioscope

0 comments: