KHOIRUL HADYI HADYU MUHAMMADIN SHALLALLAHU ‘ALAHI WA SALLAM

Filed under: by: 3Mudilah

Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memberi taufik kepada kita untuk bisa mengenal sunnah dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang telah menjadikan kita sebagai pengikut Rasulullah Al Musthofa shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Diantara sunnah dan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khutbah jumat, ceramah pengajian dan nasehat-nasehat beliau kepada para shahabat adalah senantiasa beliau memulai pembicaraan beliau dengan khutbatul hajjah, sebuah khutbah pembukaan yang mengandung makna yang sangat dalam.
Seandainya kita berbicara dan menggali panjang lebar tentang makna yang terkandung dalam khutbatul hajjah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu pembicaraan kita akan terlalu panjang dan meluas. Oleh karenanya kita hanya memilih potongan kalimat dari khutbatul hajjah, yaitu beliau, “khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” (artinya : Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
[Ittiba’ secara Total kepada Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ]
Faidah dan makna paling agung yang terkandung dalam kalimat “khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah akan semakin mengokohkan pemahaman  yang shohih seorang muslim dalam memahami agama Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Sesungguhnya kitab Al Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang lebih lurus” (Al Isra : 9)
Hidayah sunnah merupakan bagian hidayah Al Quran. Al Quran dan As Sunnah bagaikan dua sisi uang logam, satu dengan lainnya tidak dapat terpisahkan.pent Al Quran telah memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Maka seseorang yang memahami makna kalimat khairul hadyi hadyu Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam” tentu akan semakin menambah kecintaan dan penganggungannya kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan akan semakin memperlihatkan pengaruh ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam diri seseorang ataupun dalam suatu komunitas masyarakat.
Dari kalimat yang singkat ini pula, seorang muslim akan dapat memperlakukan manusia sebagaimana mestinya, membebaskan seorang muslim dari taqlid buta terhadap person-person tertentu selain Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami agama Allah subhaanahu wa ta’ala .
Imam Malik rahimahullahu pernah berkata di sisi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ما من أحد إلا يؤخذ من قوله ويرد إلا قول صاحب هذا القبر
Tidaklah ada seorang pun melainkan perkataannya bisa jadi diterima atau ditolak, kecuali perkataan pemilik kuburan ini (yaitu : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam )”
[Pondasi Agama adalah Ikhlas dan Ittiba’]
Perintah ikhlas, Allah ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Dan tidaklah mereka diperintah melainkan agar mereka beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama kepada-Nya dalam jalan yang lurus, dan agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat, demikianlah agama yang lurus.” (Al Bayinah : 5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niatnya, dan setiap manusia akan dibalas sesuai dengan apa yang niatkan, barangsiapa yang berhijroh ikhlas karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrohnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhijroh kepada dunia, atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrohnya adalah kepada apa yang dia inginkan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Umar bin Khattab)
Sedangkan untuk perintah ittiba’, Allah subhaanahu wa ta’ala telah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah, ketika menyeru kalian kepada apa yang dapat memberikan kehidupan bagi kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan” (Al Anfaal : 24)
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Tidak, Demi Tuhanmu, mereka tidak lah beriman sampai mereka menjadikan dirimu hakim (pemutus perkara) dalam perkara-perkara yang mereka perselisihkan, dan mereka tidak menemukan sedikitpun rasa berat terhadap apa yang engkau putuskan, dan mereka berserah diri dengan sebenar-benarnya” ( An Nisaa : 65 )
Ayat-ayat di atas dan ayat semisalnya adalah bukti bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mentaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini semakin mewajibkan kita untuk senantiasa taat kepada Rasul, berpegang teguh dengan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Kunci Hidayah]
Allah ta’ala berfirman,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
“Barangsiapa mentaati Rasul, maka sungguh dia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai penjaga bagi mereka” (An Nisaa : 80)
Allah ta’ala berfirman,
وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا
“Jika kalian mentaatinya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka kalian akan mendapatkan petunjuk” (An Nur : 54)
Ketaatan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kunci dari pintu hidayah Allah ta’ala. Apalah guna kita melirik kepada perkataan si fulan, si ‘alaan, ataupun siapapun di sekitar kita, jika telah ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada perkataan manusia yang lebih agung daripada perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam Syafi’i rahimahullahu berkata,
وخير الأمور السالفة علي الهدي
و شرّ الأمور المحدثة بدائع
“Sebaik-baik perkara adalah apa yang sudah ada petunjuknya dari para pendahulu
dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan”
Imam Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan,
العلم ما قد كان فيه قال حدثنا
وما سوي ذاك وسواس الشياطين
“Ilmu adalah apa yang di dalamnya di sebutkan ‘hadatsana’
dan yang selain itu adalah was-was dari syaitan”
Tentang kewajiban ittiba’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ
“Barangsiapa yag beramal dengan suatu amalan yang tidak ada petunjuknya dari kami, maka amalan tersebut akan tertolak” (Muttafaqun’alaihi, dari shahabat ‘Aisyah)
Imam Malik bin Annas rahimahullahu,
السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ
“As sunnah adalah bagaikan perahu Nabi Nuh, barangsiapa yang menaikinya maka akan selamat, dan barangsiapa yang berpaling darinya maka akan tenggelam”
[Lihatlah Generasi Shahabat… Bagaimana Mereka Mengagungkan Sunnah]
Para shahabat adalah orang terdekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sangat mengagungkan sunnah dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Marilah kita melihat bagaimana para shahabat menerima dengan dada yang lapang, terhadap apa yang diperintahkan dan yang dilarang oleh beliau.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shahabat untuk melakukan sebuah perkara mu’amalat jahiliyah, yang sebenarnya mu’amalat tersebut memberikan keuntungan bagi para shahabat. Namun meskipun demikian seorang shahabat Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَمْرٍ كَانَ لَنَا نَافِعًا وَطَوَاعِيَةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ أَنْفَعُ لَنَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kita dari suatu perkara yang sebenarnya mendatangkan keuntungan bagi diri kita, namun sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah lebih menguntungkan bagi kita.” (Hadits riwayat Muslim dari shahabat Rafi’ bin Khadij)
Demikianlah gambaran bagaimana para shahabat menerima perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah salah satu kisah dari sekian banyak kisah shahabat yang menunjukkan bagaiamana pasrahnya mereka terhadap perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.pent Mereka mendahulukan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas segala macam kebiasaan, hawa nafsu dan keuntungan duniawi. Demikian pula seharusnya kita…
Washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam…
***
Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid Al Halaby Al Atsary -حفظه الله تعالى -
(diterjemahkan secara ringkas dari ceramah beliau yang berjudul “Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam”)
Alhamdulilah, washolatu wa salam ‘ala nabiyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa man waalahu….
Apabila kita memaknai kalimat syahadat Asyhadu an Laa ilaha illallahu, dengan makna “Laa ma’buda bi haqin illa allahu” (Tidak ada sesembahan yang berhaq di sembah dengan benar kecuali Allah), maka kita pun juga memaknai kalimat “Asyahadu anna Muhammadan Rasulullah” dengan makna “Laa matbu’a bi haqin illa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Tidak ada sesuatu yang berhaq diikuti secara total/mutlaq kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
Tidaklah kita mendahulukan perkataan seseorang di atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,meskipun dia adalah seorang imam, syaikh kibar, wali ataupun julukan-julukan lainnya…
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam hal kemaksiatan (kepada Allah), sesungguhnya ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf” (Hadits riwayat Bukhory, dari shahabat Ali bin Abi Tholib)
[Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Adalah Wahyu dari Allah]
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tidaklah dia (Muhammad) mengatakan sesuatu dari hawa nafsunya, melainkan dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepada dirinya” (An Najm : 3-4)
Apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu kebenaran yang muthlak, tidak diragukan lagi. Suatu ketika shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,
يا رسول الله أكتب عنك ما سمعت ؟ قال : نعم قلت : في الغضب و الرضى ؟ قال : نعم فإنه لا ينبغي لي أن أقول في ذلك إلا حقا
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah aku harus mencatat apa yang aku dengar dari dirimu? Beliau mengatakan, Iya. Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan, Apakah selurunya aku catat baik engkau dalam keadaan marah ataupun ridha? Beliau mengatakan, Iya, karena sesungguhnya tidak layak bagiku untuk mengatakan sesuatu melainkan mengatakan hanya kebenaran” (Lihat shahih Ibnu Khuzaimah, Syaikh Al Albani menilai hadits ini hasan)
[Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Lahir dan Batin]
Ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah merupakan kewajiban seorang muslim. Namun perlu dicermati bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya terbatas seseorang memajangkan jenggotnya, lalu dia kenakan jubah panjang di atas mata kaki dan memakai tutup kepala. Memang benar bahwa diantara perkara-perkara yang kami sebutkan tadi sebagiannya adalah perkara wajib, namun perlu dipahami bahwa ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meliputi aspek lahir dan batin.
Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam perkara aqidah, akhlak, mu’amalaat maupun dalam perkara ibadah. Tidak kita katakan, ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebagian perkara, namun ternyata meninggalkan ittiba’ dalam perkara=perkara yang lainnya. Bahkan mungkin kita meninggalkan perkara yang jauh lebih penting dan lebih utama.
Semisal contoh adalah kewajiban untuk memanjangkan jenggot. Sudah tidak ragu lagi bahwa ini merupakan perkara yang wajib bagi seoarang laki-laki muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Selisihilah orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot kalian dan pangkaslah kumis-kumis kalian” (Hadits riwayat Bukhori, dari shahabat Abdullah bin Umar)
Bukanlah maksud kami untuk meremehkan dan menganggap kecil kewajiban yang satu ini. Namun yang menjadi masalah adalah jika kita semangat dalam memanjangkan jenggot, akan tetapi bersamaan dengan itu kita melalaikan perkara aqidah. Yakni aqidah tauhid yang karena tujuan tersebut lah Allah ta’alamenciptakan manusia dan jin, dan karena itulah Allah mengutus para Rasul-Nya dan Allah  menurunkan kitab-kitab-Nya.
[Tauhid adalah Perkara Awal]
Allah ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, (untuk menyerukan) sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaghut” (An Nahl : 36)
Demikianlah para rasul terdahulu, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau diutus oleh Allah ke muka bumi ini dalam rangka menegakkan tauhid, menyeru manusia untuk menyembah hanya kepada Allah dan memperingatkan manusia dari kesyirikan.
Allah ta’ala befirman,
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintah, dan aku termasuk orang yang pertama menyerahkan diri” (Al An’aam : 162-163)
Tauhid adalah perkara yang paling penting dan utama dalam agama ini, sedangkan kesyirikan adalah perkara yang paling berbahaya yang mengancam agama ini, baik syirik besar ataupun syikrik kecil. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu sallam berkata kepada para shahabat,
الشِّرْكُ أَخْفَى فِيكُمْ مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، ثُمَّ قَالَ : أَلا أَدُلُّكَ عَلَى مَا يُذْهِبُ عَنْكَ صَغِيرَ ذَلِكَ وَكَبِيرَهُ ؟ قُلِ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ مِمَّا لا أَعْلَمُ
“Kesyirikan itu lebih samar daripada jejak semut, kemudian Rasul bersabda, maukah kalian aku kabarkan bagaimana cara membebaskan diri dari syirik besar dan syirik kecil? Katakanlah (berdoa kepada Allah), ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesyirikan yang aku ketahui (sadari), dan aku memohon ampun atas kesyirikan-kesyirikan yang aku tidak mengetahuinya” (lihat jami’us shoghir, dishohihkan oleh Syaikh Al Albany, Asy Syamilah)
Lihatlah bagaimana upaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga para shahabat dari bahaya kesyirikan, baik syirik kecik ataupun syirik besar…
[Ittiba’ dalam perkara Akhlak]
Ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga mencakup ke dalam perkara akhlak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertaqwalah engkau kepada Allah dimana pun engkau berada, ikutilah keburukan (yang telah engkau perbuat) dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapus (kejelekan tersebut), dan berakhlaklah engkau kepada manusia dengan akhlak yang baik.” (Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Mu’adz bin Jabal)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para shahabat,
إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الذَّنْبِ أَنْ يَسُبَّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ, . قَالُوا وَكَيْفَ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ, يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أَمَّهُ فَيَسُبُّ أَمَّهُ
“Sesungguhnya diantara dosa yang paling besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya sendiri”, para shahabat lantas bertanya, “Bagaimana kok bisa seseorang mencela orang tuanya sendiri???”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang mencela ayah orang lain, maka kemudian orang lain tersebut ganti mencela ayahnya, dan seseorang mencela ibu orang lain, maka kemudian orang lain tersebut ganti mencela ibunya” (Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash)
Ini merupakan salah satu pintu dari syaitan untuk menggelincirkan manusia, yaitu menjadikan celaan kepada orang tua orang lain sebagai wasilah celaan kepada orang tuanya sendiri secara tidak langsung. Lantas bagaimanakah apabila kita secara langsung mencela orang-orang terdekat dengan kita??? Bagaimanakah jika kita langsung mencela tetangga kita dan saudara kita?
[Diantara Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Menghormati Tetangga]
Dalam musnad Imam Ahmad, terdapat kisah tantang seorang  shahabat yang berkata kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, shahabat tersebut mengatakan,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فُلاَنَةَ تَذْكُرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلاَتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِى جِيرَانَهاَ بِلِسَانِهَا قَالَ « هِىَ فِى النَّارِ »
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya ada seoarang wanita yang terkenal dengan banyaknya sholat malam yang dia kerjakan, banyaknya puasa dan banyaknya sedekah yang dia infakkan, akan tetapi dia sering mengganggu tetangganya dengan lisannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia di neraka”(Hadits riwayat Ahmad, dari shahabat Abu Hurairah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ
“Semoga Allah melaknat orang yang merubah batas-batas tanah (milik tetangganya)” (Hadits riwayat Muslim, dari shahabat Ali bin Abi Thalib)
Orang yang dengan sengaja menggeser batas-batas antara tanah milik tetangga dengan tanahnya adalah orang yang terlaknat oleh Allah ta’ala. Karena ini merupakan sebuah kedzaliman. Jika ini merupakan tindakan dzalim dalam urusan tanah seseorang, lantas bagaimanakah jika kedzaliman tersebut berkaitan dengan perkara kehormatan seseorang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن أربى الربا استطالة المرء في عرض أخيه المسلم
“Sesungguhnya riba yang paling berat adalah merendahkan kehormatan seseorang muslim” (Hadits riwayat Baihaqi, dari shahabat Abu Hurairah)
Riba merupakan dosa besar, namun dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan ada dosa riba yang paling besar, yakni merendahkan kehormatan saudaranya sesama muslim, baik denganghibah ataupun namimahNas’alullaha al ‘afiyah..
(bersambung Insya Allah…)
Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid Al Halaby Al Atsary -حفظه الله تعالى -
(diterjemahkan secara ringkas dari ceramah beliau yang berjudul “Khoirul Hadyi Hadyu Muhammadin Shallallahu ‘alahi wa sallam”)
***

0 comments: