Jadikan Membaca al-Qur’an Sebagai Gaya Hidup!

Filed under: by: 3Mudilah

Berapa lama waktu kita “menyentuh” al-Quran dibanding waktu kita melihat TV atau menyentuh Hanphone?
 
“Tombo ati iku ono limang perkoro,
Kaping pisan moco Qur’an sakmaknane
Kaping pindo Sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani…”
 
(Ada lima obat penentram jiwa, Pertama, cinta al-Qur’an dengan menyelami maknanya. Kedua, sujudkan jiwa raga di tengah sunyi malam. Ketiga, senantiasa dekatkan dirimu kepada orang sholeh, Keempat, adapun terhadap rasa lapar upayakan bertahan. Kelima, asyiklah berdzikir dan jangan pernah bosan. Salah satu saja engkau khusyu’ melakukannya Insya Allah nasibmu akan dirawat oleh Yang Maha Kuasa).
 
Demikianlah salah satu syair “Tombo Ati” (Obat Merawat Hati) yang pernah dinyanyikan Emha Ainun Nadjid dan Opick.
 
Hati yang sedih, gelisah, takut (kepada selain Allah), marah dan kuatir memerlukan obat. Hati yang tidak ridho, tidak puas, tamak, iri, dengki dan hasad juga membutuhkan obat. Salah satu obat mujarab yang telah ditawarkan Islam adalah dengan membaca al-Qur’an dan merenungkan maksud dalam kandungannya. Namun sayangnya, ada sebagian umat Islam yang jarang bahkan sama sekali tidak pernah memanfaatkan “obat” yang telah diberikan penciptanya dan lebih memilih menggunakan beragam obat lainnya hasil karya ciptanya sendiri untuk mengobati hatinya. Meskipun tanpa disadari sebenarnya pada kenyataannya obat-obat tersebut tidak atau kurang mujarab, bahkan boleh dikata hanya efektif untuk sementara waktu saja.
 
Salah satu “obat” yang seringkali menipu adalah jenis-jenis hiburan yang dikemas seolah-olah  baik dan bernuansa religi. Padahal sesungguhnya tidak.
 
Di zaman yang sarat dan marak dengan hiburan yang semakin beragam jenis dan bentuknya, serta bisa didapat dengan mudah dan murah seperti sekarang ini, hiburan tidak lagi sekedar berfungsi sebagai tontonan tapi telah menjadi kebutuhan. Bahkan telah menjadi tuntunan.  Hiburan kini telah  pedoman dan  gaya hidup (life style) manusia modern apapun ras dan agamanya tanpa terkecuali yang beragama Islam.
 
Sepanjang sejarahnya, sudah merupakan fitrah, manusia akan selalu mencari, menciptakan dan memanfaatkan hiburan untuk mengobati hatinya yang sedih, takut, kuatir, gelisah dan marah. Ini semata-mata agar hatinya senang, bahagia, tenang dan tentram.
 
Ada orang yang lari dari masalah dengan cara memanfaatkan minuman keras, obat-obat terlarang dan maksiat. Mereka menganggap, cara itu dilakukan agar segala persoalan yang melilitnya segera sirna.
 
Sebagian orang, lari dari tanggungjawab, ia membuang waktu keluyuran malam,  ke pubs, karaoke, diskotik dan berbagai jenis dugem. Seolah-olah setelah ini, masalah di rumah, di keluarga atau di kantor bisa terselesaikan. Padahal, sesungguhnya yang terjadi ia justru menambah masalah baru. Mereka tidak sadar, keluyuran, minuman keras atau obat-obatan telah melahirkan problema baru bagi hidupnya. Ia tak sadar, suatu hari akan kecanduan akibat pola hidupnya ini.
 
Bukan satu-dua kali kasus orang-orang ternama yang akhirnya tewas di ujung minuman keras atau obat-obat terlarang. Adalah Alda Risma, pelantun “Aku Tak Biasa” yang meninggal tahun 2007 akibat diduga overdosis.
 
Ada Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi atau Nike Ardilla. Lady rocker asal Bandung ini tewas di saat karirnya sedang puncak. Ia meninggal ketika mobil Honda Civic yang dikendarainya menghantam beton di jalan RE Martadinata di kota Bandung. Dokter menemukan ada kandungan alkohol dalam tubuhnya.
 
Selain artis-artis Indonesia, sudah ratusan orang ternama di Barat yang akhirnya meninggal dengan cara kurang baik. Adalah Jimi Hendrix, penyanyi yang  sering dijuliki "dewa gitar" itu meninggal karena narkoba. Sepanjang hidupnya berbagai obat dan barang terlarang telah dicobanya termasuk; LSD, marijuana, speed, dan pil tidur. Dia meninggal karena menenggak pil tidur dan alkohol yang kemudian menyebabkan sesak napas oleh muntahnya sendiri saat tidur.
 
John Bonham, drumer band Led Zeppelin. Ia meninggal pada usia 32 akibat sesak napas dan muntah. Hal ini disebabkan oleh konsumsi alkohol berat. Akibat kematian Bonham, band legendaris itu akhirnya memutuskan untuk bubar.
 
Sesuai fungsinya
 
Inilah zaman, di mana manusia memanfaatkan hiburan sebagai referensi untuk mendapatkan pedoman hidup dalam mengobati hatinya. Aktivitas tersebut seolah-oleh telah menjadi aktivitas yang penting dan utama, serta tidak bisa ditinggalkan oleh manusia modern.
 
Sudah tidak sulit lagi menyaksikan ada sebagian manusia yang telah memperlakukan hiburan melewati batas kewajaran dan fungsinya. Hiburan telah menjadi dan mendapatkan prioritas dalam hidup. Hiburan masih mendapatkan jatah waktu meskipun waktu sudah dirasakan sempit dan habis. Hiburan masih mendapatkan jatah tempat di hati dan pikiran meskipun hati dan pikiran sudah letih dan terasa sudah penuh dengan masalah-masalah hidup dan serasa tidak ada tempat untuk hal-hal lainnya.
 
Bahkan ada banyak orang yang menjadi korban teknologi dengan segala aksesorisnya. Sebut saja, sebagian dari kita yang menempatkan alat-alat hiburan menjadi bagian penting dalam rumahnya. Mereka memaksakan membelin meskipun di rumahnya telah sesak dengan segala perabotnya. Televisi, sound sytem dan tetek mbengek alat-alat elektronik lain.
 
Ada juga orang yang sibuk mengikuti perkembangan handphone. Tiap perkembangan baru alat informasi itu ia ikuti dan ia beli, seolah ia tak mau ketinggalan. Setiap hari, setiap saat, jerat-jerat ini akhirnya menjadi siklus hidupnya. Ia mengira, ketenangan, kesenangan dan kebagahiaan bisa selesai dengan semua aksesoris yang tak pernah ada habis-habisnya itu.
 
Kebalikannya, Allah telah memberikan hadiah mahal, mukjizat al-Qur’an namuan tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Al-Qur’an tidak mendapatkan perlakuan yang sama sebagaimana hiburan yang ia kejar-kejar. Bahkan al-Qur’an kalah dibandingkan dengan TV, HP dan aksesoris lain.
 
Sangat mudah menemukan Muslim-Muslim yang bersikap acuh terhadap al-Qur’an. Mengacuhkan al-Qur’an bukan berarti mengacuhkannya secara fisik saja seperti merobek atau memasukkannya ke lubang WC. Mengacuhkannya juga bisa berarti lebih memprioritaskan hiburan seperti lagu, musik dan film dibandingkan al-Qur’an itu sendiri untuk mengobati hatinya dan untuk mendapatkan petunjuk dalam mengobati hatinya, menjalani kehidupan dan mengatasi problem kehidupan.
 
Pertanyaan sederhana untuk membuktikan ini adalah; berapa lama kita menikmati layar TV, membuka internet dan membalas SMS? Sebaliknya, berapa kali dalam sehari kita semua menyentuh, membaca dan merenungi isi al-Quran dibanding alat-alat hiburan dan aksesoris teknologi itu?  
 
Sungguh tidaklah patut seorang Muslim menyepelekan al-Quran. Perlakuan al-Quran dengan mengfungsikannya sebagai rujukan utama dalam mengobati hati dan  dalam menjalani segala persoalan kehidupan kita dan mengatasi segala problem hidup baik secara personal maupun komunal.
 
Cara memperlakukan al-Quran secara wajar adalah dengan tidak meragukan kebenaran al-Qur’an dan tidak mencari petunjuk hidup selain dari-Nya.
 
Jalan Ketenangan
 
Dua di antara manfaat membaca al-Qur’an adalah hati menjadi tenang dan gembira, dan mendapatkan dua macam petunjuk dari Allah. Al-Qur’an adalah bacaan dzikir terbaik. Dengan kata lain, membaca al-Qur’an merupakan cara terbaik mengingat Allah. Hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang.
 
Allah memberikan ketenangan dan kegembiraan hati kepada para pembacanya dengan dua jalan. Pertama, Allah membuat hati para pembacanya menjadi tenang dan gembira secara langsung. Dan kedua, hati mereka menjadi tenang dan gembira setelah mengetahui berbagai informasi dari al-Qur’an meliputi cara menghadapi hidup dan janji-janji Allah bagi mukmin yang sabar dan tawakal.
 
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar [39]:23)
 
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]:28)
 
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".”  (QS. Yunus [10]:57-58)
 
Dengan membaca al-Quran para pembacanya juga akan mendapatkan dua macam petunjuk dari Allah. Jenis pertama adalah petunjuk yang langsung diberikan Allah berupa ilham yang dilhamkan ke dalam benak dan hatinya. Dan jenis kedua berupa berbagai ilmu dan informasi yang berharga, haq, valid, benar dan baik dari Al-Qur’an. Kedua petunjuk tersebut sangatlah penting dan bermanfaat dalam menghadapi kehidupan dengan segala problematikanya.
 
“Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqoroh [2]:2)
 
"Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mu'min.” (QS. Fushilat [41]:44)
 
“Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur’an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman.”  (QS. An-Naml [27]:1-2)
 
Mengingat betapa besar manfaat dan betapa pentingnya aktivitas membaca al-Qur’an, sudah sepatutnya dan sewajarnya setiap pribadi Muslim menjadikan aktivitas membaca al-Qur’an sebagai gaya hidup dan aktivitas utama dalam kehidupan sehari-hari. Mengfungsikan al-Qur’an sebagai bacaan, referensi, sarana hiburan dan penenang utama. Memberikan pada al-Qur’an (lebih banyak) jatah waktu, jatah tempat di hati dan pikiran kita.
 
Dengan menjadikan aktivitas membaca al-Qur’an sebagai gaya hidup, mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan yang mengacuhkan al-Qur’an seperti yang pernah dikuatirkan oleh Rasulullah saw. dan disebutkan ayat al-Qur’an di bawah ini:
 
“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur'an itu sesuatu yang tidak diacuhkan." (QS. Al-Furqon [25 ]:30)
 
Semoga kita termasuk orang-orang yang  mampu menggantikan kitab suci al-Quran sebagai hiburn menganggantikan siaran TV, HP dan segala aksesoris hiburan yang sesungguhnya hanya menjauhkan ketenangan hati dan hidup kita! [Abdullah al-Mustofa, penulis adalah mahasiswa program Master ‘Ulumul Qur'an di IIUM (International Islamic University Malaysia) dan ketua FUSSI (Forum Ukhuwah Sarjana Studi Islam) di IIUM]

0 comments: