Hati Bersinar Dakwah Lancar

Filed under: by: 3Mudilah


Syubhat syahwat dan sombong penyakit hati yang tanpa sadar menempel, ibarat karat yang menghalangi laju mesin dakwah
Ramadhan telah berlalu, semoga ibadah yang kita lakukan di bulan suci itu tidak ada yang sia-sia. Semoga kita bisa mempertahankan predikat insan muttaqin, bisa mengendalikan nafsu.
Perjalanan dakwah yang yang panjang menuntut ketahanan stamina yang prima. Saking tidak sabarnya, terkadang membuat seseorang terjebak oleh perasaannya sendiri. Perasaan yang bila diibaratkan dalam sebuah perjalanan seperti fatamorgana. Ketika memasuki jalan tol di siang hari, Anda akan melihat di ujung jalan seperti ada genangan air di aspal yang panas. Setelah dekat, ternyata cuma bayangan.
Betapa banyak aktivis yang merasa paling kesepian, merasa paling berkeringat, merasa paling senior dan di saat yang sama dirinya merasa yang paling dizalimi. Akhirnya merasa putus asa meratapi lingkungannya. Menyalahkan semua orang dan akhirnya memilih istirahat dari jalan dakwah. Atau pindah ke gerakan lain. Bahkan ada yang berbalik menjadi penentang dakwah.
Betapa orang yang pintar berbicara dan mengaku pakar bertebaran ibarat pedagang kaki lima. Mereka menjajakan asongan. Isme-isme mereka jajakan dengan segala cara yang memikat.
Di antara faktor yang mendorong seseorang untuk berbicara tanpa ilmu adalah cinta dunia dan kedudukan. Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya al-Fawaid hal dengan panjang lebar menjelaskan: “Setiap ulama yang lebih mementingkan dunia dan mencintainya pasti akan berbicara atas Allah tanpa ilmu yang benar baik dalam fatwanya atau dalam mengabarkan dan memegangi hukum Allah. Hal itu karena hukum-hukum Allah hampir seluruhnya bertentangan dengan kehendak orang, lebih-lebih orang yang cinta pangkat dan mengikuti syahwat. Mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan melainkan dengan menentang dan menolak al-haq.
Bila seseorang alim atau seorang hakim cinta pangkat dan mengikuti syahwat, maka tujuannya tidak akan tercapai kecuali bila dia menentang al-haq yang merintangi keinginannya. Terlebih lagi bila dia telah termakan syubhat, maka terkumpullah syahwat dan syubhat yang akhirnya al-haq pun lenyap darinya.”
Ingatlah selalu nasihat berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, "Janganlah engkau jadikan hatimu terhadap syubhat seperti spon (karet busa) yang menyerapnya serta merta: Tetapi jadikanlah hatimu seperti kaca yang kuat. Sehingga tatkala syubhat  mampir padanya, dia dapat melihat dengan kejernihannya dan mengusir dengan kekuatannya. Tetapi apabila engkau jadikan hatimu menyerap setiap syubhat, maka dia akan menjadi sarang syubhat:"
Yang dimaksud “as-Sunnah” menurut para Imam yaitu: Thariqah (jalan hidup) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat berada di atasnya.” Yang selamat dari syubhat dan syahwat,” oleh karena itu al-Fudhail bin Iyadh mengatakan: “Ahlus Sunnah itu orang yang mengetahui apa yang masuk ke dalam perutnya dari (makanan) yang halal.”
Disebutkan dalam sebuah hadits yang  diriwayatkan oleh Abu Dawud, ”Cintamu kepada sesuatu akan membutakanmu dan menulikanmu.”
Hasad atau dengki adalah sikap tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dan mengharapkan nikmat itu lenyap darinya. Sedangkan kibr atau sombong adalah menganggap remeh orang lain. Rasulullah bersabda, ”Kibr itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain,” (HR Muslim)
Al-Qur’an memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat keimanan. Sugesti yang dimaksud dapat diraih dengan mendengar dan membaca, memahami dan merenungkan, serta pengamalannya. Masing-masing tahapan perlakuan terhadap al-Qur’an tersebut dapat menghantarkan pasien ke alam yang dapat menenangkan dan menyejukkan jiwanya.
Firman Allah SWT yang artinya,
“Dan kami turunkan dari al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian,” (QS al-Isra : 82).

Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, bacaan al-Qur’an mampu mengobati penyakit jiwa dan badan manusia. Ibnu Qayyim lebih lanjut menyatakan bahwa sumber penyakit jiwa adalah ilmu dan tujuan yang rusak. Kerusakan ilmu mengakibatkan penyakit kesesatan, dan kerusakan tujuan mengakibatkan penyakit kemarahan. Obat yang mujarab yang dapat mengobati kedua penyakit ini adalah hidayah al-Qur’an. Demikian hasil kesimpulan Ibnu Qayyim ketika membaca inti surat al-Fatihah. Ibnu Taimiyah yang dikutip oleh Ibnu Qayyim menyatakan bahwa penyakit kronis jiwa manusia adalah riya’ dan sombong. Penyakit riya’ dapat disembuhkan dengan iyyaka na’budu, sedang penyakit sombong dapat disembuhkan dengan iyyaka nasta’in.
Al-Kibru (Sombong) merupakan sejelek-jelek perbuatan, ia merupakan salah satu penghalang seseorang beriman mendapat petunjuk. Si sombong selalu melihat dirinya diatas segala-galanya. Ia merasa bahwa dirinya hebat, kaya, pintar dan jago, sementara orang lain diremehkannya.
Allah Subhanahu wa Ta'aala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan ancaman yang sangat berat terhadap orang yang sombong ini. Dalam satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari rasa sombong, bertanya seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sesungguhnya ada seseorang yang menyukai bajunya baik dan sandalnya bagus. Apakah itu bagian dari sombong. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'aala itu indah dan suka kepada keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (HR. Muslim)
Akhirnya, kita berdo'a kepada Allah agar memberikan hidayah kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diselamatkan dari fitnah syubhat dan syahwat. Amin.
Berkurban di daerah Rawan Pemurtadan. Silakan Klik link di bawah ini :

0 comments: