Pengajaran dari Bencana Alam

Filed under: by: 3Mudilah

Setiap manusia pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak dapat terlepas dari alam semesta. Jasadnya merupakan intisari tanah yang mengandung unsur – unsur dari tujuh lapis langit dan bumi (Qs. 23 : 11 – 14). 

Kemudian langit dan bumi telah bersumpah setia pada Allah pada kali pertama penciptaanNya. Bahkan mereka atas izin Allah telah diberi kuasa untuk menindak manusia yang lancang membelakangi tuntunan Sang Pencipta. (Qs. 41 : 11 – 13). 

Sedangkan ruh manusia  ketika masih di alam ruh telah pula diambil sumpah dan janji setia untuk mengabdi pada Allah Rabbul ‘alamin (Qs. 7 : 172).

Maka disaat telah cukup syarat pengingkaran manusia kepada Allah, disebabkan memperturutkan nafsu yang merupakan intuisi yang rawan dijangkiti bisikan iblis kecuali nafsu yang dirahmati Allah (Qs.12 : 58), maka datanglah janji dari Alam untuk menindak manusia dengan berbagai bencana yang tujuannya tidak lain agar mereka kembali kepada al haq (Al Quran) (Qs. 69 : 1- 10). 

Bencana alam itu serupa dengan yang menimpa qaum yang ingkar pada Allah dan rasulnya terdahulu  seperti gempa, angin taufan, banjir, hujan batu, banjir lahar, dan awan panas dari gunung berapi. Sebagai ketetapan sunatullah di dunia ditambah dengan seiksaan yang panjang di nereka nantinya, naudzubillah.

Perbuatan syirik, cabul (sex bebas; lesbian ; homo; bisexual), merampas harta dan kehidupan tanpa hak, kecurangan, mengurangi takaran, dan takabur merupakan pemicu datangnya bencana. Bukan disebabkan fenomena alam. Karena bumi dan langit tidak akan “menggeliat” ketika manusia taat dan bertaqwa pada Allah, bahkan mereka siap medatangkan keberkahan bagi penghuninya (Qs. 7 : 96). 

Namun sayang seribu sayang kemusyrikan dari kelas penyembahan kuburuan, keris, benda – benda keramat, dedemit sampai mencampur adukkan aturan ilahiyah dengan undang – undang produk manusia sudah menjadi budaya yang dipopulerkan saat ini. Belum lagi perilaku hewaniyah lainnya yang lazim menjadi tontonan, tuntutan dan tuntunan. Maka perilaku dholim inilah yang mendatangkan hidup yang tidak nyaman dan terus didlilit lingkaran syaithon (Qs. 6 : 82).

Maka adanya bencana alam ini paling tidak sebagai sinyalemen akan datangnya janji Allah, sebagaimana bencana besar pada qaum Rasulullah Nuh yang menandai munculnya peradaban baru yang insyaAllah lebih baik yang menggantikan generasi sebelumnya. Bukankah dalam kitabNya dan hadits rasulNya telah diterangkan akan datangnya masa keemasan Islam menjelang akhir zaman dimana manusia hanya terbagi dua golongan. Mukmin yang dimuliakan karena imannya dan kafir yang dihinakanNya karena keengganan dan takaburnya. Itulah qurun ummat manusia dipimpin oleh wakil – wakil Allah dalam Khilfah ‘ala Minhajin Nubuwah ; khalifah yang berjalan diatas manhaj para Nabi yang dijanjikanNya.

Untuk itulah agar kita ummat Islam tidak merugi dunia akhirat hendaknya memenuhi panggilan perniagaan dari Allah yang pasti mereguk keuntungan. Yaitu memperbaiki iman dan amal sholeh serta menenpuh langkah jihad dengan harta dan diri kita. Inilah satu – satunya cara kita akan selamat dari ancaman akan digantiNya dengan qaum lain yang lebih dicntai Allah dan mereka lebih baik dalam mencintai Allah. 

Tidak ada jaminan akan mudah masuk jannah jika hanya memiliki “modal” berupa 5 rukun Islam yang tidak diaplikasikan  dalam bentuk jihad dan keteguhan hati (shabar) dalam menempuh jalanNya (Qs. 3 : 124 / Qs. 2 : 214 / Qs. 47 : 31). 

Wallahu’alam (bdp)

0 comments: