Menjalani Ujian Hidup Ala Para Nabi

Filed under: by: 3Mudilah

Kalau kita baca kisah-kisah para nabi terdahulu, kita akan mengetahui bagaimana para nabi tersebut menyikapi sebuah ujian. Sebuah ujian  yang kesedahsyatannya tidak ada padanannya.

Secara umum Ada dua bentuk ujian yang diberikan Allah pada para nabi dan umatnya. Adakalanya Allah mengujinya dengan penderitaan, kekurangan, dikucilkan, dipenjara bahkan dibunuh, dan adakalanya berupa harta, pangkat, jabatan, prestise dan lain sebagainya.

Semuanya merupakan bentuk ujian dan semuanya akan dipertanggungjawabkan. Begitupun cara menyikapi ujian tersebut yaitu dengan dua cara, sabar atau bersyukur. Namun  kapan ujian tersebut harus disikapi dengan bersabar dan kapan harus disikapi dengan bersyukur? Disinilah penulis akan mencoba menjelaskan dengan mengacu pada kisah-kisah para nabi terdahulu.
 
Bersabar dengan ujian

Allah berfirman dalam al-Qur’an: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (al-Baqarah: 2/155). Bentuk ujian yang diberikan Allah pada para nabinya kebanyakan dengan bentuk penderitaan,kekurangan, diasingkan bahkan dibunuh.

Bagaimana nabi Ayyub di asingkan oleh kaumnya karna takut terjangkiti penyakitnya, beliau sering dipaksa oleh istrinya untuk minta kesembuhan kepada Allah namun beliau menolaknya, bahkan pada akhirnya beliau berdoa untuk kesembuhannya pun karna terpaksa, saat itu ulat-ulat yang menggerogoti kulitnya sudah mulai sampai kelidah sehingga beliau kawatir tidak bisa berdzikir menyebut kebesaran Allah.

Bagaimana nabi Ibrahim di uji sejak beliau dilahirkan; dibuang ke gua, setelah dewasa dibakar oleh raja namrud dan kaumnya, bahkan di masa tuanya pun ujian datang silih berganti, mulai dari lambat punya anak hingga beliau berumur 86 tahun, bahkan setelah dikarunia anakpun beliau diperintahkan untuk meninggalkan anak-istrinya (Ismail dan Siti Hajar) di suatu tempat tanpa sanak saudara. setelah sekian tahun berpisah akhirnya mereka dipertemukan kembali, namun ujiannya pun belum usai nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih putranya Ismail.

Bagaimana nabi zakariya dan yahya dibunuh, nabi isa di kejar-kejar sampai ke hutan,dan bagaimana baginda muhammad selalu dimusuhi, disiksa, dan bahkan hampir terbunuh. betapa kerasnya ujian yang menimpa Rasulullah sehingga malaikatpun menawarkan untuk menimpakan gunung pada musuh-musuhnya, namun beliau melarangnya. Itulah salah satu bentuk ujian yang semuanya dijalani oleh para nabi dengan penuh kesabaran.

Mensyukuri ujian

Disamping itu, selain ada nabi yang di uji dengan penderitaan, juga ada sebagian nabi yang di uji dengan kemewahan; prestise, tahta, jabatan dan lain sebagainya. namun bagaimana mereka menyikapi ujian yang seperti ini? Nabi yusuf yang di uji dengan keelokan rupa, beliau tidak lantas merasa seperti idola yang akan mempermainkan perempuan dan gonta ganti pasangan. ketika beliau dirayu oleh zulaikha yang cantik rupawan, beliau menolaknya hingga bajunya robek. bahkan beliau berkata: “Wahai tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka padaku” (Yusuf: 13/33). 

Nabi sulaiman, dengan kerajaannya dia bisa menguasai alam manusia, jin bahkan hewan, namun apakah beliau merasa jumawa dengan semua itu? ternyata tidak. Beliau adalah seorang raja yang bisa mengayomi semua rakyatnya bahkan terhadap hewan sekalipun, seorang raja yang karna kedermawanannya beliau minta izin kepada Allah untuk memberikan makan kepada semua hewan-hewan, seorang raja yang rela berhenti ketika segerombolan semut mau lewat dijalan yang sama. bahkan beliau adalah raja yang hidup zuhud karena kekayaannya yang beliau miliki digunakan untuk kesejahteraan rakyatnya, beliau menghormati tamu dengan hidangan yang serba ada padahal beliau sendiri makan dengan makanan seadanya. Itulah bentuk rasa syukur mereka atas anugerah Allah.

Dan masih banyak contoh-contoh para nabi dalam menyikapi ujian yang tidak mungkin semuanya penulis muat disini.

Gaya hidup zaman modern

Dalam kehidupan yang serba instant ini, kemewahan, seraba kecukupan, harta, tahta, dan jabatan adalah sebuah impian kebanyakan orang, bahkan hal ini tidak lagi dianggap sebagai ujian.

Rakyat sudah tidak lagi sabar dengan penderitaannya, begitupun pemerintah juga tidak bisa bersyukur dengan jabatannya. Semuanya ingin hidup enak, hidup individual, tak kenal tolong-menolong, bahkan semuanya diukur dengan pamrih. Rasanya tidak ada lagi sosok pemimpin dan hartawan seperti nabi sulaiman, pemimpin yang bisa menjadi pelayan bagi rakyatnya, bahkan bahasa” Imam al-Qaum Khodimuhum“ (pemimpin rakyat adalah pelayannya) hanya sekedar bualan di saat berkampanye saja.

Tidak ada lagi seorang Pemimpin seperti sosok  pemimpin yang membuat sayyidina umar menangis terharu ketika pemimpin tersebut tidur dengan berbantalkan pelepah kurma, soerang pemimpin yang terbiasa tidak makan sampai tiga hari, seorang pemimpin yang makan bersama dengan rakyatnya tanpa harus ada perbedaan.

Pemimpin yang ditangisi rakyatnya saat meninggalkan mereka menghadap tuhannya, Itulah baginda Muhammad. kebanyakan pemimpin sekarang mengikuti  aliran-aliran Qarun wa Fir’aun, pemimpin yang suka menumpuk-numpuk harta, menganggap prestisenya sebagai hasil jerih payah yang telah diperjuangkannya, tanpa harus peduli dengan penderitaan rakyatnya. pemimpin yang tidak sadar bahwa jabatannya hanyalah titipan sementara dan kelak semuanya akan  dipertanggungjawabkan.

Alangkah baiknya jika pemimpin-pemimpin sekarang membaca kembali sejarah-sejarah para nabi. Wa fi Qoshoshihim ‘Ibratun Li Ulil Albab….

Penulis adalah: Kandidat Master Of Islam Revealed Khowledge And Heritage (Fiqh And Usul Fiqh) International Islamic University Malaysia.
Pengurus FUSSI (Forum Ukhuwah Sarjana Studi Islam) e-mail : wafimuhaimin@yahoo.com
http://sabili.co.id/ibroh/menjalani-ujian-hidup-ala-para-nabi

0 comments: