Apakah Pak Presiden Takut Pada Gayus?

Filed under: by: 3Mudilah

Bapak Presiden yang terhormat! Seharusnya, Bapak bisa bersikap lebih arif dan bijaksana. 
Bukan takut pada Gayus!
(Surat Terbuka Untuk Bapak Presiden)
 
Bismillahirrahmanirrahim…
  
Atas Nama Kebenaran dan Keadilan
 
Saya sebagai rakyat kecil, selalu berharap dan berdoa kepada Allah agar diberi pemimpin yang adil dan bijaksana. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, konsistensi dalam bekerja, dan kesabaran dan menata negara yang makin terang maju ke arah ‘Republik Mimpi’. Karena demokrasi pun sudah berubah menjadi ‘Democrazy’. Kebebasan pun sudah beralih menjadi “kebablasan”. Semoga, Bapak bisa mengurus negara yang semakin carut-marut ini atas bimbingan Allah s.w.t.
 
Bapak Presiden, sejak awal saya menaruh banyak harapan kepada Bapak Presiden. Dan semoga harapan saya ini tidak pudar dan pupus. Karena melihat kondisi hukum di negara kita yang semakin tak jelas. Khususnya, kasus Gayus Tambunan yang seperti menginjak-injak “nurani keadilan” yang dianut oleh kami sebagai rakyat kecil. Karena ternyata di Indonesia ini yang banyak dan meruyak hanya kantor-kantor pengadilan. Sementara “keadilan” sepertinya jauh dari yang kami harapkan.
 
Bapak Presiden yang terhormat! Seharusnya, Bapak bisa bersikap lebih arif dan bijaksana. Dan itu saya kira bukan “intervensi”, melainkan kebijakan. Sebagai kepala negara, hak Bapak sangat besar di sana. Untuk menggeser ‘jarum jam’ dan ‘kompas’ keadilan. Itu bukan arogansi, melainkan independensi hak dan kewajiban. Maka, cepatlah selesaikan masalah keadilan dan hukum di negeri ini. Agar tidak menjadi cerita buruk dan sejarah kelam bagi generasi mendatang.
Bercerminlah Kepada Nabi!
 
Seharusnya, dalam menentukan kebijakan hukum dan keadilan rujukan setiap pemimpin di dunia ini adalah Nabi Muhammad, bukan yang lain. Konon lagi Bapak SBY adalah seorang Muslim. Tentu Bapak sangat faham benar bagaimana kepemimpinan beliau. Jika pun tidak kurang memahami dengan baik, saya bisa uraikan di sini sekelumit dari kisah kepemimpian beliau. Terutama dalam masalah “keadilan”.
 
Suatu ketika, beliau memberikan ‘tausiah’ kepada para sahabatnya, menyangkut penegakkan hukum bagi orang yang melanggarnya. Kata beliau, “Sungguh, salah satu penyebab hancurnya ummat-ummat terdahulu, jika orang yang terhormat; orang yang terpandang; orang yang kaya; orang yang berkedudukan tinggi “melanggar” dan melakukan pencemaran hukum, mereka biarkan. Tanpa ada sanksi apapun. Tetapi, jika orang yang lemah, miskin, dan tidak punya back-up dari mana pun melakukan “kesalahan” dan “pelanggaran”, maka langsung dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad “mencuri”, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya.”
 
Tentu, kisah di atas tidak asing bagi Bapak. Karena, setiap pemimpin negara di dunia ini pasti mengenal sosok agung yang oleh Michael T. Hart dijadikan orang “nomor wahid” dalam bukunya yang terkenal, “The 100 A Ranking of the Most Influental Persons in History”. Meskipun bisa jadi orang tidak jujur mengakuinya. Yang jelas pengaruh kepemimpinan beliau sangat luar biasa.
 
Anehnya, di negeri ini yang berlaku adalah masa-masa ketidakadilan manusia. Orang yang punya “money”, “fulus”, kekayaan, kedudukan, prestise, semakin sulit dikenakan hukum. Mereka menjadi manusia-manusia yang ‘kebal hukum’. Tetapi, jika yang melanggar hukum itu seorang nenek yang “mencuri cacao”, atau mengambil perment karet di super market, mudah sekali ditemukan delik hukum dan pasal pelanggarannya. Apakah benar negeri ini mengarah kepada “kehancuran”, seperti yang dipaparkan oleh Rasulullah di atas? Wallahu a’lamu bi al-shawab.
 
Belajarlah dari ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz!
 
Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz adalah sosok yang bisa Bapak jadikan “panutan” dalam memimpin negeri ini. Karena dia adalah seorang khalifah yang adil dan bijaksana. Bapak Presiden, ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz hanya berkuasa 2 tahun, tapi tidak ada seorang fakir maupun miskin yang menerima “zakat”. Karena seluruh rakyatnya sejahtera. Uang zakat akhirnya dikembalikan kembali ke Baitul Mal kaum Muslimin.
 
Bacalah apa yang ditulis oleh ‘Allamah Ibn al-Jauzi dalam bukunya “Sirah wa Manaqib ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz”. Di sana beliau menceritakan bagaimana kepemimpinan beliau. Beliau adalah “Mujaddid Pertama” dalam Islam, yang kemudian dilanjutkan oleh Imam al-Syafi’i. Beliau sangat berjasa dalam mengkodifikasi Sunnah Nabi Muhammad s.a.w.
 
Maka, tidak heran jika beliau dianggap sebagai seorang “Pemimpin yang Adil” (Imam ‘Adil). Kebaikan-kebaikannya diakui oleh seorang muhaddits besar sekelas Imam Ahmad ibn Hanbal, pengarang kitab hadits “al-Musnad” yang kesohor itu. Kata Imam Ahmad, “Jika Anda melihat seseorang yang “mencintai” ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz, kemudian dia menyebutkan dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya, ketahuilah bahwa di belakang semua itu ada kebaikan. Insya Allah.”
 
Itu sebabnya, ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz dianggap sebagai ‘Umar II, setelah ‘Umar ibn al-Khattab yang disebut sebagai ‘Umar I. Sanking adil dan bijaksananya. Bahkan, beliau dijuluki sebagai Khulafa’ Rasyidin Kelima. Sanking adil dan bijaksananya. Maka, belajarlah dari ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz, bagaimana mempin rakyat dan negara.
 
Satu lagi, suatu ketika seseorang menghadap ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz dan mengajak bercengkrama. Bapak tahu apa yang ditanyakan oleh ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz? Beliau bertanya, “Anda mau ngobrol tentang masalah pribadi atau negara?” “Pribadi,” jawabnya singkat. Seketika itu juga ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz meniup lilin yang dipakainya untuk menulis dokumen-dokumen negara. “Mengapa engkau matikan lilinnya wahai ‘Umar?”, tanya orang itu. “Karena lilin yang aku pakai untuk urusan negara, untuk urusan rakyat, bukan urusan pribadi. Dan aku tidak suka menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi.”
 
Itu lah kisah-kisah kebijsanaan dan keadilan seorang pemimpin kaliber dunia. Anda pun, wahai Bapak Presiden yang terhormat! Akan dikenang oleh sejarah, kalau saat ini bisa mengukur sejarah. Rakyat sudah “pegal-linu” menanti sang ‘Ratu Adil’. Rakyat sudah sangat sabar mendamba kebijakan dan keadilan, bukan ‘deru-debu’ palu pengadilan. Rakyat bisa marah Pak Presiden. Rakyat bisa berontak wahai sang pemimpin negara Indonesia Bersatu I-II. Dan jika Bapak melegakan perasaan mereka, Bapak bisa menjawab berbagai pertanyaan mereka yang kebanyakan tersirat dan bentuk demontrasi dan arak-arakan kejengkelan, Bapak akan dikenang sebagai pemimpin besar. Jika tidak, Anda akan dikenal sebagai pemimpin yang hanya sibuk memikirkan kepentingan pribadi.
 
Untuk itu, masalah Gayus bisa menjadi starting point bagi Bapak Presiden untuk menjawab segala pertanyaan dan keluhan masyarakat dan rakyat yang sudah lama menanti lisan bijak Bapak; menunggu kepalan tangan kebijakan Bapak, menanti ketuk palu keadilan kepala negaranya, dan mengharap persoalan keadilan menjadi “kenyataan”, bukan menorehkan luka dan kekesalan.
 
Bapak Presiden yang terhormat! Saya sebagai rakyat, sangat memohon Bapak dapat bergerak cepat dan tepat. Jangan lamban, karena ini adalah the golden apportunity. Ini lah saatnya untuk membuktikan bapak Bapak adalah wakil rakyat: suara rakyat, ruh rakyat, jasad rakyat, dan Bapak adalah rakyat. Karena Bapak berasal dari tengah-tengah mereka, bukan dari ‘dunia lain’. Akankah kita takut kepada Gayus???
 
Dari seorang rakyat jelata,
Qosim Nursheha Dzulhadi
http://www.hidayatullah.com/component/content/article/100-surat-pembaca/14245-apakah-pak-presiden-takut-pada-gayus

0 comments: