Puzzle Terorisme

Filed under: by: 3Mudilah

Menurut wartawan, polisi dan khususnya Detasemen 88, tidak menginginkan transparansi dan akuntabilitas

BAYANGKAN Anda mempunyai keluarga yang kuliah di tempat lain. Misalnya anak. Anak itu baik, rajin belajar dan saleh. Awas, jika dia punya sifat saleh, ada bahayanya. Dia bisa tersangkut jaringan teroris. Seolah-olah kita dikondisikan lebih baik punya anak yang baik, rajin, dan tidak saleh karena pasti selamat dari rekrutmen jaringan teroris.

Rangkaian teror bom di Indonesia, bahkan di dunia, yang dituduhkan kepada kelompok Islam, adalah semacam puzzle (kepingan-kepingan yang mengandung arti/gambar). Dan kita masing-masing hanya mengetahui beberapa keping saja.

Sejauh ini polisilah yang memonopoli sebagian besar kepingan itu. Ini sebagian karena minimnya investigasi independen (terutama di kalangan media) terhadap apa yang dilakukan polisi. Sebaliknya dari itu, banyak media justru menjadi corong polisi.

Di tengah bombardemen klaim-klaim polisi soal berita terorisme, media sebenarnya keteteran melakukan verifikasi (menguji kebenaran informasi yang diberikan sepihak). Suatu hal yang semestinya diakui media saja secara terbuka dan jujur kepada pembaca/pemirsa bahwa itu berita sepihak saja dari polisi.

Mantan koordinator liputan investigasi majalah Tempo, Farid Gaban menyebut, ada banyak sekali data yang perlu diverifikasi terkait klaim polisi yang jadi berita soal terorisme. Dalam metode critical thinking, kita bahkan sebenarnya layak untuk mempertanyakan "bukti forensik" polisi, misalnya, sesuatu yang selama ini "terpaksa" kita (baca: wartawan) terima begitu saja tanpa bisa diuji kebenarannya. Misalnya apa sih sebenarnya bom yang meledak di Bali? Benarkah itu bom pupuk yang dibeli Amrozi di Surabaya, seperti kata polisi? Media tidak bisa membuktikan kebenarannya.

Bagaimana kepala Asmar Latin Sani bisa ditemukan utuh di kamar Hotel Marriott? Padahal bom berkekuatan besar itu bisa menghancurkan beton apalagi lagi cuma kepala manusia yang bernama Asmar Latin misalnya.

Menurutnya, polisi dan khususnya Detasemen 88, tidak menginginkan transparansi dan akuntabilitas, bahkan untuk sesuatu urusan yang jelas. Kata "teroris" seakan bisa membenarkan apa saja yang mau dilakukan polisi. Sebuah sikap tidak transparan dan tidak akuntabel. Sangat potensial mengandung penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi.

Menurutnya, wartawan dan juga pembaca perlu berhati-hati dengan serpihan-serpihan fakta itu dan tidak membuat kaitan secara gampangan. Sebab, di tingkat inilah, bukan fakta lapangan, tapi sebenarnya propaganda bekerja.

Dalam propaganda dikenal teknik "pivot", sebuah analogi dalam bidang mekanika mesin. Teknik ini mengkaitkan berbagai hal yang mengorbit ke sebuah simpul (A pivot is that on which something turns). Kaitan ini tidak dinyatakan secara eksplisit tapi karena diulang terus-menerus akhirnya diterima oleh audiens sebagai korelasi langsung.

"Teror" adalah pivot itu, sebuah kata yang membundel beberapa kata kunci seperti "Jemaah Islamiyah, Al Qaedah, Afghanistan, Iraq, Moro, Ambon, Poso, negara Islam, Syariah" seolah-olah semua kata itu memiliki kaitan langsung dan otomatis.

Perhatikan perkembangan berita soal teroris akhir-akhir ini. Bermula dari perampokan bank di Medan yang bisa dilakukan bandit mana saja, berkembang ke arah teroris. Kosa kata terorisme secara bahasa pada mulanya berarti tindakan kekerasan disertai sadisme-yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti lawan.

Sekarang kosa kata itu menjadi bias. Setiap kali kata teroris disebutkan di televisi, asosiasi pikiran kita langsung kepada mereka yang Islam, berjenggot, punya pikiran mendirikan negara berdasarkan syariah dan tukang bom. Tak terbayang oleh kita bahwa para bandit atau aparat yang melakukan operasi intelijen bisa melakukan hal yang sama. Lihat, betapa pikiran kita telah dikendalikan sedemikian rupa oleh kekuatan raksasa tanpa kita sadari.

Kemudian ketika Polsek Hamparan Perak diserang orang tak dikenal, lalu dicari korelasinya itu adalah aksi balas dendam teroris. Kemudian dari proses penyidikan berkembang lagi pengakuan, ada teroris impor dari militan Irak dan Afghanistan. Setiap penangkapan, polisi mengumumkan "buron nomor satu" untuk memberi kesan penting: misalnya tokoh-tokoh seperti Baasyir, lalu Azahari, terus Noordin Top, Zarkasih, Abu Dujana dan kini Abu Tholut alias Mustofa.

Masih menurut wartawan senior itu, semua "buron nomor satu", meski dalam beberapa kasus yang ditangkap/dibunuh adalah orang yang sehari-hari bekerja menjadi penjahit, guru atau penjual kelontong keliling, dan dengan tuduhan sederhana menyembunyikan tersangka teroris, sekarang menurut versi polisi dari upaya pengembangan kelompok Abu Tholut (sama dengan langgam yang sudah-sudah) mereka adalah sebuah organisasi yang rapi, terstruktur, dengan satu komando khusus, omnipotent (ancaman potensial )dan omnipresent (ada di mana-mana). .

Tanpa skeptisisme, termasuk mempertanyakan extra-judicial killings dalam penggerebegan tersangka teroris, kita gagal mengurai fenomena terorisme yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Itu sebabnya bukan aneh ketika keluarga Khairul Ghazali (tersangka teroris Medan) di Kota Tanjung Balai Asahan membantah pemberitaan media yang memuat pernyataan polisi yang mengatakan telah terjadi baku-tembak saat penangkapan Khairul di rumah kontrakannya. Sebab di rumah itu hanya ada anak dan istri Khairul dan tidak ada pagar manusia yang membela dia seperti kata berita.

Adil Akhyar, adik kandung Ghazali menuding penangkapan itu rekayasa. Adil tidak sekadar bicara. Jika terjadi baku-tembak tentulah rumah-rumah di sekitar lokasi penyergapan ikut rusak kena peluru. Kenyataannya hanya rumah yang digrebek polisi yang rusak akibat tembakan. Menurut Farid Gaban bahwa setiap penyidikan TKP (crime scene investigation) memiliki beberapa elemen: pelaku, bukti (forensik, balistik maupun kesaksian), dan motif. Motif merupakan elemen terpenting dalam investigasi, kadang lebih penting dari pengakuan dan kesaksian, untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan.

Pertanyaan sederhananya, siapa paling diuntungkan oleh kejahatan mereka? Siapa yang dapat panggung? Siapa yang jadi hero? Absennya motif, yang bisa dijelaskan secara tuntas dalam berbagai peristiwa teror bom di Indonesia, yang paling membuat kita ragu, teror ini dilakukan dengan motif agama atau politik. Saya teringat pernyataan David Rockefeler saat berpidato dalam satu pertemuan Dewan Bisnis PBB di tahun 1994. ”..kita tengah berada di ambang transformasi global. Yang diperlukan adalah krisis besar sehingga bangsa-bangsa di dunia akan menerima tata dunia baru kita,” ujarnya.

Artinya krisis besar itu sengaja diciptakan. Krisis itu bisa berbentuk apa saja, termasuk aksi terorisme. Yang penting akibat krisis itu ada kelompok yang dirugikan dan ada yang diuntungkan karena mencapai target yang diharapkannya. Kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi, karena ia mirip teka-teki puzzle. Dan kita masing-masing hanya mengetahui beberapa keping saja. Silahkan rangkai sendiri.***



Oleh: Helfizon Assyafei*
Jurnalis peminat masalah sosial dan politik. Pernah Belajar Jurnalistik di Lembaga Pers Dr Soetomo Jakarta. elfiz2005@yahoo.co.id This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
http://hidayatullah.com/kolom/opini/opini/13529-puzzle-terorisme
 

0 comments: