Menolak Bala Menuai Murka

Filed under: by: 3Mudilah


Bulan syawal beberapa hari yang lalu telah berakhir, di beberapa tempat di Indonesia masyarakat mengakhiri bulan syawal dengan ritual “syawalan”. Tradisi ini meski dikaitkan dengan Islam namun sama sekali bukan ajaran Islam. Ritual sesajen yang digelar dalam acara tersebut lebih menjurus pada perbuatan bid’ah bahkan tak ketinggalan keyakinan syirik. Seperti yang terjadi di Klaten, Jawa Tengah, sebanyak 16 gunungan ketupat yang dibuat oleh berbagai instansi pemkab dan kantor pemerintahan tingkat desa serta kecamatan di Klaten menjadi sasaran rebutan oleh ribuan warga pada tradisi tahunan tersebut. Warga saling berebut karena mereka berpikir bahwa semakin banyak ketupat yang mereka dapatkan akan memperbanyak pula rezeki yang mereka peroleh. Mereka pun percaya bahwa tradisi tersebut bisa menjadi penolak bala bagi mereka.

Indonesia kaya dengan berbagai tradisi “tolak bala”, di tiap daerah mempunyai cara dan ritual sendiri-sendiri. Kalau ditilik dari sejarahnya, umumnya ritual-ritual tersebut adalah warisan nenek moyang Indonesia yang notabene masih menganut agama Hindu ataupun Budha dan sebagian besar dalam kepercayaan animisme (kepercayaan kepada kekuatan roh) dan dinamisme (kepercayaan kepada kekuatan benda-benda mati). Setelah Islam masuk, terjadi asimilasi (percampuran) antara Islam dengan berbagai kepercayaan tersebut. Agama Islam sebagai “tamu” harus menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat. Disinilah letak kesalahan fatal tersebut, sebab Islam yang monotheis (mengajarkan ajaran ketauhidan, hanya menyembah kepada Allah semata), di sinkronkan dengan kepercayaan Polytheis (banyak tuhan) jelas takkan mungkin harus ada keyakinan yang mengalah.
Pada akhirnya meski berstatus sebagai muslim sebagian dari mereka masih menganut Politheisme, mengakui adanya Allah dan juga meyakini adanya kekuatan tandingan selain Allah, entah kepada makhluk halus seperti arwah, roh, dedemit, panjaga gunung dan penjaga-penjaga lainnya atau juga kepada benda-benda yang dianggap bertuah seperti keris, kuburan dan juga ketupat syawalan. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah:
“Dan sebagian besar mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya.” (QS. Yusuf : 106).
Jika mereka menganggap bahwa makhluk halus ataupun benda tersebut bisa mendatangkan keselamatan ataupun bencana bagi mereka maka jelas mereka sudah terjatuh dalam kesyirikan. Namun jika menjadikan makhluk halus ataupun benda tersebut sebagai perantara (tawasul) kepada Allah maka ia pun terjatuh pada perbuatan bid’ah karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Islam sudah sempurna

Adat Istiadat ataupun budaya memang tidak selamanya bertentangan dengan ajaran Islam, namun ketika terjadi pertentangan maka syariat Islam harus menjadi prioritas dan berada diatas segalanya. Islam tidak membutuhkan penambahan kesempurnaannya telah dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Qs. Al-Maidah ayat : 3. Dan Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam tidaklah wafat kecuali telah menjelaskan seluruh perkara dunia dan agama yang dibutuhkan. Jika demikian, maka maksud perkataan atau perbuatan bid’ah dari pelakunya adalah bahwa agama ini seakan-akan belum sempurna, sehingga perlu untuk dilengkapi, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala belum terdapat di dalamnya.
Ibnu Majisyun berkata : “Aku mendengar Imam malik berkata: “Barang siapa yang membuat bid’ah dalam islam dan melihatnya sebagai suatu kebaikan, maka Sesungguhnya dia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad telah berkhianat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman Dalam Al-qur’an , “pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamu.” Maka apa yang pada hari itu tidak termasuk sebagai agama maka pada hari inipun bukan termasuk Agama.”( Asy-syatibi dalam Al-I’tisam).
Perbuatan yang dimaksudkan sebagai ibadah pun tidak serta merta akan diterima sebab syarat diterimanya suatu ibadah adalah: ikhlas dan sesuai dengan sunnah.
Ikhlas semata-mata karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pahala di akhirat, bukan pujian atau balasan makhluk ataupun ucapan terima kasih yang ini adalah merupakan kandungan syahadat La ilaaha illallah. Sesuai dengan sunnah yaitu sesuai dengan perintah dan tuntunan Rasullullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, bukan berdasarkan hawa nafsu dan bid’ah yang diada-adakan, yang hal ini merupakan kandungan syahadat Muhammad Shallallahu ‘Alahi wa Sallam. Dengan demikian amalan bid’ah itu kehilangan syarat kedua, dari dua syarat di terimanya amal.
Bid’ah hanya akan menggesar sunnah bahkan menghancurkannya. Ketika bid’ah merebak maka bisa dipastikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditinggalkan.
Seperti apa yang di katakan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu  Anhu: “Tidaklah datang suatu tahun pada Manusia melainkan mereka membuat bid’ah dan mematikan sunnah, hingga bentuk-bentuk bid’ah menjadi hidup dan sunnah menjadi mati.”
Padahal jika seseorang ingin menekuni semua sunnah Rasulullah maka seumur-umur dia tidak akan sanggup melaksanakan semuanya. Maka jika demikian kenapa harus disibukkan lagi dengan perkara yang bid’ah? Dimana tidak sedikit harus ritual bid’ah memerlukan biaya dan tenaga yang banyak.
Lihatlah, betapa banyak orang yang rela berdesak-desakan untuk mendapat jatah ketupat syawalan dibanding menunaikan shalat berjama’ah di masjid yang tidak perlu berdesak-desakan?
Hanya Allah Sumber Keselamatan
Seorang muslim harus yakin bahwasanya hanya Allah lah yang menguasai seluruh kebaikan dan mudharat, baik yang belum menimpa maupun yang sudah menimpa. Allah Ta’ala berfirman,
“Katakanlah: Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudhratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya? Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku, kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az Zumar [39]: 38)
Ayat ini dan ayat-ayat yang semacamnya memupus ketergantungan hati kepada selain Allah dalam meraih kebaikan atau menolak madharat, dan menunjukkan bahwasanya ketergantungan hati kepada selain Allah itu termasuk perbuatan mempersekutukan-Nya.
Bergantung Kepada Selain Allah
Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada seseorang yang mengenakan gelang dari bahan kuningan, maka Nabi pun bertanya kepadanya, “Apa ini?”, orang itu menjawab, “Ini aku pakai karena aku sakit”. Maka Nabi bersabda, “Lepaskan saja itu, karena ia tidak akan menambah kepadamu kecuali kelemahan, sungguh jika engkau mati sementara gelang itu masih kau kenakan niscaya engkau tidak akan selamat selama-lamanya.” (HR. Ahmad)
Pelajaran yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwasanya orang yang mengenakan gelang dan semacamnya dalam rangka menolak bala atau menghilangkannya termasuk perbuatan syirik karena Nabi bersabda, “jika engkau mati sementara gelang itu masih kau kenakan niscaya engkau tidak akan selamat selama-lamanya,” ditepisnya keselamatan menunjukkan bahwa orang yang melakukannya pasti mendapatkan kebinasaan dan kerugian.
Bagaimana dengan jimat/tamimah?
Orang Arab dahulu biasa memakaikannya pada anak-anak untuk menjaga mereka dari gangguan mata jahat (‘ain). ‘Ain ini bila menimpa seseorang dapat membuatnya jatuh sakit secara tiba-tiba. Bahan tamimah bisa terbuat dari kerang, batu, kayu, akar, kulit, kain atau bahan apapun yang dipakai untuk tujuan tolak bala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengalungkan tamimah/jimat maka dia telah berbuat syirik.” (Hadits shohih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad). Dan hukum mengenakan tamimah menjadi syirik akbar jika pelaku meyakini bahwa benda yang dipakainya itu bisa memberikan pengaruh sediri di luar kehendak Allah. Adapun jika dia meyakini bahwa itu sekedar sebab saja maka hukumnya syirik ashghor. Namun seseorang tidak boleh meremehkan syirik ashghor, karena tingkah polah hati sering kali cenderung bersandar kepada sebab. Terlebih lagi syirik ashghor yang penampakannya sangat samar adalah dosa terbesar seorang muslim, yang kadarnya lebih berat daripada dosa berzina, mencuri dan semacamnya maka tidak ada kata lain kecuali waspada.
Berserah Diri Hanya Kepada Allah
Apabila kita cermati baik-baik maka ternyata kunci utama agar kita terbebas dari ketergantungan kepada selain Allah adalah dengan bertawakal kepada-Nya. Oleh karena itulah Allah memerintahkan untuk mengatakan, “Cukuplah Allah bagiku” dan Allah tegaskan bahwa orang yang bertawakal itu senantiasa menyerahkan urusannya kepada Allah ta’ala. Ini artinya orang yang tidak bertawakal kepada-Nya maka tidaklah ia disebut orang yang bertawakal. Bahkan dia telah kehilangan kesempurnaan atau bahkan seluruh imannya, sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Kepada Allah lah orang-orang yang beriman menyerahkan diri.” (QS. At Taubah [9]: 51). Dan barangsiapa yang menyerahkan urusan kepada selain-Nya maka dia akan dihinakan dan tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya.
Memang demikianlah keadaannya, segala yang dijadikan sandaran oleh manusia untuk mengatasi permasalahannya adalah justru berbalik menjadi sebab kelemahannya kecuali jika yang dijadikan sandaran adalah Allah ‘azza wa jalla, karena memang hanya Allah lah yang pantas. Dia lah satu-satunya Dzat yang menguasai langit dan bumi, kehidupan dan kematian serta keselamatan dan kebinasaan. Oleh karena itu marilah kita cermati hati kita masing-masing apakah selama ini kita memiliki ketergantungan hati kepada selain-Nya, jangan-jangan kita berkubang syirik namun kita tidak sadar dan merasa aman-aman saja. Padahal keamanan dan petunjuk hanya akan diperoleh jika kita senantiasa menjaga keimanan agar tidak terkotori kesyirikan.
Berhati-hatilah terhadap segala kesyirikan dan bid’ah meski dalam upaya menolak bala sebab alih-alih menolak bencana malah mengerjakan perbuatan yang menuai murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.[]

0 comments: