Bedah Buku Harokah Jihad Ibnu Taimiyah

Filed under: by: 3Mudilah

Berikut ini adalah naskah transkrip ceramah pembicara pertama (Ust. Ahmad Rofi’I, Lc)--dengan perubahan seperlunya berkaitan dengan kata-kata yang membingungkan--pada Bedah Buku Harakah Jihad Ibnu Taimiyah.

Ceramah ini disampaikan pada acara: Bedah Buku Ibnu Taimiyyah wal ‘Amalul Jamaa’I (Harakah Jihad Ibnu Taimiyah). Hari dan tanggal: Ahad, 09 Mei 2010-07-22. Pukul: 08.00 s/d selesai. Pembicara Pertama: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc, Pembicara Kedua: Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, Tempat: Masjid Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Penyelenggara: LD Robbani bekerja sama dengan: Forum Aktifis Masjid dan Mushalla (FAMM) dan DKM Al-Azhar, Jaka Permai.
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله، الحمد لله الدي هدانا لهدا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله وصفيه وخليله وخيرته من خلقه أرسله الله بشيرا ونديرا وداعيا إلى الله وسراجا منيرا
الصلاوة والسلام  عليه وعلى آله وصحابته ومن تبع سنته الى يوم القيامة وبعد.
وقد قال الله عزوجل: يآ أيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
يأيها الدين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفرلكم دنوبكم ومن يطيع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Jama’ah sekalian, hadirin hadirat. Ikhwani  wa akhwati a’azzaniyallahu wa iyyakum. Bersyukur kepada Allah SWT atas taufik, hidayah dari Allah SWT, kita akhirnya berkumpul di rumah Allah SWT untuk memahami Al-Qur’an, untuk menghayati Al-Qur’an, untuk bersama-sama sepakat mengamalkan Al-Qur’an, untuk juga menegakkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.

Saya mengingatkan saya pribadi dan setiap kita ummat Muhammad ‘alaihi shawatu wa salam bahwa di antara misi Rasul saw., dilahirkan dan dibangkitkan sebagai nabi dan rasul adalah, 3 ayat Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an. Satu di antaranya adalah Allah berfirman dalam surat Ash-Shaaf. Kata Allah SWT (yang artinya, red): "Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."

Allah memberi tahu kepada kita berupa berita, kalaulah Dia, siapa Dia, Dia adalah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya (Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib). Membawa apa? Dibekali apa Rasul ini? Oleh Allah katakan, Rasul itu bukan mengarang sendiri, menciptakan sendiri, meneliti sendiri, merumuskan sendiri. Tidak! Allah SWT sudah membekali beliau dengan bil huda (petunjuk) dan wa diinil haqqi, yakni Islam. Dua-duanya adalah dari Allah SWT. Oleh karena itu, tidak benar bila ada orang yang mengatakan bahwa Islam itu atau ajaran Muhammad itu adalah hasil belajar Muhammad kepada para rahib atau hasil rekayasa para ummat Muhammad. Kalla, Al-Islam Allah turunkan kepada Muhammad melalui Jibril, Rasul yang punya andil, bahkan apa yang keluar dari omongan Rasul adalah wahyu. Allah berfirman, “Apa yang diucapkan Rasul itu bukanlah dari hawa nafsu, melainkan wahyu  yang diwahyukan Allah kepadanya.” (An-Najm: 3-4.)

Mengingkari sunnah Rasul sama dengan mengingkari firman Allah. Mengingkari firman Allah, jangankan satu Al-Qur’an, satu huruf pun murtad menjadi kafir, halal damuhu (darahnya). Apa kata Allah?
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 33).

Muhammad dilahrikan di dunia ini adalah haqqan, Islam ini menang,  ya’lu walaa yu’la ‘alaihi …. Islam harus tinggi, Islam harus menang, Islam harus unggul, Islam tidak boleh ada yang melebihi daripada Islam. Islam yang harus punya mengasuh dan mengayomi, membimbing, mengarahkan manusia penduduk bumi yang Allah cintai di muka bumi ini. Allah cinta kepada Islam, bukan kekufuran. Karena itu, Allah benci kepada kekufuran dan ridha kepada Islam.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (At-Maidah: 3)

Allah ridha kepada Islam, Allah benci kepada kekufuran dan Allah tidak suka kepada orang-orang kafir. Para hadirin sekalian, berarti dengan ayat ini Allah memberitahu kepada kita semua bahwa Rasul lahir ke dunia untuk memenangkan Islam, agar bisa menjadi aturan bagi seluruh manusia. Bahkan, sekaligus Islam menjadi rahmatal lil ‘alamin. Kasih sayang Allah atas antum semua. Hanya saja, jama’ah sekalian, bahwa orang yang tidak suka kepada Islam adalah orang-orang musyrikun. Karena, kata Allah walau karihal musyrikun, betapapun orang-orang musryik itu benci. Ahlul kitab tidak patut untuk membenci Islam, malah mereka harus masuk Islam. Disebut ahlul kitab karena mereka berketurunan dari para nabi dan rasul yang mengajarkan Al-Islam, yang sama asalnya dari Allah.

Jama’ah sekalian, hadirin wal hadhirat yang dimuliakan Allah SWT! Berbicara tentang masalah buku yang akan kita bedah pada kesempatan ini Harokah Jihad Ibnu Taimiyah, lalu "Karena Harakah Itu Sunnah, Bukan Bid’ah". Jadi, kalau Saudara-Saudara sekalian endus dari judulnya dikehendaki bahwa harakah jihad Ibnu Taimiyah, itu yang semestinya. Dan tidak boleh mengatakan bahwa harakah itu adalah bid’ah, karena ada contohnya. Jadi ada pernyataan dan ada alasan. Jadi harakah itu boleh, karena harokah itu sunnah, bukan bid’ah. Dari judulnya adalah, walaupun judul buku ini adalah kalau dilihat dari aslinya adalah berjudul Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah wal ‘Amalu al-Jama’i”, jadi Ibnu Taimiyah dan amal jama’i. Oleh karena itu, sebenarnya kalau terjemahan judul lebih menarik judul buku ini daripada judul kitab aslinya. Kalau terjemahannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, berarti Ibnu Taimiyah. Wal ‘Amalu al-Jama’i, dan beliau menyikapi terhadap amal jama’i (amal jama'ah).  Judulnya Harokah jihad Ibnu Taimiyah. Saya tidak akan mengurai kalimat ini, tetapi memang ilmu bisnis itu, bahwa judul buku itu harus menarik. Sehingga menarik minat pembaca untuk membeli dan membaca. 

Tapi kalau dikatakan Ibnu Taimiyah dan Amalul Jama’i, bisa tidak familiar, karena amal jama’i diterjemahkan tidak familiar juga. Kalau dikatakan amal jama’i itu adalah bekerja kolektif. Jadi kalau diterjemahkan Ibnu Taimiyah dan kerja kolektif. Oleh karena it,u tidak diterjemahkan seperti aslinya. Oleh karena itu, diterjemahkan menarik “Harokah Jihad Ibnu Taimiyah” sehingga agak serem sedikit, lalu orang penasaran, ah beli ah. Dan ini adalah biasa di dunia publisting, walaupun terkadang tidak sedikit yang menyimpang.

Nah oleh karena itu, saya tidak akan banyak bicara di sini. Yang jelas adalah pembelajaran yang dapat diambil daripada judul ini adalah ana punya pesan kepada Antum (Anda), bahwa apabila Antum mau beli buku dan buku yang Antum beli adalah buku terjemah, maka harus punya kaidah. Kaidah itu Antum catat!

Pertama, adalah tema dan bahasannya diperlukan dan memenuhi kebutuhan kita. Bukan judul, tapi temanya, bahasan-bahasannya atau kandungan buku itu adalah menjawab masalah yang kita butuhkan. Itu satu. Jadi Antum buka daftar isi. Kedua, adalah dari sisi penulis. Kalau penulisnya dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka Antum beli, tapi kalau penulisnya itu ahlul bid’ah, wal furqah atau wal mukhlifal kitab, maka jangan dibeli.  Karena kata Imam Malik:

لايؤخد العلم عن أربعة: عن الفاجر وعن الكدب وعن صاحب البدعة يدعو الى بدعته

“Ilmu itu tidak boleh diambil dari empat orang, … yaitu dari orang yang ia itu termasuk ahlul bid’ah yang aktif menyerukan kepada kebid’ahannya.”

Maka orang yang seperti itu, hasil karyanya tidak boleh dinikmati, tidak boleh dibaca oleh kaum muslimin. Ini wasiat Imam Malik. Harus selektif memilih penulis buku yang akan dibaca.
Kemudian yang ketiga, adalah itsbata wa watsaiq ‘ilmiyah, yaitu referen-referen atau catatan-catatan kaki, rujukan-rujukan ilmiahnya yang jelas dan paten. Jangan dari orang kafir, orang Barat, (14: 33) … tapi jelas Allah berfirman, lihat Al-Qur’an ayat sekian, sabda rasul, lihat hadits ini dengan nomer sekian, atau aqwalus salaf (perkataan salaf), perkataan ulama zahid dan seterusnya. Berarti kita dituntut untuk memahami din sesuai dengan pemahaman salaful ummah (pendahulu ummat). Tapi kalau catatakan kaki tidak ada, ayat Al-Qur’annya tidak ada, ayatnya cukup terjemahan, haditsnya cukup terjemahan dan isnad saja, bahkan haditsnya Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Baihaqi, cuman begitu tidak ada takhrijnya, saya berpesan untuk tidak membeli buku itu. Obyektif, tidak perlu keliru, karena buku tersebut belum diseleksi tentang keakurasian ilmiahnya, tetapi harus diseleski terlebih dahulu, haditsnya shahih berarti aman, oh haditsnya dha'if maka hati-hati kalau itu ada baru beli.

Kemudian ikhwan sekalian, yang tidak bakhil menampakkan naskah-naskah asli. Kalau Al-Qur’an menampakkan ayat Al-Qur’annya, Allah berfirman, “huwalladzi arsala rasulahu bilhuda wa diinil haqi”sehingga ada ajakan untuk syauq, rindu melihat nash-nash Al-Qur’an,  untuk melihat naskah hadits Rasulullah saw. Dan jangan seperti buku-buku yang banyak beredar, cukup dengan artinya, artinya, artinya, artinya kan menurut penerjemah. Tapi kalau orang yang mengerti, ia bisa mengatakan, ini salah catatannya, ini tidak benar dan seterusnya. Oleh karena itu, buku apa pun  yang Antum punya dan ingin dibeli, coba terapkan kaidah ini, insya Allah kita akan selamat.

Berikutnya adalah, saya akan mengomentari sedikit tentang buku ini. Saya termasuk yang mengawali. Oleh karena itu, saya akan sampaikan tentang poin kedua dalam tema buku ini. Tema kita saudara sekalian, ada empat perkara yang harus kita cermati. Di dalam buku ini, nanti Antum baca sendiri di rumah selengkapnya, karena kalau kita bahas satu per satu, maka waktunya tidak cukup. Tetapi, saya simpulkan bahwa dalam buku ini adalah pendapat “idzhar shuratin amaliyah liqiyadatil jihad min ghairi amiril mukminin”. Pendapat, perspektif yang kongkrit, dan aplikatif terhadap kepemimpinan jihad, komando gerakan jihad dan perang fii sabilillah yang dilakukan oleh bukan amirul mukminin.

Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala bukan amirul mukminin, bukan khalifah, bahkan pada saat itu ada kerajaan, tetapi beliau adalah iba terhadap nasib ummat, tidak rela dan tidak ridha ummat ini demikian diperlakukan. Oleh karena itu, beliau bangkit, beliau menjadikan dirinya sebagai qa’id, qa’idartinya adalah "komandan", almujahidin adalah "mujahid", menjadi pemimpin mujahidin, untuk kontra perang, untuk konfrontasi dengan Tar Tar yang mereka adalah tidak suka, bahkan memerangi Islam. Yang kemudian yang demikian itu tidak boleh didiamkan saja, harus dihadapi. Tampillah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memimpin perang itu, digambarkan hal itu di dalam buku ini. Jadi ikhwan sekalian, jika ingin tahu bahwa ada jihad tetapi tidak dipimpin oleh amirul mukminin. Di saat-saat ada orang mengatakan hari ini tidak boleh ada jihad karena amirul mukmininnya belum ada, sedangkan amirul mukminin adalah harus, wujubusy syarth adanya jihad. Kalau ada amirul mukminin berarti adajihad ath-thalab, maka pada saat itu wajib berjihad. Kalau belum ada amirul mukmininnya belum ada jihad, tidak perlu berjihad (pendapat tersebut disebarkan oleh kelompok salafi berbau murji'ah, red).

Nah, jawabannya adalah pada saat ada pemimpin kaum muslimin, pada waktu itu raja-raja, ada qa’idin mujahidin dan dulu Chechnya punya pegawai negeri pada saat itu. Ibnu Taimiyah adalah amirun, imamul muslimin dan bukan dari kalangan muwazhaf atau abdi negara. Tetapi dia adalah qa’idun mujahidin. Di saat itu saja beliau melakukan suatu qiyadah al-jihad. Mestinya ketika ada khilafah wajib jihad, apalagi kalau tidak ada khilafah Islamiyah, apalagi kalau tidak ada amirul mukminin, lebih perlu lagi.

Para jama’ah sekalian. Jihad itu ada dua, ada namanya jihadu daf’ dan ada namanya jihad ath-thalabJihadu daf’i adalah fardu kifayah bagi kaum muslimin dalam rangka pembelaan terhadap diri kaum muslimin. Eksistensi mereka terusik, hak-hak mereka terhujat, bahkan keberadaan mereka terancam, bukan saja fisik tetapi juga akidah mereka. Pada saat itu kaum muslimin harus bangkit untuk membela akidah, untuk membela manhaj, untuk membela din, dan untuk membela kaum muslimin. Itu namanya adalah jihadu ad-daf’.

Yang kedua adalah aljihadu ath-thalab. Jihadu thalab itu adalah jihad yang merupakan institusi, kalau sudah ada qa’id atau amir atau khalifah atau imam kaum muslimin. Kata imam, setelah menimbang, memutuskan, menetapkan bahwa kaum muslimin seluruhnya harus mendisiplinkan jihad fii sabilillah. Seperti Allah berfirman,

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (At-Taubah: 41).

Infiruu, larilah kamu, larilah kalian pergi menuju jihad fi sabilillah. Khifafan dalam keadaan ringan atau tsiqalan dalam keadaan berat, berat maupun ringan kamu harus pergi ke medan jihad, kalau tidak kamu berdosa. Namanya adalah fardhu ‘ain. Para hadirin sekalian, itu adalah bagian dari sekian banyak contoh yang ada di buku ini bahwa ada namanya jihad tanpa dipimpin bukan oleh kolektif (khalifah).

Berikutnya, dalam buku ini ada juga yang merupakan bukti kongkrit bahwa kerja, aktivitas, kegiatan yang terordinir (terorganisasi, red)  dengan baik, terprogram, sistematis, itu adalah termasuk pula digambarkan di dalam buku ini. Ini akan kita bahas, ... maka dari itu kita akan bahas.

Para hadirin sekalian, bahwa al-‘amal al-jama’i, kerja kolektif, berjuang, berjihad secara terordinir dengan baik itu adalah bagian dari sunnah Muhammad Rasulullah saw. Dalilnya dari Al-Qur’an, dalilnya dari As-Sunnah, dalilnya dari al-aqwal al-ulama, dari aqlun yang shahih, dari fitrah yang shahih, dari hissi, bahkan dari qanun pun sekalipun. Nanti barang kali sedikit-sedikit akan kita bahas.

Yang ketiga adalah bahwa dalam buku ini juga idaman, bahwa merupakan gambaran kongkrit, tidak boleh dinyang-nyang (ditawar-tawar, red) terhadap kemungkaran. Bahkan dalam buku ini ada bahwa Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala mengingkari kemungkaran itu dengan kongkrit, bahkan tidak mati (tak henti-hentinya, red) markas-markas, central-central kemungkaran itu ditawarin, didakwahin (didakwahi, red). Menunjukkan bahwa ingkaru mungkar itu harus ada, jangan jadi orang yang dingin, dinginnya terhadap kemungkaran itu akan melahirkan kejahatan. Katanya, udahlah jangan ikut campur urusan orang, nafsi-nafsi dan ini akan melumpuhkan dan menambah kemungkaran.

Berikutnya adalah bahwa sedikit terhadap penerjemah adalah dengan dimunculkannya buku terjemah ini agar mereka, barangkali menurut tafsiran saya, mempunyai keinginan untuk membangkitkan ruhul jihad dari kaum muslimin. Orang sekarang, apabila mendengar jihad itu ngeri, takut karena identik dengan apa yang dihembuskan oleh orang-orang kafir, yaitu bahwa terorisme, terorisme, terorisme. Padahal hadirin sekalian, justru yang menjadi korban adalah kaum muslimin. Nah, oleh karena itu maka ini juga harus kita hargai. Ada suatu keinginan bahwa jihad itu harus tumbuh dari kaum muslimin. Jangan sampai terlena, terjangkiti oleh wahnun.

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

"Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk." Seorang laki-laki berkata, "Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?" beliau menjawab: "Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn." Seseorang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?" beliau menjawab: "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Daud: 3745).

Lalu apa wahnun itu, kata Rasulullah, hubbun dunya wa karahiyatul maut. Cinta dunia dan takut mati. Kalau sudah masalah dunia, sebelum istri bangun, sudah bertolak dari rumah. Isteri dan anak sudah tidur baru ia pulang ke rumah. Itu untuk urusan dunia. Tapi kalau untuk urusan ad-dakwahatau thalabul ‘ilmu (mencari ilmu), ngaji pun, ikut pengajian saja, nantilah sehabis isya’. Kalau sudah selesai kerjaan baru shalat. Kalau waktu libur, ada waktu senggang, atau sesudah undangan atau arisan baru ngaji. Kalau bentrok dengan undangan tidak jadi ngaji. Ikhwan sekalian, ini adalah musibah. Hubbunddunya wa karahiyatul maut. Bahkan tidak sedikit orang mengatakan, mengikuti pengajian itu lambat laun tambah susah. Para hadirin sekalian, ini di antara beberapa hal yang perlu kita perhatikan.

Berikutnya adalah seolah buku ini mengkaunter (membantah, red.) terhadap sekelompok orang yang anti terhadap orang yang bekerja secara terordinir (terorganisasi, red). Apabila mendengar organisasi, mendengar kerja yang teroganisir, atau tanzhim, seperti makan udang, langsung dia bentol-bentol, langsung buang air, alergi. Nah buku ini nampaknya mengkaunter itu. Nah oleh karena itu, maka saudara-saudara sekalian, dalam kesempatan kali ini sebelum saya masuk, ada positif dan negatifnya menampilkan tema seperti ini.

Satu:  ........ (suara rekaman kurang jelas sehingga tidak bisa ditulis di sini, red.)
Kedua adalah bahwa pekerjaan secara terordinir tidak boleh pobi, harus terbiasa. Justru tidak nyunnah, tidak termasuk dalam kata Ahlus Sunnah jika bekerja itu tidak terprogram, tidak rapi, tidak tersusun, tidak terevaluasi, tidak terkontrol, itu justru bid’ah, bukan sunnah. Justru yang sunnah itu adalah yang terordinir, pelajari manhaj hijrah Rasul saw! Menurut apa yang saya pahami dan kumpulkan, hijrah Rasul dari Makkah ke Madinah itu terdapat pelajaran tidak kurang dari 50 poin, begitu terangkumnya Rasul bersama para sahabatnya hijrah. Tetapi sayangnya, ada orang yang anti terhadap kerja yang terorganisir. Jangan-jangan mereka terkena virus yang sengaja disebar oleh orang-orang kafir. Farriq tasquth, pecah belahlah kaum muslimin nanti kamu akan menjadi penguasa, jadi sayyid. Oleh karena itu, biarkan virus itu menyebar di tengah kaum muslimin, supaya mereka saling tuding, saling mengumpat, saling tengkar dan seterusnya, tidak mau satu sama lain bersatu, akhirnya mereka acak-acak kemudian bercerai berai, kemudian lemah, akhirnya mereka saat itu hancur. Sadari kaum muslimin bahwa itu tidak sesuai sunnah Rasul.

Ketiga adalah dalam buku ini bisa dibuktikan bahwa penyingkapan terhadap syubhat bagi orang yang mengatakan bahwa tanzhim itu adalah bid’ah. Saya akan bawakan aqwalul ulama ahlil ‘ilmi wal masyayekh (perkataan ulama ahli ilmu dan para syaikh, red.), tetapi tidak sekarang.

Berikutnya adalah negatifnya. Menurut saya mengangkat tema ini ada negatifnya, negatifnya adalah bahwa menentukan bahwa kita baru berfikir, sedangkan orang-orang sudah berbicara bagaimana meningkatkan etos kerja, juga meningkatkan bagaimana kaum muslimin bisa dijadikan sebagai objek. Kita baru memikirkan bekerja sama itu boleh, kan terlambat. Orang-orang sudah sampai Makkah, kita baru membawa tas mau berangkat. Ke mana? Oleh karena itu, jangan mau jadi orang yang terlambat. Bergabunglah dengan siapa saja, yang penting mengusung jayanya Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘ala fahmi salafil ummah (berdasarkan pemahaman para salafus shaleh). Janganmunfaridin (sendirian), mun’azilin (memisah). Menyendiri sendiri saja, kerjanya sendiri saja, apa yang ia punya lebih baik dikerjakan sendiri, tidak terprogram. Kalau terprogram, hari ini saya beli bata, hari ini saya beli pasir, hari ini saya beli kusen, besok beli genteng, besok datangkan tukang, berikan gambarnya, baru dimulai pembangunannya. Tapi kalau sendiri-sendiri, mungkin khair, tapi masalahnya mampukah? Oleh karena itu saudara sekalian, ini adalah pelajaran, membahas ini seharusnya sudah puluhan tahun lalu. Seharusnya sekarang ini kita sudah membicarakan, wahai kaum muslimin, mari bangkit bagaimana cara membangun kekuatan. Baru kali ini, tapi tidak apa, Alhamdulillah daripada tidak. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa al-‘amal al jama’I dharuri.

Kedua seolah-olah buku ini dibahas dalam rangka memenuhi panggilan orang yang mengatakan bahwa tanzhim itu bid’ah, akhirnya kita kaunter (bantah, red) yuk! Jadi ada sedikit menganggap kita konsentrasikan untuk menoleh ke kanan ke kiri karena menjawab syubhat. Pada semestinya, kaum muslimin sekarang ini sudah tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, mari fokus ke depan. Soolib, formasi salib terjadi di masjid Al-Barkah, Bekasi. Lalu kemudian bancinya tidak ada yang tahu, karena katanya BNK bekasi tidak pernah memberi izin, padahal acara mengatasnamakan BNK. Inikan banci. Ngaku dong, jentel, biar kita tau siapa yang bertanggung jawab.

Para hadirin sekalian, mereka sudah sampai situ. Mungkin saja kemarin itu dijadikan starter, nah ini ngicipin (mencoba, red) ini, ngerasa nggak? Eh, molor juga ni orangnya tidak sadar-sadar. Saudara-saudara sekalian, jangan menjadi orang yang “la hayata walaa maut”, tidak hidup tidak mati.

Para  hadirin sekalian, pekalah terhadap lingkungan, bahwa Allah berfirman: (ولن ترضي عنك اليهود ولن النصاري) "Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela kepada kalian..." Mereka tidak akan pernah rela sampai target kalian mengikuti mereka. Jadi kalau tergetnya supaya Antum jadi Nasrani, ataupun mengikuti ajaran mereka, mereka akan terus, sampai hari kiamat sampai ayat ini berlaku. Oleh karena itu, hal ini harus kita sadari. Al-Qur’an sikapnya adalah sir ‘ala tha’atillah, jalan terus, mudah-mudahan Allah memberkahi kita.

Jelas, jadi kalau tanzhim itu bid’ah, berorganisasi itu bid’ah jangan didengar, jalan terus. Jelas, karena tadi, bayangkan mereka juga saling memakan, Antum juga seperti itu, mau saja. Inikan bermasalah.
Kedua, bahwa isu jangan dari orang yang inkonsistensi (tidak konsisten, red.). Ketahui bahwa al-‘amalu al-jama’i adalah bisa berbentuk macam-macam, bisa berbentuk organisasi, bisa berbentuk lembaga, bisa berbentuk majelis, bisa berbentuk forum, bisa berbentuk yayasan, itu semua adalah ‘amal jama’i. Kalau orang yang punya yayasan, kemudian dia mengatakan bahwa kita tidak beramal jama’i, maka orang itu sama saja dengan orang yang mengingkari matahari di siang bolong yang terang. Para hadirin sekalian, yang namanya yayasan itu ada tujuan, ada kegiatan, ada visi, ada misi, ada program, ada pengurus, betul tidak? Itu namanya amal jama’i. Kalau mereka mengatakan tidak beramal jama’i, maka seperti orang yang mengingkari matahari di siang bolong.

Ikhwan sekalian, tadi telah dijelaskan supaya kita jangan sampai mengikuti apa yang menjadi pancingnya orang-orang kuffar wal musyrikun, kita orang Islam tapi terbawa arus, Islam sesuai desain orang-orang kafir. Ini bahaya. Misalnya, muncul sebuah ungkapan, ungkapan itu sebenarnya supaya kaum muslimin tidak berjihad dan itu adalah ada. Ada suatu lembaga yang mengatakan bahwa jihad bukan dari Islam, ah ini adalah kekeliruan, bahkan kesalahan, bahkan bisa jadi kebatilan, bisa jadi ke bid’ah.

Nah oleh karena itu, maka hadirin sekalian, saya ingin sampaikan sesuatu  mudah-mudahan ada manfaatnya. Saya ingin sampaikan bahwa wasilah dakwah itu apakah disebut taufiki atau bukan? Tadi kan ada organisasi, yayasan, lembaga, forum, itu wasilah dakwah. Itu wasilah (sarana, red.), jangan dijadikan ghayah (tujuan, red.). Kalau ada yang menganggap organisasi ghayah, amal jama’ighayah, apa pun lembaganya disebut ghayah, itu adalah orang-orang yang harus belajar dulu, sekolah lagi, dikasih pelajaran.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin mengatakan, bahwa ketika ditanya apakah wasilah dakwah itu tauqifi atau bukan? Kata beliau, alqaulu alfashl, perkataan yang jelas dalam hal ini adalah “anna wasilata da’wah ma yashilu ila da’wati, wa laisa tauqifi”. Wasilah dakwah adalah yang dapat menyampaikan kepada dakwah, dan itu bukanlah tauqifi. La kinnahu la yumkinu dakwah bil haram, tidak mungkin berdakwah dengan cara yang haram, seperti dengan musik, seruling, ini adalah haram, kecuali kalau kita tidak bisa berdakwah kecuali dengan musik, dengan seruling, dan sejenis itu. Maka itu tidak boleh, haram. Jadi lembaganya, organisasinya tidak masuk tauqifiyah, ia adalahijtihadiyah (bersifat pendapat, red.).

Berikutnya adalah ta’awun ‘ala birri wa taqwa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di sini adalahsuuratun’amaliyah bagian daripada prospektif yang real, kongkret, yang nyata. Bagaimana beliau memimpin ummat beramal jama’i ini tidak mudah, beliau mengomando. Ini menunjukkan ada suatu amaliyah dengan cara terpimpin, baik secara penyataan atau perbuatan.

Saya akan mengatakan tentang apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir, misalkan, ketika beliau menafsirkan, “waltakum mingkum ummatui yad’una illal khair…” beliau menafsirkan ayat ini, kata beliau, maksud dari ayat ini harus ada sekelompok ummat yang menampakkan, yang menghadapi, yang mengkaunter terhadap kemungkaran-kemungkaran. Itulah kewajiban yang diberikan kepada ummat sesuai dengan kemampuan. Berarti harus ada firqah, harus ada suatu komunitas.

Saya bawakan perkataan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, kata beliau ketika menjelaskan tentang ayat “Wa a’iddu lahum mastatha’tum mingquwatin…” beliau mengatakan, fa yadkhul fi hadza, masuk dalam bersiap diri adalah al-isti’dadu bi kulli mastatha’, bersiap dengan segala kemampuan. Min quwatin ‘aqli, bisa berupa kekuatan akal. Min quwatin siyasyah, kekuatan politis. Bisa shina’iyah, kekuatan industri. Bisa ilmun nafi’, bisa juga dengan kekuatan ilmu yang bermanfaat. Bisa wa nizhamin nafi’, kekuatan yang bermanfaat; wal khail, berkuda; war ramyu, memanah. Dan juga bisa dengan berbagai media yang dapat melindungi kaum muslimin, termasuk membuat benteng-benteng yang melindung mereka.

Para hadirin sekalian, kalimat wa a’iddu lahum mastatha’tum …. jelas kita harus peka terhadap orang-orang yang mungkin mengancam Islam, mengancam kaum muslimin dan kita harus berjaga, bahkan sebelum terjadi. Kalau sekarangkan setelah terjadi. Kalau ada kejadian, kita baru main. Mereka sudah berencana, bahkan mereka sudah berbuat untuk menghancurkan Islam dan ummat Islam. Kaum musliminnya lehak-lehok, memble. Oleh karena itu, maka tidak boleh seperti itu.

Para hadirin sekalian, berikutnya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan akan bolehnya melakukan harokah untuk komitmen terhadap bekerja untuk meninggikan laailaha illa Allah muhammadurrasulullah. Di dalam Majmu’ Fatawa, beliau menjelaskan kepada kita, kata beliau,boleh berharokah selama sesuai syariat. Yang jelas sesuai dengan hadits rasul

مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ

"Bagaimana bisa orang-orang membuat syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitab Allah. Siapa yang membuat syarat yang tidak ada pada Ktab Allah, maka merupakan syarat yang batal sekalipun dia membuat seratus syarat. Karena syarat yang dibuat Allah lebih hak dan lebih kokoh." (HR Bukhori: 2010).

Kata Rasul, kenapa ada orang mensyaratkan sesuatu padahal syarat itu tidak ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka walaupun ada 100 syarat seperti itu adalah bathilun, batil. Maka syarat dari Allah-lah yang hak, dan syarat dari Rasul-lah yang hak.

Saudara sekalian, adapun tentang wujud al-ama al-jama’I, maka banyak fatwa yang memperbolehkan kalau seandainya ikhwa sekalian mau berkoordinasi dalam sebuah organisasi, lembaga, atau kelompok, majelis-majelis, forum-forum, secara syar’i dibolehkan.

Terdapat fatwa dari lajnah da’imah al-buhuts, ad-durus, wal ifta wad dakwah wal irsyad ada fatwa tentang itu. Bahkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz ada fatwanya, .... Bahkan Syaikh Utsaimin ada fatwanya. Semua mereka berfatwa boleh-boleh, tidak perlu ragu. Yang penting darimana perjalanan yang diusung oleh forum, majelis dan lembaga itu. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada saat itu saja mengkoordinir bagaimana supaya kaum muslimin kuat. Itu ketika kondisi masih kondusif. Apalagi di saat situasi seperti ini, bisa wajib. Maka hendaknya, semua lembaga yang ada di Indonesia mempunyai kesadaran agar sunnah Rasulullah saw. hidup.

Demikian yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.



Bedah Buku Harokah Jihad Ibnu Taimiyah (II) 

Berikut ini adalah naskah transkrip ceramah pembicara kedua (Ust. Farid Okbah, MA)--dengan perubahan seperlunya berkaitan dengan kata-kata yang membingungkan--pada Bedah Buku Harakah Jihad Ibnu Taimiyah.
 
Ceramah ini disampaikan pada acara: Bedah BukuIbnu Taimiyyah wal ‘Amalul Jamaa’i (Harakah Jihad Ibnu Taimiyah). Hari dan tanggal: Ahad, 09 Mei 2010-07-22. Pukul: 08.00 s/d selesai. Pembicara Pertama: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc, Pembicara Kedua: Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, Tempat: Masjid Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Penyelenggara: LD Robbani bekerja sama dengan: Forum Aktifis Masjid dan Mushalla (FAMM) dan DKM Al-Azhar, Jaka Permai.
 
Bismillahirrahmanirrahim
 
الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على أشرف المصطفى وعلى آله وصحبه ومن وفى
يآ أيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
وقال رسول الله صلى الله عليه والسلام فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها فإن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Ikhwan fiddin rahimani wa rahimahukumullah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, pada hari ini kita mengkaji satu tema pembahasan penting, dan saya akan membacakan satu sms yang ditujukan kepada saya, di mana ada salah seorang yang ingin hadir dalam acara ini, mengajak temannya, tapi temannya itu nggak mau datang. Alasannya apa? Pak, afwan Pak. Pengarang buku itu Abdurrahman bin Abdul Khaliq, termasuk orang yang bermasalah menurut ulama Ahlus Sunnah. Waallahu a’lam. Dia tidak mau datang ke acara ini karena pengarang buku ini. 
 
Tadi isinya sudah diungkapkan oleh Ust. Ahmad Rofi’i secara panjang lebar. Maka hadirin sekalian, omongan ini juga tidak efektif. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq ini saya pernah bertemu dengan beliau ketika saya masih kepala pustaka di LIPIA dan beliau ini adalah seorang yang hafal Al-Qur’an. Waktu Ramadhan, orang suka shalat di belakang beliau karena selama Ramadhan itu sampai khatam Al-Qur’an. Beliau ini lulusan Madinah, Jami’ah Islamiyah. Dulu, Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq dekat sekali dengan pengkritik beliau. Yang mengkritik beliau pertama kali itu Syaikh Dr. Rabi’ al-Madkhali. Ust. Ahmad Rofi’i tahu. Kenapa kok sampai terjadi polemik antara keduanya? Mereka ini awalnya satu saudara, satu kawan, sama-sama ulama, dan saya menemukan buku karya Syaikh Dr. ar-Rabi’ yang berjudul Manhaj al-Anbiya’ fid Da’wati ila Allah, lalu dikasih komentar oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq.
 
Awal buku itu, yang ditulis oleh Syaikh ar-Rabi’, yang dikatakan bermasalah menurut ulama Ahlus Sunnah. Padahal tidak semua, hanya sebagian kecil yang mempermasalahkan beliau karena adanya perbedaan. Yang kemudian, ketika Syaikh ar-Rabi’ menulis buku Ad-Da’wah ila Allah minta dikasih komentar oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq, sebelum terjadi perbedaan. Yang menarik saat itu, ketika terjadi perbedaan antara Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq dan Syaikh Rabi’. Perbedaannya pada apa? Perbedaannya ada pada Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq mendukung adanya jama’ah-jama’ah yang memperjuangkan Islam, tetapi Syaikh Rabi’ tidak mau itu. Makanya Syaikh Rabi’ membantah Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq yang berjudul Jama’ah Wahidah Laa Jama’aat. Satu jama’ah bukan jama’ah-jama’ah. Kedua syaikh ini masih hidup.
 
Nah, kita jangan terbawa kepada arus perbedaan mereka, makanya jangan jadi muqallid (orang yang taqlid). Yang terjadi sekarang ini banyak muqallidun (orang-orang yang taqlid). Kita kalau mengikuti manhaj salafus shaleh itu harus menjadi muttabi’ (orang yang mengikuti, maksudnya mengikuti Sunnah), bukan muqallid (orang yang taqlid). Jangan lihat orangnya, lihat dalilnya. Dan saya melihat, perbedaan itu sesuatu yang lumrah karena Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq tinggal di Kuwait, yang negaranya bukan Saudi. Kalau Syaikh Rabi’ tinggal di Saudi dan berpendapat bahwa Saudi Arabia adalah negara yang telah menegakkan hukum Islam. Tapi Kuwait belum, Kuwait masih menggunakan parlemen, kaya di Indonesia. Makanya yang mengadopsi pendapat Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq bukan dari Saudi, tapi orang-orang luar Saudi. Itu kan karena urusan negara. Dasarnya apa?
 
Yang menarik saudara-saudara sekalian, buku yang dikasih komentar oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq disobek oleh orang yang sangat ceroboh--dan saya sebut pengkhianat. Kan bukan punya dia, punya pustaka LIPIA. Astaghfirullah, saya lihat sudah disobek karena tidak setuju dengan Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq, bukan milik dia padahal. Ini menunjukkan apa? Emosi yang keliru. Nah model-model kayak ginilah, alergi duluan. Gak mau lihat, apa si isinya itu? Nah kalau model kayak gini ummat ini, wah bisa jadi rusak ummat ini. Jadi muqallidun (orang-orang yang taqlid),na’udzubillahi min dzalik.
 
Makanya kita harus obyektif. Siapa Abdurrahman bin Khaliq? Tadi sudah disampaikan. Dan yang menarik saudara-saudara sekalian, terjadinya polemik antara Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq dengan Syaikh Rabi’ Hafizhahullah, dua-duanya ulama kita, itu ditengahi oleh Syaikh bin Baz. Selesailah dan tidak ada masalah. Kata Syaikh Abdurrahman, Syaikh bin Baz menasihati saya. Saya terima seluruh nasihat beliau. Sehingga selesailah masalah. Kalau perbedaan pendapat, itu sesuatu yang lumrah. Nah orang-orang seperti ini (yang tidak hadir seperti  dimaksud dalam sms, red) menafikan perbedaan pendapat. Ini tidak betul, apalagi seperti kita ini. Luar biasa, bercerai-berai, tertindas di mana-mana.
 
Sehingga kita akan mempelajari ini secara runtun, yang pertama berkaitan dengan pengarangnya. Kemudian yang kedua, untuk mendudukkan tema ini harus satu-satu. Harakah yaitu gerakan sekelompok orang yang ingin memperjuangkan Islam. Yang namanya gerakan itu adalah sarana, bukan tujuan. Tinggal bagaimana yang terkandung dalam gerakan itu, apabila mengandung tiga hal. Ini menurut tinjauan secara obyektif oleh Dr. Abdulwahab ad-Dailami. Dr. Ad-Dailami menulis kitab namanya Al-‘Amal al-Jama’i Mahasinuhu wa Jawanibu ‘ala Salabihi. Kelebihan, kebaikan, dan kekurangannya. Nah amal jama’i adalah gerakan, bisa organisasi, bisa lembaga, bisa yayasan ... ya nggak? Bisa ormas, itu semua namanya amal jama’i. Itu oleh Syaikh Ad-Dailami, itu dinilai secara obyektif. Mana kelebihannya mana kekurangannya. Dan ini (adapun dalam buku ini adalah) pendapat Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, maksudnya untuk perbandingan, selain tadi fatwa-fatwa disampaikan boleh. Tetapi itu kan suatu keputusan. Ini adalah merupakan suatu kajian, positif dan negatifnya di mana? Nah, kemudian beliau menyebutkan, ada titik kelebihan dan ada titik kelemahan. Bagi beliau, bahwa suatu jama’ah, suatu kelompok atau gerakan itu bagus apabila memenuhi tiga syarat, ini penting sekali.
 
Yang pertama niatnya bener. Yang pertama apa? Niatnya bener. Yang kedua, tujuannya bener. Yang ketiga sarananya bener. Jadi, yang pertama niatnya bener, yang kedua tujuannya bener, dan yang ketiga sarananya benar. Kalau ketiga ini terpenuhi, maka suatu jama’ah atau pergerakan itu bergerak ke arah yang benar.
 
Terus saya akan menyebutkan banyak hal, hanya di sini disebutkan macam-macam kelompok pergerakan. Memang ada beberapa yang urgen. Ada gerakan yang fokus bergerak meluruskan akidah dan berkhidmat membela Sunnah. Ada pergerakan khusus seperti itu, positif. Ada gerakan lain yang ingin menyelamatkan manusia dari jurang kerusakaan dipindah ke masjid, kalau masih sebatas itu benar, tinggal di masjidnya mau diapain, tinggal diarahkan. Ada pergerakan yang mencoba memperbaiki ummat ini dari pimpinannya. Makanya harus lewat gerakan politik, mereka masuk ke wilayah politik. Nah, ini ada garis singgung positif dan negatifnya. Makanya Anda bisa baca buku karangan Syaikh Abdul Ghani ar-Rihal yang berjudul Alislamiyun wa sharahatu Demoqrotiya(Orang-Orang Islam dan Fatamorgana Demokrasi), dan dalam hal ini sudah gagal sepuluh kali, jangan dilakukan. Kemudian ada gerakan atau kelompok yang mereka mengatakan ini tidak bisa diubah penguasa ini kecuali dengan jihad, harus jihad semua, angkat senjata. Tapi kelompok ini pun mengalami naik turun.
 
Saya ingin menyampaikan sesuatu perubahan baru. Di depan saya ada buku baru, “دراسات تصحية في فهم الجهاد والحسبة والحكم على الناس” Dirasat Tashihah fi Fahmi Jihad wal Hisbah wal Hukmu ‘alan Naas. Buku ini adalah hasil renungan kajian ulang terhadap gerakan jihad bersenjata. Telah terjadi usaha untuk merefleksi ulang dan mengoreksi jihad yang ada di Mesir, Jama’atul Jihad tetapi ini diperkirakan orang-orang yang tertekan, karena disiksa, karena dipaksa, mereka mengakui kesalahannya itu. Makanya belum bisa dijadikan pegangan. Tetapi, kalau ini baru pertama kali terjadi di dunia dan ini dipopulerkan oleh Dr. Ash-Shalabi. Dr. Ash-Shalabi adalah seorang pemikir Islam, akidahnya lurus, dan ahli tentang banyak hal. Kalau antum baca buku sirah nabawiyah yang ditulis oleh Dr. Ash-Shalabi sangat luar biasa. Tinjauan dari sisi syar’i, sisi politik, dari sisi sosial, dari sisi ekonomi, dari sisi militer, bahkan dari sisi intelijen. Ini sangat luar biasa, beliau menulis tentang sejarah, menulis tentang akidah, menulis tentang segala sesuatu sampai 20 kitab. Nah, beliau ini sedang berusaha untuk bagaimana mendudukkan masalah ini bersamaan dengan pemerintah Libia yang diwakili oleh anak dari Kaddafi (pemimpin Libia) sendiri yang anaknya ini subhanaAllah, Islamnya lurus. Namanya Dr. Saiful Islam. Seorang yang Islamnya lurus ternyata bisa menjembatani antara kaum mujahidin dengan pemerintah. Akhirnya, sekitar 137 para mujahidin dibebaskan dari penjara, masih sisa 200. Dan orang-orang yang menulis ini, mereka sampai sekarang masih dipenjara. Mereka menulis karena kesadaran, bukan karena dipaksa, tapi karena kesadaran mereka sendiri. Sampai mereka mengatakan, ternyata langkah-langkah kami selama ini mengandung kesalahan. Yang harus dikoreksi ada Sembilan poin. Di sini disebutkan ada Sembilan poin yang disampaikan oleh enam orang penulis ini yang harus dipelajari oleh mereka yang serius menangani jihad.
 
Sehingga karenanya, pelajaran-pelajaran dari mereka ini insya Allah menjadi pelajaran buat kita. Jangan sampai kita membuat kesalahan-kesalahan. Dan orang-orang inilah yang menulis kitab dan kitabnya dipegangi para mujahidin. Kitabnya apa? الخطوط العريضة للجماعة المقاتلة Al-khuthtuthu al-‘Aridhah lil Jama’atil Muqatilah (Pedoman-Pedoman Utama Bagi Jama’ah-Jama’ah yang Berperang). Lain jihad lain qital. Jadi, ini adalah nasihat baru untuk mereka yang beraktivitas jihad barang kali perlu untuk mendalami buku ini selain juga mendalami tentang fiqhul jihad oleh para ulama. Dan ada desertasi doktor, yang menurut informasi, buku ini sudah dilarang di beberapa negara. Judulnya الجهاد والقتال في السياسة الشرعية Al-Jihad wal Qital fi Siyasyah Syar’iyah oleh Dr. Muhammad Khairi. Saya punya kitabnya, tiga juz, yang di situ lebih lengkap lagi. Kalau tadi disampaikan ada jihad daf’, ada jihad thalab, itu memang sesuatu yang harus dipahami secara utuh ketika kita berjihad. Tetapi di sana diterangkan konsep jihad secara utuh dan nanti akan kita singgung. Ini masih berkaitan dengan gerakan. Jadi, gerakan ini timbul karena merasa tidak ada yang mengarahkan dari para ulama. Ini termasuk kelemahan banyak gerakan jihad, karena tidak diarahkan oleh para ulama, dan ini pernah dialami oleh mereka. Sehingga ketika mereka menulis buku ini dikirim kepada enam ulama di dunia, kemudian mereka memberikan masukan bahwa apa yang kalian lakukan ini sudah betul untuk dapat koreksi dan membuat langkah dalam memperjuangkan Islam.
 
Saudara-saudara sekalian, insya Allah ini akan kita bahas lebih lanjut dalam porsi lain mungkin ada bedah buku sendiri. Baraka Allah fiikum. Ada kelompok-kelompok lain yang memperjuangkan Islam lewat pendidikan, dan yang jelas nanti akan kisa sampaikan gerakan mana yang benar dari semua gerakan yang ada ini. Itu perlu penilaian tersendiri supaya kita tidak berada pada posisi yang salah. Jangan-jangan memperjuangkan Islam lewat Syi’ah umpamanya, jelas keliru. Memperjuangkan Islam lewat LDII, jelas keliru. Karena itu mengandung banyak penyimpangan.
 
Baraka Allah fii kum, ini berkaitan dengan gerakan. Karena pembahasan yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq lebih spesifik tentang gerakan jihad Ibnu Taimiyah, maka harus kita lihat apa yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bukan pendapatnya Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq. Di sini ada sejumlah pendapat beliau, tetapi yang harus kita dudukkan secara ilmiah, bagaimana gerakan jihad Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah? Tadi sudah sebagian disampaikan oleh Ust. Ahmad Rofi’i yang akan saya lengkapi.
 
Saudara-saudara sekalian, berkaitan dengan gerakan jihad, ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam Majmu’ Fatawa. Saudara-saudara sekalian, kalau Anda ingin menguasai tentang pemikiran Ibnu Taimiyah, Anda perlu membaca kitab Majmu’ Fatawa, 37 juz yang kebanyakannya dikarang di penjara. Dan saya sudah membaca nukilan-nukilan Syaikh Abdurrahman dari buku aslinya, yaitu Majmu’ Fatawa juz 28. Sebenarnya intisari dari gerakan jihad Ibnu Taimiyah memang ada pada juz yang ke-28 ini. Tetapi, karena kita belum bicara masalah jihadnya, bicara gerakannya dulu saya mendapatkan nukilan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada Majmu’ Fatawa juz 11 halaman 92 dan 93. Beliau menyebutkan secara jelas. Apa yang beliau sebutkan?

فإن كانوا مجتهدين على ما أمر الله ورسوله من غير زيادة ولا نقصا فهم مؤمنون لهم ما لهم وعليهم ما عليهم وإن كانوا ….
 
Maknanya, bila orang-orang yang ada pada gerakan itu, dalam jama’ah itu, dalam kelompok itu, mereka berkumpul atas dasar perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan atas dasar kelompoknya, bukan untuk kepentingan politiknya, bukan untuk kepentingan ekonomi, bukan untuk kumpul antar orang, tetapi tujuannya untuk membela agama Allah dan rasul-Nya. Ini penting sekali kan? Tanpa ditambah, tanpa dikurangi. Berarti tidak ada bid’ahnya. Perhatikan itu, banyak sekarang itu jama’ah-jama’ah banyak bid’ahnya, termasuk kesalahan yang disebutkan di buku ini. Masukan dari Dr. Abdul Wahab ad-Dailami. Kesalahan banyak jama’ah yang mengandung penyimpangan itu yang melahirkanta’shub (fanatik) pada mereka, adanya bai’at, nggak ada pimpinan jama’ah dengan bai’at khilafah. Padahal, mereka tidak punya negara, belum menjalankan hukum Islam secara benar dan utuh, tapi sudah membai’at. Ini yang menjadi masalah bagi banyak orang. Siapa saja mereka, tidak perlu saya nyatakan. Tanpa penambahan, tanpa pengurangan. Mereka membawakan hadits:

من مات و ليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية (رواه المسلم)
 
(Siapa yang wafat, meninggal, sedang ia belum berbai’at, maka ia mati jahiliyah).
 
Ini orang LDII banyak yang menggunakan hadits ini, maka siapa yang tidak masuk ke kelompok LDII dikatakan sesat, kafir, dan matinya di neraka. Ini bentuk dari kelompok yang mengandung kesesatan. Sehingga karenanya, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tanpa ditambah dan tanpa dikurang, jauh dari bid’ah. Fahum mukminun, mereka itulah orang-orang mukmin. Mereka punya hak untuk dibela, kalau mereka punya kesalahan harus diluruskan. Apabila kelompok itu menambah-nambah, seperti bid’ah, nambah-nambahi, atau mereka mengurang-ngurangi, tidak utuh, ditambahi atau dikurangi. Mitsla ta’ashub (seperti fanatik), di antaranya seperti ta’ashub (fanatik) kepada orang yang masuk kepada kelompok itu. Bener atau salah. Ini kesalahan yang banyak dimiliki jama’ah-jama’ah yang menganggap jama’ah-jama’ah lainnya keliru semuanya, yang bener hanya jama’ah kita. Itu yang keliru menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kalau itu memang terjadi, kalau orang tidak masuk dalam kelompoknya, wah dia bukan ikhwan kita. Kalau kelompoknya baru dianggap ikhwannya. Nas’ala Allaha ‘afiyah. Menjadi ta’ashub (fanatik) dengan kelompok itu, dengan jama’ah itu. Yang tidak dalam kelompok itu, dia palingkan, dia tidak ditoleh. Bener atau salah kelompoknya itu. Ini adalah perpecahan yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Nah inilah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, banyak yang belum dinukil oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq.
 
Saudara-saudara sekalian, beliau menyebutkan lagi pada juz 28 pada halaman 20:

فمن والى شخصه على أن يوالى من ولاه ويعادي من عاده كانوا من جنس التار التار المجاهدين في سبيل الشيطان مثل هدا ليس من المجاهدين في سبيل الله تعالى ولا جند المسلمين ولا يجوز أن يكون من هؤلاء عسكر المسلمين بل هؤلاء من عسكر الشيطان
 
Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, bila ada seseorang loyalitasnya ada pada satu orang, yang loyal sama orang itu yang lain tidak, bener salah pokoknya itu. Nah ini masalah, ta'ashub (fanatik) kepada perorangan. Kebenaran dinilai dengan orang, kalau ngaji sana sini itu gak bener. Kata Syaikhul Islam, kalau sampai orang itu berwala kepada orang itu, berbara’ atas dasar orang itu, maka orang seperti ini pantasnya di pasukan Tar-Tar. Padahal, pasukan Tar-Tar ini yang dihadapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ‘Ala kuli hal dalam buku ini dijelaskan beliau berperang langsung memimpin melawan pasukan Tar-Tar. Yang mereka berjuang untuk jalan syaithan, seperti orang ini tidak pantes masuk dalam kalangan mujahidin yang berjuang di jalan Allah. Dan, tidak pantas berada di pasukan kaum muslimin, Dan mereka tidak pantas berada di laskar-laskar kaum muslimin. Tetapi, mereka pantasnya laskar musyrikun. Jelas itu ya? Ini pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala atas dukungan kelompok untuk berjuang di jalan Allah dengan syarat tidak mengandung penyimpangan. Ini penting sekali, sehingga karenanya hal ini dijelaskan oleh hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً فَأَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
 
Dari Al-A'masy dari Abu Wail dari Abu Musa berkata, "Datang seseorang kepada Nabi Shallalahu'alaihiwasallam dan berujar, 'Ada seseorang yang berperang karena dorongan fanatisme, atau berperang karena ingin memperlihatkan keberanian, dan ada yang berperang karena ingin dilihat orang, siapakah yang disebut fi sabilillah? ' Nabi menjawab: 'Siapa yang berperang agar kalimatullah menjadi tinggi, ia berada fii sabilillah'." (Bukhari 6904).
 
Rasulullah saw. ditanya oleh seseorang berjuang karena keberaniannya, seseorang berjuang karena membela kelompoknya, seseorang berjuang karena ingin tampil. Mana di antaranya yang disebut fi sabilillah ya Rasulullah? Kata Rasulullah saw., “Siapa yang berperang untuk menegakkan agama Allah, untuk menegakkan kalimah Allah, maka dia fi sabilillah.”
 
Kemudian, kita bicara sekarang berikutnya tentang jihad. Pembahasan pertama sudah selesai, sekarang berkenaan dengan jihad, bagaimana jihad Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah? Saudara-saudara sekalian, ada ulama Saudi dikenal oleh para ulama sebagai orang yang paham betul tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu gurunya Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di itu ulama besar Suadi yang menggali, mendalami pandangan-pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Ibnu Qayyim Rahimahumaallah. Sehingga, beliau menulis kitab Thariqul Wushul ila Ilmil Ma’mul. Itu beliau menukil kitab-kitab Syaikh Islam dengan ringkasan. Jadi, kalau Anda ingin mendalami pandangan Syiakhul Islam Taimiyah dan Ibnu Qayyim Rahimahullah, maka bacalah buku beliau yang berjudulThariqul Wushul ila Ilmil Ma’mul. Yang beliau menukilkannya semua, kemudian beliau jadikan dalam kitab kecil, As-Siyasah asy-Syar’iyah dan ini berkaitan dengan jihad fi sabilillah.
 
Dari awal sudah berbicara وجوب تعاون على جميع منافع العليا وخصوصا في الجهاد (wajib bekerja sama untuk kaum muslimin seluruhnya dalam rangka memperoleh manfaat yang besar dari ummat Islam, khususnya jihad). Beliau menguraikan jihad luar biasa, beliau berkata bahwa hakikat jihad adalah bersungguh-sungguh dan berusaha keras untuk menguatkan kaum muslimin dan memperbaiki mereka, menyatukan mereka, menggalang seluruh kekuatan yang terpecah pada mereka dan membela mereka dari agresi-agresi musuh-musuh ummat Islam, dan meringankan beban kaum muslimin dengan cara apa pun supaya mereka teringankan bebannya. Ini adalah Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah, seorang pakar tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Saya lihat, beliau jauh lebih hebat dari sisi penguasaan tentang Ibnu Taimiyah daripada Syaikh Shalih al-Utsaimin, karena beliau ulama besar, gurunya Syaikh Muhammad al-Utsaimin.
 
Kemudian beliau katakan, أقسام الجهاد وأنواعه (Macam-Macam Jihad dan Kandungannya). نوعين الجهاد jihad itu ada dua macam.
جهاد يقصد به صلاح المسلمين وإسلامهم في عقائدهم وأخلاقهم وأدابهم وجميع أمور المسلمين في تربية علمية وعملية وهدا النوع هو أصل الجهاد ..................
Jihad yang pertama, adalah jihad yang dimaksudkan untuk mengembalikan kaum muslimin dan memperbaiki kaum muslimin. Baik dalam adabnya, baik dalam sopan santunnya, dalam seluruh sektor kehidupan kaum muslimin, duniawi maupun ukhrawi (akhirat). Dan dalam mendidik mereka, baik secara ilmiah maupun amaliyah, teori dan praktik. Macam inilah macam jihad yang pertama.
 
Atas dasar jihad inilah terbangun jihad yang kedua, yaitu jihad yang dimaksudkan untuk menangkal agresi daripada penjahat-penjahat yang ingin merusak Islam dan kaum muslimin dari kaum kuffar, kaum munafikin, dan orang-orang ateis, dan dari seluruh musuh-musuh agama yang harus kita halau semuanya. Inilah pernyataan dari Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah setelah mendalami seluruh pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Sekarang kita lihat dari penyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sendiri. Saudara-saudara sekalian, ternyata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa juz 32 halaman 364, jadi ketika melihat kehidupan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala ini ternyata sedang berusaha untuk mencapai Thaifah Manshurah (kelompok yang mendapatkan pertolongan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa gerakan yang memperjuangkan Islam itu harus tergabung dalam Thaifah Manshurah (kelompok yang mendapatkan pertolongan). Kemudian beliau menyertakan ayat Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat yang ke-25, beliau menukil ayat ini sebagai landasan bahwa sekarang apa yang kita ambil pelajaran dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari gerakan jihad beliau, dari ilmu beliau, dari pengalaman beliau, yang tertuang dalam kitab Majmu’ Fatawa juz 32 halaman 364, beliau membawakan ayat, a’u dzubillahi minasy syaitan nirrajim.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadid: 25)
 
Saudara sekalian, beliau ketika menerangkan ayat ini beliau katakan yang memperjuangkan Islam hanya dua kelompok, ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Ini ayat, apa ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Maaf, hari ini yang kita lihat ada ahlul ‘ilmi tidak ada ahlul jihad, ada ahlul jihad tapi bukan ahlul ‘ilmi. Ini ada ketimpangan dan inilah yang menjadikan mereka sadar untuk kemudian mengoreksi langkah mereka. Makanya kalau kita ingin memperjuangkan Islam dengan benar, maka kita harus tergabung dalam kelompok ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad supaya tidak salah jalan, supaya nggak ngantukan, yang ngantuk gak jadi ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad.
 
Allahu yubarikikum. Makanya saudara sekalian, ini dasarnya Al-Qur’an dan haditsnya. Yang menarik, hadits-hadits yang dibawakan oleh mereka, yang mengaku dirinya yang paling benar, kita paling benar, kita paling salafi, itu hanya hadits itu-itu saja yang mereka bawakan, yaitu hadits thaifah manshurah yang berbunyi:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
 
"Senantiasa ada sekelompok ummatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakannya orang yang memusuhinya hingga hari Kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu." (Muslim: 3544).
 
Akan ada selalu sekelompok orang dari ummatku, golonganku. Sekelompok ini menurut para ulama, di antaranya mujahid dan sebagainya, tiga sampai seribu. Antum ada berapa? Tiga sampai seribu. Nah kalau ada kelompok jihad 1000 orang, aman dunia ini. Ini kata Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Muslim. Bahwa kemudian akan ada selalu pada kelompok ummat ini mereka yang tampil membawa kebenaran yang tidak pernah surut karena tekanan dari orang lain, karena ancaman dari orang lain, sampai datangnya hari akhir atau kematian. Ini hadits yang dibawakan oleh mereka. Apa kata mereka, hum ahlul ‘ilmi, hum ahlul hadits, mereka ahlul ilmi, mereka ahlul hadits.
 
Mereka lupa kalau ahlul hadits di masa itu adalah mereka mujahidin. Lihatlah Sofyan ats-Tsauri. Sofyan ats-Tsauri seorang ulama ahlul hadits yang dipuji oleh Imam Ahmad, dipuji oleh ulama-ulama, seorang ulama manta ulama Syi’ah. Saya harapkan ulama-ulama Syi’ah berubah seperti beliau yang kemudian menjadi mujahid besar, yang kalau tidur bantalnya itu basah bukan karena iler, basah karena menangis takut kepada Allah. Subhana Allah, luar biasa. Lihatlah kehidupan Sofyan ats-Tsauri, seorang ulama yang dikejar-kejar oleh penguasa karena ketegaran beliau membawa kebenaran, itulah Sofyan ats-Tsauri Rahimahullah.
 
Lihatlah Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar, tabi’ut tabi’in, ahlul hadits, mujahid besar, pengusaha sukses yang mengatakan, “Saya berusaha untuk mencari uang untuk membiayai para da’i yang ada di lapangan itu, untuk membiayai mujahidin.” Mana pengusaha yang seperti itu? Usaha hanya untuk dirinya sendiri, dia jadi pengusaha besar tapi tidak untuk membela agama ini. Lihatlah Abdullah bin Mubarak, seorang ahli hadits, mujahid besar. Luar biasa.
 
Nah kita lihat sekarang, bagaimana ahlul hadits di masa sekarang ini. Yang harusnya mereka ahlul ilmi juga ahlul jihad. Itu hadits yang sering mereka bawakan. Ternyata ada hadits lain riwayat Muslim juga, jarang dibawakan hadits ini. Hadits ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

وَلَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Dan senantiasa ada sekelompok dari kaum Muslimin yang memperjuangkan kebenaran (berjihad, qital) dan selalu menang atas orang yang memusuhinya sampai hari Kiamat." (Muslim: 3549).
Akan ada sekelompok orang dari kaum muslimin yang mereka berperang di jalan Allah. Perhatikan itu, ada ungkapan jihad, ada ungkapan qital (jihad perang). Kalau jihad, bisa pengertiannya bukan cuman satu. Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan kezhaliman, dan jihad-jihad lainnya, termasuk berperang di jalan Allah. Umpamanya Rasul mengatakan:

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
 
Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang haq pada pemimpin yang lalim." (Ahmad: 10716).
 
Sebaik-sebaik jihad, menyatakan yang benar kepada pemimpin yang zhalim. Jihad bukan berarti perang. Tetapi kalau qital, itu tidak ada lain kecuali perang.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 193).
 
Perangi mereka, dalam bahasa Inggris kalau perang itu namanya betel. Kalau qital itu namanya betel. Kalau perang namanya war. Kalau jihad atau perang namanya war. War itu bisa war pemikiran, war ekonomi. Tapi kalau betel, itu betul-betul perang senjata. Nah, qital itu ya betel itu.Betel itu artinya perang atau pertempuran.
  
Nah Baraka Allahu fikum. Hadits itu jelas diriwayatkan oleh Muslim, akan selalu ada sekelompok ummat yang berperang melawan mereka yang menentang Islam dan itu akan selalu terjadi sampai hari kiamat. Makanya dalam kitab Ushulus Sunnah wa I’tiqadihi, sayang kitab ini belum kita sebarkan di masyarakat kita, kita pajang di masjid-masjid untuk supaya jangan Anda klaim kebenaran. Ushulul Sunnah karangan Abu Hatim ini merupakan kumpulan dari pandangan-pandangan ulama dari abad pertama, abad kedua, abad ketiga, dan mereka adalah ahlul hadits dengan makna tadi itu. Abu Zur’ah ar-Razi, seorang ulama muridnya Imam Ahmad, temannya imam Bukhari, hafal sejuta hadits. Abu Hatim ar-Razi, jangan tanya, luar biasa ilmunya. Anaknya Ibnu Abi Hatim juga luar biasa ilmunya. Kemudian dikumpulkan seluruh pernyataan para ulama abad pertama, abad kedua, dan abad ketiga. Sampai menjadi sekitar 46 poin. Ini kalau menjadi pedoman ummat Islam saya kira menjadi hal-hal prinsip. Inilah sebenarnya yang disebut salafi, betul-betul berpegang kepada manhaj salaf. Bukan pendapat orang-orang yang baru sekarang ini. Sehingga karenanya kembali kepada arti hadits yang sudah jelas berperang di jalan Allah, maka kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa ath-thaifah manshurah adalah ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Jelas itu ya? Nggak ada yang ngantukkan? Ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Bukan cuman ahlul hadits, tidak ada jihad atau ahlul jihad tidak ahlul ‘ilmi. Untuk itu, kita harus kembali kepada ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Saya sampaikan pernyataan Al-Imam al-Baghdadi dalam kitab Al-Faqih wal Mumfaqih, juz 1 halaman 35:
 
.....أقرب الناس من درجة النبوة أهل العلم وأهل الجهاد قال ما أهل العلم؟ فدل الناس على ما جائت الرسول وأهل الجهاد جاهدوا على ماجئت الرسول
 
Kata Imam Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ishaq beliau katakan, sedekat-dekat manusia kepada derajat kenabian adalah ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Mereka yang berilmu dan mereka yang berjihad. Karena, ahlul ‘ilmi mengajarkan manusia atas apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dan ahlul jihad memperjuangkan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya. Jelas itu. Makanya Dr. Muhammad Khairi menyebutkan sebab jihad ada dua. Sebab jihad yang pertama adalah menangkal agresi dari musuh-musuh Islam, disebut dengan jihad daf’. Jihad yang kedua membela dakwah Islam, itulah jihad thalab, jihad offensive. Yang itu harus ada daulah, harus ada khilafah, harus ada pemimpin.
 
Barakallah fikum. Di sini ada tulisan yang dikarang oleh Syaikh Abu Bakar al-Jazairi. Sebagai contoh bagaimana beliau menggerakkan ummat Islam untuk berjihad di Afghanistan pada waktu terjadi agresi Rusia di Afghanistan. Dan seperti ini juga banyak dilakukan oleh ulama lain, seperti Syaikh bin Baz dan lainnya. Mereka menyerukan untuk datang berjihad, inilah kesempatan emas buat kalian. Ini beliau sampaikan Abu Bakar al-Jazairi Hafidzhahullah.
 
Sehingga karenanya saudara-saudara sekalian, jihad pada saat itu tidak ada imam besar, jihad di Afghanistan adalah faksi-faksi, di sana ada Hikmatiyar dan lainnya. Tidak ada imam besar. Tetapi kenapa para ulama menyerukan di sana ada jihad? Disebabkan karena di sana ada jihad daf’, jihad defensive. Cuman sayang, di buku ini tidak disebutkan jihadnya Ibnu Taimiyah itu jihad defensive atau offensive. Tapi kalau dalam kaidah perang dikenal istilah sebaik-baik defensive adalah menyerang dan sebaik-baik menyerang adalah defensive.
 
Ikhwani barakallah fikum. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita mengangkat jihad? Karena pemahaman jihad tidak bisa ditinggal oleh siapa pun, Al-Qur’an pun menyuarakan jihad. Bahkan isinya perintah. Di akhir surat Al-Hajj Allah katakan: "Wa jahidu fillah haqqa jihadi ...."
 
(Berjihadlah kalian dengan sebenar-benar jihad). Dan jihad inilah yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw. Makanya saudara-saudara sekalian, ketika Rasulullah saw. berjihad, apa yang beliau lakukan? Mendidik kader-kader ahlul ‘ilmi di rumah Al-Arqam. Dididik oleh Rasulullah saw. terus-menerus ditambah. Kaderisasi yang akan membawa Islam, yang memahami Islam, yang memperjuangkan Islam. Itulah kelompok yang dididik Rasulullah saw. di rumah Al-Arqam. Hasilnya apa? Hasilnya dari didikan Rasulullah di antaranya Mush’ab bin Umair dan Abdullah Ummi Maktum yang dikirim Rasulullah saw. ke Madinah untuk membuka Madinah. Setelah ilmu, terjunkan ke tempat dakwah. Berdakwalah Mush’ab bin Umair dan Abdullah Ummi Maktum sehingga tidak satu pun rumah di Madinah kecuali ada orang Islam. Subhanallah. Inilah rijal (laki-laki pilihan) dari orang-orang beriman. Ada rijal yang memperjuangkan Islam. Karena pemahaman yang benar dan berjuang dengan sungguh-sungguh. Ini harus ada di antara ummat ini. Inilah yang dinamakan menjadi ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Adapun selebihnya yang membuka pesantren, yang buka tempat pendidikan, yang buka bakso, dan buka usaha-usaha dan kemudian terjun macam-macam itu, dukung mereka, dukung kader-kader yang memperjuangkan Islam, karena mereka tergabung dalam kelompok Ath-Thaifah Manshurah. Barang kali ini harus mulai dipraktikkan pada ummat ini. Dan saya yakin dengan kondisi ummat yang ada ini, kesempatan yang ada ini harus kita manfaatkan untuk membangun satu kelompok kekuatan bagi ummat ini sebagaimana yang dilakukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
 
Saya bacakan pernyataan Ibnu Qayim, karena ini berkaitan dengan Ibnu Taimiyah, karena Ibnu Taimiyah ini enam kali dipenjara, keluar masuk penjara. Kata beliau ketika beliau diancam bunuh dan segala macam, beliau mengatakan dengan kata-kata yang ditulis dengan tinta emas.
 
"Aljannatu fi qalbi in qataluni faqatlni syahadah fain sajjanuni fas sijni khalwah fain tharaduni …." (Kalau mereka membunuh aku, maka matiku syahid; kalau mereka memenjarakanku, penjara bagiku adalah tempat berkhalwat; kalau mereka mengusirku, kepergianku adalah dalam wisata). Luar biasa imannya. Imannya apa?
 
Luar biasa imannya. Nggak ngantu-an, diajak ngomong semangat aja ....
Barakallah fikum. Ikhwani barakallahu fikum. Saya yakin antum terlalu banyak tahajud malam. Nah kalau kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika dipenjara itu datang surat dari sultannya bahwa sebenarnya kamu masuk penjara itu karena ada seorang ulama yang bernama Shan’aji yang menyarankan sebaiknya kita hukum aja orang ini. Kata beliau, jangan. Orang yang menyakiti saya, saya maafkan dia. Orang yang menyakiti saya, saya maafkan semuanya. Bahkan pernah ketika itu ada musuhnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, namanya Akhna’i meninggal. Ibnu Qayyim senang sekali, dia sujud syukur meski di pasar. Kemudian beliau bilang, ya Syaikh, musuh Anda telah meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ibnu Qayyim senang, kemudian Ibnu Taimiyah berkata, jangan kamu bersenang dengan kematian seorang muslim. Mari kita berkunjung ke rumahnya. Kemudian Ibnu Taimiyah ke keluarganya, dibuka pintunya sama anaknya, kata anaknya, ketika bapakku mati, kok mau datang ya? Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, saya datang untuk ikut berbela sungkawa dan saya nyatakan sekarang saya pengganti bapak kalian. Kalau ada masalah datanglah kepadaku dan saya bersedia untuk itu. Subhanallah, ini musuhnya, luar biasa betul. Coba lihat para da’i sekarang, kalau lihat para ustadz (yang lain) banyak muridnya (rasanya) takut. Kenapa? Banyak muridnya.

Perhatikan di dalam perkataan Ibnu Qayyim bahwa di Damaskus ada sejumlah kelompok, hizbi-hizbi, juga kelompok Ibnu Taimiyah beserta pasukannya itu, kemudian menghancurkan berhala-berhala. Yang tadi Syaikhul Islam punya pasukan yang tadi disebutkan sebagai kelompoknya itu. Nah barang kali, setelah ini dan selanjutnya membentuk pasukan. Dan saya harapkan antum semua belajar silat atau karate. Itu kan diperbolehkan, bebas aja itu. Karena Rasulullah saw. pernah bersabda:

علموا أولادكم الرماية والسباحه وركوب الخيل...
 
"Ajarilah anak-anak kalian memanah, naik kuda, dan berenang." (HR Ahmad, no: 305)
 
Itu semua dalam bentuk kekuatan. Makanya antum semua jangan suka lemes-lemes, dan kuat fisiknya harus terus dibangun. Wa allahu a’lam, Allahumma shalli ‘ala muhammad wa’ala ali Muhammad.
 
Oleh: Ust. Farid Okbah, MA

0 comments: