Awas! “Ghibahtainmen” Marak Kembali

Filed under: by: 3Mudilah

Pemberitaan tentang aib seseorang disebut ghibah. Tapi jika tuduhannya tidak benar, ia disebut fitnah. Dua-duanya tetap dosa besar



Hidayatullah.com—Meski berkali-kali dikecam ulama, dua hari ini, media TV dipenuhi dengan berita ghibah. Ghibah terbaru adalah soal hubungan dai kondang Zainuddin MZ dengan penyanyi dangdut, Aida Saskia.

Beberapa kalangan nampaknya mulai resah dengan cara TV dan media massa yang kembali lagi memuat berita-berita bertema ghibah. Pengamat media massa Sirikit Syah mengatakan, banyak media dan wartawan kebingungan kesalahan memahami konsep infotainmen. Ia menyebut contoh di luar negeri yang disebut "entertainment news", yaitu berita-berita dari dunia hiburan. Isinya tentang proses keratif para seniman. Sementara di Indonesia, isinya hanya bikin stress.

“Misalnya, bagaimana memproduksi (film) Avatar, berapa biaya produksi (film) Lord of the Ring, siapa artis berbayaran paling mahal, peluncuran album atau single baru, perolehan box office, pakai baju apa Jenifer Lopez di ajang Grammy, siapa paling keren di karpet merah, dan seterusnya. Betul-betul tentang dunia hiburan dan tidak bikin stres. “

Ketika ditanya, apakah masyarakat terhibur dengan infotainmen bernilai gossip, ia justru menampik.

“Terhibur? Tidak. Siapa terhibur dengan berita artis A dan artis B mau cerai sampai tiga kali? Siapa terhibur dengan kabar ada artis yang punya istri simpanan lagi?,” tambahnya.

Menurut Wakil Majelis Fatwa Dewan Fatwa, Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia Dr Ahmad Zain an-Najah, andaikata kasusnya itu benar dan dipublikasikan, maka hal itu tetap ghibah dan dilarang agama. Namun jika kasusnya itu tidak benar, maka itu disebut fitnah dan hukumnya keji, seperti pembunuhan.

Menurut ahli fikih lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir ini, jika ghibah menyebar dan menjadi tren di masyarakat, maka kehidupan masyarakat menjadi tidak akan tenang. Dan media massa, termasuk si wartawan, akan ikut mengambil peran dalam urusan ini. Tentusaja, akan dipertanyakan apa yang ia lakukan kelak di hadapan Allah.

Meski demikian, ia tetap memberi pengecualian tentang bolehnya “ghibahtainmen” boleh dipublikasikan.

Menurutnya, ada beberapa kondisi dibolehkannya ghibah. Pertama, ketika dimintai pendapat untuk urusan penting dan besar seperti seorang wanita yang dilamar oleh laki-laki yang tidak dikenalnya. Bila dia meminta pertimbangan dari orang tuanya atau tokoh masyarakat, maka orangtuanya atau tokoh tersebut harus memberitahu secara jujur tentang kelebihan dan kekurangan orang tersebut agar dia bisa menolak atau menertima lamaran.

“Ini berdasarkan Hadist Fatimah binti Qais yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan mengatakan bahwa dirinya dilamar oleh dua orang yaitu Mu'awiyah dan Abu Jahm, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kekurangan dari kedua orang tersebut,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Kedua, untuk mengungkap sebuah kasus, seperti dugaan korupsi. Karena kejahatan dan kesalahan orang yang didakwa harus diselidiki maka keburukannya perlu diungkap. Hanya saja, keburukan yang diungkap tersebut harus berkaitan dengan kejahatan yang didakwakan kepada orang tersebut.

Senada dengan Zain, Ketua PBNU, Said Aqil Siradj belum lama ini, turut berbicara  tentang pengharaman ghibahtainmen.

Ghibah, kata Said, adalah fakta mengenai aib seseorang yang jika diberitakkan akan menyebabkan orang yang bersangkutan merasa tersinggung dan jatuh martabatnya, seperti masalah perselingkuhan. Sedangkan fitnah adalah menceritakan aib seseorang namun tidak ada faktanya.

Said juga menjelaskan, jika menceritakan tentang pejabat yang korupsi, siapa yang terlibat, asal-usul uang, dan ke mana larinya uang, hal itu justru diwajibkan dan merupakan tugas suci. Nah, sampai kapan kita akan terus disodori “ghibahtainmen” oleh media? [cha, berbagai sumber/hidayatullah.com

Gaji “Wartawan Ghibah” dan Gosip Haram!


Meski beritanya benar, para ulama menganggap gajinya haram.  Atau mencari rizki diluar urusan gosip

Hidayatullah.com—Belum berselang lama ormas Islam keberatan berita gossip alias “ghibahtainment”, kini  marak lagi jenis pemberitaan semacam itu. Ghibah terbaru adalah kasus dai sejuta umat, Zainuddin MZ.

Sejumlah pakar fikih meminta media dan wartawan berhat-hati memberitakan berita yang bernilai ghibah. Sebab, dampaknya apa yang ia makan dan kelak menjadi daging. Jangan sampai harta dari ghibah akan menghambatnya di akhirat kelak.

Menurut Prof Dr. KH. Ali Mustafa Ya’kub, MA, Imam Masjid Istiqlal, hukum uang (gaji) yang dipakai wartawan infotainment sangat dekat dengan haram.

Menurutnya, ada juga yang bernilai positif dan itu tidak termasuk haram. Namun jika beritanya bernilai aib, meski benar, gaji yang dimakan menurut hukum fikih adalah haram.

“Kita tidak bisa memutlakkan infotainment itu haram atau tidak. Jika infotainment itu memfitnah atau memberitakan aib seseorang, yang orang bersangkutan tidak suka jika itu diberitakan, maka ini haram. Dan, wartawan infotainment yang demikian tentu tidak boleh menerima uang imbalan,” ujarnya.

“Kita lihat isi infotainment itu sendiri. Kalau isinya haram maka gaji wartawannya pun haram,” ujar guru besar Ilmu Hadis IIQ (Institut Ilmu Alquran) Jakarta ini.

Menurut pakar hukum Islam ini, ada juga infotainment yang tidak haram dan bernilai positif. Ia menyebut contoh, berita tentang pernikahan, umroh, dan publik figur yang melahirkan.

“Tetapi jika ada infotainment yang isinya berita haram, sementara yang bersangkutan tidak keberatan, maka hukum infotainment tersebut tetap haram, dan gaji wartawan infotainment tersebut jelas haram,” ujarnya.

Menurutnya, hukum keharaman infotainment yang memfitnah dan mengumpat ini terang terdapat dalam Al-Qur’an, bahwasannya itu haram. QS. Al-Hujarat:12, bunyinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."
Ganti pekerjaan
Sementara itu pakar Fikih Dr Zain Al-Najah meminta wartawan tak menjadikannya kegiatan infotainment sebagai alternatif mencari rezeki. Karena di dalamnya banyak terdapat hal-hal syubhat yang melampaui ajaran agama.

“Sebaiknya mencari rezeki yang lain yang lebih jelas kehalalannya,” terang pria lulusan Al Azhar, Mesir ini.

Menurutnya, berita ghibah yang kini sering dikejar wartawan pasti hanya akan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Hal seperti ini tak lain  dari motif infotainment itu sendiri yang berbasis pada kepentingan materi (bisnis), tanpa mengindahkan norma-norma agama dan kelayakan.

Karena sifatnya bisnis, yang tidak dalam upaya menjalankan perintah agama, maka hal-hal yang dilarang agama, seperti mengumbar aurat, membuka aib orang lain, dan mengorek-ngorek kesalahan orang untuk dikonsumsi publik, menjadi satu hal yang harus dieksploitasi. Padahal hal ini tentu merusak dan sangat dilarang agama.

“Membuka aib orang lain itu haram! Apalagi semua itu dilakukan tanpa ada maksud yang jelas atau tidak ada keuntungannya,” terang Dr. Zain Al-Najah kepada hidayatullah.com.

Zain mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, sebagaimana dalam Kitab Arba’in Nawawi, “Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.”

Herannya,  aib orang yang seharusnya ditutupi, kok sekarang malah dibuka-buka. Andaipun kasus itu benar, aib orang tetaplah ghibah. [mam/cha/hidayatullah.com]

0 comments: