MDGs : Seandainya Aku Menjadi ...

Filed under: by: 3Mudilah

Hari-hari kemarin sekitar 140-an pemimpin dunia berkumpul di New York untuk suatu acara yang oleh Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-Moon digambarkan sebagai “There is no global project more worthwhile....” – tidak ada project global yang sepenting ini. Apa sih yang mereka bicarakan kok begitu hebohnya ?. Mereka ternyata bicara tentang Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia disebut Sasaran Pembangunan Millennium.

Ada 8 sasaran yang disepakati oleh para pemimpin dunia sejak lima tahun lalu (September 2005) untuk bisa dicapai tahun 2015 yaitu :

1.     Pengentasan Kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim
2.     Pemerataan pendidikan dasar
3.     Persamaan gender dan pemberdayaan perempuan
4.     Mengurangi tingkat kematian anak
5.     Meningkatkan kesehatan ibu
6.     Perlawanan terhadap HIV/AIDS, Malaria dan penyakit berat lainnya
7.     Mempertahankan daya dukung lingkungan
8.     Mengembangankan kemitraan global untuk pembangunan

Bukannya saya tidak setuju dengan kerja global seluruh pemimpin dunia ini, semua yang dilakukan tersebut mestinya dimaksudkan untuk perbaikan kehidupan seluruh masyarakat dunia – hanya saja menurut saya tidak cukup. Masyarakat miskin di seluruh dunia berharap banyak pada para pemimpinnya, tetapi yang mereka lakukan dengan MDGs tersebut tidak akan cukup untuk mengurangi beban kemiskinan secara global. Mengapa demikian ?, berikut gambaran lebih detilnya.

Di sasaran pertama mereka mentargetkan bahwa pada tahun 2015 kemiskinan yang ekstrim di dunia akan tinggal separuh dari jumlah penduduk yang miskin ekstrem (sangat- sangat miskin) di tahun 1990. Pertanyaannya adalah, apa kriteria miskin ekstrem ini ?. Ketika MDGs tersebut ditanda tangani 2005, kriteria extreme poverty  ini dari Bank Dunia adalah daya beli masyarakat yang kurang dari US$ 1/hari atau kalau disetahunkan menjadi  US$ 365/ tahun.

Kemudian tahun 2008 kriteria ini diperbaiki oleh Bank Dunia pula menjadi US$ 1.25/hari atau US$ 456/tahun. Berdasarkan kriteria baru ini, penduduk yang sangat miskin di dunia pada tahun 1990 adalah 1.8 milyar; dan berdasarkan sasaran pertama tersebut seharusnya tinggal 900 juta pada tahun 2015.  Yang menjadi masalah serius adalah dalam rentang waktu tersebut antara tahun 1990-2015; timbangan yang digunakan – yaitu US$ - daya belinya telah rusak berantakan. Bagaimana kita tetap menggunakan timbangan yang rusak ini untuk mengukur seseorang miskin atau tidak ?. Coba kita perhatikan fakta berikut:

Pada tahun 1990, 1.8 Milyar penduduk yang berpenghasilan US$ 456 atau kurang dinyatakan miskin ekstrem. US$ 456 ini saat itu setara dengan 8.70 Dinar (harga Dinar  rata-rata tahun 1990 sekitar US$ 52.4/Dinar). Saat ini US$ 456 hanya setara dengan 2.84 Dinar (rata-rata harga Dinar tahun ini adalah US$ 160.31/Dinar); Dengan teori peluruhan daya beli uang kertas yang pernah saya perkenalkan di situs ini angka US$ 456/tahun yang menjadi standar extreme poverty menurut Bank dunia tersebut akan tinggal setara dengan 1.42 Dinar pada tahun 2015 – batas waktu yang ditetapkan untuk pencapaian target MGDs tersebut diatas.

Artinya sangat mungkin dalam angka US$ target pertama MDGs bisa tercapai yaitu penduduk dunia yang berdaya beli US$ 456/tahun atau US$ 1.25/hari tinggal 900-jutaan penduduk. Namun jumlah penduduk dunia yang amat sangat miskin jumlah sesungguhnya berlipat-lipat dari angka tersebut. Bahkan saat itu (2015) penduduk yang penghasilannya sepuluh kali lipat-pun dari standar US$ 1.25/hari – tetap tergolong sangat miskin menurut standar Islam.

Islam menggunakan standar miskin adalah nishab zakat yang 20 Dinar, maka orang miskin menurut standar Islam tahun 1990 adalah 2.29 kali lebih kaya dari standar miskin Bank Dunia (20/8.7) ; saat ini adalah 7 kali lebih kaya (20/2.84) dan nanti pada tahun 2015 insyaAllah akan 14 kali lebih kaya (20/1.42) !.

Lantas mana angka yang semestinya kita pakai standar untuk mengukur kemiskinan ?, nishab zakat 20 Dinar untuk pembeda yang kaya dan yang miskin atau US$ 1.25/hari seperti standarnya Dank Dunia ?.  Mana yang bisa kita percayai sebagai timbangan, US$ atau Dinar/Emas ?. Jangankan kita yang meyakini kebenaran syariah agama ini, lha wong gurunya uang fiat Dunia Alan Greenspan saja tidak mempercayai uang fiat (termasuk US$) sebagai referensi, masak kita tetap harus menggunakan US$ sebagai ukuran untuk menentukan keberhasilan project MDGs ini ?.

Jadi US$ tidak bisa digunakan sebagai tolok ukur dalam indikator pencapaian kinerja – Key Performance Indicator (KPI) pengentasan kemiskinan dunia. Lantas apa yang bisa digunakan ?, Yuan, Yen, Euro , Rupiah, Riyal  dlsb.?.  Tidak juga, tidak ada satupun mata uang kertas dunia yang daya belinya stabil antara 1990 – 2015. Satu-satunya jalan untuk mengukur daya beli yang riil dari masyarakat dunia sepanjang waktu harus menggunakan benda riil pula. Bisa bahan makanan, bisa kambing dan tentu yang paling mudah adalah emas/Dinar atau perak/Dirham yang keberadaannya menyebar di seluruh dunia dan daya beli serta akseptabilitasnya bersifat universal.

Dengan standar Islam yang begitu tinggi (20 Dinar); yaitu keberhasilan mengentaskan kemiskinan adalah bila jumlah penerima zakat (mustahik) berkurang dan pemberi zakat (muzaki) bertambah – maka kerja para pemimpin umat di jaman ini sungguh amat berat – tetapi tidak mustahil. Dalam sejarah Islam antara lain tercatat bagaimana Khalifah Umar Bin Abdul Aziz mampu mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya secara menyeluruh hanya dalam tempo kurang dari 2.5 tahun. Begitu menyeluruhnya kemakmuran ini sampai-sampai baitul mal melimpah dengan harta karena sulitnya mencari mustahik.

Dalam sejarah peradaban manusia sejak tahun pertama masehi atau Millennium I, hanya system Islam yang mampu mencatatkan sejarah kemakmuran merata dengan indikator sulitnya mencari mustahik tersebut diatas. Negara-negara yang ada di dunia di Millennium III ini, ada yang makmur tetapi tidak merata. Atau kalau toh relatif merata biasanya di negara yang kaya sumber alam, tetapi penduduknya sangat sedikit – beberapa ratus ribu saja.

Sebaliknya kemakmuran yang berhasil dibangun Umar Bin Abdul Aziz merata dan menjangkau wilayah yang sangat luas, bahkan sampai menjangkau Afrika yang dari dulu gersang dan kini-pun menjadi pusat kantong-kantong kemiskinan yang sangat yang menjadi target utama MDGs tersebut diatas. Dalam satu riwayat Yahya bin Said, seorang petugas zakat di masa itu berkata, ‘’Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai seorangpun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan.’’

Maka seandainya saya menggantikan Ban Ki-Moon menjadi sekjen PBB, yang akan saya katakan sebagai  “There is no global project more worthwhile....”, adalah satu saja “terapkan syariat Islam ...”; lantas tentu 140-an kepala negara yang hadir pada bingung – bagaimana konkritnya ?, bagaimana syariat Islam bisa mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat dunia pada periode waktu yang tinggal lima tahun lagi ?.

Dari perhitungan-perhitungan diatas sangat terang benderang bahwa system yang diterapkan di dunia saat ini – hanya untuk uang saja – terbukti tidak reliable untuk digunakan sebagai instrumen pengukur kemakmuran. Tidak ada pula system wealth transfer yang efektif untuk mengangkat kemiskinan dengan sebagian harta si kaya seperti yang terkadi di system zakat di Islam. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin semakin hari semakin melebar di Millennium III ini. Maka apa salahnya, bila 140-an pemimpin dunia di Millenium III yang lagi berkumpul tersebut diajak untuk mengikuti jejak pemimpin dunia yang terbukti sukses di Millennium I ?.

Berikut 5 bullet points dari hal-hal praktis yang bisa dilakukan dan insyaAllah akan mendatangkan kemakmuran merata dalam waktu singkat. Maka seandainya saya menjadi sekjen PBB, minimal dengan 5 hal ini yang akan saya ajak 140 pemimpin dunia yang berkumpul tersebut  untuk melakukan serentak di negaranya masing-masing ;

1). Tinggalkan riba, dan buka akses modal yang bebas riba seluas-luasnya bagi seluruh penduduk dunia – terutama yang dilanda kemiskinan.
2).  Buka akses terhadap sumber daya- sumber daya yang sekarang sudah dikapling-kapling oleh si kaya. Tidak boleh ada tanah yang hanya diambil surat kepemilikannya sedangkan tanahnya dibiarkan terlantar , sumber daya insani, sumber daya air, sumber daya energi (QS Al Waqi’ah 58-73) harus bisa diakses secara adil oleh seluruh penduduk dunia.
3). Buka akses terhadap pasar karena sembilan dari sepuluh riziki adanya di perniagaan – maka sembilan pintu ini harus terbuka secara adil dan sama bagi seluruh penduduk dunia. Tidak ada monopoly, tidak ada kartel dan sejenisnya yang dapat mengganggu akses pasar (fala yuntaqashanna), tidak ada beban-beban yang memberatkan masyarakat luas untuk berdagang (fala yudhrabanna).
4). Berlakukan hanya timbangan atau hakim yang adil untuk bermuamalah maupun untuk standar nilai – yaitu emas/Dinar atau perak/Dirham. Agar rakyat di seluruh dunia tidak dilanda ilusi, di atas kertas menurut pemimpin mereka rakyat seolah sudah tidak miskin – tetapi dalam realita hidup kok tambah berat banget.
5). Jalankan system pengumpulan zakat dan pendistribusiannya yang efektif. Tidak ada wealth distribution mechanism lain yang seperti zakat ini di seluruh dunia saat ini, maka para pemimpin dunia tidak perlu lagi  cape-cape reinvent the wheel mencari solusi – solusinya sudah diberi oleh Yang Maha Tahu.

Selain lima hal tersebut, seandainya menjadi sekjen PBB J saya juga akan kumpulkan ahli-ahli syariah dan ahli syirah agar mereka membantu saya memahami secara sangat akurat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wassalam, para Khalifahur Rasyidin sampai juga Khalifah Umar Bin Abdul Aziz tersebut diatas dalam memakmurkan umatnya, untuk kemudian saya ajak 140-pemimpin dunia yang hadir  untuk mengikutinya.

Tetapi saya sadar, saya bukan Ban Ki-Moon dan bukan pula Sekjen PBB, maka saya mulai saja apa yang saya tahu dan apa yang bisa saya lakukan ... selebihnya saya serahkan kepadaNya untuk menuntun serta menyempurnakan apa yang saya belum tahu dan apa yang belum bisa saya lakukan. 

Wa Allahu A’lam.
Oleh Muhaimin Iqbal  
http://www.geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=483:mdgs-seandainya-aku-menjadi-&catid=37:umum&Itemid=90

0 comments: