Jumat Berharga

Filed under: by: 3Mudilah

Di hari Jumat ini saya mendapatkan beberapa “kejutan” yang berharga. Semua itu bermula ketika saya berangkat ke masjid di dekat rumah untuk menunaikan shalat Jumat. Ketika sampai di masjid, terlihat beberapa polisi dan mobil ambulan diparkir dekat masjid. Saya bertanya-tanya dalam hati ada apa polisi banyak berdatangan ke sini? Dan ada apa pula ambulan di sini? Saya bertanya kepada tetangga yang kebetulan ada di situ, “Ada Gubernur ya? Kok rame gitu? ” Itu yang saya kira awalnya. Karena memang kondisinya mirip ketika Gubernur DKI datang ke tempat itu. Ia menjawab, “nggak, itu ustadz fulan (tidak perlu saya sebutkan namanya) meninggal. ” Innaa lillah wainnaa ilaihi raji’uun..Ustadz yang selama ini mengajar dan mengisi khutbah di masjid ini meninggal.

Tetangga saya yang lain mengabarkan bahwa meninggalnya itu mengagetkan banyak orang karena tidak didahului dengan penyakit atau kecelakaan, pokoknya sebelumnya sehat wal afiat. Meninggalnya diketahui di waktu sahur, tatkala anaknya membangunkannya untuk bersantap sahur. Ia sempat bangun dan sedikit menjawab, lalu tidur lagi dan tidak bangun lagi seterusnya. Setelah mendengar penuturan tetangga saya tadi, saya pun masuk ke masjid, shalat tahiyyatul masjid kemudian membaca Al-Quran, sambil menunggu datangnya khotib. Tidak berapa lama khotib pun naik mimbar menyampaikan khutbah.

Khotib memulai khutbahnya dengan mengingatkan hadirin jamaah Jumat untuk mengisi Ramadhan dengan amal-amal saleh. Khotib mengingatkan apakah hadirin di hari-hari yang penuh berkah ini [baca: Ramadhan] sudah pernah menangis karena takut kepada Allah, takut akan siksa-Nya dan takut terhadap dosa-dosa yang telah dikerjakan? Ya Allah, kenapa saya lalai dari ini? Berlalu dua pertiga Ramadhan tapi kondisi saya masih…

Kemudian khotib berkata, “Sudahkah kita menangis karena takut kepada Allah? Atau kita menangis hanya karena kesulitan hidup? Khawatir tidak bisa makan besok? Atau karena ditinggalkan orang yang kita sayangi saja? ” Subhanallah! Betul juga, kenapa yang selama ini ditangisi dan ditakuti hanya masalah dunia? Kenapa yang selalu muncul di kepala “takut miskin”, “takut menganggur”, “takut tidak dapat kerja” dan yang semisal dengannya! Bukankah adzab kubur dan neraka lebih menakutkan dibandingkan semua itu?

Kemudian khotib membacakan suatu hadits Nabi yang maknanya: “Wahai manusia, menangislah, jika kalian tidak dapat menangis, berusahalah untuk menangis. Karena sesungguhnya penduduk neraka akan menangis sampai air mata mereka mengalir ke pipi-pipi mereka seperti anak sungai hingga air mata mereka habis. Setelah habis, yang keluar bukan lagi air mata akan tetapi darah. ” (HR. Hakim) Naudzubillah min dzalik.. Suasana seperti mencekam, sampai-sampai saya melihat orang-orang yang ada di depan saya seolah-olah terperangah mendengarnya, karena selain isi hadits yang “menakutkan”, khotib juga membacanya seperti orang yang merintih kesakitan.

Kemudian di akhir khutbah khotib kembali mengingatkan agar jangan ketakutan kita terhadap masalah dunia mengalahkan ketakutan kita terhadap prahara hari kiamat. Khatib berkata, “Kenikmatan dan kesengsaraan di dunia itu sementara, Berapa lama sih kita hidup di dunia? Mungkin paling lama sampai usia tujuh puluh tahun, sedangkan kenikmatan dan kesengsaraan di akhirat tidak berujung dan berpenghabisan. ” Subhanallah! Betul juga, kenapa kita harus bersedih dan takut dengan kesengsaraan di dunia yang sementara ini?! Kenapa kita harus putus asa dan tidak sabar dengan kesusahan yang sering dirasakan, padahal kalau dibandingkan kesusahan yang dirasakan di akhirat nanti tentu kesusahan sekarang ini sangatlah sebentar dan tak seberapa!
Selesailah khutbah, lalu dilanjutkan dengan shalat Jumat. Kemudian setelah itu diumumkan kepada jamaah bahwa akan diselenggarakan shalat jenazah yaitu menyolati jenazah ustadz yang meninggal tadi. Yang membuat saya heran ketika itu, siapa sangka seorang ustadz “kampung”, sosok sederhana yang jauh dari ketenaran, yang hanya mengajar ngaji dan mengisi khutbah, yang memiliki rumah hanya tipe RSSS (rumah sangat sederhana sekali) yang bila ingin menuju ke rumahnya harus melalui gang-gang sempit, ternyata dishalati orang-orang “besar” seperti Kapolsek dan Camat beserta para staf keduanya. Bahkan ada juga aparat TNI yang ikut menyolatinya, entah itu Danramil atau siapa, yang jelas saya yakin kalau ia aparat TNI yang memiliki jabatan lumayan tinggi.

Lantas kok bisa orang-orang “besar” itu kenal dengannya? Ternyata “rahasia” itu terkuak setelah salah seorang pengurus masjid memberitahukan bahwa ustadz ini selama hidupnya selain mengajar di masjid beliau juga ternyata merangkap sebagai dai Kamtibmas. Oh pantas..Tapi walaupun begitu tidak mengurangi kekaguman saya kepadanya mengingat kesahajaannya.

Cukup mengagumkan. Akan tetapi yang lebih mengagumkan lagi, di malam hari yang besoknya ia meninggal, ia sempat mengirim SMS ke Kapolsek dan itu adalah SMS terakhir yang diterima darinya(ustadz itu). Apa isinya? Di hadapan kami, jamaah yang ingin menyolati jenazahnya, Kapolsek membacakan isi SMS itu dengan mata berkaca-kaca, sayangnya saya tidak hafal seluruh kata-katanya, akan tetapi intinya ia menasehati Kapolsek untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan di bulan Ramadhan ini dan hendaknya tatkala menghadapi berbagai masalah memperbanyak dzikir (mengingat) Allah. Subhanallah! SMS terakhir sebelum meninggal! Nasehat terakhir di akhir hidupnya! Semoga Allah merahmatimu, melapangkan kuburmu dan menempatkanmu di tempat yang diridhai-Nya, wahai ustadz!

http://anungumar.wordpress.com/2010/09/03/jumat-berharga/#more-612

0 comments: