Aa Gym, Pemimpin Negeri dan TOPENG

Filed under: by: 3Mudilah

Siapa yang tak kenal Aa Gym yang bernama asli Abdullah Gymnastiar, seorang putera Indonesia kelahiran Bandung, berpendidikan Fakultas Teknik Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Bandung dan pernah terobsesi untuk menjadi tentara karena memang berasal dari  “ANAK KOLONG” yang masa kecilnya tinggal di tangsi angkatan darat di kota Cimahi.


Kepopuleran Aa Gym kurun waktu 5-10 tahun yang lalu tidak dapat diragukan lagi seantero nusantara selaku Dai atau Ustadz yang berceramah tentang kehidupan damai dan sejahtera bernafaskan Islam yang mudah dicerna oleh orang kebanyakan.

Kepopuleran Aa Gym bak SELEBRITI ataupun seperti PARA ELIT  negeri ini yang sedang menjadi menteri. Pergi ke mana pun selalu dalam konvoi kendaraan yang panjang dan selalu  menambah kemacetan lalu lintas , yang selalu didampingi para AJUDAN maupun SEKERTARIS  yang  berjumlah tidak kurang dari 10 orang.

Saat ini Aa Gym sedang dalam proses menemukan kembali jati dirinya, setelah  kasus polygaminya yang pro dan kons ditengah masyarakat  dan pengikutnya. Pada saat ini pula beliau sedang merenung dan mempertanyakan kehidupan masa lalunya dan masa depannya.

Hal ini terungkap dalam wawancaranya di acara Just Alvin Metro TV di tengah bulan ramadhan ini, sebuah wawancara yang penuh dengan kejujuran dan info pembelajaran yang sangat berharga untuk seluruh anak negeri yang gila PENCITRAAN di tengah keterpurukan.


Aa Gym dan Roda Kehidupan

Dalam wawancara  tersebut terungkap kata-kata JUJUR dan TAJAM  tentang kehidupan dirinya sebagai seorang anak negeri yang pernah sangat popular antara lain:
  • Berniat berdakwah untuk umat tetapi kadang kala penuh kepalsuan
  • Bersifat riya (pamer)
  • Berperilaku OKB atau Orang Kaya Baru
  • Menjalankan kehidupan  karena omongan orang
Aa Gym menukik tajam kepopulerannya beberapa tahun yang lalu karena memproklamirkan dirinya untuk menikahi seorang pengikutnya yang bernama Alfarini Erdani dan terkenal sangat cantik.

Suatu hal yang penulis ingat pada saat itu bahwa niatnya ini diumumkan secara  resmi kepada publik di tengah-tengah kepopulerannya selaku Dai. Dan beliau pada saat itu merupakan ikon sebuah keluarga yang sakinah dengan 7 orang anaknya dan selalu bersikap netral dalam soal poligami.

Pengumuman perkawinan itu membuahkan protes dari berbagai pihak terutama dari para pengikut dan penggemarnya yaitu ibu-ibu rumah tangga. Sebuah MOMEN KEBERANIAN telah dilakukan oleh seorang Dai  tanpa harus bersembunyi untuk berpoligami ataupun BERBOHONG untuk kemudian menjadi MUNAFIK  di hadapan publik. 

Bandingkan saja hal ini dengan para PARA PERWIRA POLISI ataupun para elit negeri ini. Walaupun sudah ketahuan punya REKENING GENDUT tetap saja berbohong dan berdalih di balik pasal-pasal hukum dan perundang-undangan yang selalu butuh proses pembuktian. He…he…he…

Kumaha euy…… bos polisi Republik Antah Berantah negeri ini, kite ganti aje Kapolri dengan Aa Gym…ya… Hi…hi…hi…

Sejak saat itu kepopuleran Aa Gym langsung melorot ditinggalkan pengikut dan penggemarnya. Seluruh bisnisnya melorot, kompleks Pesantren Darut Tauhid di daerah Geger Kalong menjadi sepi. Undangan berceramah menjadi sangat berkurang. Publik menjauhi beliau.

Aa Gym menghilang sementara waktu untuk menenangkan diri. Proses ini adalah sebuah anti klimaks di tengah kepalsuan hidup seorang Aa Gym, semua terungkap dalam beberapa wawancara Aa Gym dengan beberapa media.

Proses kehidupan ini membuat Aa Gym melakukan perenungan dan kontemplasi atau tafakur untuk mencari makna hidup dan kehidupan selaku seorang pemimpin umat.

Maka terungkaplah kalimat-kalimat di atas, serta analisanya yang sangat  mendalam tentang MASYARAKAT INDONESIA YANG SEDANG SAKIT dalam wawancaranya. Yang dimaksud sakit di sini bukanlah SAKIT LAHIRIAH tetapi SAKIT NURANI (Hati). Berikut adalah penjelasannya yang penulis kutip :

 “Kalau SAKIT LAHIRIAH orang tsb akan terbaring karena fisiknya melemah, kemudian langsung berupaya untuk menyembuhkannya”.

“Sedangkan bila sakit nurani (hati) dan BERPERILAKU MENYIMPANG seperti KORUPSI, BERBOHONG atau MELEMPAR TANGGUNG JAWAB, orang tersebut merasa tidak pernah sakit dan jutru merasa makin kuat dan merasakan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar karena makin banyak pengikut dan penggemarnya yang berniat untuk dapat menikmati buah hasil perilaku menyimpangnya karena sakit nurani tersebut".

Hal inilah yang banyak terjadi di kalangan elit kita, yang BERTOPENG  makin banyak persediaan topengnya, yang BERBOHONG  makin sering berbohong kalau perlu setiap kali diwawancara media, karena asyiknya tanpa disadari makin banyak pengikutnya, makin banyak ajudannya, makin banyak sekretarisnya, dan makin macet jalan raya karena jumlah konvoi kendaraannya makin besar.

Sebuah ungkapan pengakuan yang tajam dan jujur dari seorang Dai yang bernama Aa Gym yang juga resah melihat keadaan negeri ini yang patut kita hargai, guna membuka lubang pencerahan bagi umatnya.

MENGUNGKIT PENCITRAAN adalah sebuah upaya KEBOHONGAN, atau  “Image leverage is a lie”, adalah kata-kata singkat yang pernah penulis temui dari uraian Peter Senge (Massachusettes Institute of Technology) dalam sebuah artikelnya tentang REKAYASA SOSIAL (social engineering).

Hal inilah yang terjadi di negeri ini, mulai dari para elitnya, pemimpinnya maupun negaranya yang SEDANG GILA dengan upaya  meningkatkan pencitraan. Sampai-sampai  berani membayar KONSULTAN PENCITRAAN bermilyar-milyar rupiah.

Aa Gym sangat merasakan hal ini dalam kehidupan masa lalunya, mulai dari bangun tidur setelah sholat subuh sampai menjelang tidur setelah shalat isya selalu terobsesi untuk membuahkan citra positif dirinya guna memenuhi kemauan umatnya dengan pamrih agar tetap memiliki rating yang tinggi selaku Dai ataupun Ustadz.

Hidup untuk orang lain, hidup demi rating, hidup untuk keriyaan (pamer) sehingga penuh kepalsuan dan lupa dengan niat awal untuk syiar agama.

Keluarga dan anak tertinggalkan, kehidupan keluarga penuh dengan pengaturan dan dramatisasi sampai-sampai tidak pernah lagi merasakan bagaimana rasanya mengambil rapor anak di sekolah. Hal ini diungkapkan oleh seorang anak Aa Gym yang bernama Ghaida pada wawancara di acara Just Alvin.

Suka tidak suka, hal inilah yang menjadi tregedi di negeri ini , banyak sakit sosial ataupun simptom yang kita lihat di kalangan pemimpin antara lain :
  1. Para pemimpinnya berlalu lintas di jalan raya dengan rombongan (konvoi) yang besar , sehingga makin memacetkan lalu lintas yang sudah ribet tanpa peduli dengan masyarakatnya.
  2. Bertambah suburnya jumlah dan bayaran konsultan pencitraan guna mengungkit rating dalam proses pemilihan pemimpin negeri mulai dari presiden, gubernur sampai bupati dan wakil rakyat di DPR - DPRD
  3. Indikator perekonomian berbasis rating negara-negara barat selalu dikedepankan guna menunjukkan bahwa negara ini adalah tetap maju dan tumbuh.
  4. Para pemimpinnya sangat berbahagia dan sangat percaya diri bila dikelilingi para pengawal dan dayang-dayang (ajudan, sekretaris).
  5. Untuk menarik investor, negara sibuk melakukan road show, beriklan dan melakukan summit dengan menghambur-hamburkan anggaran tanpa memahami makna efektivitas dan produktivitas kegiatan dan program tsb. Walaupun pada dasarnya dan sebenarnya BUAH BUSUK KORUPSI DAN BIROKRASI yang ribet dan seenak udelnya negeri ini sudah tercium baunya di kutub utara dan kutub selatan.
Masih banyak sakit sosial dan simptom kasat mata lainnya di negeri ini, yang kalau ditulis jumlahnya pasti segambreng kata pembawa acara Just Alvin.

Simptom-simptom ini sebuah ungkapan yang pas dengan kata-kata dari Peter Senge seorang guru besar rekayasa sosial dari MIT bahwa upaya peningkatan citra adalah sebuah upaya kebohongan.

Tidak ada penyelesaian masalah tanpa kejujuran, tidak ada kejujuran tanpa keberanian menghadapi kenyataan seperti yang dilakukan Aa Gym.


Kesimpulan

Pribadi  Aa Gym, yang dengan KEBERANIAN dalam mengambil resiko dan tanggung jawab  yang mana telah mengungkapkan soal TOPENG (pencitraan), kepalsuan, kemunafikan dirinya, serta pengakuannya  dalam proses kontemplasi (tafakur) membuat penulis terinspirasi, kapan para pemimpin negeri berhenti memakai topeng guna melihat kenyataan yang sebenarnya tentang negeri ini.

Tanpa sebuah pengetahuan dan mungkin juga informasi yang dimilikinya, kasus Aa Gym merupakan bukti dan perwujudan kata-kata Peter Senge salah seorang guru besar Manajemen Strategi rujukan penulis dari Massachusettes Institute of Technology (MIT), “image leverage is a lie”…………

Kapan para pemimpin  kita berhenti BERSOLEK dan BERDANDAN untuk upaya pencitraan, karena sebenarnya yang perlu  kita perlu benahi dan perbaiki LEBIH DAHULU adalah HATI NURANI dan LOGIKA DASAR  sebagai MESIN UTAMA (Main Engine) ekonomi Negara untuk kesejahteraan.

Tidaklah salah kalau penulis selama ini mengatakan bahwa banyak anak negeri salah mengambil  spesialisasi dalam pendidikan dan jurusan sekolah ekonomi dan bisnis, karena terlalu  percaya bahwa bidang PEMASARAN dan KOMUNIKASI untuk meningkatkan PENCITRAAN atau BRANDING menjadi yang utama, hal ini sangat berbeda dengan anak anak negeri CINA, INDIA ataupun JEPANG dan KOREA yang mengutamakan bagaimana BERPRODUKSI dan BERINOVASI untuk KEUNGGULAN yang BERKELANJUTAN. 

Hal ini pulalah yang diungkapkan oleh salah seorang guru besar ekonomi dan sosial IPB (Institut Pertanian Bogor) yaitu Prof. Dr. Eriatno, bahwa BANGSA INDONESIA  telah salah mengambil GURU PEBANGUNAN EKONOMI dalam sebuah diskusi terbatas tentang INDONOMICS bersama-sama dengan Prof. Dadan Umar (ITB dan Trisakti) serta Prof. Yuri Zagloel (UI), dan kita semua mengamininya.

Semua upaya pembangunan ekonomi diarahkan untuk mengejar rating ekonomi berbasis standar yang belum tentu pas atau sesuai dengan kebutuhan anak bangsa, sehingga tidak heran kalau selalu terjadi perbedaan pendapat tentang pertumbuhan ekonomi, karena pada dasarnya sebuah pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti pertumbuhan industri dan  lapangan kerja adalah sebuah KEPALSUAN.

Oleh: Mathiyas Thaib
Source:Alomet & Friends

0 comments: