Sirikit: “Apa Anda Mau Makan Bangkai Tiap Hari?”

Filed under: by: 3Mudilah

Siapa yang terhibur dengan kabar ada artis yang punya istri simpanan lagi?

Hidayatullah.com--Program infotainment kembali menjadi sorotan. Banyak pihak menilai infotainment tidak mendidik, asosial, dan meresahkan. Apalagi belakangan kian menderasnya pemberitaan tentang 3 artis populer yang diduga melakukan aksi abnormal, yakni melakukan hubungan intim selayaknya suami istri.

Parahnya, ada oknum yang mengaku sebagai ahli berpendapat bahwa pelaku video mesum adalah korban. Bagaimana dengan anak-anak remaja atau yang di bawah umur menjadi korban? Tidak sedikit dari mereka yang menyimpan copy-an video tersebut di handphone mereka.

Melihat dahsyatnya bahaya infotainment yang menyajikan ghibah dan asosial, pada Selasa (27/07) Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa haram menonton infotainment.

Hasil keputusan yang dikeluarkan Komisi C, Komisi yang membidani fatwa ini mengatakan, menonton tayangan ghibah alias gosip hukumnya haram.

“Menonton, membaca, dan atau mendengarkan berita yang berisi tentang aib, kejelekan orang lain, gosip dan hal-hal lain sejenis terkait hukumnya haram," ujar Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Asrorun Ni'am di arena Musyawarah Nasional VIII Majelis Ulama Indonesia, di Jakarta, Selasa (27/7).

Bagaimana sesungguhnya melihat infotaiment dari sudut pandang jurnalisme? Seperti apa bahaya pemberitaan infotainment yang memberikan pencitraan? Apa harapan-harapan yang bisa dicapai dari pemberitaan infotainment? Hidayatullah.com melakukan wawancara dengan pengamat media Dra. Sirikit Syah, MA, untuk membahas persoalan ini. Untuk kepentingan informasi dan penyampaian fakta, petikan wawancara ini kami muat dengan beberapa penyaduran. Berikut petikannya:

Menurut amatan Anda, masalah apa yang ditimbulkan pemberitaan infotainment, baik dari sisi kode etik pers maupun nilai sosial?
Dari sisi kode etik pers, persoalannya apakah infotainment termasuk produk pers. Ini masih menjadi perdebatan. Kalau dianggap iya, seharusnya etika jurnalistik diajarkan dan ditegakkan. Kalau bukan, cuma sekadar hiburan, bukan pemberitaan, isi program mesti lebih menghibur. Tidak menambah stres dengan berbagai aib perselingkuhan, konflik ibu-anak, suami-istri, perceraian, dan lainnya. Ini kan tidak menghibur?

Dari sudut pandang sosial, ini dapat mempengaruhi gaya hidup dan cara pandang masyarakat. Misalnya, kawin cerai itu biasa, hamil tanpa nikah itu tren yang keren. Artis A yang mempertahankan kehamilan tanpa suami adalah idola baru karena ‘tegar’, punya suami tapi hamil dengan laki-laki lain seperti banyak dilakoni artis sekarang ini. Itu malah disebut “hak asasi” dan “privasi”.

Apakah masalah itu murni timbul dari dari infotainment sendiri atau dari tokoh publik yang telah mendesainnya?

Bisa dari kehausan pekerja infotainment untuk mengisi program kejar tayangnya, bisa juga didesain oleh para agen atau manager artis yang ingin artis-artisnya terus populer agar banyak tawaran main.

Apakah masalah itu memang “cacat bawaan” dari infotainment?

Tidak ada cacat bawaan infotainment. Yang ada kesalahan memahami konsep infotainment. Di luar negeri ada yang disebut “entertainment news”, yaitu berita-berita dari dunia hiburan. Isinya tentang proses kreatif para seniman. Misalnya, bagaimana memproduksi (film) Avatar, berapa biaya produksi (film) Lord of the Ring, peluncuran album atau single baru, tentang perolehan box office, dan seterusnya. Betul-betul tentang dunia hiburan dan tidak bikin stres.

Apakah masyarakat menjadi terhibur dengan infotainment di negara kita?

Terhibur? Tidak. Siapa terhibur dengan berita artis A dan artis B mau cerai sampai tiga kali? Siapa terhibur dengan kabar ada artis yang punya istri simpanan lagi?

Dapatkah infotainment terlepas dari ghibah, gosip, atau rumor?

Sulit. Saya kira rumor dan gosip juga sumber berita. Memang harus diverifikasi (cover multy sides). Tetapi ghibah jelas bukan termasuk informasi yang patut diverifikasi atau disebarluaskan. Menyebarkan aib itu seperti makan bangkai saudaramu sendiri, bukan? Kalau Anda pekerja infotainment, apakah Anda mau tiap hari makan bangkai saudaramu sendiri?

Apa sebetulnya target idiil pemberitaan infotainment?

Targetnya tentu seharusnya memperkaya pemirsa dengan informasi dari dunia hiburan, terutama proses produksi dan pencapaian-pencapaian (prestasi). Yang kedua, informasi yang sifatnya menghibur: kabar positif, menyenangkan.

Apakah hal itu bisa diperbaiki?

Saya berharap dengan ditampungnya infotainment di PWI Seksi Hiburan, kinerja para awak liputannya bisa diperbaiki. Masih ada harapan. Mesti banyak dilakukan pelatihan dan penambahan wawasan tentang pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran (P3-SPS), dan kode etik jurnalistik, kalau mau disebut jurnalis; atau kode etik programming, kalau dianggap program hiburan. Hiburan pun ada etikanya.

Dalam keadaan seperti apa privasi publik figur penting untuk dibongkar kepada orang lain atau umum?

Hanya bila sang artis mengizinkan dan hanya bila dirasa perlu diketahui publik. Misalnya, artis nyalon bupati atau DPR, tapi dia sebetulnya tukang selingkuh dan bandar narkoba. Silakan diungkap.  [Ainuddin Chalik/Hidayatullah.com]

0 comments: